
Hari yang ditunggu telah tiba. Acara Pameran Lukisan yang diadakan di Darren Galery Of Art telah terlihat ramai. Banyak kolega-kolega dari perusahaan Accenture sekaligus pecinta lukisan, para penggemar lukisan, kolega dari perusahaan keluarga Smith dan keluarga dari ketujuh sahabat Darren.
Di acara Pameran Lukisan itu juga hadir Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya beserta anggota keluarganya
Persiapan terlihat begitu keren dan indah. Baik Darren maupun Darel dan Rehan mempersiapkan semuanya dengan sangat sempurna dan menakjubkan.
"Ini sangat keren!" seru Adrian ketika melihat betapa indahnya konsep dan dekorasi Galery milik kakak kesayangannya.
"Iya, kakak Adrian benar. Galeri kakak Darren benar-benar bagus," sela Melvin.
Mendengar perkataan dari Adrian dan Melvin. Erland, Agneta dan anggota keluarga lainnya termasuk anggota keluarga dari ketujuh sahabat-sahabatnya Darren tersenyum.
Bukan hanya Adrian dan keempat adiknya yang menatap takjub suasana di dalam galeri Darren. Mereka sebagai orang tua dan para kakak dari adik mereka juga merasakan hal yang sama yaitu bangga terhadap Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
"Semua Papa nya Erica hebat. Erica bangga punya Papa seperti mereka!" seru Erica dengan semangatnya.
Mendengar ucapan semangat dari Erica membuat mereka semua tersenyum.
Erica saat ini tengah dibimbing oleh Carissa dan Agneta. Pakaian yang dikenakan oleh Erica begitu cantik dan elegan.
"Kalian sudah datang!" seru Darren yang datang bersama ketujuh sahabat-sahabatnya.
Mendengar seruan dari Darren. Mereka semua langsung melihat kearah Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Seketika terukir senyuman manis di bibir mereka masing-masing ketika melihat putra/adik/keponakan yang begitu tampan hari ini.
"Papa."
Erica langsung melepaskan pegangan dari Agneta dan Carissa, lalu berlari menghampiri ayahnya.
"Hei," ucap Darren dan langsung menggendong putri angkatnya itu.
"Papa tampan sekali."
"Terima kasih, sayang. Erica juga cantik. Baju baru ya?"
"Iya. Oma yang belikan."
"Oma yang mana?"
"Dua-duanya. Kalau yang baju yang Erica pakai ini Oma cantik yang belikan. Kalau baju yang dibelikan sama Oma Tata ada di rumah."
Erica memberikan gelar yang berbeda untuk Agneta dan Carissa.
Untuk Agneta, Erica memanggilnya dengan sebutan Oma Tata. Sedangkan untuk Carissa, Erica memanggilnya dengan sebutan Oma cantik.
"Kenapa baju yang Oma cantik dipakai? Kenapa bukan baju yang dibelikan sama Oma Tata?" tanya Darren.
Mendapatkan pertanyaan dari ayah angkatnya. Erica melihat kearah Carissa. Seketika Erica tersenyum manis.
"Itu dipaksa sama Oma cantik," jawab Erica.
Mendengar jawaban dari Erica membuat Carissa sontak membelalakkan matanya.
"Hei. Oma nggak ada maksa kamu ya. Jangan ngarang," ucap Carissa menatap Erica garang.
Mendengar tuduhan dari Erica dan pembelaan dari Carissa membuat mereka semua tersenyum. Mereka semua tahu bahwa Erica memang sengaja berbicara seperti itu hanya sekedar menjahili Carissa. Begitu juga dengan Carissa. Carissa tidak marah terhadap Erica.
"Anak gadis Papa cantik sekali hari ini," puji Qenan dengan mengusap lembut pipi Erica.
"Papa Nan juga tampan. Oh iya! Papa Nan dan Papa yang lainnya, kapan nikah?" tanya Erica polos.
Mendengar pertanyaan dari Erica. Sontak mereka semua syok. Mereka dengan kompak menatap kearah Erica.
"Hei, siapa yang ngajari?" tanya Axel.
__ADS_1
"Dan Erica tahu dari mana soal nikah itu?" tanya Agneta.
"Tuh. Dari Paman Adnan," jawab Erica sambil menunjuk kearah Adnan.
Mereka semua menatap kearah Adnan. Sementara Adnan seketika menelan ludahnya kasar.
"Kakak Adnan. Kenapa kakak ngajarin Erica yang nggak baik?" tanya Darren dengan melototkan matanya.
Adnan memperlihatkan senyumannya. "Kakak nggak ajarin yang jelek-jelek sama Erica. Hanya saja kakak bilang kalau kamu dan ketujuh sahabat kamu itu bakalan nikah sama pasangan masing-masing. Mendengar itu, Erica terlihat bahagia."
Mendengar jawaban dari Adnan membuat Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya hanya bisa menghela nafasnya.
Ketika Darren ingin menjelaskan tentang pernikahan kepada putrinya, tiba-tiba suara pembawa acara yang akan memulai acaran di atas panggung.
Mendengar itu, Darren langsung menurunkan Erica. Setelah itu, Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya pergi meninggalkan anggota keluarganya dan para kekasih masing-masing untuk menuju meja yang sudah disediakan.
Melihat kepergian Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Erland dan yang lainnya juga pergi menuju meja yang sudah disediakan disana.
Dan acara pun dimulai dengan sangat meriah dan disambut dengan sangat antusias oleh para tamu undangan.
***
Di kediaman keluarga Noberto terlihat gadis cantik yang tengah uring-uringan di ruang tengah.
Gadis itu tak lain adalah Connie Noberto.
Connie saat ini masih tidak terima akan perlakuan Darren ketika di kampus tiga hari yang lalu.
"Brengsek! Aku sudah melakukan segala cara untuk menarik perhatian Darren. Tapi semuanya gagal. Tidak ada satu pun yang berhasil!"
"Aku tidak akan biarkan perempuan ****** itu bahagia bersama Darren. Bagaimana pun Darren itu milikku. Hanya aku yang berhak memilikinya."
Connie berpikir sejenak. Dirinya memikirkan rencana lain untuk mendapatkan Darren.
Beberapa detik kemudian, Connie tersenyum karena sudah mendapatkan sebuah ide untuk mendapatkan Darren sepenuhnya.
Dirinya memutuskan untuk pergi ke suatu tempat untuk menjalankan rencananya ini.
***
Setelah dua jam acara Pameran Lukisan dilaksanakan. Kini para tamu undangan tengah menikmati hidangang yang suda tersedia di atas meja prasmanan termasuk Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya, para anggota keluarganya, para kekasihnya beserta anggota keluarga.
"Papa," panggil Erica.
"Iya. Ada apa, hum?" tanya Darren kepada putrinya.
"Erica mau kesana. Boleh?" tanya Erica sambil menunjuk kearah dimana terlihat banyak makanan manis.
"Boleh. Tapi ingat! Jangan jauh-jauh selain disana."
"Terima kasih, Papa! Baik," jawab Erica semangat.
Erica turun dari kursinya, lalu pergi meninggalkan ayahnya dan semua orang untuk menuju tempat yang sudah ditargetkannya.
"Acaranya benar-benar menarik!" seru Davian.
"Iya. Acaranya berjalan lancar tanpa gangguan," sela Tristan.
"Aku benar-benar bangga sama Darren. Dia masih kuliah, usianya juga masih terbilang muda. Tapi dia sudah berhasil menjadi CEO yang sukses dan terkenal. Aku saja yang sudah tua dan sudah lama berkecimpung di dunia bisnis kalah dengan Darren." Evan berbicara tulus dengan memberikan pujian terhadap Darren sembari menatap kearah dimana Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya bersama para kekasihnya duduk.
"Kau benar, Evan! Kau saja berstatus sebagai Pamannya sudah bangga terhadap Darren. Apalagi aku yang jelas-jelas ayah kandungnya. Aku jauh lebih bangga melihat putra bungsuku dengan Belva menjadi sukses sekarang ini." Erland menatap kagum terhadap putranya itu.
"Bukan itu saja, kakak Erland. Setiap ada masalah yang menimpanya, ketujuh sahabat-sahabatnya dan juga menimpa kita. Tanpa sepengetahuan kita, Darren sudah bertindak menangani masalah tersebut." Carissa berbicara sembari mengingat bagaimana keponakannya itu mengatasi masalah.
Mendengar perkataan dari Carissa. Erland, Agneta dan yang lainnya menganggukkan kepalanya. Mereka semua benar-benar bangga terhadap Darren.
__ADS_1
^^^
Erica saat ini sibuk memilih minuman. Dirinya bingung harus memilih minuman apa untuk dibawa menuju mejanya.
Erica terus melihat-lihat, dan tak lama matanya melihat minuman yang menurutnya enak.
Erica mengambil minuman itu, lalu mencobanya.
Ketika minuman itu menyentuh lidahnya, Erica seketika tersenyum.
"Ini enak sekali."
Setelah itu, Erica meneguk habis minuman itu. Setelah habis tegukan pertama, Erica kembali mengambil minuman itu lagi. Dan kali ini Erica menggunakan cangkir plastik yang sedikit besar dari yang sebelumnya.
Setelah cangkir plastik itu terisi, Erica pun membawanya ke meja dimana para ayahnya berada lengkap satu piring kecil berisi makanan serba manis.
Namun ketika Erica tengah berjalan menuju meja para ayahnya, ada seorang gadis yang berjalan tanpa melihat seorang gadis kecil di depannya sehingga gadis itu menabrak gadis keci tersebut.
Minuman dan makanan manis itu terjatuh berserakkan di lantai. Bahkan minuman itu mengenai dress bagian bawah gadis itu.
"Apa yang kau lakukan sialan?! Kau mengotori dress ku!" bentak gadis itu di depan Erica.
Mendapatkan bentakkan dari orang yang ada di hadapannya membuat Erica seketika terisak dan menunduk.
Tidak mendapatkan jawaban dari gadis kecil di hadapannya membuat gadis itu marah. Dan tanpa berperikemanusiaan, gadis itu mendorong kuat tubuh gadis kecil yang ada di hadapannya itu sehingga gadis kecil itu tersungkur ke belakang.
"Hiks... Papa!" teriak Erica terisak.
^^^
Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya dan para kekasihnya saat ini tengah mengobrol dan tertawa. Begitu juga dengan anggota keluarga mereka yang berada di meja lain.
Mereka semua tengah mengobrol dan tak mendengar suara teriakan dari Erica.
Namun dua dari mereka yaitu Salsa dan Raya tak sengaja melihat kearah seorang gadis kecil yang terduduk di lantai.
Ketika keduanya melihat dengan seksama. Seketika Salsa dan Raya terkejut.
Dengan kompaknya, Salsa dan Raya berdiri dari duduknya dan menghampiri Erica sembari berteriak menyebut nama Erica.
"Erica!"
Mendengar teriakan dari Salsa dan Raya membuat anggota keluarganya langsung melihat kearah Salsa dan Raya.
"Erica," panggil Salsa dan Raya bersamaan.
Mendengar namanya dipanggil. Erica langsung melihat ke asal suara.
"Hiks... Bibi Salsa, Bibi Raya... Hiks," ucap Erica sembari terisak.
"Ada apa? Kenapa?" tanya Salsa sembari membantu Erica untuk berdiri.
"Bibi itu," jawab Erica sambil menunjuk kearah gadis yang sudah mendorongnya.
Salsa dan Raya langsung melihat kearah tunjuk Erica.
"Apa yang sudah dilakukan oleh Bibi itu ke kamu?" tanya Raya.
"Bibi itu mendorong Erica, Bibi!"
Mendengar jawaban dari Erica. Seketika Raya dan Salsa menatap tajam gadis tersebut.
"Hei, nona. Kenapa anda mendorong keponakan saya?" tanya Raya.
"Oh, jadi gadis kecil sialan ini adalah keponakan kalian, hah!" bentak gadis tersebut.
__ADS_1
"Siapa yang kau sebut sialan, hah?!"
Seseorang datang dengan suara dinginnya.