KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Antara Rindu Dan Benci


__ADS_3

Darren saat ini berada di ruang kerjanya. Dan ditemani oleh kedua sahabatnya yaitu Qenan dan Willy.


Dua jam yang lalu mereka baru saja pulang dari pertemuan dengan beberapa rekan kerja yang ingin menjalin kerja sama dengan Perusahaan Accenture dan juga beberapa rekan kerja tersebut memesan mobil masing-masing tiga mobil di Showroom milik Darren.


Darren benar-benar bersyukur. Beberapa bulan ini semua usahanya berjalan lancar. Mulai dari PERUSAHAAN ACCENTURE, DARREN GALERY OF ART, SHOWROOM, dan PERUSAHAAN BMWX.


Semua itu tak lepas dari kerja keras dan dukungan dari ketujuh sahabat-sahabatnya serta para kakak-kakak mafianya. Darren bahagia dan juga bersyukur telah dipertemukan dengan mereka.


"Ren," panggil Willy.


"Hm." Darren hanya berdehem.


"Tadi saat diperjalanan. Kau ingin mengatakan sesuatu. Sekarang katakan. Apa yang ingin kau sampaikan pada kami?" ucap dan tanya Willy sembari menatap wajah Darren.


"Apa terjadi sesuatu, Ren?" tanya Qenan.


Mendengar ucapan dan pertanyaan dari Willy dan Qenan. Darren menatap balik wajah kedua sahabatnya itu. Dapat Darren lihat tersirat kekhawatiran di tatapan mata kedua sahabatnya itu.


"Kalian tidak perlu khawatir. Untuk saat ini semuanya masih baik-baik saja. Memang iya. Saat di perjalanan aku ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian. Apa yang akan aku sampaikan ini tidak seperti yang kalian pikirkan?" Darren menjawab ucapan dan pertanyaan dari Willy dan Qenan.


"Lalu apa?" tanya Qenan.


"Kalian masih ingat Brenda kan?" Darren balik bertanya.


"Brenda," ucap Willy dan Qenan bersamaan.


Detik kemudian, Willy dan Qenan pun ingat tentang Brenda yang dimaksud oleh Darren.


"Brenda teman SMP kita itu?" tanya Willy.


"Brenda yang suka teriak-teriak gak jelas itu?" tanya Qenan.


"Hm," jawab Darren.


"Kenapa dengan Brenda?" tanya Willy.


"Keluarga Brenda mengundang kita makan malam di rumahnya. Terutama bibi Liana. Bibi Liana ingin sekali bertemu dengan kita."


"Baiklah," jawab Willy dan Qenan bersamaan.


"Nanti tolong kalian kabari Dylan, Axel, Jerry, Rehan dan Darel."


"Siap," jawab Willy dan Qenan lagi.


***


Kini Darren dan ketujuh sahabatnya sudah berada di rumah Brenda. Kedatangan mereka disambut baik oleh Liana dan anak-anaknya.


Kini mereka semua sudah berada di meja makan untuk makan malam bersama.


"Bagaimana kabar kamu nak Darren?" tanya Liana yang menatap teduh Darren.


"Kabarku baik Bibi," jawab Darren tersenyum hangat menatap Liana ibunya Brenda.


"Kak Maura dengar kamu memiliki 3 perusahaan dan tiga-tiganya sukses dijalankan. Apa benar?" ucap dan tanya Maura.


"Hm. Begitulah," jawab Darren.


Liana dan anak-anaknya tersenyum ketika mendengar jawaban dari Darren.


"Bibi bangga padamu sayang. Kamu masih muda. Statusmu masih kuliah. Tapi kamu sudah sukses menjadi seorang CEO. Kedua orang tuamu pasti bangga padamu." Liana tersenyum bangga menatap wajah Darren.

__ADS_1


Mendengar ucapan dari Liana seketika mimik wajah Darren berubah. Mereka yang melihat perubahan wajah Darren menjadi paham. Sementara Liana menjadi merasa bersalah.


Liana berdiri dari duduknya dan berjalan menuju tempat dimana Darren duduk.


Setelah Liana berdiri di belakang Darren. Liana langsung memeluk tubuh Darren erat. Dan tanpa diminta air mata Darren mengalir begitu saja.


Melihat Darren yang menangis mereka semua paham apa yang Darren rasakan saat ini.


"Menangislah sayang jika kamu merindukannya. Bibi sangat paham apa yang kamu rasakan sekarang." Liana makin mengeratkan pelukannya dari belakang.


"Hiks... aku merindukan Mama Belva, ibu kandungku... Hiks... Tapi... tapi aku juga merindukan Mama Agneta. Aku rindu pelukannya Bibi. A-ku... aku rindu ketika dia menciumi pipi dan keningku. Aku juga rindu saat dia bangunin aku tidur. Aku merindukan semua darinya Bibi. Semua yang pernah dia berikan padaku selama ini... Hiks," isak Darren.


Mendengar isakan dari Darren mereka semua ikut merasakan kesedihan, terutama ketujuh sahabatnya. Mereka yang begitu paham akan perasaan terpendam Darren selama ini setelah pertengkarannya dengan keluarganya.


Liana meneteskan air matanya ketika mendengar ungkapan kerinduan yang keluar dari mulut Darren.


"Jika kamu sangat merindukan Mamamu. Kenapa tidak berdamai dengan hatimu, hum? Buka hatimu. Buang semua egomu. Lunakkan hatimu. Terima dan maafkan kesalahan Mamamu. Bibi sangat yakin jika Mamamu juga sama sepertimu. Mamamu juga sangat merindukanmu. Mamamu juga ingin memelukmu, ingin memberikan ciuman sayang di pipi dan di keningmu. Dan Mamamu juga ingin setiap hari membangunkanmu ketika kamu tidur. Disini kalian berdua sama-sama terluka dan juga tersiksa." Liana berbicara lembut sembari tangannya mengusap-ngusap dada kiri Darren.


Darren memejamkan kedua matanya. Seketika ingatan ketika dirinya ditampar oleh perempuan yang begitu disayanginya.


FLASHBACK ON


"Sudah cukup!" bentak Agneta. "Kau sudah keterlaluan Darren. Sikapmu dan kelakuanmu sudah melewati batas. Kau berubah menjadi monster yang kejam. Kau berani melukai saudaramu dan bersikap kasar pada kanak-kanak kamu sendiri." Agneta berbicara dengan menatap marah Darren.


"Sekarang ikut Mama. Kau harus dihukum atas perbuatanmu itu." Agneta menarik kasar tangan Darren.


Tapi bukan Darren namanya kalau dirinya pasrah begitu saja ditarik oleh Agneta.


"Lepaskan aku!" teriak Darren dan Darren menarik kuat tangannya. Dan tangannya berhasil lepas.


Darren menatap tajam wajah Agneta. "Kau bukan siapa-siapaku. Jadi kau tidak berhak memberikan hukuman padaku."


Agneta menampar Darren dengan keras. "Kau..." tunjuk Darren tepat di wajah Agneta. Darren langsung mendorong tubuh Agneta dengan kuat


BRUKK!


FLASHBACK OFF


Ketika rekaman kejadian dimana dirinya ditampar dan diperlakukan tidak adil oleh keluarganya salah satunya perempuan yang begitu berharga dalam hidupnya, rasa benci di dalam hati makin bertambah.


Darren seketika menggelengkan kepalanya. Lagi-lagi air matanya jatuh membasahi wajahnya.


"Tidak. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah sudi memaafkan kesalahan perempuan itu. Kesalahannya terlalu besar padaku. Perempuan itu pilih kasih. Perempuan itu tidak menganggapku. Perempuan itu tidak mempercayaiku. Begitu juga dengan kedua putranya yaitu Davin dan Andra. Mereka bertiga itu iblis bukan manusia."


Darren berbicara dengan matanya yang tersirat kilat amarah dan juga kebencian terhadap ibu dan kedua kakak laki-laki tertuanya itu.


Darren sampai detik ini belum bisa memaafkan kesalahan ibu dan kedua kakak laki-laki tertuanya itu. Beda dengan ayah dan kedua kakak laki-lakinya yang lain yaitu Gilang dan Darka. Darren begitu mudah memaafkan kesalahan ketiganya.


Bagaimana dengan Dzaky dan Adnan? Sebenarnya Darren juga sudah memberikan maaf untuk kedua kakak laki-lakinya itu. Darren sudah membuka hatinya untuk keduanya.


Liana melepaskan pelukannya, lalu mengusap lembut kepala Darren. Liana sangat paham perasaan Darren. Namun dirinya tidak ingin terlalu jauh masuk dalam permasalahan yang sedang dihadapi Darren. Jika dirinya tetap memaksa masuk ke dalam permasalahan Darren, maka hubungannya dengan Darren yang akan hancur.


Ketika mereka sedang dalam situasi yang tidak enak, tiba-tiba terdengar suara ponsel. Dan suara ponsel itu adalah milik Darren.


Darren yang mendengar suara ponselnya langsung mengambilnya di saku celananya.


Setelah ponselnya berada di tangannya. Darren melihat nama 'Kakak Ziggy' di layar ponselnya. Tanpa pikir panjang lagi Darren pun langsung menjawabnya.


"Hallo, kakak Ziggy. Ada apa?"


Mendengar Darren menyebut nama Ziggy membuat ketujuh sahabatnya menatapnya. Begitu juga Brenda.

__ADS_1


"Apa ada masalah," batin ketujuh sahabatnya dan juga Brenda.


"Hallo, Ren. Kau ada dimana?"


"Aku ada di rumah Brenda."


"Di rumah Brenda? Ngapain? Pacaran? Kalian sudah jadian, hah? Kenapa tidak beritahu kakak?"


Mendengar rentetan pertanyaan dari Ziggy. Darren mendengus kesal.


"Kalau tidak ada yang penting. Aku tutup nih!" Darren mengeluarkan ancamannya.


"Hah." terdengar helaan nafas di seberang telepon. "Oke, baiklah! Bisa kau datang ke markas?"


"Kapan? Sekarang?"


"Tidak. Tahun depan."


"Jika tahun depan. Kenapa menghubungiku sekarang?"


"Darrendra Smith!"


Ziggy berteriak dengan teriakan yang begitu memekakan telinga. Sementara Darren langsung menjauhkan teleponnya dari telinganya sembari tangannya mengusap-ngusap telinganya sambil mengomel.


"Lama-kelamaan pendengaranku bisa rusak setiap hari mendengar teriakan di telepon."


Baik Ziggy, ketujuh sahabatnya, Brenda dan anggota keluarga Brenda tersenyum gemas ketika mendengar ucapan dan melihat wajah kesal Darren.


"Kakak tunggu kau dan ketujuh antek-antekmu di markas. Sekarang!"


Setelah mengatakan itu, Ziggy langsung mematikan teleponnya secara sepihak.


"Huufff!" Darren menghembuskan nafas kasarnya akan kelakuan kakak mafianya itu.


"Ada apa, Ren?" tanya Dylan.


"Apa kata kakak Ziggy?" tanya Darel.


"Kita disuruh menemuinya malam ini juga," jawab Darren.


Darren menatap wajah cantik Liana, ibunya Brenda. Liana yang melihat tatapan mata Darren pun mengerti.


"Bibi, aku minta maaf. Sepertinya kita tidak bisa berbicara banyak. Aku dan sahabat-sahabatku harus segera pergi. Kami harus pergi menemui malaikat pencabut nyawa." Darren berbicara asal.


Liana dan anak-anaknya yang mendengar perkataan Darren menjadi terkejut. Darren yang melihat ekspresi wajah Liana dan anak-anaknya tersenyum.


"Aish. Jangan perlihatkan wajah jelek kalian seperti itu. Kalian sudah jelek malah makin jelek." Darren berbicara sembari menggoda saudara-saudarinya Brenda.


"Sialan kau, Ren." Barra mengumpat kesal.


"Maksudku pencabut nyawa itu adalah jika kami datang terlambat maka orang itu akan marah. Jika orang itu sudah marah bisa gawat. Orang itu kalau marah akan memuncratkan lahar dari mulutnya."


"Hahahahah." mereka semua tertawa ketika mendengar ucapan dari Darren.


Mereka semua tak habis pikir dengan julukan yang diberikan oleh Darren untuk orang-orang terdekatnya.


"Kamu ini ada-ada saja," ucap Liana sambil mengacak-acak rambut Darren.


"Ya, sudah Bibi! Aku pamit dulu. Kapan-kapan aku akan main lagi kesini." Darren berucap lembut.


Setelah berpamitan, Darren dan ketujuh sahabatnya pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Brenda untuk menuju markas milik Ziggy.

__ADS_1


__ADS_2