KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Balasan Dari Carinna


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul 7 malam. Darren yang berada di dalam kamarnya saat sudah dalam keadaan rapi.


Malam ini Darren akan pergi berkencan dengan Brenda. Bukan hanya mereka berdua saja, melainkan ketujuh sahabatnya dan ketujuh sahabatnya Brenda.


Setelah selesai urusannya di dalam kamar, Darren pun keluar untuk menemui anggota keluarga.


^^^


Sementara di lantai bawah, terlihat semua anggota Smith tengah bersiap-siap untuk melaksanakan makan malam. Mereka saat ini berjalan menuju ruang makan yang mana di meja makan sudah tersedia beberapa jenis makan malam. Lengkap dengan hidangan penutup.


Tap..


Tap..


Tap..


Terdengar derap langkah kaki menuruni anak tangga.


Erland yang kebetulan berjalan dan tatapan matanya langsung melihat kearah anak tangga dimana putra bungsunya berada.


Erland seketika berhenti. Begitu juga dengan Darren. Keduanya saling memberikan tatapan.


"Pa!" Darren mendekati ayahnya.


"Tapi sekali. Mau kemana, hum?"


Darren seketika tersenyum mendengar pertanyaan dari ayahnya.


"Aku mau jalan sama Brenda," jawab Darren.


Erland tersenyum ketika mendengar jawaban dari putranya itu. Tangannya kemudian mengusap pipi putihnya.


"Papa bahagia melihat kamu yang sekarang ini, nak! Kamu tampak lebih sehat, tampak lebih semangat dan tampak sedikit berisi."


Seketika Darren mempoutkan bibirnya ketika mendengar ucapan ayahnya yang terakhir. Sedangkan Erland seketika tersenyum ketika melihat wajah merengut putranya.


Sementara Agneta, kakak-kakaknya dan yang lainnya tersenyum gemas ketika melihat wajah manyun Darren ketika mendengar ucapan dari ayahnya.


"Berisi bukan berarti gemuk, Sayang! Tubuh kamu itu sangat bagus. Bahkan dibandingkan dengan tubuh keenam kakak-kakak kamu, tubuh kamu yang paling bagus." Erland berucap sembari tangannya.


Kini Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka yang merengut kesal akan perkataan ayahnya.


Darren tersenyum lebar ketika mendengar ucapan dari ayahnya. Ini yang dia inginkan membuat semua kakaknya kesal.


"Berarti malam ini kamu tidak ikut makan malam?"


"Sepertinya tidak, Pa! Tidak apakan?"


"Tidak apa, Sayang!"


"Ya, sudah kalau begitu. Aku pamit ya. Aku harus segera ke rumah Brenda. Dari sana baru kita akan ke Cafe berkumpul disana."


"Maksudnya?" tanya Erland bingung.


"Malam ini bukan aku dan Brenda saja yang akan pergi berkencan, melainkan ketujuh sahabat-sahabatku dengan ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda."


"Oh, ceritanya kencan massal nih!" Darka tiba-tiba berseru di ruang makan.


Sekali pun semua anggota keluarga berada di meja makan, namun mereka semua bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh Darren dan Erland.


Darren melihat kearah ruang makan dimana semua anggota keluarganya berkumpul untuk makan malam.

__ADS_1


"Nyambar aja!" balas Darren.


Darka tersenyum ketika mendengar balasan dari Darren. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.


Setelah mengatakan itu kepada kakak keenamnya, Darren kembali menatap wajah ayahnya. Dan Darren kembali berpamitan pada ayahnya itu.


"Kalau begitu aku pergi sekarang ya, Pa?"


"Baiklah. Hati-hati di jalan. Sampaikan salam Papa kepada Calon Besan Papa dan juga Calon menantu Perempuan Papa." Erland berucap bersamaan kedua tangannya mengusap kedua pipi putih putranya itu.


Darren tersenyum. "Baiklah. Aku akan sampaikan."


Setelah itu, Darren pun melangkahkan kakinya menuju pintu utama bersamaan Darren berteriak untuk berpamitan dengan anggota keluarga lainnya.


"Mama! Semuanya! Aku pergi!"


"Iya!"


"Hati-hati di jalan!"


***


[H'burg Cafe]


Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan plus pacar mereka masing-masing sudah berkumpul di Cafe favoritnya. Hanya Darren dan Brenda saja yang belum bersama mereka.


"Darren dan Brenda kenapa belum datang?" tanya Rehan.


"Apa Darren lupa kalau kita ada acara kencan malam ini?" tanya Darel.


"Kemungkinan Darren dan Brenda terlambat. Secarakan Darren satu hari ini disibukkan dengan pekerjaannya. Pertama, Darren di sibukkan dengan tugasnya di Kampus. Dia bertugas sebagai pimpinan apalagi menyelesaikan penutupan kegiatan Pekan Pengenalan Kampus. Kedua, dari Kampus Darren harus mengunjungi perusahaan Accenturi dan perusahaan Micro Sinopec. Kedua perusahaannya itu sedang mengadakan meeting. Ditambah lagi Qenan dan Willy tidak ada di perusahaan Accenturi karena berada di perusahaan mereka sehingga membuat Darren menguras tenaganya." Axel berbicara sembari menjelaskan tugas Darren untuk hari ini.


Mendengar ucapan demi ucapan dari Axel membuat Qenan, Willy, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel menganggukkan kepalanya mengerti. Terutama Darel dan Rehan.


Lima belas menit kemudian...


"Maaf, kami terlambat!" seru Darren melangkah memasuki Cafe dengan menggandeng tangan Brenda.


Mendengar seruan dari Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan maupun Elsa, Alice, Tania, Milly, Felisa, Lenny dan Vania langsung melihat kesal suara. Dan dapat mereka lihat Darren dan Brenda yang baru datang.


"Tidak, Ren! Lo sama sekali tidak terlambat," sahut Jerry.


Setelah itu, Darren dan Brenda menduduki pantatnya di kursi yang memang sudah disiapkan oleh sahabat-sahabatnya.


Setelah itu, mereka pun memutuskan untuk memesan beberapa menu makanan dan menu minuman yang terfavorit di Cafe itu.


^^^


Di lokasi yang sama dan di Cafe yang sama terlihat satu wanita paruh baya memasuki sebuah Cafe. Wanita itu hendak membeli makanan dan minuman untuk kedua anak perempuannya, sedangkan anak sulungnya masih berada di perusahan. Kemungkinan putra sulungnya akan pulang malam.


Setibanya di dalam Cafe, wanita itu langsung memesan makanan untuk dua porsi, namun bukan pelayan yang dia dapatkan melainkan penghinaan yang diberikan oleh salah satu pelayan Cafe itu.


Pelayan wanita itu menatap jijik kearah wanita paruh baya yang saat ini tengah duduk melihat menu makanan. Apalagi ketika melihat penampilan wanita paruh baya itu.


Sreekkk..


Pelayan wanita itu langsung menarik buku menu itu dari tangan wanita paruh baya tersebut sehingga membuat wanita paruh baya itu terkejut.


"Lebih baik anda pergi dari sini. Jangan membuat semua pelanggan disini kabur karena melihat anda!" bentak pelayan wanita itu.


Wanita paruh baya itu kemudian berdiri dari duduknya. Kemudian tatapan matanya itu menatap wajah pelayan tersebut.

__ADS_1


"Memangnya kenapa dengan saya? Saya juga sama seperti pelanggan-pelanggan lainnya. Saya datang kesini mau berbelanja bukan mau mengemis pada anda maupun pada pemilik Cafe ini!" wanita paruh baya itu tak kalah membentak pelayan wanita itu.


"Cih! Tidak usah membual anda. Ngaku saja, kalau anda datang kesini ini hanya untuk minta dikasihani. Biar tidak ketahuan, anda berpura-pura ingin memesan makanan. Sudah banyak orang seperti anda yang datang kesini, yang ujungberung minta makanan gratis. Apalagi melihat penampilan anda sekarang. Anda benar-benar memalukan!"


Wanita paruh baya itu mengepal kuat tangannya ketika mendengar ucapan kejam dari pelayan tersebut.


Flashback On


"Iya, Sayang! Sebentar lagi Mama pulang. Kamu sama kakak Jihan mau makan apa malam ini biar mama belikan sekalian?"


"...."


"Baiklah, Sayang. Mama akan belikan. Kamu sama kakak Jihan baik-baik saja di rumah. Jangan bukakan pintu jika bukan kakak Samuel yang pulang."


"...."


"Ya, sudah. Mama tutup teleponnya."


"...."


Pip..


Carinna pun langsung memutuskan panggilannya setelah meminta izi pada putri bungsunya.


Setelah berbicara dengan putri bungsunya, Carinna memutuskan untuk keluar dari dalam mobil dan langsung menuju Cafe yang ada di hadapannya.


Namun ketika Carinna baru tidan diluar, tiba-tiba tubuh Carinna terkena cipratan air kotoran yang dilakukan oleh salah satu pengendara mobil yang lewat sehingga membuat pakaian Carinna basah dan kotor.


"Aish!"


Carinna hanya bisa menghela nafas dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan si pemilik mobil tersebut.


Carinna memutuskan untuk masuk ke dalam cafe dan segera memesan makanan untuk kedua putrinya.


Flashback Off


Wanita paruh baya itu adalah Carinna Gustavo, ibu dari Samuel Gustavo, Jihan Gustavo dan Yelly Gustavo.


Carinna tersenyum di sudut bibirnya menatap pelayan wanita itu.


"Jangan memandang seseorang hanya dari penampilannya saja, Nona! Anda tidak tahu siapa saya dan siapa keluarga saya."


"Alah! Palingan anda dari keluarga rendahan yang pekerjaannya suka meminta-minta di jalanan. Dikarenakan tidak mendapatkan banyak uang dan makanan di jalanan, makanya anda datang kesini dengan penampilan rendah anda ini," sahut pelayan wanita itu sembari menunjuk kearah pakaian Carinna.


Dan detik kemudian..


Plaakk..


"Aaakkkhhh!" pelayan wanita itu meringis kesakitan di pipinya akibat tamparan dari wanita di hadapannya.


Para pengunjung seketika terkejut ketika melihat aksi dari wanita paruh baya itu. Sejak tadi mereka menyaksikan dan juga mendengarkan apa yang dikatakan oleh pelayan wanita itu kepada wanita paruh baya tersebut.


Sejujurnya, beberapa pengunjung tidak suka pelayan wanita itu menghina pelanggannya. Hanya saja mereka tidak mau terlalu ikut campur. Jika mereka ikut campur, yang ada pelayan wanita itu makin menjadi-jadi menghina dan merendahkan wanita paruh baya itu.


"Anda berani menampar saya, hah?!"


"Jangankan tamparan. Kalau saya mau. Saya bisa buat anda tidak bisa berbicara lagi untuk selamanya. Saya juga bisa buat mulut anda itu robek hari ini juga karena sudah menghina dan merendahkan saya!" bentak Carinna.


Pelayan wanita itu menatap nyalang kearah wanita paruh baya tersebut. Dirinya tidak terima wajah ditampar. Ditambah lagi dirinya yang dipermalukan.


Pelayan wanita itu hendak membalas menampar pipi wanita di depannya itu, namun gerakan tangannya sudah terlebih dulu ditahan oleh seseorang. Bahkan orang itu memelintir tangan pelayan wanita itu sehingga membuat pelayan wanita itu berteriak kesakitan.

__ADS_1


Teriakan kesakitannya itu menggema di dalam Cafe tersebut sehingga semua yang ada di dalam dapat mendengarnya. Bahkan pelayan yang yang lainnya beserta manager Cafe langsung keluar.


__ADS_2