
Setelah mengikuti materi kuliah selama 6 jam untuk 3 mata kuliah. Kini Darren dan ketujuh sahabatnya tengah melangkahkan kakinya menuju kantin.
Dan dari arah yang berlawanan terlihat Brenda dan keenam sahabatnya tanpa Elsa juga melangkahkan kakinya menuju kantin.
"Eh, itu Brenda dan sahabat-sahabatnya!" seru Rehan.
Darren dan yang lainnya melihat kearah tunjuk Rehan. Mereka semua melihat Brenda dan ketujuh sahabatnya juga ingin ke kantin.
"Sepertinya mereka juga ingin ke kantin. Bareng mereka yuk," ajak Darel.
Darren dan ketujuh sahabatnya pun berjalan menghampiri Brenda dan ketujuh sahabatnya.
"Kalian mau ke kantin juga?" tanya Dylan.
"Iya." Vania yang menjawab pertanyaan dari Dylan yang tak lain adalah kekasihnya.
Qenan mencari keberadaan Elsa. Namun dia tidak menemukan sosok yang dicarinya.
Brenda yang menyadari jika Qenan mencari sesuatu tersenyum. Brenda sangat yakin jika Qenan tulus mencintai Elsa. Hanya saja Qenan sedikit kecewa akan sikap kekanak-kanakan Elsa.
"Apa kamu cari Elsa ya?" tanya Tania yang melihat Qenan yang mencari-cari Elsa.
Mendengar pertanyaan dari Tania yang ditujukan kepada Qenan membuat Darren, Brenda dan sahabat-sahabatnya yang lain menatap wajah Qenan.
Sementara Qenan yang mendapatkan pertanyaan dari Tania langsung bersikap normal, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Nggak. Siapa juga yang nyari dia. Palingan dia sekarang lagi berduaan dengan pacar barunya," jawab Qenan.
Setelah mengatakan itu, Qenan langsung pergi meninggalkan sahabat-sahabatnya untuk menuju kantin.
Sementara Darren, ketujuh sahabatnya beserta Brenda dan ketujuh sahabatnya hanya bisa menghela nafas masing-masing ketika mendengar perkataan dari Qenan dan juga melihat kelakuan Qenan yang pergi begitu saja meninggalkan mereka semua.
Setelah beberapa detik melihat kepergian Qenan, mereka semua pun menyusul Qenan ke kantin.
^^^
Kini mereka semua sudah berada di kantin. Bahkan mereka juga sudah memesan makanan dan minuman termasuk untuk Elsa.
"Sebenarnya Elsa kemana? Kenapa tidak bersama kalian?" tanya Willy.
"Elsa izin ke toilet. Dan katanya dia akan langsung kesini setelah urusannya selesai," jawab Alice.
Plak..
"Tuh dengar apa yang dikatakan oleh cewek gue. Elsa tuh lagi di toilet. Bukan lagi berduaan sama pacar barunya," sahut Jerry.
Jerry berbicara dengan menatap wajah Qenan dengan bersamaan tangannya memukul kepala belakang Qenan sehingga membuat Qenan meringis.
"Apaan sih lo. Terserah gue mau ngomong apa. Mulut-mulut gue. Kok situ yang sewot," pungkas Qenan kesal.
Sedangkan Darren, Brenda dan sahabat-sahabatnya yang lain tersenyum melihat wajah kesal Qenan.
__ADS_1
Ketika mereka tengah menggoda Qenan dan Qenan yang kesal akan ulah sahabatnya, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil salah satu dari mereka sembari berlari menghampiri meja yang ditempati oleh mereka.
"Brenda," panggil orang itu.
Brenda langsung melihat kearah orang itu. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Ninda," sapa Brenda.
Ninda adalah teman sekelasnya Brenda dan ketujuh sahabatnya. Teman-teman sekelasnya Brenda dan ketujuh sahabatnya sangat menyukai sifat dan kebaikan Brenda dan ketujuh sahabatnya.
"Ada apa, Ninda?" tanya Brenda.
"Itu... Itu... Elsa pingsan di toilet. Bukan itu saja, kepalanya juga berdarah."
Mendengar perkataan dari Ninda membuat mereka semua terkejut. Dan seketika mereka semua berdiri dari duduknya.
Sedangkan Qenan sudah terlebih dulu berlari menuju toilet. Dia tidak ingin Elsa makin parah jika terlambat mendapatkan pertolongan.
"Terima kasih ya Ninda!" seru Brenda, Tania, Alice, Vania, Milly, Lenny dan Felisa.
"Sama-sama."
Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan kantin untuk melihat keadaan Elsa.
^^^
Qenan sudah berada di toilet perempuan. Ketika Qenan memasuki toilet itu, matanya langsung terbelalak melihat tubuh Elsa yang sudah tergeletak di lantai dengan darah mengalir di keningnya.
"Sa, bangun. Ini gue Qenan. Maafin gue yang sudah bentak lo kemarin. Gue cinta sama lo, Sa!"
Qenan menangis ketika mengatakan kata-kata itu. Dan hati sakit melihat perempuan yang begitu dicintainya terluka.
Qenan mengangkat dan menggendong tubuh Elsa. Dan membawanya keluar dari toilet. Qenan akan membawa Elsa ke rumah sakit. Dia benar-benar khawatir dan takut akan kondisi Elsa.
Setibanya di luar, Qenan bertemu dengan ketujuh sahabatnya bersama Brenda dan ketujuh sahabatnya.
"Elsa!" teriak Brenda dan ketujuh sahabatnya ketika melihat kondisi Elsa.
"Ren," lirih Qenan.
Darren menepuk pelan bahu Qenan. Dia tahu bahwa sahabatnya saat ini sedang ketakutan.
"Elsa pasti akan baik-baik saja. Lo tenang ya," ucap Darren.
Willy dan Axel sudah berlari menuju parkiran. Keduanya bersiap-siap dengan mobil milik Axel.
"Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Dylan.
"Hm!" Darren, Jerry, Rehan dan Darel menganggukkan kepalanya.
"Dan untuk kalian." Darren berbicara sembari menatap wajah Brenda dan ketujuh sahabatnya. "Kalian tetap disini. Izinkan kita kepada Dosen. Selesai kuliah kalian. Baru kalian boleh ke rumah sakit."
__ADS_1
"Baiklah, Ren!" seru Brenda, Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania dan Felisa.
"Kabari aku tentang kondisi Elsa setelah tiba di rumah sakit," ucap Brenda menatap wajah Darren.
"Pasti. Aku akan kabari kamu," jawab Darren.
Setelah itu, Darren dan yang lainnya pergi meninggalkan kampus untuk ke rumah sakit.
***
Qenan dan yang lainnya sudah sampai di rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, Axel berteriak memanggil para perawat.
Tak butuh waktu lama, dua perawat laki-laki dan perempuan datang dengan membawa brankar.
Kini Qenan dan ketujuh sahabatnya tengah menunggu di depan UGD. Mereka menunggu dengan hati yang cemas, terutama Qenan.
Qenan sejak Elsa dibawa masuk ke ruang Unit Gawat Darurat tak hentinya mondar-mandir di depan ruangan itu.
"Lebih baik lo duduk, lalu berdoa. Ada manfaatnya juga buat Elsa. Dari pada lo mondar-mandir nggak jelas kayak setrikaan. Di tambah wajah lo yang butek itu. Yang ada kitanya pusing lihat lo," ucap Dylan.
Mendengar perkataan dari kejam dari Dylan membuat Darren, Willy, Jerry, Axel, Rehan, dan Darel tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Sementara Qenan seketika langsung menatap kesal kearah Dylan. Disaat hatinya lagi khawatir-khawatirnya, masih saja sahabatnya itu memberikan komentar pedas kepadanya.
"Kalau lo pusing lihat wajah butek gue. Pulang aja lo." balas Qenan dengan tatapan kesalnya.
"Sebenarnya gue dari tadi ingin pulang. Tapi hati gue mengatakan bahwa gue harus tetap disini dan menyaksikan kebucinan seorang kedelai hitam yang butek. Ntar kalau gue pulang, yang ada gue dikatain nggak setia kawan hanya karena sahabatnya memiliki wajah butek," balas Dylan.
Mendengar perkataan dari Dylan seketika tawa Darren, Willy, Jerry, Axel, Rehan dan Darel pecah.
"Hahahaha."
Mereka tertawa keras mendengar perkataan dari Dylan. Awalnya mereka sudah berusaha untuk tidak tertawa.
Namun mereka tidak bisa. Dan pada akhirnya, tawa mereka semua pun pecah.
Sedangkan Qenan sudah memberikan pelototannya kepada Dylan. Dan jangan lupa bibirnya yang mengeluarkan sumpah serapahnya lengkap dengan semua jenis hewan untuk Dylan.
Cklek..
Terdengar suara pintu dibuka. Qenan langsung melihat kearah pintu tersebut. Begitu juga dengan Darren, Willy, Jerry, Dylan, Axel, Rehan dan Darel.
Mereka melihat bahwa sang Dokter yang keluar dari ruang Unit Gawat Darurat. Baik Qenan maupun ketujuh sahabatnya menatap wajah Dokter itu.
"Bagaimana keadaan teman kami, Dokter?" tanya Darren.
"Pasien tidak apa-apa. Hanya luka lecet di dahinya. Semuanya dalam keadaan baik-baik. Pasien boleh pulang setelah infus habis."
"Terima kasih, Dokter!"
"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi."
__ADS_1
Setelah kepergian Dokter itu, Qenan dan ketujuh sahabatnya memasuki ruang UGD tersebut untuk melihat kondisi Elsa.