
Tiga hari kemudian...
Sejak kejadian dimana Darren, ketujuh sahabatnya, Brenda dan juga sahabat-sahabatnya bertemu dengan seorang gadis kecil yang sudah kehilangan kedua orang tuanya untuk selamanya. Sejak itulah kehidupan Darren dan orang-orang sekitarnya berubah.
Perubahan itu terjadi sejak bertemu dengan seorag gadis kecil yang bernama Anin Mondella.
Anin Mondella yang sekarang berubah menjadi Erica Audrey Smith, karena Darren sudah mengangkatnya sebagai putrinya.
Bukan hanya Darren yang menjadi ayah angkatnya Erica. Ketujuh sahabat-sahabat Darren juga mendaftarkan diri untuk menjadi ayah angkat untuk Erica.
Alasan Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Axel dan Dylan ikut serta dalam mengangkat Erica jadi putri mereka adalah jika terjadi sesuatu terhadap Darren, maka mereka lah yang akan menjaga Erica selanjutnya. Jadi Erica tidak akan pernah merasakan kehilangan orang tua lagi.
Jadi sekarang ini status Darren dan ketujuh sahabatnya telah berubah menjadi seorang ayah. Panggilan mereka juga sudah berubah. Dari Paman menjadi Papa.
Sementara untuk Brenda dan ketujuh sahabatnya masih berstatus sebagai Bibi untuk Erica. Dengan kata lain calon Mama untuk Erica.
Alasan Darren merubah nama asli dan juga marga dari Anin adalah agar orang-orang yang sudah menyerang kediaman Mondella dan membunuh seluruh penghuni termasuk kedua orang tua dari Anin tidak bisa menemukan keberadaan Anin.
Darren bahkan meminta bantuan kepada salah satu kakak mafianya yaitu Ziggy dan keluarganya untuk menghilangkan atau menghapus jejak digital Anin selama menjadi bagian dari keluarga Mondella dan keluarga Marva, keluarga dari ibunya Anin.
Bukan hanya jejak digital di dalam dua keluarga itu saja akan dihilangkan. Semua jejak digital yang berhubungan dengan Anin, baik di dalam rumah maupun d luar rumah dihilangkan dari pencarian.
Dengan dihilangkan jejak digital Anin tersebut. Orang-orang yang sudah membunuh kedua orang tuanya tidak akan bisa melacak keberadaannya.
"Papa!" teriak seorang gadis kecil yang berlari tangga menuruni anak tangga.
Mendengar suara teriakan dari arah anak tangga. Semua anggota keluarga Smith langsung melihat ke asal suara.
Dan seketika mereka semua pun berteriak.
"Oh, Tuhan! Erica!"
"Berhenti disitu!"
Seketika gadis kecil itu berhenti di anak tangga kesepuluh dari bawah ketika mendengar suara teriakan dari keluarga Smith. Dan jangan lupa bibir yang sudah melengkung beberapa senti ke bawah.
Melihat respon dari Erica membuat Darren dan anggota keluarganya tersenyum gemas. Apalagi ketika melihat wajah merengut Erica.
Darren bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati putrinya itu dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.
Darren dan anggota keluarganya tengah berkumpul di ruang tengah. Mereka berkumpul untuk membahas masalah Gilang dan Valen yang akan menikah dua hari lagi.
Anggota keluarganya masih menentang akan keputusan Gilang yang menikah dengan Valen, terutama Erland sang ayah.
Berulang kali Erland dan anggota keluarga lainnya, kecuali Darka dan Darren menentang. Bahkan tak jarang terjadi perang mulut antara Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang. Namun Gilang tetap pada keputusannya.
"Ada apa, hum?" tanya Darren yang saat ini sudah berada di hadapan putrinya.
"Papa marah ya?"
Bukannya menjawab pertanyaan dari Darren malah gadis kecil itu memberikan pertanyaan balik pada ayahnya.
"Tidak. Papa tidak marah sama Erica."
Mendengar jawaban dari ayahnya. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya. Dan detik kemudian, gadis kecil itu memeluk erat ayahnya.
"Erica sayang Papa."
"Papa juga sayang Erica."
Darren menggendong tubuh putrinya, lalu membawanya menuju ruang tengah.
^^^
Kini Darren dan putrinya sudah berada di ruang tengah. Saat ini Erica tengah duduk di pangkuan sang Paman yaitu Andra.
"Kenapa tadi Erica teriak-teriak?" tanya Andra sembari tangannya bermain-main di kepala belakangnya.
"Maafkan Erica yang udah buat Paman, Papa dan yang lainnya terkejut dan juga khawatir," ucap Erica.
"Iya, sayang! Tidak apa-apa," jawab mereka bersamaan.
"Sekarang katakan. Ada apa, hum?" tanya Andra lagi.
Erica melihat kearah ayah angkatnya. Begitu juga dengan Darren.
"Ada apa, hum? Apa ada yang ingin Erica tanyakan?"
"Soal janji Papa kemarin," jawab Erica.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Erica. Semua anggota keluarga Smith melihat kearah Darren.
"Ren. Sepertinya Erica menagih janji kamu yang kemarin," ujar Darka.
Darren menatap wajah putrinya itu. "Apa Erica beneran mau sekolah?"
Mendengar pertanyaan dari ayahnya itu, Erica langsung turun dari pangkuan Andra.
Dan setelah itu, Erica berpindah duduk di pangkuan ayahnya.
"Apa boleh, Papa?" tanya Erica dengan menatap wajah Darren.
"Tentu. Kapan Erica ingin didaftarkan ke sekolah?" tanya Darren dengan membelai lembut rambut putrinya.
"Eemm. Bagaimana kalau sekarang, Papa!" seru Erica dengan memperlihatkan senyuman manisnya.
"Baiklah," jawab Darren langsung.
Seketika matanya Erica membulat ketika mendengar jawaban dari ayahnya.
Melihat hal itu, Darren dan anggota keluarganya tersenyum gemas.
"Beneran, Papa?"
"Hm." Darren menganggukkan kepalanya.
"Yeey! Akhirnya Erica masuk sekolah!" teriak Erica semangat.
Cup!
"Terima kasih, Papa!"
Setelah memberikan satu kecupan di pipi ayahnya dan mengucapkan kata terima kasih. Erica pun langsung turun dari pangkuan ayahnya.
"Papa, aku ke kamar mau siap-siap."
"Iya, sayang."
"Opa, Oma, Paman. Aku ke kamar dulu ya," pamit Erica.
"Iya, sayang!" mereka menjawab dengan kompak.
"Mama benar-benar bahagia melihat Erica yang sekarang. Beda dari sebelumnya," tutur Agneta.
"Aku juga, sayang. Aku juga ikut bahagia melihat kebahagiaan Erica. Tidak ada ketakutan dan juga kesedihan di matanya," sela Erland.
"Erica sudah mendapatkan keluarganya kembali, walau bukan keluarga kandungnya." Carissa ikut bersuara.
Davin menatap wajah Darren. Dan dirinya ingin menanyakan sesuatu kepada adik laki-lakinya itu.
"Ren," panggil Davin.
"Iya, kakak Davin." Darren menjawabnya.
"Bagaimana dengan pelaku pembunuhan kedua orang tua Erica? Apa sudah mendapatkan titik terang?" tanya Davin.
"Belum, kakak Davin. Kakak Enzo dan anggotanya saat ini masih menyelidiki dalang dalam penyerangan kediaman Mondella. Bahkan kakak Farraz dan kakak Ziggy juga tengah mencari informasi itu," jawab Darren.
"Semoga cepat ketahuan siapa dalangnya. Setidaknya jika dalang sudah ketahuan. Kita bisa sedikit bernafas lega," ucap Evan.
"Iya. Paman Evan benar," ucap Adnan.
Darren menatap wajah Gilang, kakak bantetnya itu.
Gilang yang ditatap oleh adik kelincinya itu menaruh curiga. Gilang dapat melihat ada keanehan di tatapan mata adik laki-lakinya itu.
"Bukannya beberapa menit yang lalu kita sedang membahas pernikahan sibantet dengan perempuan gila itu kan? Kenapa malah membahas masalah dalang pembunuhan kedua orang tua Erica?" tanya Darren dengan menatap Gilang dengan senyuman evilnya.
Mendengar pertanyaan dan melihat senyuman evil dari Darren membuat mereka semua menatap Gilang.
Sementara Gilang menatap horor adik laki-lakinya itu dengan mulut menyumpah serapah sang adik.
"Gilang, kamu......" perkataan Andra terpotong.
"Apapun yang akan kalian tanyakan tentang pernikahanku. Jawabannya adalah aku akan tetap menikah dengan Valen. Aku sangat mencintai Valen."
Mendapatkan jawaban mantap dari Gilang membuat Erland dan anggota keluarga lainnya hanya bisa menghembuskan nafas pasrahnya. Mau tidak mau mereka semua menerima pernikahan tersebut.
Ting!
__ADS_1
Tong!
Ting!
Tong!
Mereka semua dikejutkan dengan suara bell yang beruntun.
"Aish! Ini pasti kerjaan si duo kurus itu!" kesal Darren.
Duo kurus yang dimaksud oleh Darren adalah Dylan dan Rehan.
Mendengar ucapan dari Darren. Erland dan keluarga lainnya tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Setelah itu, Darren berdiri dari duduknya. Dan melangkah menuju ruang tamu
^^^
Darren sudah berada di ruang tamu. Setelah itu, tangannya langsung membuka pintu tersebut.
Cklek!
Pintu terbuka. Dan terlihat lima manusia yang sudah berdiri rapi di depan pintu rumahnya.
Darren tidak langsung menyuruh mereka semua masuk. Justru Darren berdiri bersandar di pintu itu dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Mau cari siapa tuan-tuan dan nyonya-nyonya?" tanya Darren.
Mendengar pertanyaan dari Darren membuat kelima belas manusia yang masih berdiri di depan pintu itu menatap horor Darren.
"Yak!" teriak ketujuh laki-laki itu.
Dan detik kemudian....
Ketujuh laki-laki itu menerobos masuk dengan mendorong tubuh Darren. Dan melangkah menuju ruang tengah. Dan disusul oleh ke delapan wanita cantik di belakang. Salah satunya dari wanita cantik itu memberikan kecupan tepat di bibir Darren. Setelah itu, wanita cantik itu menyusul yang lainnya.
Namun langkahnya terhenti karena Darren berhasil mencekalnya dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Mau kemana? Masa depan kamu masih ada disini. Masa tega ninggalin," ucap Darren sembari mengecup dan menggigit kecil leher Brenda.
"Aaahhh... Ren."
Brenda mendesah ketika merasakan sensasi luar biasa ketika Darren bermain-main di lehernya.
Mendengar ******* dari Brenda. Darren langsung menghentikan kegiatannya. Darren menatap wajah cantik kekasihnya itu dengan tersenyum bahagia.
Kelima belas manusia yang datang itu adalah ketujuh sahabatnya, kekasihnya dan sahabat dari kekasihnya.
Kedatangan mereka adalah ingin bertemu dengan Erica, putri angkat Darren yang juga putri angkat ketujuh sahabatnya.
"Aku mencintaimu," ucap Darren.
"Aku juga mencintaimu," jawab Brenda.
Darren menatap bibir merah Brenda. Dan detik kemudian, Darren pun mencium bibir yang sudah menjadi candu baginya.
Darren mencium bibir Brenda dengan lembut. Tangan kanannya menekan tengkuknya agar ciuman makin mendalam.
Brenda yang mengerti langsung membuka mulutnya agar Darren bisa lebih leluasa bermain disana.
Mendapatkan akses masuk, Darren pun makin bersemangat bermain dengan bibir Brenda. Sementara Brenda juga membalas setiap perlakuan Darren padanya.
Brenda dan Darren saling membalas ciuman di bibir pasangannya sehingga membuat Brenda berulang kali mendesah.
"Mmpptthhh!"
Beberapa detik kemudian..
Darren menghentikan kegiatannya bermain-main dengan bibir Brenda setelah mendapatkan pukulan kecil di dadanya.
Ciuman keduanya terlepas. Brenda meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Sementara Darren tersenyum melihat Brenda yang tengah meraup oksigen agar bisa bernafas dengan sempurna.
Darren tersenyum gemas melihat wajah Brenda yang saat ini. Wajah Brenda yang lucu dan menggemaskan.
"Erica akan mendaftar sekolah hari ini. Apa kau mau menemaniku ke sekolah baru Erica?" tanya Darren.
"Tentu. Dengan senang hati," jawab Brenda.
Darren memeluk erat tubuh Brenda. "Aku mencintaimu. Jangan pernah meninggalkanku. Tetaplah bersamaku. Selamanya!"
__ADS_1
"Aku lebih mencintaimu, Ren! Aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu. Apapun yang terjadi nanti, kita akan selalu bersama-sama."