
Darren bersama ketujuh sahabatnya berada di sebuah kafe. Mereka saat ini tengah menunggu seseorang untuk ketemuan. Lebih tepatnya orang itu yang ingin bertemu dengan Darren.
"Kelayapan kemana dulu sih patung pajangan itu."
"Dia yang ngajak ketemuan. Malah dianya yang lelet."
Darren tak henti-hentinya mengomel karena kesal karena orang yang ditunggu tak kunjung datang.
Mendengar ocehan dari Darren membuat Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Dylan dan Jerry tersenyum.
"Sabar," ucap Axel.
"Orang sabar digangguin sama kuntilanak," ledek Rehan.
"Lo aja. Gue nggak," jawab Darren. Rehan tersenyum.
"Oh iya! Ren, apa alasan Elzaro ngajak untuk ketemuan sama lo?" tanya Jerry.
"Gue juga nggak tahu," jawab Darren.
"Memangnya Elzaro nggak ngasih tahu alasan dia ingin ingin ketemu sama lo?" tanya Axel.
"Nggak," jawab Darren.
"Aku rasa pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakan sama lo, Ren!" seru Willy.
Mendengar perkataan dari Willy. Darren pun membenarkan perkataan dari Willy. Begitu juga dengan Qenan, Rehan, Darel, Axel, Dylan dan Jerry.
Ketika Darren, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Dylan dan Jerry sedang berusaha memikirkan alasan Elzaro mengajak ketemuan, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara seseorang. Suara orang yang mereka tunggu beberapa menit.
"Maaf, aku terlambat!" seru Elzaro.
Mendengar suara orang yang ditunggu oleh Darren, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Dylan dan Jerry. Mereka dengan kompak melihat ke asal suara. Dan dapat mereka lihat Elzaro datang bersama kelima sahabatnya.
"Sudah lama ya?" tanya Elzaro dan langsung menduduki pantatnya di kursi dan disusul oleh kelima sahabatnya.
"Nggak, kita...." perkataan Qenan terpotong karena Darren sudah terlebih dahulu bersuara.
"Gue dan sahabat-sahabat gue sudah sepuluh jam nungguin lo disini. Kemana aja lo," sungut Darren. Dan jangan lupakan dengan bibir yang mengerucut kesal.
Mendengar jawaban dan melihat wajah kesal serta sepet Darren membuat Elzaro dan kelima sahabatnya tersenyum.
"Maafkan atas keterlambatan saya tuan Darren. Semoga tuan Darren bisa mengerti akan keterlambatan saya dan juga kelima sahabat-sahabat saya ini," ucap Elzaro yang sengaja menggoda Darren yang saat ini sedang kesal akan keterlambatannya.
Mendengar perkataan dari Elzaro membuat Darren makin bertambah kesal. Bahkan saat ini tatapan matanya yang menajam menatap Elzaro.
Elzaro yang ditatap seperti ini oleh Darren bukannya takut. Justru tatapan mata Darren membuat Elzaro tersenyum gemas.
Baik Elzaro maupun kelima sahabatnya, wajah Darren saat ini benar-benar menggemaskan layaknya anak berusia 5 tahun.
__ADS_1
"Oke! Sebagai gantinya. Gue yang bakal traktir kalian semua!" seru Elzaro.
"Bukan traktir. Tapi memang lo yang harus bayarin gue dan ketujuh sahabat gue. Kan lo yang ngajak kita ketemuan," sela Darren.
Lagi-lagi Elzaro tersenyum melihat wajah super kesal Darren.
"Baiklah. Gue ralat kata-kata gue tadi. Bukan traktir, tapi bayarin. Jadi gue yang akan bayarin kalian semua!" ucap Elzaro.
"Nah, ini baru benar! Akhirnya gue bisa ngerasain dibayarin oleh anak dari seorang Atalaric Radmilo!" sahut Darren.
Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka semua tersenyum.
"Malu-maluin aja hidup lo, Ren!" seru Darel.
"Peduli amat," jawab Darren
Setelah itu, Elzaro pun memesan beberapa makanan dan minuman untuk dirinya dan para sahabat-sahabatnya.
^^^
"Sekarang katakan pada gue, kenapa lo ngajak ketemuan gue?" tanya Darren.
Darren, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Dylan dan Jerry menatap wajah Elzaro
"Baiklah. Tapi sebelum gue ngasih tahu alasan gue ingin ketemu sama lo. Gue mau nunjukin sesuatu sama lo, Ren!"
Elzaro mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Setelah mengeluarkan benda itu, Elzaro meletakkan benda itu di atas meja dengan posisi terbalik dan kemudian tangannya mendorong benda itu ke hadapan Darren.
Darren, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Dylan dan Jerry menatap kearah benda itu.
"Foto!" seru Darren, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Dylan dan Jerry bersamaan.
Darren mengambil foto itu, lalu membalikkan foto tersebut.
Darren melihat ada tiga orang di dalam foto itu. Satu laki-laki dan dua perempuan.
Seketika tatapan matanya fokus kepada salah satu perempuan yang ada di dalam foto itu. Perempuan yang berada di posisi tengah.
Seketika Darren teringat perbincangan dirinya dengan ibunya tentang kakek dan neneknya.
[Mama, aku boleh nanya tidak?]
[Mau nanya apa, sayang?]
[Apa aku masih punya nenek dan kakek?]
Agneta menatap wajah putranya dengan tatapan sedih.
[Kakek dan nenek kamu sudah meninggal, sayang!]
__ADS_1
[Maksud Mama, Kakek dan Nenek sudah tidak ada lagi di dunia ini?]
[Benar, sayang. Kakek dan Nenek kamu meninggal ketika kamu belum lahir. Dan usia kakak Darka dan kakak Gilang saat itu adalah satu tahun tujuh bulan]
[Mama!]
[Iya, sayang]
[Apa Mama memiliki foto kakek dan nenek? Apa aku boleh melihatnya]
Agneta tersenyum melihat wajah memelas putranya itu sehingga membuat dirinya mencubit gemas kedua pipi putranya itu.
[Boleh! Tunggu sebentar ya Mama akan ambilkan]
[Ini sayang foto kakek dan nenek kamu. Nama kakek adalah kakek Darwin dan nama nenek adalah Belinda]
Setelah mengingat tentang foto perempuan yang ada di dalam foto itu, tiba-tiba Darren berucap.
"Kakek Darwin, Nenek Belinda!"
Darren menatap wajah Elzaro. Begitu juga dengan Elzaro. Baik Darren maupun Elzaro saling memberikan tatapan.
"Dari mana lo dapat foto ini? Lalu siapa dua orang yang berdiri di samping kiri dan kanannya Nenek Belinda?" tanya Darren.
"Yang berdiri di samping kiri Nenek Belinda adalah kakak laki-lakinya yaitu Robert. Dan yang berdiri di samping kanan Nenek Belinda adalah adik perempuannya yaitu Della. Kakek Robert itu kakek gue."
Darren menatap Elzaro. Setelah itu, Darren kembali menatap foto yang masih dipegangnya.
"Kenapa Mama tidak pernah cerita soal nenek Belinda yang memilik saudara dan saudari?" batin Darren.
"Nenek Belinda menikah dengan Kakek Darwin yang berasal dari keluarga Garcia," ucap Elzaro
"Nenek Belinda pergi meninggalkan keluarga Radmilo karena keegoisan ayah mereka."
"Sejak kepergian nenek Belinda. Sejak itulah keluarga Radmilo tidak mengetahui keberadaan nenek Belinda."
"Sekali pun orang-orang suruhan kakek Robert berhasil mengetahui nama suami dan nama ketiga anak-anaknya, namun tetap saja orang-orang suruhannya kakek Robert belum berhasil mengetahui tempat tinggal dan wajah dari suami dan ketiga anak-anaknya nenek Belinda."
"Asal kau tahu Ren. Kakek Robert begitu menderita selama ini. Kakek Robert ingin sekali bertemu dengan Nenek Belinda. Kakek Robert begitu merindukan Nenek Belinda."
"Tapi kakek dan nenek gue sudah lama meninggal. Gue aja yang cucunya belum pernah merasakan pelukan mereka, karena gue saat itu belum lahir. Begitu juga dengan ibu kandung gue."
"Ibu kandung gue meninggal ketika usia gue satu tahun. Gue saat itu berpikir jika Mama Agneta adalah ibu kandung gue. Ternyata gue salah. Mama Agneta adalah adik perempuan ibu kandung gue. Sebelum meninggal, ibu kandung gue meminta adik perempuannya untuk menikah dengan suaminya yang tak lain adalah ayah kandung gue. Tujuannya adalah agar ketujuh putranya, terutama gue mendapatkan kasih sayang, pelukan dan ciuman dari seorang ibu."
Darren menatap wajah Elzaro. "Besok datanglah ke kediaman Smith. Bawa keluarga Radmilo bersama lo. Hanya Mama Agneta dan Paman Brian keluarga Garcia yang tersisa. Sementara ini lo dan keluarga Radmilo hanya bisa bertemu Mama Agneta. Sementara untuk Paman Brian, dia ada. Diluar negeri. Paman Brian dan keluarganya menetap disana."
Mendengar perkataan dari Darren membuat senyuman Elzaro mengembang. Dia benar-benar bahagia mendengar itu.
"Baiklah."
__ADS_1