KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Telepon Dari Rolando Santa


__ADS_3

Darren sudah berada di rumah miliknya. Dan saat ini dia sedang terbaring lemah di atas tempat tidur kesayangannya. Semua orang kini menemaninya di kamar.


Di dalam kamar yang luas itu sudah ada Davin, Andra, Gilang dan Darka. Sementara Dzaky dan Adnan sudah kembali pulang ke rumah keluarga Smith. Keduanya akan bergantian dengan Agneta, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.


Ada juga anggota keluarga Radmilo, ketujuh sahabatnya beserta anggota keluarga mereka masing-masing dan kelima kakak-kakak mafianya.


Mereka semua menatap khawatir Darren. Wajahnya yang masih terlihat pucat, suhu tubuhnya yang masih terasa panas, walau tak sepanas ketika dia ditemukan.


Kondisi Darren saat ini benar-benar membuat semuanya menangis. Tangannya yang di pasang infus, hidung yang di pasang selang canula, dan keningnya di tempeli handuk basah.


"Bibi Celsea. Bagaimana keadaan adikku? Adikku baik-baik saja, kan?" tanya Darka.


"Untuk saat ini, Darren baik-baik saja. Hany menunggu panasnya turun saja," jawab Celsea.


"Bagaimana dengan jantungnya, Bibi Celsea?" tanya Andra.


"Untuk jantungnya mungkin ada sedikit masalah. Jantungnya kembali lemah. Lemahnya jantungnya disebabkan karena Darren terlalu banyak mengkonsumsi minuman alkohol."


"Terus apa solusinya, sayang?" tanya Dario kepada istrinya.


"Solusinya hanya satu. Jangan tinggalkan Darren sendirian. Tetap awasi dia. Ajak Darren bicara. Jika Darren tiba-tiba marah, biarkan saja. Kemarahan Darren itu bukan kemarahan pada umumnya, melainkan kemarahan akan keadaan yang tak memihak padanya. Justru dengan Darren meluapkan kemarahannya, kita bisa tahu bahwa Darren sebenarnya sangat membutuhkan kita semua."


Mendengar perkataan dan penjelasan dari Celsea. Mereka semua menganggukkan paham.


"Dan untuk kalian." Celsea menatap kearah Davin, Andra, Gilang dan Darka. "Bibi berharap kalian tidak terlalu ambil pusing akan setiap perkataan Darren."


"Kami mengerti, Bibi!" seru Davin, Andra, Gilang dan Darka.


Celsea beralih menatap wajah putra bungsunya dan keenam sahabatnya. "Untuk kalian juga. Jangan bersedih ketika Darren bersikap kasar kepada kalian."


"Aku mengerti, Mama!" Axel menjawab perkataan ibunya.


"Kami mengerti, Bibi!" seru Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Rehan, dan Darel bersamaan.


Ketika mereka tengah membahas kondisi Darren, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan igauan Darren.


"Kakak Davin."


Davin yang mendengar igauan adiknya, seketika tersenyum bahagia. Dia benar-benar tak percaya bahwa adiknya memanggil namanya.


Davin pun melangkah menghampiri ranjang adiknya itu. Sesampainya disana, Davin duduk di samping ranjang adik kesayangannya dengan tangannya mengusap lembut punggung tangan adiknya yang terbebas dari infus.


"Kakak Davin," igau Darren lagi.


"Ini kakak Davin, sayang! Kakak disini," jawab Davin sembari mengusap-usap punggung tangan adiknya itu.


Berlahan Darren membuka kedua matanya yang sudah dua jam tertutup rapat.


Melihat Darren yang membuka kedua matanya, seketika semua yang ada di dalam kamar Darren tersenyum bahagia.


"Ka-kakak," ucap Darren dan disertai isakannya.


Mendengar panggilan dan isakan dari adiknya membuat hati Davin sakit dan juga sedih. Tapi Davin tetap memberikan senyuman di hadapan adiknya. Dia tidak ingin membuat adiknya merasa tertekan.


"Ada apa, hum?" tanya Davin dengan mengusap lembut rambut adiknya.


"Kakak Davin disini saja. Jangan pulang," pinta Darren disertai air matanya yang mengalir di sudut matanya.


Davin tersenyum mendengar permintaan dari adiknya itu.


"Sesuai keinginan kamu," jawab Darren.


"Bagaimana dengan kita, Ren!" seru Andra, Gilang dan Darka sembari melangkah menghampiri kedua saudaranya.


Darren menatap wajah Andra, Gilang dan Darka secara bergantian sembari menyapa ketiga kakak-kakaknya itu.


"Kakak Andra, kakak Gilang, kakak Darka."


Andra, Gilang dan Darka seketika tersenyum mendengar sapaan dari adiknya.


Seketika Darren ingin bangun dari tidurnya. Melihat Darren yang ingin bangun dari tidurnya membuat Davin dan Darka langsung membantu adiknya. Begitu juga dengan Gilang dan Andra.


Kini Darren sudah dalam posisi duduk. Tangannya berlahan melepaskan selang canula yang ada di hidungnya.


Davin yang hendak menahan tangannya, Darren langsung memperlihatkan wajah sedihnya.


Melihat wajah sedih adiknya membuat Davin pun pasrah. Begitu juga dengan yang lainnya.


Darren sudah duduk dalam keadaan nyaman, walau infus masih menancap di tangannya.


Beberapa detik kemudian, Darren melihat ke sekeliling kamarnya. Dan dapat dilihat olehnya makhluk-makhluk tampan dan cantik berada di kamarnya.


"Kenapa semuanya ada di kamarku? Apa kamarku ini tempat penampungan?"


"Terus, Bibi Celsea kenapa ada disini. Bibi Celsea itu kan Dokter? Seharusnya Bibi Celsea berada di rumah sakit, sekarang!"


Mendengar pertanyaan sarkas dari Darren membuat mereka semua melongo dan geleng-geleng kepala.


Namun detik kemudian, mereka semua tersenyum bahagia karena melihat perubahan sikap Darren.


"Kenapa? Tidak suka jika Bibi datang kesini, hah?" tanya Celsea yang berpura-pura garang.


"Bukan tidak suka. Setiap aku melihat wajah Bibi, seketika aura di sekitar berubah jadi tak mengenakkan."


Celsea seketika melongo mendengar perkataan dari Darren. Sementara yang lainnya tertawa.


Ketika Celsea ingin membalas perkataan dari Darren, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan bunyi ponsel.

__ADS_1


"Itu ponsel siapa?" tanya Arkana.


"Itu ponselnya Darren," jawab Darel.


Darel mengambil ponselnya Darren yang ada di atas meja belajarnya. Setelah mendapatkanya, Darel langsung memberikannya kepada Darren.


"Ini, Ren!"


Darren mengambil ponselnya itu dari tangan Darel sembari berkata, "Kok ponsel gue sama lo. Lo maling ya."


Mendengar ucapan dari Darren membuat Darel hanya bisa mengelus dada.


"Terserah lo lah mau ngomong apa. Lelah gue," sahut Darel.


Setelah itu, Darel menjauh dari Darren. Sementara Darren seketika tersenyum mendengar jawaban dari sahabatnya itu.


Melihat senyuman Darren membuat hati mereka sedikit tenang dan juga lega.


"Siapa yang menghubungiku," batin Darren dengan tatapan matanya menatap layar ponselnya lekat.


"Kenapa Darren menatap layar ponsel segitunya?"


"Apa nomor tak dikenal?"


Mereka bertanya di dalam hati masing-masing sembari tatapan matanya menatap kearah Darren.


"Hallo."


"Hallo, Darren!"


Darren seketika membelalakkan matanya ketika mendengar lawan bicaranya mengetahui namanya.


Davin, Andra, Gilang, Darka, ketujuh sahabatnya, kelima kakak-kakak mafianya serta yang lainnya seketika berubah takut ketika melihat reaksi Darren.


"Siapa kau?"


Suara Darren seketika berubah. Suara tersebut bukan lagi suara Darren.


Mendengar suara Darren yang berubah membuat mereka langsung paham. Sosok Rendra kembali mengambil alih tubuh Darren. Bahkan mereka juga bisa melihat dari bola mata Darren yang berubah menjadi abu-abu.


"Hahahaha."


Mendengar lawan bicaranya tertawa membuat sosok Rendra menjadi marah.


"Rolando Santa!"


Sosok Rendra langsung menyebut nama musuh Darren dan ketujuh sahabatnya dengan begitu lantang.


Deg!


Tak jauh beda dengan Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, dan Darel yang terkejut ketika mendengar nama Rolando Santa. Sang pemilik nama juga terkejut ketika mendengar Darren yang langsung bisa menebak dirinya.


Rolando Santa tidak mengetahui bahwa Darren memiliki Altar Ego. Dia juga tidak tahu bahwa saat ini dia tengah berbicara dengan sosok lain dari Darren.


"Aku salut padamu, Darren! Kau langsung bisa menebak siapa aku."


"Siapa yang tidak mengenalmu, hah! Semua orang mengenamu. Orang-orang mengenalmu bukan dari sisi baiknya. Melainkan dari sisi yang lain. Lebih tepatnya adalah orang-orang mengenalmu sebagai manusia menjijikkan."


Mendengar perkataan kejam dari Darren membuat Rolando marah. Dia tidak terima jika Darren menghinanya.


Sementara keempat kakaknya, kelima Kakak mafianya, ketujuh sahabatnya serta yang lainnya masih terus mendengar percakapan Darren dengan Rolando Santa.


Mereka semua selain memasang telinganya untuk mendengar percakapan Darren dengan Rolando Santa. Mereka menatap kearah mata Darren.


Mereka semua bisa melihat bola mata Darren. Kadang warna bola mata Darren berwarna coklat, kadang berubah menjadi abu-abu. Warna bola mata Darren berubah secara bergantian.


Mereka semua berpikir bahwa baik Darren maupun sosok Rendra secara bergantian berbicara dengan Rolando Santa di telepon.


"Tutup mulutmu, Darren!"


"Kenapa? Kau marah? Tidak terima."


"Sejak kapan kau tersinggung dengan setiap perkataanku, hum?!"


"Sekarang, katakan padaku. Apa maumu, hah?!"


"Aku mau kehancuranmu. Bukan itu saja, aku juga mau kehancuran ketujuh sahabat-sahabatmu itu."


"Hahahaha."


Sosok Rendra tertawa ketika mendengar perkataan dari Rolando Santa.


"Apa kau yakin bisa menghancurkanku dan ketujuh sahabat-sahabatku, hum?" tanya Darren.


Mendengar ucapan dari Darren membuat mereka semua terkejut terutama Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, dan Darel.


"Tentu. Bahkan aku sudah memulai permainanku."


Mendengar jawaban dari Rolando Santa membuat Darren mengepal tangan kirinya.


"Aku memulai permainan pertamaku melalui ayahmu. Kau mau tahu apa yang sudah aku lakukan, hum?"


Darren tidak menjawab perkataan dari Rolando Santa. Tatapan matanya tersirat amarah.


"Sebelum aku memberitahumu. Aku ingin menebak kondisi ayahmu. Pasti saat ini ayahmu mengalami Amnesia. Ayahmu melupakan semua orang terdekatnya. Namun sayangnya, ayahmu itu hanya mengingat istrinya kesebelasan putranya. Sementara denganmu. Ayahmu sama sekali tidak mengingatmu."


"Brengsek, kau Rolando Santa! Apa yang sudah kau lakukan pada Papaku?!" bentak Darren.

__ADS_1


"Aku tidak melakukan apa-apa terhadap ayahmu. Hanya saja, aku sedikit melakukan perubahan."


"Apa maksudmu, hah?!"


"Em! Aku memberitahumu ayahmu bahwa dia hanya memiliki satu istri yaitu nyonya Agneta. Serta memiliki  11 orang putra."


"Aku menyebut satu persatu nama dari putra-putra ayahmu sembari menunjukkan sebuah foto keluarga. Foto itu berisi ayah kamu, ibu tirinya dan para saudara-saudara kamu. Sedangkan fotomu... Eemm... Aku membuang fotomu."


Mendengar ucapan dari Rolando Santa membuat Darren benar-benar marah.


"Brengsek! Kau benar-benar keterlaluan, Rolando Santa. Kalau kau dendam padaku. Cukup aku saja yang kau incar. Jangan libatkan ayahku. Apalagi sampai mempengaruhi pikirannya!"


"Hahahaha. Itu baru awal, Darren! Tunggu saja kejutan-kejutan selanjutnya dariku."


Tutt!


Rolando Santa langsung mematikan panggilannya setelah mengatakan kata terakhirnya.


"Aargghh!"


Prang!


Darren seketika berteriak dengan disertai lemparan terhadap ponselnya sehingga membuat ponsel tak berbentuk lagi.


Davin langsung memeluk tubuh adiknya. Dia tidak ingin adiknya itu kembali kambuh hanya karena amarahnya yang meluap.


"Kakak Davin," ucap Darren disela isakannya.


"Ada apa, hum? Ceritakan semuanya kepada kakak."


"Sebenarnya... Sebenarnya," ucap Darren terisak.


"Katakanlah," ucap Davin lagi sembari tangannya mengusap-usap lembut punggung adiknya.


"Ini semuanya ulah Rolando Santa. Dia yang sudah mencuci pikiran Papa."


Mendengar ucapan dari Darren membuat Davin bingung. Begitu juga dengan yang lainnya.


Davin kemudian melepaskan pelukannya. Lalu matanya menatap wajah tampan adiknya itu.


"Kakak nggak ngerti. Apa maksudnya?" tanya Davin.


"Akibat kecelakaan pesawat itu membuat Papa Amnesia. Kenapa Papa hanya ingat sama Mama Agneta, kakak Davin, kakak Andra, kakak Dzaky, kakak Adnan, kakak Gilang dan kakak Darka. Serta kelima adik laki-laki kita. Itu semua ulahnya Rolando Santa. Dia memperlihatkan foto keluarga kita kepada Papa tanpa ada aku di dalam foto itu. Dan menjelaskan siapa-siapa saja yang ada di dalam foto itu."


Mendengar cerita dari Darren membuat Davin dan semuanya terkejut. Dan pada akhirnya, kecurigaan para ketua mafia terjadi juga.


"Ren," panggil Axel.


Darren langsung melihat kearah Axel. Dapat Darren lihat bahwa sahabatnya itu ingin menanyakan sesuatu.


"Jika kau ingin bertanya apakah yang menghubungiku itu benar Rolando Santa. Maka jawabanku adalah iya. Orang yang menghubungiku itu benar-benar Rolando Santa, mantan sekutunya Samuel."


Mendengar perkataan Darren membuat mereka kembali terkejut. Sementara Axel menatap kesal Darren. Dia belum bertanya, tapi sahabatnya yang menyebalkan itu langsung memberikan pertanyaan dan langsung dengan jawabannya.


Darren menatap kearah kakak pucatnya. Dan jangan lupa senyuman manisnya.


Andra yang melihat adiknya tersenyum manis padanya langsung paham.


"Apa? Kenapa menatap kakak seperti itu?"


"Tuh!" Darren menunjuk kearah ponselnya yang sudah rusak di lantai.


Andra melihat kearah tunjuk Darren. Begitu juga dengan yang lainnya.


Setelah itu, Andra kembali menatap wajah tampan adiknya itu.


"Ponselku sudah rusak," ucap Darren.


"Iya, memang rusak. Kenapa?"


"Itu... Em... Aku...," Darren menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


Mendapatkan reaksi yang kurang memuaskan dari sang kakak membuat Darren memasang wajah kesalnya.


Melihat wajah kesal Darren membuat mereka semua tersenyum.


"Yaelah, Ren! Ngomong minta dibelikan ponsel baru sama Kakak Andra susah benar tuh mulut. Kayak cewek aja Lo!" ledek Dylan.


Mendengar ledekan dari Dylan seketika Darren langsung menyumpah serapah Dylan.


"Dasar kurus kering sialan. Diam lo! Nggak usah ngebacot tuh mulut!"


Mendengar perkataan dari Darren membuat Dylan langsung menutup mulutnya. Dia memutuskan untuk tidak melanjutkan perang mulutnya dengan sahabat kelincinya itu.


Darren kembali menatap wajah Kakak keduanya. Dia berusaha untuk membuat kakaknya itu mau membelikan ponsel baru untuknya.


"Kakak....,"


"Baiklah. Kakak akan belikan ponsel baru untuk kamu," ucap Andra.


"Benarkah, kakak Andra?" tanya Darren dengan senyuman mengembang di bibirnya.


"Iya. Kakak akan belikan ponsel baru untuk kamu," jawab Andra.


"Terima kasih, kakak Andra! Kakak yang terbaik."


Darren mengucapkan terima kasih kepada kakak keduanya itu dengan memberikan pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2