KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Memberikan Senjata Sebagai Pelindung


__ADS_3

Kini Darren dan anggota keluarganya berkumpul di ruang tengah. Sementara kelima adiknya yaitu Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin sudah berada di dalam kamar masing-masing. Dikarenakan besok mereka sekolah. Para kakak-kakaknya menyuruh mereka untuk tidur cepat.


Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin awalnya berniat ingin meminta bantuan kepada kakak kesayangannya yaitu Darren agar mengizinkan mereka untuk tidur pukul 10 malam. Namun niat mereka sudah terbaca terlebih dahulu oleh Andra sehingga Andra menggagalkan niat kelima adiknya itu.


"Ini." Darren meletakkan sebuah kotak yang masih terbungkus di atas meja.


Mereka semua menatap ke kotak berukuran besar yang ada di atas meja. Mereka semua penasaran isi dari kotak tersebut.


"Apa itu, Ren?" tanya Davin.


"Buka saja. Nanti kalian bakal tahu isinya apa," jawab Darren.


Davin kemudian mendekat sedikit kearah meja, lalu tangannya membuka penutup kotak itu.


Setelah penutup kotak itu terbuka, Davin sontak terkejut.


"Senjata!" seru Davin.


Mendengar seruan dari Davin membuka anggota keluarga lainnya terkejut. Mereka pun melihat isi kotak tersebut. Dan benar saja, isi kota itu adalah senjata.


"Ren," ucap mereka semua dengan tatapan mata menatap kearah Darren.


"Aku nggak mau kejadian kakak Dzaky dan kakak Adnan terulang kembali kepada kalian. Jadi aku mau kalian membawa satu senjata itu plus dengan pelurunya," sahut Darren.


"Kalian nggak perlu khawatir. Peluru yang kalian bawa itu adalah peluru karet. Peluru yang hanya membuat para musuh cedera jika terkena tembakkan. Dan reaksinya juga cepat. Para musuh tersebut akan merasakan sakit yang luar biasa," ucap Darren menjelaskan cara kerja peluru karet itu.


"Dan kalian juga nggak perlu takut. Bukankah kalian sudah menggunakan senjata-senjata itu ketika melawan para anak buahnya Samuel dan para anak buahnya Gustavo saat rumah kita diserang. Bahkan saat itu kalian berubah jadi sosok iblis yang mengerikan ketika membunuh para anak buahnya Samuel dan para anak buahnya Gustavo." Darren berbicara sembari memperlihatkan senyuman manisnya.


Mendengar penjelasan dari Darren membuat mereka menjadi paham. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh Darren. Mereka memang membutuhkan senjata untuk melindungi mereka dari orang-orang jahat, terutama dari orang-orang yang tak menyukai mereka.


Dan mereka juga membenarkan apa yang dikatakan oleh Darren bahwa mereka berubah menjadi iblis yang mengerikan ketika melawan para anak buahnya Samuel dan para anak buahnya Gustavo.


"Apa tidak apa-apa kita menggunakan senjata ini dan membawanya keluar, Ren? Apa tidak melanggar aturan?" tanya Dzaky.


"Tidak, kak Dzaky. Aku dan ketujuh sahabat-sahabatku juga membawa senjata ini kemana-mana. Bahkan di dalam mobil kami itu terdapat empat jenis senjata. Salah satunya senjata yang pelurunya bisa membunuh orang langsung di tempat."


Mereka terkejut mendengar perkataan dari Darren. Mereka tidak menyangka jika Darren dan ketujuh sahabatnya membawa lebih satu senjata. Bahkan Darren dan ketujuh sahabatnya membawa peluru yang bisa membunuh orang.


"Apa sudah dapat izin dari kepolisan?" tanya Andra.


"Aku sudah mendapatkan izin dari ayahnya kak Ziggy. Ayahnya kak Ziggy sudah memberikan izin padaku, Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Axel, Rehan dan Darel. Serta para anggota keluarga, termasuk kalian." Darren menjawab pertanyaan dari Andra.


"Kalian bawalah empat senjata dengan sepuluh kotak peluru. Simpan di dalam mobil dan dekat dengan kalian. Jadi sewaktu-waktu ada kejadian di jalan. Kalian bisa langsung bertindak," ucap Darren.


"Satu kotak peluru isinya sekitar 50 butir peluru. Jadi bawa lima kotak peluru karet dan lima kotak peluru runcing."


"Baiklah, Ren!" seru mereka semua.


Setelah itu, mereka pun mengambil empat senjata dan sepuluh kotak peluru sesuai yang dikatakan oleh Darren barusan.


"Oh iya, Sayang! Bagaimana dengan kelima adikmu?!" tanya Agneta dengan menatap wajah Darren.


Darren tersenyum. "Mama tidak perlu khawatir terhadap mereka. Mereka sudah dalam pengawasan orang-orangku. Dan dibantu oleh beberapa anggotanya kak Noe. Selama Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin berada di luar rumah, orang-orangku dan anggota kak Noe akan selalu mengawasi mereka."


Mendengar perkataan Darren membuat Agneta bisa bernafas lega. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.


"Apa anggota keluarga dari sahabat-sahabatnya kamu yang tak lain juga sahabat-sahabat Papa juga diawasi oleh para anggota dari kakak-kakak mafia kamu itu sayang?" tanya Erland.


"Iya, Papa! Kak Noe, kak Ziggy, kak Enzo, kak Devian dan kak Chico sudah memberikan perintah kepada para tangan kanannya dan juga para anggota mafianya untuk selalu mengawasi keluarga kita dan keluarga dari sahabat-sahabatku dari jarak yang tak bisa dilihat dan dikenal oleh siapa pun, termasuk para musuh."


Mereka semua tersenyum bahagia. Mereka juga tak henti-hentinya mengucapkan kata syukur kepada Tuhan karena telah dipertemukan dengan kelima kakak-kakak mafia Darren.


"Ya, sudah. Pembicaraan ini sampai disini. Aku mau ke kamar melanjutkan tugasku yang sempat tertunda," ucap Darren.


"Baiklah, Ren!" seru mereka semua.


"Tidurnya jangan malam-malam, oke!" ucap Agneta.


"Baik, Mama!"


"Kak Darka akan antar susu kesukaan kamu nanti," sahut Darka.


"Aku tunggu," jawab Darren.


Setelah itu, Darren pun pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamarnya di lantai dua.


Setelah kepergian Darren ke kamarnya. Mereka semua pun beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar masing-masing untuk istirahat.


^^^

__ADS_1


Di dalam kamar Darren saat ini tengah mengerjakan beberapa tugas kantornya. Salah satunya adalah Darren membuat rincian dan pola untuk kerja sama perusahaan miliknya dengan perusahaan kliennya.


Setelah lebih dari satu jam, akhirnya Darren pun selesai dengan tugasnya itu.


Darren menoleh ke samping. Terlihat ponselnya yang sedang menganggur. Darren kemudian meraih ponselnya itu.


Setelah ponselnya ada di tangannya. Darren membuka grup chat 'PARA SAHABAT GILA'. Dan Darren pun mulai mengirim sesuatu disana.


DARREN :


woi, para kacung-kacungku


DARREN :


udah pada tidur kalian semua


Read√√


DARREN :


sialan, kalian


jangan diread doang. ngomong kek


QENAN :


ketik kali. bukan ngomong


WILLY :


biasalah @Qenan. semenjak pacaran dengan Brenda. otak sahabat kita yang satu udah konsleting


DYLAN :


bukan konsleting doang. malahan urat syaraf juga udah putus


AXEL :


benar tu


REHAN :


JERRY :


2


DAREL :


3


Read√√


Darren membaca isi chat dari sahabat-sahabat seketika mengumpat kesal.


DARREN :


dasar sahabat-sahabat setan, bodoh, tolol, kamprett, sialan


Read√√


Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel seketika membelalakkan matanya ketika membaca chat dari Darren yang isinya adalah umpatan untuk mereka semua.


REHAN :


dasar siluman kelinci sialan


DAREL :


2


AXEL :


3


DYLAN :


4


JERRY :

__ADS_1


5


QENAN :


6


WILLY :


7


DARREN :


aku butuh bantuan kalian


REHAN :


apa


DAREL :


apa


AXEL :


apa


DYLAN :


apa


JERRY :


apa


QENAN :


katakan


WILLY :


katakan


DARREN :


buatkan daftar nama-nama mahasiswa dan mahasiswi semua jurusan. dipisahkan ketika kalian membuat daftarnya


DARREN :


besok berikan padaku ketika di kampus. aku butuh nama-nama mahasiswa dan mahasiswi untuk membentuk kelompok baru


QENAN :


baiklah


WILLY :


baiklah


REHAN :


siap, laksanakan


DAREL :


laksanakan


DYLAN :


siap, bos


AXEL :


oke


JERRY :


oke


Setelah selesai mengirim pesan di grup. Darren meletakkan kembali ponselnya di atas meja.

__ADS_1


Darren berdiri dari duduknya dan melangkah menuju tempat tidurnya. Darren memutuskan untuk tidur.


__ADS_2