KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kejadian Di Alam Bawah Sadar


__ADS_3

Di Apartemen milik Kathleen terlihat beberapa orang yang berkunjung. Mereka adalah Elzaro bersama anggota keluarga Radmilo.


Seperti yang sudah mereka sepakati kemarin bahwa mereka akan mengunjungi Apartemen milik Kathleen sekalian ingin membawa Kathleen pulang ke keluarga Radmilo.


"Sebenarnya kalian siapa? Apa kita pernah bertemu?" tanya Kathleen dengan tatapan matanya menatap satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya.


Kathleen melihat kearah Elzaro, pemuda yang sudah menyelamatkan kekasihnya saat kejadian di mall itu.


"Kamu Elzaro kan? Kamu dan teman-teman kamu yang sudah nolongin aku dan Darka tempo hari?" tanya Kathleen.


Elzaro tersenyum. "Iya."


"Ada hal penting apa sampai kamu dan keluarga kamu datang kemari?" tanya Kathleen lagi.


Mita berdiri dari duduknya, lalu berpindah duduk di samping Kathleen.


Setelah duduk di samping Kathleen, Mita mengusap lembut kepala belakangnya sehingga membuat Kathleen merasakan kerinduan akan ibunya.


"Alin," ucap Mita tersenyum.


Kathleen terkejut dengan mata terbuka lebar. Setelah itu, Kathleen melihat kearah Mita.


"Bi-bibi tahu dari mana nama panggilan kecilku?" tanya Kathleen.


Mita tersenyum mendengar pertanyaan dari Kathleen. Begitu juga dengan Atalaric dan anggota keluarga Radmilo.


Mita menyentuh lembut pipi Kathleen, kemudian Mita mengecup keningnya sayang.


"Ini Mami, Nak!"


Seketika Kathleen terkejut ketika mendengar ucapan dari wanita paruh baya yang ada di sampingnya.


"Ma-mami," ulang Kathleen dengan gugup dan terbata.


"Iya. Ini Mami, sayang! Kamu Kathleen Adelia Radmilo, putri kembar Mami dan Papi. Kamu saudari kembar dari Elzaro Adelino Radmilo!"


Mendengar ucapan dari Mita. Kathleen seketika langsung melihat kearah Elzaro. Tatapan matanya menatap intens manik hitam Elzaro. Dan tanpa diminta, air matanya mengalir membasahi wajahnya.


Atalaric juga berpindah duduk di samping putri kembarnya. Hatinya saat ini merasakan sesak ketika melihat putrinya menangis.


Setelah duduk di samping putrinya, Atalaric menarik lembut tubuh putri kembarnya itu dan membawanya ke dalam pelukannya. Dan tak lupa Atalaric memberikan ciuman di pucuk kepalanya.


"Ini Papi, sayang. Kami orang tua kandungmu."


"Kita semua adalah keluarga kamu, sayang!" seru Deliana sang Nenek.


Kathleen melepaskan pelukannya. Setelah pelukannya terlepas, Kathleen menatap wajah Atalaric dan Mita bergantian.


"Benarkah kalian orang tua kandungku?"


"Benar sayang! Kami orang tua kandungmu. Dan kami semua keluargamu," jawab Mita dan Atalaric bersamaan.


"Mami... Hiks," isak Kathleen dan langsung memeluk tubuh ibunya.

__ADS_1


Mendengar isakan dan melihat Kathleen yang memeluk tubuh Mita membuat mereka semua tersenyum bahagia.


Atalaric yang melihat putri kembarnya hanya memeluk istrinya seketika berakting merajuk agar putrinya juga memeluknya.


"Jadi hanya Mami saja yang dipeluk. Papi nggak dipeluk," ucap Atalaric yang memperlihatkan wajah sedihnya.


Kathleen yang mendengar ucapan dari ayahnya seketika terkejut. Kathleen langsung melepaskan pelukannya dan melihat kearah ayahnya. Dan dapat dilihat olehnya ayahnya yang sedih.


"Papi."


Kathleen langsung menghambur ke dalam pelukan ayahnya itu. Atalaric yang mendapatkan pelukan dari putrinya tak mau kalah. Atalaric membalas pelukan putrinya itu.


Dan detik kemudian....


Kathleen melototkan matanya ketika menyadari sesuatu. Seketika Kathleen melepaskan pelukannya.


"Astaga, aku lupa!" seru Kathleen.


"Ada apa, sayang?" tanya Mita.


"Aku tadinya mau ke rumah sakit. Karena kedatangan kalian, aku melupakan niatku."


"Siapa yang sakit?" tanya Elzaro menatap wajah saudari kembarnya.


"Darren, adik laki-lakinya Darka."


Mendengar jawaban dari Kathleen membuat Elzaro terkejut.


"Iya, Darren!"


"Kenapa? Apa yang terjadi? Baru beberapa hari kemarin dia keluar dari rumah sakit," ucap dan tanya Elzaro.


"Darka memberitahuku kalau Darren tertembak setelah menolong ibu dan kakak laki-lakinya Jerry," jawab Kathleen.


"Darren tertembak karena melindungi nyawa kakak laki-lakinya Jerry," ucap Kathleen lagi.


"Terus bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Elzaro.


"Darren sudah sadar, tapi masih membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit."


"Ya, sudah! Aku ikut denganmu ke rumah sakit," ucap Elzaro.


"Baiklah," balas Kathleen.


***


"Ren, sudah ya. Jangan nangis lagi. Sebentar lagi Papa akan tiba disini," bujuk Dzaky.


Sejak Darren sadar, dan sejak Darren meminta ingin bertemu dengan ayahnya. Sejak itulah Darren dalam mood buruk. Darren tiba-tiba menangis dikarenakan sosok ayahnya tak kunjung menampakkan diri.


Melihat Darren yang tiba-tiba menangis membuat mereka semua khawatir. Mereka tidak ingin luka di jantung Darren makin parah karena terlalu diforsir. Ditambah lagi nafas Darren yang sedikit terburu-buru.


"Ren." Adnan menggenggam erat punggung tangan yang bebas infus. Adnan benar-benar tak tega melihat kondisi adik laki-lakinya saat ini.

__ADS_1


"Aku mau Papa... Aku mau Papa!" teriak Darren.


"Darren!" seru mereka semua ketika mendengar teriakan dari Darren.


Dzaky membelai kepala adik laki-lakinya dengan lembut. "Sabar, oke! Mungkin saja jalanan macet sehingga membuat Papa sedikit telat nyampenya."


"Hiks... Aku takut... Aku takut... Hiks."


"Takut kenapa, hum?" tanya Dzaky.


"Aku takut kalau Papa akan pergi ninggalin aku," jawab Darren lirih.


Mereka semua terkejut ketika mendengar jawaban dari Darren. Mereka tidak menyangka jika Darren akan kepikiran sampai kesitu.


"Kenapa kamu bisa punya pikiran seperti itu? Papa nggak akan pernah ninggalin kamu karena kamu adalah putranya. Kamu putra kesayangan sekaligus putra kebanggaan Papa. Jadi Papa nggak akan pernah ninggalin kamu," hibur Adnan.


"Ada apa?" tanya Dzaky.


Dzaky dan Adnan menatap manik coklat adik laki-lakinya itu. Dapat mereka lihat ada ketakutan disana.


Bukan hanya Dzaky dan Adnan saja yang bisa melihat ketakutan di manik coklat Darren. Davian selaku saudara sepupunya, ketujuh sahabatnya dan para kakak-kakak dari ketujuh sahabat-sahabatnya itu juga bisa melihat hal itu.


"Katakan pada kakak Dzaky dan kita semua. Kenapa kamu ketakutan seperti ini? Kenapa kamu mengatakan bahwa kamu takut jika Papa ninggalin kamu?" tanya Dzaky dengan menatap mata Darren.


Mendengar pertanyaan dari kakak ketiganya membuat Darren bungkam. Dia tidak mungkin mengatakan apa yang terjadi ketika dia berada di alam bawah sadarnya.


Melihat keterdiaman Darren membuat mereka semua menjadi takut. Mereka takut jika Darren drop dan tertekan. Apalagi keadaan Darren saat ini masih dalam perawatan medis.


Ketika Adnan ingin memanggil adik laki-lakinya sekedar untuk membuyarkan lamunan adik laki-lakinya itu, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara pintu dibuka.


Cklek!


Mereka semua langsung melihat kearah pintu. Mereka melihat Erland yang melangkah memasuki ruang rawat Darren.


"Papa!"


"Paman Erland!"


Erland tersenyum menatap putra, keponakan, ketujuh sahabat putranya dan para kakak-kakak laki-lakinya sembari melangkah mendekati ranjang putra ketujuhnya itu.


"Ren, Papa sudah datang!" ucap Dzaky.


"Ini Papa berdiri didekat kamu," ucap Adnan.


Namun Darren masih pada posisinya yaitu melamun dengan pikiran yang melayang jauh. Darren memikirkan kejadian ketika berada di alam bawah sadarnya.


Tidak mendapatkan jawaban dan respon dari Darren. Erland pun bertindak dengan membelai kepalanya dengan lembut.


Merasakan belaian di kepalanya. Seketika Darren pun tersadar. Darren langsung melihat kearah samping dimana ayahnya berdiri.


"Pa-papa," lirih Darren.


Erland tersenyum, lalu memberikan kecupan sayang di kening putranya. Erland menduduki pantatnya di kursi yang ada di samping ranjang putranya itu.

__ADS_1


__ADS_2