KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Tantangan Balapan


__ADS_3

Darren dan ketujuh sahabatnya saat ini dalam perjalanan menuju ke tempat kerja masing-masing dengan menggunakan motor sport mewah.


Darren dan ketujuh sahabatnya mengendarai motor sportnya dengan kecepatan sedang.


Dari arah yang lain terlihat sekelompok pengendara motor melaju dengan kecepatan sama seperti Darren dan ketujuh sahabatnya.


Sekelompok motor itu melaju berlawanan arah dengan arah Darren dan ketujuh sahabatnya.


Dan detik kemudian...


Darren dan ketujuh sahabatnya menghentikan motornya. Begitu juga dengan sekelompok motor yang datang dari arah berlawanan.


Darren dan ketujuh sahabatnya seketika membuka helm nya. Dan diikuti oleh sekelompok motor yang ada di hadapannya.


Setelah helm terbuka. Mereka saling memberikan tatapan. Sekelompok motor itu memberikan tatapan tajam kearah Darren dan ketujuh sahabatnya, terutama pemuda yang ada paling depan. Pemuda itu menatap tajam Darren.


"Siapa kalian?" tanya Darel.


"Minggir kalian. Kami mau lewat," ucap Rehan.


Mendengar ucapan dari dua pemuda yang ada di hadapannya membuat sekelompok motor itu tidak mempedulikan ucapan tersebut.


Tidak mendapatkan respon dari orang-orang yang ada di hadapannya membuat Rehan dan Darel menatap tajam kelompok motor itu. Begitu juga dengan Darren dan sahabatnya yang lain.


"Tolong minggir, kami mau lewat." kini Darren yang bersuara.


Namun tetap sama. Sekelompok motor itu tidak bergeming atau sekedar memberikan jalan untuk Darren dan ketujuh sahabatnya.


"Hallo, Darren." pemuda yang tepat berada di hadapan Darren akhirnya bersuara.


Darren menatap intens pemuda yang ada di hadapannya itu. Begitu juga ketujuh sahabatnya.


"Akhirnya kita bertemu. Sudah sejak lama aku ingin bertemu denganmu," ucap pemuda itu dengan tatapan dinginnya.


"Siapa kamu?" tanya Darren.


Pemuda itu tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar pertanyaan dari Darren.


"Kau tidak mengenalku, hum?" tanya pemuda itu mengejek.


"Tidaak usah basa-basi. Jawab saja pertanyaanku, siapa kamu?" ucap dan tanya Darren.


"Hahahahaha."


Seketika pemuda itu tertawa mendengar ucapan dan pertanyaan dari orang yang ada di hadapannya.


"Ayolah! Apa kau benar-benar tidak tahu siapa aku? Setidaknya kau pasti ingat dengan suaraku," ucap pemuda itu.


Mendengar ucapan dari orang yang di depannya membuat Darren berpikir dan berusaha untuk mengingatnya.


FLASHBACK ON


Darren saat ini berada di kamarnya. Dirinya tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus.


Ketika Darren tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Darren langsung mengambil ponsel yang ada di atas meja. Dan Darren melihat 'Nomor Tak Dikenal' tertera di layar ponselnya.

__ADS_1


Karena rasa penasarannya, Darren pun langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Darrendra Smith. Apa kabar?"


"Siapa kau?"


"Apa kau melupakan musuh lamamu, hum!"


"Aku tidak memiliki musuh dimana pun. Jika pun ada. Mereka yang selalu mencari masalah denganku terlebih dulu."


"Hahahaha. Kau terlalu percaya diri, Darren."


"Terserah. Sekarang jawab pertanyaanku. Siapa kau, sialan?"


"Hahahaha. Baiklah! Apa kau kenal denganku geng motor VAGOS?"


Deg!


Seketika Darren terkejut ketika mendengar orang di seberang telepon menyebut nama geng motor VAGOS.


"Siapa kau?"


"Aku adalah pemimpin baru dari geng motor VAGOS. Aku kembali bersama kelompokku untuk membalaskan kematian ketuaku. Bersiaplah, Darrendra Smith!"


Setelah mengatakan itu, orang tersebut langsung mematikan panggilan.


Tutt!


Tutt!


Seketika Darren membelalakkan kedua matanya setelah ingat dengan pemuda yang ada di hadapannya itu.


"Kau," ucap Darren dengan menatap tajam pemuda itu.


"Hahahaha. Akhirnya kau mengingatku, Darrendra Smith!"


Ketujuh sahabat-sahabatnya secara bersamaan melihat kearah Darren. Mereka penasaran dengan pemuda yang sedari tadi menatap Darren.


"Ren, siapa dia?" Willy.


"Lo kenal?" tanya Qenan.


"Dia adalah pemimpin baru geng motor VAGOS," jawab Darren tanpa mengalihkan perhatiannya dari pemuda di hadapannya itu.


Mendengar jawaban dari Darren membuat Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel terkejut. Mereka semua menatap wajah pemuda tersebut.


"Sebelumnya, perkenalkan namaku adalah Elzaro Adelino pemimpin baru dari geng motor VAGOS."


Lino menatap tajam Darren. Begitu juga Darren dan ketujuh sahabatnya.


"Apa kau dan kelompokmu sudah siap untuk pertarungan kedua, hum?" tanya Lino dengan senyuman menyeringainya.


"Tidak akan ada pertarungan apapun," jawab Darren.


"Apa kau takut?" ejek Lino


"Aku tidak pernah takut pada siapa pun termasuk kau," jawab Darren.

__ADS_1


"Jika kau tidak takut. Maka kau tidak akan menolak untuk pertarungan kedua geng kita," ucap Lino.


"Bagaimana jika kita pemanasan dulu?"


"Apa maumu, hah?!" bentak Darren.


"Aku menantangmu untuk balapan. Tapi bukan balapan motor, melainkan balapan mobil." Lino berbicara dengan tersenyum menyeringai.


"Jangan gila. Kita tidak akan mengabulkan keinginanmu itu!" bentak Axel.


"Hahahaha. Kalian takut, hum!" ejek Lino.


Lino melihat kearah Darren yang juga tengah menatapnya. "Bagaimana Darren? Apa kau bersedia?"


Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel melihat kearah Darren. Mereka berharap Darren tidak mengabulkan keinginan pemuda yang ada di hadapannya itu.


"Ren, jangan kau terima permintaannya itu." Jerry berucap.


"Ingat, Ren! Kita sudah lama tidak ikut balapan lagi. Terakhir kita balapan sejak kelas 2 SMA," ucap Dylan.


Mendengar ucapan dari Dylan dan Jerry. Darren hanya diam. Namun matanya masih terus menatap wajah Elzaro.


"Bagaimana Darren. Apa kau bersedia?" tanya Lino sekali lagi.


"Baiklah. Aku terima tantanganmu itu," jawab Darren.


Deg!


Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel terkejut ketika mendengar jawaban dari Darren. Mereka tidak menyangka jika Darren akan mengabulkan keinginan dari Elzaro.


Sementara Elzaro yang mendengar jawaban dari Darren seketika tersenyum kemenangan.


"Kapan balapannya?" tanya Darren.


"Aku belum menentukannya. Aku akan kabari jika aku sudah mendapatkan tempat dan juga waktunya." Elzaro berbicara dengan tersenyum menyeringai.


Setelah mengatakan itu, Elzaro mengajak kelompoknya untuk pergi.


"Ayo, kita pergi dari sini!"


Setelah kepergian geng motor VAGOS. Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel langsung menatap tajam Darren. Mereka marah akan keputusan Darren yang menerima tantangan dari Elzaro.


"Ren, kau gila!" bentak Jerry.


"Apa yang ada di otak lo, hah?! Lo nerima tantangan dari bajingan itu gitu aja," ucap Axel dengan nada kesal.


"Ren, lo mikir nggak. Kita udah lama nggak ikut balapan. Kalau terjadi sesuatu terhadap lo, bagaimana!" ucap Dylan yang menatap marah Darren.


"Bagaimana jika bajingan itu ngelakuin hal yang buruk terhadap lo ketika balapan nanti?" tanya Rehan.


"Ditambah lagi, kondisi lo nggak memungkinkan." Darel berucap dengan menatap wajah Darren kesal.


Ketika Qenan hendak bersuara, Darren sudah terlebih dahulu memotongnya.


"Terus apa bedanya jika gue tetap menolak permintaan bajingan itu? Apa kalian punya solusinya? Dan kalian sudah berapa lama kenal dengan geng motor VAGOS? Kalian pasti tahukan kelicikan yang selalu mereka perbuat?" ucap dan tanya Darren dengan menatap satu persatu wajah ketujuh sahabatnya itu.


Mendengar ucapan dan pertanyaan dari Darren membuat Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel seketika terdiam. Benar kata Darren, mereka susah lama kenal dengan geng motor VAGOS. Mereka juga sudah tahu bagaimana sepak terjang dan kelicikan dari geng itu, salah satunya mereka akan terus memaksa incarannya untuk menerima tantangan darinya bagaimana pun caranya.

__ADS_1


__ADS_2