KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Sang Mantan


__ADS_3

Di sebuah cafe yang ada di dalam Mall terlihat seorang gadis cantik yang sedang menikmati minuman sembari bermain ponsel.


Gadis itu tidak sendirian. Dia bersama dengan kekasihnya. Dan kebetulan sang kekasih sedang izin ke toilet.


Di tempat yang sama terlihat juga sepasang kekasih yang tengah menikmati waktu berduanya.


"Lan, itu bukannya kak Bianca ya!" seru  Vania sembari menunjuk kearah seorang perempuan cantik yang duduk tak jauh dari mereka.


Dylan yang mendengar seruan dari Vania langsung melihat kearah tunjuk Vania.


Dan benar saja, Dylan melihat kekasih kakaknya Daniel sedang duduk sembari bermain ponsel.


"Lan, kita kesana yuk!"


"Baiklah."


Setelah itu, Dylan dan Vania berdiri dari duduknya untuk menghampiri meja yang di tempati oleh Bianca.


Ketika mereka ingin melangkahkan kakinya menghampiri Bianca, tiba-tiba mereka mengurungkan niatnya untuk menghampiri Bianca.


"Siapa  laki-laki itu Dylan?" tanya Vania.


"Aku juga tidak tahu Vania. Sepertinya laki-laki itu berusaha mengganggu kak Bianca," jawab Dylan.


"Kita kesana aja yuk. Kasihan kak Bianca," ajak Vania.


"Jangan dulu. Kita lihat dari sini saja dulu. Jika laki-laki itu berbuat kurang ajar terhadap kak Bianca, baru kita kesana."


"Hm... Baiklah!"


Dylan dan Vania kembali menduduki pantatnya di kursi sambil tatapan matanya menatap kearah Bianca.


"Hallo, Bianca!"


Bianca langsung melihat ke asal suara. Dan seketika Bianca terkejut ketika melihat laki-laki yang begitu dia benci di dalam hidupnya.


"Mau ngapain lagi dia?" batin Bianca.


Setelah itu, Bianca kembali menatap layar ponselnya. Baginya menatap layar ponsel lebih menarik dari pada menatap wajah menjijikkan laki-laki di hadapannya.


"Apa kabar Bianca?" tanya laki-laki itu.


Bianca hanya diam dan tak mempedulikan pertanyaan dari laki-laki di hadapannya itu. Justru Bianca senyam senyum menatap layar ponselnya. Entah apa yang sedang dilihatnya.


"Kamu kemana aja? Kenapa nggak pernah menghubungiku? Apa kamu sudah tidak cinta lagi padaku?" tanya laki-laki itu.


Bianca menghentikan kegiatannya menatap layar ponselnya. Dia menolehkan wajahnya menatap wajah laki-laki yang duduk di hadapannya.


"Anda barusan bicara apa? Memangnya kita saling kenal ya?" tanya Bianca.


Mendengar pertanyaan dari Bianca membuat laki-laki itu tercengang. Laki-laki itu tak menyangka jika Bianca akan berbicara seperti itu kepadanya.


"Kamu kenapa Bianca? Kenapa bicara seperti itu? Apa kamu tidak merindukanku? Aku baru pulang dari luar negeri. Pulang dari sana, aku langsung menemuimu. Bahkan aku berulang kali menghubungimu, tapi nomor kamu sudah tidak aktif lagi."


Laki-laki itu berbicara dengan suara yang sangat keras sehingga pengunjung cafe lainnya mendengar perkataannya.  Semua pengunjung cafe melihat kearah mereka berdua.


"Kamu bicara apa, hah?! Aku tidak mengerti maksud kamu. Lebih baik kamu pergi dari sini dan jangan ganggu aku lagi," ucap Bianca dengan menatap jijik laki-laki di hadapannya itu.


"Kamu sudah berubah, Bianca!"


"Berubah katamu? Apa kamu nggak salah bicara seperti itu, hah?! Yang berubah itu aku atau kamu?" tanya Bianca dengan menantang balik laki-laki di depannya.

__ADS_1


"Lebih baik kamu pergi dari sini, Henry!"


Laki-laki itu bernama Henry, mantan kekasih Bianca yang sudah mengkhianatinya dengan sahabatnya sendiri.


"Aku tidak akan pergi dari sini. Aku ingin bicara denganmu. Banyak hal yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Henry.


"Sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Hubungan kita sudah berakhir," ucap Bianca.


"Tapi kita belum putus. Aku tidak pernah memutuskanmu. Kau masih kekasihku. Aku mencintaimu," sahut Henry.


"Kau memang tidak memutuskanku. Tapi aku yang memutuskanmu. Aku sudah tidak ingin menjalin hubungan lagi denganmu!" bentak Bianca.


Brak!


Seorang laki-laki dari meja lain tiba-tiba menggebrak meja dengan keras. Laki-laki itu marah karena mendengar keributan yang dibuat oleh Bianca dan Henry.


"Jika kalian berdua ingin ribut, keluar dari sini! Suara kalian benar-benar mengganggu!" teriak laki-laki.


Bianca berdiri dari duduknya dan langsung menatap tajam kearah laki-laki di belakangnya.


"Apa hak anda mengusir saya dari sini, hah?! Saya sama seperti anda, ingin makan dengan tenang disini. Anda pelanggan disini. Saya juga pelanggan disini. Anda bayar, saya juga bayar. Kita punya hak yang sama disini!" bentak Bianca.


"Tapi anda dan kekasih anda membuat keributan disini. Disini tempat makan bukan tempat mencari keributan," ucap laki-laki itu.


"Yang cari ribut siapa? Sekarang saya bertanya kepada anda dan kalian semua. Yang datang terlebih dahulu kesini siapa? Saya atau laki-laki tak tahu malu ini?" tanya Bianca sembari menunjuk kearah Henry. "Apa kalian melihat saya datang sendiri atau berdua? Jika saya datang berdua dengan seorang laki-laki, apa dia laki-lakinya?" tanya Bianca dengan menatap tajam semua pengunjung cafe itu.


Mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari Bianca membuat beberapa pengunjung cafe berbicara suara pelan. Mereka berbicara menjawab pertanyaan dari Bianca. Mereka juga membenarkan apa yang dikatakan Bianca jika Bianca datang bersama seorang laki-laki. Dan laki-laki itu bukan laki-laki yang ada di hadapan Bianca.


Laki-laki yang marah tersebut menduduki pantatnya kembali. Sementara Bianca menatap tajam laki-laki di hadapannya.


"Lebih baik kamu pergi dari sini. Jangan ganggu aku lagi. Kekasih kamu mungkin saat ini sedang menunggu kamu," ucap Bianca.


"Apa maksud kamu Bianca? Aku tidak memiliki wanita lain selain kamu. Hanya kamu kekasihku," balas Henry.


"Baiklah, aku akan pergi. Tapi aku akan pergi bersama kamu."


Henry langsung menarik tangan Bianca secara kasar dan membawanya pergi.


Namun ketika Henry ingin membawa Bianca keluar dari cafe, tiba-tiba seseorang menahan bahunya dan merematnya kuat.


"Lepaskan dia!" bentak orang itu.


Henry memutar tubuhnya dan dapat dia lihat seorang laki-laki sudah berdiri di hadapannya.


"Siapa kau?!" bentak Henry.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang aku minta sekarang adalah lepaskan tanganmu. Setelah itu, kau pergi dari sini!" bentak orang itu.


"Brengsek! Jangan campuri urusanku!" bentak Henry.


Henry melayangkan satu pukulan ke wajah laki-laki yang ada di hadapannya, namun dengan gerakan cepat laki-laki itu memberikan pukulan keras di perutnya sehingga membuat Henry terpukul mundur.


Melihat kejadian tersebut membuat pengunjung cafe terkejut.


Laki-laki itu melihat kearah Bianca dengan tatapan khawatir. Begitu juga dengan gadisnya.


"Kak Bianca tidak apa-apa?" tanya laki-laki itu.


Mendengar pertanyaan dari laki-laki itu membuat Bianca terkejut. Apalagi laki-laki itu mengetahui namanya.


"Kamu siapa? Kenapa tahu namaku?" tanya Bianca.

__ADS_1


Laki-laki itu tersenyum. Begitu juga dengan gadisnya.


"Kenalkan aku Dylan Afred Carlo," ucap Dylan mengulurkan tangannya ke hadapan Bianca.


"Carlo? Nama belakangnya sama dengan nama belakangnya Daniel. Apa dia...?" batin Bianca.


"Aku adik laki-laki dari Daniel Carlo," sahut Dylan cepat yang tahu gelagat Bianca.


"Ja-jadi kamu adik laki-lakinya Daniel?" tanya Bianca.


"Hm." Dylan bergumam pelan sembari mengangguk. "Ini Vania, kekasihku."


"Vania."


"Bianca."


Tanpa Dylan, Vania dan Bianca ketahui di belakang mereka, Henry hendak memukul tubuh Dylan dengan sebuah kursi.


Namun sayangnya, usahanya digagalkan oleh seseorang yang datang hendak menemui kekasihnya, justru melihat adegan itu.


Laki-laki mengambil kursi yang berada dekat dengannya, lalu kemudian laki-laki itu memukul kursi itu di punggung Henry sehingga membuat Henry berteriak.


Bugh!


"Aakkhhh!"


Mendengar bunyi pukulan dan teriakan, semuanya melihatnya. Termasuk Dylan, Bianca dan Vania.


"Daniel."


"Kakak Daniel."


Laki-laki itu adalah Daniel, kakak laki-laki kedua Dylan.


Daniel melangkah mendekati Bianca, Dylan dan Vania.


"Lain kali jangan lengah. Jika kakak tidak datang tepat waktu, maka kamu yang ada disana."


"Maafkan aku," ucap Dylan menyesal.


Daniel menatap wajah cantik Bianca. "Kamu tidak apa-apa?"


"Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir, oke!"


Daniel memanggil salah satu pelayan cafe. "Pelayan!"


Dan datanglah semua pelayan yang bekerja di cafe itu.


"Iya, tuan Daniel!" jawab salah satunya.


Semua pelayan yang ada di cafe itu tahu dengan Daniel. Daniel adalah salah satu pelanggan tetap di cafe itu. Daniel sering datang kalau tidak sendirian pasti datang bersama rekan-rekan bisnisnya. Bukan hanya pelayan, sang manager juga tahu tentang Daniel.


"Ini ada sedikit uang uang ganti rugi akan keributan yang terjadi," ucap Daniel dengan memberikan amplop berisi lembaran uang.


"Tapi tuan Daniel..."


"Ambillah. Lain kali saya ingin kalian melayani gadisku dengan baik."


"Dia," tunjuk Daniel kearah Bianca. "Gadis itu adalah kekasihku sekaligus calon istriku. Jika dia datang lagi kesini, layani dengan baik. Jika ada yang mengganggunya, langsung hubungi saya."


"Baik, tuan Daniel!"

__ADS_1


Setelah itu, Daniel mengajak Bianca, adik laki-lakinya dan calon adik iparnya untuk pergi meninggalkan cafe. Mereka tidak mempedulikan Henry yang saat ini masih tersungkur di lantai menahan sakit di punggungnya akibat pukulan.


__ADS_2