
Darren, Brenda dan para sahabat-sahabatnya saat ini ruang rapat. Ruangan itu hanya dimasuki oleh orang yang bersangkutan.
"Sudahlah. Jangan nangis lagi," bujuk Darren sembari tangannya menghapus air mata Brenda.
"Aku nggak nyangka aja Jessica niat ingin bunuh aku," sahut Brenda.
"Tapikan kamu selamat," hibur Darren.
"Iya, memang aku selamat. Itu semua karena kamu. Kamu kebetulan ada di tempat kejadian dan nggak sengaja melihat Jessica ngelakuin sesuatu dengan mobil aku. Jika misalnya kamu nggak ada. Dan misalnya kamu nggak melihat kejadian itu. Mungkin hari ini aku sudah nggak ada lagi di dunia ini." Brenda berbicara sembari membayangkan jika dirinya benar-benar mati akibat ulah Jessica.
Brenda masih memikirkan kejadian kemarin dimana Jessica ketahuan ingin membunuhnya. Akibat dari kejadian itu membuat Darren, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel menunda niat mereka untuk mendatangi rumah Ziggy.
Mendengar penuturan dari Brenda. Darren, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan, Axel, Alice, Elsa, Felisa, Milly, Vania, Lenny dan Tania seketika terdiam. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh Brenda.
"Itu bukan kebetulan, Brenda!" seru Gilang.
Gilang dan Darka datang ke ruang rapat ingin menemui adiknya. Ketika mereka ingin membuka pintu, baik Gilang maupun Darka mendengar pembicaraan adiknya bersama sahabat-sahabatnya.
"Kakak Gilang, kakak Darka!" seru Darren, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel bersamaan.
"Maksud kakak Gilang apa?" tanya Brenda.
Gilang dan Darka tersenyum sembari tangannya mengacak-acak gemas rambut Brenda.
"Darren bisa ada disitu itu semua juga berkat pertolongan Tuhan. Tuhan menggagalkan niat Jessica melalui Darren," ucap Darka.
"Jadi kakak Gilang dan kakak Darka minta sama kamu. Lupakan kejadian itu. Jangan diingat-ingat lagi," ucap Gilang sembari mengusap lembut kepala Brenda.
Sedangkan Darren mempoutkan bibirnya kesal melihat kedua kakaknya yang megang-megang kekasihnya.
Tanpa Darren ketahui ketiga sahabatnya yaitu Qenan, Axel dan Jerry tersenyum melihat wajah cemberut Darren ketika melihat gadisnya dipegang-pegang oleh laki-laki lain.
"Kakak Darka, kakak Gilang. Jangan terlalu lama megang kepalanya Brenda. Lihatlah pawangnya udah marah tuh!" seru Axel.
Mendengar seruan Axel. Darka dan Gilang langsung melihat kearah adiknya. Dan benar saja, adiknya itu menatap dengan wajah cemberut kearahnya.
"Mampus," batin Darka.
"Matilah kau Gilang," batin Gilang.
Sementara yang lainnya tersenyum geli melihat wajah takut Gilang dan Darka ketika melihat wajah cemberut Darren.
"Hehehehe. Adiknya kakak yang paling tampan dan baik hati. Jangan cemberut gitu dong. Jelek tahu," ucap Darka yang berusaha menghibur adiknya.
__ADS_1
"Apaan sih," kesal Darren.
"Jangan cemburu gitu dong. Kakak Gilang dan kakak Darka nggak akan ngambil Brenda dari kamu. Brenda itu milik kamu. Selamanya milik kamu. Kita berdua hanya menghibur Brenda. Secara kan Brenda itu calon adik iparnya kita berdua," ucap Gilang menggoda adiknya.
"Apaan sih, kakak Gilang. Udah sana pergi. Ganggu aja," usir Darren kepada kedua kakaknya.
"Dih! Ngusir nih," ucap Darka.
"Iya," jawab Darren.
Darka dan Gilang tersenyum mendengar jawaban dari Darren. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Oke, oke! Kita pergi. Tapi sebelum pergi kita mau ngasih ini sama kamu," ucap Darka sembari memberikan map kepada Darren.
"Apa ini?" tanya Darren ketika menerima map dari Darka.
"Lihat sendiri. Punya mata kan?"
Mendengar jawaban dari Gilang membuat Darren mendengus. Setelah itu, Darren membuka map tersebut.
"Ini nggak salah!" seru Darren tiba-tiba setelah membaca isi yang tertera di dalam map tersebut.
Darka, Gilang, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel langsung melihat kearah Darren. Lebih tepatnya isi map tersebut.
"Apa-apaan ini. Kenapa Rektor tiba-tiba mengeluarkan Darren dari tim. Bahkan Rektor mencabut status Darren dari ketua," sahut Axel dengan wajah marahnya.
"Wah! Ini pasti ada apa-apanya nih," ucap Rehan.
"Apa ini ada hubungannya dengan kejadian dimana Jessica dibawa ke kantor polisi. Secara ayahnya Jessica donatur terbesar di kampus ini," ucap Darel.
"Bisa jadi. Ini pasti ulah ayahnya Jessica," sahut Dylan.
"Ini nggak bisa dibiarkan. Aku sudah tiga tahun menjabat sebagai ketua di kampus ini. Aku sampai rela mengabaikan waktu makanku, waktu istirahatku. Bahkan aku berulang kali tumbang mengerjakan semua tugas-tugas kampusku. Dan seenaknya pria tua itu mencabut statusku dari ketua organisasi."
Darren saat ini benar-benar marah akan sikap rektor padanya. Padahal rektor tersebut tahu bagaimana kerja kerasnya, kedua kakaknya, ketujuh sahabat-sahabatnya selama ini. Dan sekarang rektor tersebut tanpa alasan apapun mengeluarkannya dari tim.
Darren bangkit dari duduknya. Kemudian berjalan kearah pintu. Dan diikuti oleh Darka, Gilang, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel, Brenda, Alice, Elsa, Vania, Milly, Lenny, Tania dan Felisa.
"Rehan, pergi ke ruangan informasi. Suruh semua mahasiswa dan mahasiswi berkumpul di lapangan, termasuk si rektor sialan itu. Untuk anggota organisasi. Suruh mereka berkumpul secara terpisah."
Mendapatkan perintah dari Darren. Rehan langsung menjalankannya. Bagaimana pun Darren adalah ketua organisasi.
"Baik, Ren."
__ADS_1
Rehan pun pergi menuju ruang informasi untuk meminta semua mahasiswa dan mahasiswi berkumpul di lapangan.
^^^
"Diharapakan semua mahasiswa dan mahasiswi untuk berkumpul di lapangan. Begitu juga dengan rektor, dekan dan juga dosen. Sekarang! Khusus untuk tim atau anggota organisasi buat barisan sendiri. Jangan bergabung dengan mahasiswa dan mahasiswi lainnya!"
Mendengar pengumuman dari Rehan di ruangan informasi membuat semua mahasiswa dan mahasiswi berhamburan keluar kelas. Mereka semua melangkah menuju lapangan sesuai yang diperintahkan. Begitu juga dengan rektor, dekan dan juga dosen.
Kini semuanya sudah berkumpul di lapangan sesuai yang diperintahkan oleh Darren, termasuk rektor, dekan dan beberapa dosen.
Darren datang bersama dengan ketujuh sahabat-sahabatnya dan kedua kakaknya.
Baik Darren maupun ketujuh sahabat-sahabatnya dan kedua kakaknya menatap marah kearah rektor tersebut.
Darren berlahan melangkah mendekati rektor tersebut dengan tatapan amarahnya.
Kini Darren sudah berdiri di hadapan rektor tersebut dengan tatapan amarahnya. Sementara rektor tersebut bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.
Darren menatap satu persatu wajah ketujuh sahabat-sahabatnya. Dan kemudian Darren meminta ketujuh sahabat-sahabatnya untuk meminta semua data-data organisasi yang selama ini mereka simpan. Data-data yang mereka buat sejak organisasi dibentuk sampai organisasi berjalan lancar sampai sekarang. Darren tidak akan memberikan data-data itu kepada siapa pun, termasuk pihak kampus. Begitu juga dengan kedua kakaknya.
Baik Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya, kedua kakaknya maupun para anggota-anggotanya selama ini tidaklah bodoh. Mereka selama ini menyimpan data-data itu dengan baik. Mereka tidak pernah memberikan bocoran kepada siapa pun, termasuk kepada rektor sekaligus.
Kalau pun ada orang dalam yang membocorkan data-data itu, maka Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya akan dengan mudah mengetahuinya.
Darren, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel memasang di setiap sudut kampus dan di setiap ruangan yang ada di kampus ini dengan kamera pengintai, alat pelacak dan juga alat penyadap. Jadi dengan jarak jauh sekali pun, orang yang akan berkhianat akan langsung terdeteksi dengan mudahnya.
Selama alat-alat itu terpasang. Selama itulah semuanya terlihat aman. Tidak ada anggotanya yang berkhianat.
"Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan, Axel. Kalian hampiri anggota kalian masing-masing. Minta semua data-data yang mereka simpan."
"Baik, Ren!"
"Kakak Gilang, kakak Darka. Kalian juga. Datangi anggota kalian masing-masing. Minta semua data-data yang mereka simpan."
"Baik, Ren."
Darka, Gilang, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel langsung menjalankan apa yang diperintahkan oleh Darren.
"Pastikan semua data-data itu harus lengkap kalian dapatkan. Jangan ada yang tertinggal. Periksa laptop masing-masing. Cek data-data itu. Setelah itu, hapus semua data-data tersebut dari laptop kalian!" teriak Darren dengan tatapan matanya menatap wajah rektornya.
"Siap, Ren!"
Darka, Gilang, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel. Serta para anggota organisasi menjawab dengan mantap.
__ADS_1