KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Wajah Syok Qenan Dan Rehan


__ADS_3

Masih suasana di rumah sakit. Dan semuanya masih setia menemani Darren. Hanya saja untuk Brenda dan ketujuh sahabatnya beserta anggota keluarganya telah kembali pulang ke rumah.


Agneta membujuk untuk Brenda beserta ketujuh sahabatnya untuk pulang ke rumah. Alasan Agneta menyuruh Brenda dan ketujuh sahabatnya untuk pulang agar mereka bisa istirahat. Bagaimana pun Brenda dan ketujuh sahabatnya itu buruh istirahat karena mereka baru kembali dari tugas kampusnya.


Agneta tidak ingin Brenda dan ketujuh sahabatnya jatuh sakit karena ikut menemani Darren di rumah sakit.


Erland dan Agneta duduk di sofa. Sementara ketujuh sahabatnya duduk melingkar mengerubungi ranjang Darren. Mereka menatap kearah Darren yang masih memejamkan matanya.


Tiba-tiba Darren membuka kedua matanya. Darel yang niatnya ingin melihat kearah Jerry di sebelahnya tak sengaja matanya melihat kearah Darren yang mana kedua mata Darren telah terbuka.


"Darren!"


Darel langsung bersuara dengan lantangnya sehingga orang-orang yang ada di ruang rawat Darren langsung melihat kearah Darren.


Erland dan Agneta langsung berdiri dari duduknya ketika melihat sekilas putranya yang kini telah sadar.


"Sayang."


"Ren."


Darren melihat sekelilingnya. Dapat dilihat oleh Darren semua anggota keluarganya, ketujuh sahabatnya dan dua kakak mafianya berada di hadapannya.


"Aku dimana?"


"Kamu di rumah sakit, sayang!" Erland menjawab pertanyaan dari putranya itu.


"Kamu pingsan," ucap Agneta.


Mendengar jawaban dan perkataan kedua orang tuanya membuat Darren teringat bahwa beberapa menit yang lalu dia kembali merasakan sakit di kepalanya dan berakhir jatuh tak sadarkan diri.


Erland mengusap lembut kepalanya lalu mengecupnya penuh sayang.


"Apa yang kamu rasakan sekarang, hum?" tanya Erland.


"Hanya pusing sedikit. Tapi tidak apa-apa," jawab Darren.


Darren menatap wajah ayahnya. Dia ingin menanyakan sesuatu dan juga ingin mengetahui bagaimana keadaannya ketika tidak sadarkan diri beberapa menit yang lalu.


"Papa."


"Ada apa, hum?"


"Apa yang terjadi ketika aku pingsan?"


"Kita semua berlomba-lomba menangis ketika melihat kamu pingsan. Kamu pingsannya lama sekali," jawab Erland yang memang sengaja menjahili putranya itu.


Mendapatkan jawaban yang kurang memuaskan dan juga mengecewakan dari ayahnya membuat Darren mencebik kesal. Bisa-bisanya ayahnya bercanda ketika dia tengah dalam mood serius.


Erland yang melihat wajah kesal dan bibir manyun putranya tersenyum bahagia karena sudah berhasil membuat putranya kesal. Begitu juga dengan Agneta dan yang lainnya. Mereka juga ikut tersenyum melihat kekesalan di wajah Darren.


"Oke... Oke! Papa minta maaf. Ada apa, hum?"


"Apa yang dikatakan Bibi Celsea saat Bibi Celsea memeriksaku?" tanya Darren.


Mendengar pertanyaan dari Darren membuat Erland tidak langsung menjawabnya. Erland melirik sekilas kearah samping dimana istrinya berdiri. Lalu Erland melihat kearah putra-putranya yang lain, adik perempuannya, saudara iparnya, ketiga keponakannya, ketujuh sahabat putranya dan kedua kakak mafia putranya.


Setelah itu, Erland kembali menatap wajah putranya. Begitu juga dengan yang lainnya. Semuanya menatap kearah Darren.


"Kondisi kesehatan kamu menurun. Dan untuk sakit di kepala kamu. Bibi Celsea belum memberitahu kita karena hasilnya belum keluar," ucap Davin.


"Jadi Bibi Celsea....?"


Pertanyaan Darren terpotong karena Axel langsung menjawab pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Darren.


"Iya. Mama sudah melakukan pemeriksaan kondisi tubuh kamu, terutama bagian kepala dengan pemeriksaan CT scan."


Mendengar penuturan dari Axel membuat Darren langsung paham. Niatnya hari ini memang ingin ke rumah sakit bersama Gilang dan Darka untuk melakukan pemeriksaan CT scan.


Namun musibah datang dimana Bus yang ditumpangi oleh Brenda, ketujuh sahabatnya, teman-teman kampusnya, satu Dosen dan satu sopir mengalami insiden dimana bus tersebut tergelincir ke tepi jurang.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Darren.


"Belum keluar, sayang!" jawab Agneta.


"Hasilnya akan keluar pukul 8 malam nanti," ucap Davin.

__ADS_1


Darren diam seketika. Pikiran kini melayang jauh. Dan seketika tiba-tiba terlintas beberapa hal dalam benaknya jika hasil pemeriksaan CT scan miliknya itu keluar.


Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka dan yang lainnya menatap Darren yang saat ini hanya menatap ke depan. Dan tatapannya itu bukanlah kearah dimana ketujuh sahabatnya berdiri. Melainkan tatapan kosong ke depan.


Mereka semua yang melihat tatapan kosong Darren menjadi khawatir.


"Bagaimana kalau hasil positif?


"Bagaimana jika hasil dari pemeriksaan CT scan itu mengatakan bahwa sakit di kepalaku memang ada kaitannya dengan kecelakaan yang aku alami?"


"Bagaimana jika hasil pemeriksaan CT scan itu menyebutkan ada sesuatu yang tumbuh di kepalaku sehingga membuat kepala sering sakit?"


"Jika benar ada sesuatu di kepalaku yang disebabkan oleh kecelakaan itu. Bagaimana bentuknya dan bagaimana hasil perkembangannya? Apa baik-baik saja atau justru semakin parah?"


Semua perumpamaan itulah yang muncul di kepala Darren ketika hasil pemeriksaan CT scan miliknya keluar. Darren saat ini benar-benar takut akan hasil tersebut.


Seketika Darren memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya secara berlahan.


Sementara anggota keluarganya, sahabat-sahabatnya dan kedua kakak mafianya masih terus memperhatikan dirinya dengan tatapan khawatir.


"Ren," panggil Dzaky.


Darren seketika membuka kedua matanya lalu melihat kearah kakak ketiganya.


Darren tersenyum menatap wajah kakak laki-lakinya itu. Darren tahu bahwa kakak laki-lakinya itu begitu mengkhawatirkan dirinya.


"Aku baik-baik saja. Kakak Dzaky tidak perlu khawatir."


Darren beralih menatap kearah lainnya. Darren menatap wajah kedua kakak mafianya, ketujuh sahabatnya, kelima kakak-kakaknya yang lain, ketiga saudara sepupunya, Paman dan Bibinya. Dan terakhir kedua orang tuanya.


"Papa dan Mama tidak perlu khawatir terhadapku. Aku tadi sedang berpikir tentang hasil pemeriksaan CT scan itu."


Mendengar ucapan dari Darren membuat Erland dan Agneta paham. Putranya itu pasti saat ini takut akan hasil pemeriksaan tersebut.


"Kalau Papa boleh tahu. Apa yang sedang kamu pikirkan, hum?"


"Banyak, Papa! Salah satunya adalah bagaimana jika ada sesuatu di kepalaku akibat kecelakaan yang aku alami dulu. Dua kecelakaan yang aku alami, satunya yang bisa dikatakan parah. Kecelakaan tersebut membuat kepalaku mengalami benturan keras."


Erland mengusap-usap lembut kepala putranya itu. Dia tahu bahwa putranya mengalami ketakutan saat ini. Terlihat jelas dari tatapan matanya.


"Papa. Aku takut."


"Iya, Ren! Keluarkan semua rasa takut kamu kepada kita. Kamu nggak perlu takut," ucap Axel.


"Apapun yang terjadi. Kita akan selalu bersama-sama," sahut Jerry.


"Kita nggak akan pernah ninggalin kamu," ujar Qenan.


"Kami akan selalu ada di sisi kamu," ujar Willy.


"Kami nggak akan pergi kemana-mana," ucap Rehan.


"Susah maupun senang. Sedih maupun bahagia. Sakit maupun sehat. Kita akan selalu bersama-sama," ucap Darel.


"Satu untuk semua. Kamu adalah aku. Aku adalah kamu," sahut Dylan.


"Dan kamu selamanya adik laki-laki kami!" seru Enzo dan Chico bersamaan


Darren tersenyum mendengar ucapan tulus dari ketujuh sahabatnya dan dua kakak mafianya.


"Sekarang, katakan! Apa yang kamu takutkan, hum?" ucap dan tanya Erland.


"Aku tidak tahu bagaimana cara menafsirkan ketakutanku itu kepada Papa dan kalian semua. Tapi satu hal yang aku rasakan saat ini adalah aku akan kehilangan kalian semua."


Mendengar ucapan dari Darren membuat mereka semua terkejut. Dan seketika suasana ruang rawat Darren menjadi hening. Tidak ada satu pun bersuara.


Ketika suasana menjadi hening. Pintu ruang rawat Darren dibuka oleh seseorang.


Semua yang ada di dalam langsung melihat kearah pintu yang dibuka oleh seseorang. Dan mereka semua melihat seorang Dokter cantik yang tak lain adalah ibu dari sahabat Darren yaitu Yonantan Axel Immanuel.


Celsea melangkah mendekati ranjang Darren untuk memeriksa kondisi Darren hari ini.


Kini Celsea sudah berdiri di samping ranjang Darren dengan tatapan matanya menatap wajah Darren.


"Bagaimana kondisi kamu saat ini?" tanya Celsea.

__ADS_1


"Setengah baik dan setengah lagi buruk," jawab Darren asal.


Mendengar jawaban dari Darren membuat Celsea membelalakkan matanya. Begitu juga dengan yang lainnya.


Mereka semua sangat paham akan watak Darren setiap berhadapan dengan Celsea yang berstatus sebagai Dokter pribadinya. Dia akan menjawab pertanyaan dari Celsea dengan jawaban asalnya. Termasuk Celsea.


Celsea orang pertama yang sangat paham akan sikap Darren. Dia tahu bahwa Darren sudah sangat bosan selalu berhadapan dengan namanya sakit dan rumah sakit. Bahkan Darren sudah sangat bosan dan muak dengan pertanyaan yang sama setiap kali dia diperiksa. Maka dari itulah kenapa Darren selalu menjawab pertanyaan darinya yang membuat dirinya geleng-geleng kepala dan juga kesal.


Sedangkan untuk dirinya sendiri. Celsea berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk Darren. Bahkan Celsea ikut dalam menjawab setiap perkataan dari Darren sehingga berhasil membuat Darren kesal setengah mati.


"Kenapa bisa seperti itu? Memang bisa ya?" tanya Celsea dengan tatapan bingungnya.


"Bisalah. Buktinya aku sekarang ini tengah merasakannya," jawab Darren.


Mendengar jawaban dari Darren membuat mereka semua hanya bisa menghela nafas sembari geleng-geleng kepala.


"Yang baiknya adalah aku barusan tengah membayangkan wajah kekasihku," ucap Darren.


Seketika Darren tersadar sesuatu. Darren baru ingat bahwa tujuannya ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi kekasihnya itu beserta ketujuh sahabatnya.


Melihat ekspresi wajah Darren membuat ketujuh sahabatnya, kedua kakak mafianya langsung tersenyum. Mereka tahu bahwa Darren baru teringat akan Brenda.


"Kenapa?" tanya Enzo.


"Baru nyadar tujuan awal kamu ke rumah sakit, hum?" ledek Chico.


Mereka semua tersenyum melihat ekspresi wajah Darren yang tiba-tiba saja tersadar akan Brenda.


Disaat Darren ingin menanyakan keadaan Brenda, ketujuh sahabatnya, Dosennya dan sang sopir. Rehan sudah terlebih dulu bersuara.


"Keadaan Brenda dan yang lainnya baik-baik saja. Tidak ada yang terluka."


Mendengar ucapan dari Rehan membuat Darren tersenyum. Dia bersyukur dan bahagia semuanya dalam keadaan baik-baik saja.


Ketika Darren ingin membuka mulutnya hendak menanyakan keberadaan Brenda dan ketujuh sahabatnya Brenda. Lagi-lagi usahanya itu digagalkan oleh sahabatnya. Kini Qenan yang melakukannya.


"Brenda dan ketujuh sahabatnya sudah pulang. Mereka sempat disini melihat keadaan lo. Tapi Bibi Agneta menyuruh mereka pulang dengan alasan agar mereka bisa istirahat."


Melihat kelakuan Rehan dan Qenan membuat Darren mendengus. Matanya menatap tajam keduanya. Dan jangan lupa dengan mulutnya yang mengabsen semua jenis penghuni kebun binatang yang ditujukan untuk kedua sahabat laknatnya itu.


"Kalian berdua benar-benar ya. Kalian bisa-bisanya menggagalkanku memberikan pertanyaan," ucap Darren dengan wajah yang kesal.


"Bukan bermaksud ingin menggagalkan usahamu untuk memberikan pertanyaan kepada kita semua. Hanya saja aku dan Qenan sudah mengetahuinya terlebih dahulu. Maka dari itu, aku dan Qenan langsung saja memberikan jawabannya." Rehan menjawab perkataan Darren dengan santainya. Dan jangan lupakan senyuman manisnya.


"Itu benar. Setidaknya pertanyaan kamu itu tidak terbuang sia-sia," ucap Qenan menambahkan.


"Oh, gitu? Jadi pertanyaanku itu hanya sia-sia, hum?" tanya Darren.


"Hm." Qenan dan Rehan bergumam sembari menganggukkan kepalanya dengan cepat.


Darren menatap wajah cantik Celsea. Darren tersenyum sesaat. Setelah itu, Darren melontarkan satu pertanyaan.


"Bibi Celsea ada berapa macam obat yang Bibi punya?" tanya Darren.


"Banyak," jawab Celsea.


"Obat apa saja?" tanya Darren.


"Macam-macam. Bibi tidak bisa menyebutkannya satu persatu. Yang jelas kau sudah pasti tahu apa saja obat yang Bibi punya."


"Apa Bibi punya obat untuk melenyapkan nyawa orang?" tanya Darren sembari melirik sekilas kearah Qenan dan Rehan.


Mendengar pertanyaan dari Darren membuat Qenan dan Rehan seketika menelan ludahnya kasar.


Sementara Erland, Agneta, keenam kakak-kakaknya, kedua kakak mafianya dan kelima sahabatnya yang lain tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Darren. Bahkan senyuman mereka makin lebar ketika melihat wajah syok Qenan dan Rehan.


"Ada. Arsenik, Botulinum Toxin, Mercury dan Polonium. Kau mau yang mana?" ucap dan tanya Celsea yang membantu Darren menjahili Qenan dan Rehan.


"Dari keempat obat-obatan itu. Mana yang paling cepat reaksinya?" tanya Darren.


"Arsenik," jawab Celsea.


"Apa masih ada stoknya?" tanya Darren.


"Banyak. Kau mau berapa? Dan siapa orang yang ingin kau berikan obat itu?" jawab dan tanya Celsea yang sudah sejak tadi menahan tawanya ketika melihat wajah syok Qenan dan Rehan.

__ADS_1


Bukan hanya Celsea yang menahan tawanya. Darren juga sudah sejak tadi menahan tawanya ketika melihat wajah Qenan dan Rehan ketika dirinya membahas obat yang bisa membunuh orang dengan Celsea.


Bagaimana dengan yang lainnya? Sama halnya dengan Darren dan Celsea. Mereka juga tersenyum geli melihat wajah syok Qenan dan Rehan ketika mendengar obrolan Darren dan Celsea.


__ADS_2