KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Memilih Pergi


__ADS_3

"Bagaimana hasilnya, Bibi?" tanya Darren kepada Celsea.


Hasil pemeriksaan CT scan Darren sudah keluar. Dan saat ini semuanya tengah menunggu Celsea untuk mengatakan yang sebenarnya tentang kondisi Darren.


Semuanya menatap Celsea. Termasuk Darren. Mereka semua tak sabar untuk mengetahui hasilnya.


"Katakan, Bibi Celsea! Jangan ada yang ditutupi dariku."


Celsea menatap lekat wajah Darren. Dirinya berharap Darren siap mendengar hasil dari pemeriksaan CT scan miliknya.


"Apa kamu siap mendengar hasilnya?" tanya Celsea.


"Siap tidak siap, aku harus siap. Nggak ada alasan buat aku untuk tidak siap," jawab Darren.


Celsea menarik nafasnya secara berlahan lalu membuangnya secara berlahan juga. Kemudian matanya menatap wajah Darren.


"Dari hasil pemeriksaan CT scan, ada pembekuan atau penggumpalan darah di kepala kamu."


Mendengar ucapan dari Celsea, seketika membuat semua yang ada di ruang tersebut terkejut terutama Erland.


Sedangkan Darren, tubuhnya seketika menegang ketika mendengar perkataan dari Celsea. Di dalam hatinya berkata 'separah itukah?'


"Celsea. Apa yang terjadi jika tidak segera ditangani?" tanya Erland yang sudah menangis.


"Jika tidak segera ditangani, maka akan menyebabkan kematian."


Deg!


Semuanya terkejut ketika mendengar jawaban dari Celsea. Dan seketika mereka semua menangis. Mereka menatap kearah Darren yang saat ini hanya diam tanpa reaksi apapun.


Darren hanya diam. Dia tidak bereaksi apapun ketika mendengar perkataan Celsea barusan.


Detik kemudian, Darren memejamkan matanya. Dan tanpa diminta, air matanya mengalir membasahi wajahnya.


Darren menangis mengetahui kondisi kesehatannya. Dirinya saat ini benar-benar pasrah. Tidak ada semangat lagi yang dirasakan olehnya. Memiliki riwayat lemah jantung dari kecil. Sekarang mengalami penggumpalan darah di otaknya. Apa gunanya dia hidup jika hanya merasakan kesakitan.


"Ren," panggil Davin dengan tangannya mengusap lembut kepala adik laki-lakinya.


Darren langsung membuka kedua matanya. Tapi dengan posisi sama dengan tatapan ke depan.


"Bibi! Apa penyebab utama terjadinya penggumpalan darah tersebut?" tanya Adnan.


"Salah satu faktor yang menyebabkan penggumpalan darah di otak adalah benturan keras yang dialami si penderita. Seperti kecelakaan atau pukulan yang diberikan oleh orang lain." Celsea menjawab pertanyaan dari Adnan dengan tatapan matanya menatap wajah Darren.


"Langkah apa yang harus dilakukan untuk menyembuhkan penggumpalan darah yang dialami adikku, Bibi?" tanya Darka.


Darka menangis melihat kearah adik laki-lakinya yang tanpa ekspresi sama sekali.


"Operasi! Darren harus segera operasi," jawab Celsea.


"Operasi?" tanya Darren tanpa melihat kearah Celsea.


"Iya, sayang! Dengan operasi penggumpalan darah di kepala kamu akan sembuh. Dan kamu tidak akan merasakan kesakitan lagi."


"Apa akan ada efek sampingnya setelah operasi itu?" tanya Darren.


Seketika Celsea terdiam ketika mendengar pertanyaan dari Darren. Dirinya tidak menyangka jika Darren akan memberikan pertanyaan seperti itu padanya.


Darren melirik sekilas ke samping dimana Celsea berdiri. Darren tersenyum kecut ketika melihat keterdiaman Celsea. Dia sudah bisa menebak dan sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya itu.


"Sekali pun Bibi tidak menjawab pertanyaanku barusan. Aku sudah jawabannya."


Darren menatap wajah Celsea dengan tatapan mata yang merah dan juga berkaca-kaca. Serta bibir yang bergetar menahan tangis.


"Hasil operasi itu ada efek sampingnya, bukan? Dan efek sampingnya adalah...."


Darren menghentikan sejenak ucapannya. Air matanya yang berusaha dia tahan akhirnya jatuh membasahi wajahnya.


"Efek sampingnya adalah aku... Aku... Aku akan kehilangan memoriku. Aku akan kehilangan ingatanku. Selamanya! Secara permanen! Aku benarkan Dokter Celsea Immanuel?!"


Air mata Darren makin deras mengalir membasahi wajahnya ketika mengatakan hal itu di hadapan Celsea, ibunya Axel.


Mendengar ucapan dari Darren membuat anggota keluarganya, anggota keluarga Radmilo, ketujuh sahabatnya, kelima kakak-kakak mafianya, Brenda dan ketujuh sahabatnya Brenda terkejut.


Mereka secara kompak menatap wajah Celsea untuk mendapatkan jawaban yang benar-benar pasti. Mereka semua berharap, apa yang dikatakan oleh Darren barusan, tidaklah benar. Mereka tidak ingin hal itu terjadi.


"Mama," panggil Axel.


Axel menatap wajah ibunya dengan matanya yang memerah. Axel sejak tadi sudah tidak bisa membendung tangisannya ketika melihat dan mengetahui kondisi sahabatnya.

__ADS_1


Celsea yang melihat tatapan mata putranya semakin hancur. Celsea tahu bahwa putranya tidak ingin terjadi sesuatu terhadap sahabat terbaiknya. Dia tahu bahwa putranya itu ingin yang terbaik untuk sahabatnya itu.


"Mama, tolong katakan padaku. Apa yang dikatakan Darren barusan tidaklah benar. Setelah selesai operasi. Darren benar-benar sembuh tanpa ada efek apapun. Aku berharap hal itu tidak terjadi." Axel berbicara sembari menangis.


"Bibi Celsea," lirih Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.


Tes!


Air mata Celsea jatuh membasahi wajah cantiknya. "Maafkan Mama, sayang! Tapi itulah kenyataannya. Setelah operasi itu selesai. Ingatan Darren tentang kita semua hilang. Darren akan melupakan kita."


Mereka semua menangis histeris sembari menggeleng-gelengkan kepala secara brutal ketika mendengar perkataan dari Celsea.


"Tidak!" teriak Darka dan Gilang bersamaan.


Gilang dan Darka langsung memeluk tubuh adiknya. Keduanya menangis terisak.


Sementara Darren hanya diam. Dirinya sama sekali tidak membalas pelukan kedua kakak laki-lakinya itu. Hatinya saat ini benar-benar terluka ketika mendengar perkataan dari Celsea. Bagaimana bisa dia melupakan orang-orang yang begitu dia sayangi. Ini benar-benar tidak adil untuknya.


"Celsea, apa tidak ada cara lain? Bagaimana bisa putraku kehilangan ingatannya setelah operasi itu? Ini tidak adil untuk putraku," tanya Erland.


"Maafkan aku, Erland! Aku tahu ini berat untuk kita semua. Disini kita yang bakal sedih karena Darren melupakan kita semua. Tapi kita bisa membuat memori baru untuk Darren. Kita akan buat Darren ingat dengan kita, walau tidak seperti dulu. Setidaknya kita akan buat Darren ingat bahwa kita adalah keluarganya."


"Tapi kak Celsea.....!!" ucap Carissa.


"Tidak ada cara lain, Carissa! Jika Darren tidak segera di operasi, maka kematian yang akan menghampiri Darren. Kalian lebih memilih yang mana? Darren tetap bersama kita, walau dia melupakan kita. Atau Darren pergi meninggalkan kita untuk selamanya?"


Mereka semua diam. Mereka tidak bisa memilih karena kedua pilihan tersebut sama-sama buruk. Yang mereka lakukan saat ini adalah menangis.


"Sampai kapan pun. Aku Darrendra Smith tidak akan melakukan operasi!" seru Darren tiba-tiba.


Mendengar seruan dari Darren membuat mereka semua terkejut. Mereka menatap wajah Darren dengan penuh air mata.


Gilang dan Darka langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan adik laki-lakinya itu.


"Ren," ucap Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka lirih.


"Keputusanku sudah bulat. Tidak akan ada operasi."


"Tapi Darren!" seru mereka semua.


Mereka akhirnya memilih untuk Darren di operasi. Mereka tidak ingin kehilangan Darren.


"Ren," lirih mereka semua.


"Keluar!" teriak Darren.


Mendengar teriakkan dari Darren dan juga tatapan kekecewaan dan amarahnya membuat mereka semua akhirnya mengalah. Mereka semua pun pergi meninggalkan ruang rawat Darren.


Mereka tidak benar-benar pergi meninggalkan Darren. Mereka hanya keluar dari ruang rawat Darren. Dan menunggu Darren di depan ruang rawat Darren.


Mereka melakukan itu karena tidak ingin membuat Darren semakin sakit dan terluka.


Mereka semua paham akan kondisi Darren saat ini. Jika mereka ada di posisi Darren. Mereka juga akan melakukan hal yang sama seperti Darren.


"Aakkhhh!"


Seketika mereka terkejut mendengar suara teriakan Darren dari dalam. Mereka hendak masuk namun mengurungkan niatnya karena takut Darren akan mengamuk kepada mereka.


Dan kebetulan pintu ruang rawat Darren tidak tertutup rapat. Jadi mereka masih bisa melihat dan mendengar apa yang akan Darren katakan.


"Ini benar-benar tidak adil untukku? Kenapa kau memberikanku banyak kesakitan? Kenapa kau memberikan banyak penderitaan? Apa salahku? Kenapa kau menghukumku dengan memberikan banyak rasa sakit padaku? Kenapa kau memberikan cobaan seberat ini untukku?!"


Darren berbicara sembari berteriak. Dan jangan lupa air matanya yang menganak sungai membasahi wajahnya.


Darren masih terus menangis. Dia benar-benar kecewa akan kehidupan yang dijalaninya selama ini.


"Aakkhh!"


Darren berteriak sekeras mungkin. Dia tidak peduli jika akan menggangu ketenangan para pasien lainnya.


"Mama!"


Sementara Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka beserta yang lainnya merasakan sesak di dadanya masing-masing ketika mendengar perkataan dan teriakan dari Darren. Mereka ingin masuk dan memberikan pelukan untuk Darren namun lagi-lagi mereka menahannya karena tidak ingin membuat Darren makin mengamuk.


"Tidak. Aku tidak mau disini. Apapun yang terjadi. Dan bagaimana pun kondisiku sekarang ini. Aku tidak peduli. Sekali pun nyawaku sebagai taruhannya. Aku tidak akan mau di operasi. Bagaimana bisa aku melupakan mereka semua."


Seketika mereka semua terkejut ketika melihat Darren yang tiba-tiba turun dari tempat tidurnya.


Darren membuka pintu lemari kecil di samping ranjangnya. Setelah pintu lemari itu terbuka, dapat Darren lihat ada pakaiannya di dalam sana.

__ADS_1


Darren mengambil pakaiannya itu lalu pergi menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian, Darren keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang dibawanya itu.


Setelah mengganti pakaiannya. Darren berjalan menuju pintu. Darren sudah memutuskan untuk sementara ini dia harus pergi menjauh dari keluarganya, ketujuh sahabatnya, kekasihnya, kakak-kakak mafianya dan orang-orang terdekat lainnya.


Darren melakukan semua ini hanya untuk mencari ketenangan dan juga Darren tidak ingin membuat mereka semua mengkhawatirkan kondisinya. Apalagi sampai membuat mereka semua menangis.


Melihat Darren yang melangkah menuju pintu. Seketika mereka yang tadinya mengintip langsung menjauh, seolah-olah mereka tidak mendengar apa-apa.


Cklek!


Pintu dibuka. Setelah itu, keluarlah Darren.


Ketika Darren tiba diluar. Darren melihat keluarganya, anggota keluarga Radmilo, kekasihnya, ketujuh sahabatnya, ketujuh sahabat dari kekasihnya dan kelima kakak mafianya. Bahkan Celsea masih berada di rumah sakit. Mereka sama sekali tidak pergi sesuai keinginannya.


Darren menatap sendu semuanya. Sementara orang-orang terdekatnya menatap dirinya dengan air mata yang membasahi wajah masing-masing.


Setelah puas menatap semua orang-orang terdekatnya. Darren pun pergi meninggalkan rumah sakit.


"Darren," panggil Darka dan Gilang.


Darren berhenti sejenak. Namun dia tidak membalikkan badannya hanya untuk melihat orang-orang terdekatnya itu.


"Untuk sementara ini biarkan aku sendiri. Aku tidak ingin diganggu. Dan aku minta kepada kalian untuk tidak mencariku atau melacak keberadaanku."


"Tapi Ren...." perkataan Willy terpotong.


"Jika ada diantara kalian yang coba-coba melacak keberadaanku. Maka kalian semua akan mendengar kabar kematianku."


Deg!


Mereka terkejut ketika mendengar perkataan dari Darren. Mereka tidak menyangka jika Darren akan berbicara seperti itu.


"Ren!" seru keenam kakak-kakak, kelima kakak-kakak mafianya dan ketujuh sahabatnya.


"Kamu mau kemana, Ren? Apa kamu tega meninggalkanku? Kalau kamu pergi. Aku sama siapa? Apa kamu nggak kasihan sama aku karena aku sendiri yang nggak punya pasangan. Sementara sahabat-sahabat aku memiliki pasangan." Brenda berbicara dengan lembut kepada Darren dan disertai air matanya yang mengalir membasahi wajah cantiknya.


Tanpa Brenda dan yang lainnya ketahui. Darren menangis ketika mendengar perkataan Brenda. Tapi karena egonya, Darren tidak mempedulikan hal itu.


Tujuan Darren memutuskan untuk pergi agar orang-orang terdekatnya itu tidak kesusahan karena dirinya, tidak lelah karena menjaga dan melindungnya, tidak sedih karena selalu memikirkan dan mengkhawatirkan dirinya.


Sudah cukup mereka semua susah dan juga lelah karena dirinya. Kini Darren harus bisa menghadapi kesusahan dan kesakitannya dengan sendirinya tanpa melibatkan orang-orang terdekatnya.


"Jaga dirimu baik-baik. Aku titip Erica padamu. Jaga dia dan jangan sakiti dia."


Setelah mengatakan itu, Darren pun pergi meninggalkan mereka semua. Darren menangis ketika lebih memilih egonya dari pada orang-orang terdekatnya.


"Darren!" teriak Brenda.


Bruk!


Seketika tubuh Brenda jatuh di lantai. Isak tangisnya pun pecah.


"Darren!" teriak Brenda lagi.


Mereka semua menangis ketika mendengar teriakan dan isak tangis Brenda.


Agneta menghampiri Brenda. Dan detik kemudian, Agneta memeluk tubuh bergetar Brenda.


Seketika tangis Brenda makin kencang di pelukan Agneta.


"Bibi, Darren. Aku mau Darren kembali," ucap Brenda disela isakannya.


Agneta makin mengeratkan pelukannya. Hatinya benar-benar hancur saat ini dimana putranya yang pergi dalam keadaan tak baik-baik saja. Dan calon menantu yang menangis histeris akan kepergian putranya.


"Ren," ucap Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel terisak.


***


Darren dalam perjalanan menuju sebuah kota. Kota dimana yang tidak bisa dilacak keberadaannya. Darren ingin menenangkan pikiran dan hatinya disana.


Saat ini Darren tidak bisa berpikir positif. Itu semua disebabkan rasa sakit yang dia rasakan selama ini.


Awalnya Darren hanya merasakan sakit dan sesak di dada kirinya. Tapi sekarang, Darren merasakan sakit yang lain yaitu kepalanya.


Satu sakit saja sudah membuat hidupnya benar-benar buruk. Ini malah dua rasa sakit yang dirasakan olehnya.


Mendapatkan dua rasa sakit sekaligus. Dan keduanya adalah anggota tubuhnya yang sangat penting membuat semangat hidup dan keceriaan Darren hilang sehingga Darren memutuskan untuk pergi meninggalkan orang-orang terdekatnya.


Untuk kali ini Darren tidak melibatkan orang-orang terdekatnya. Darren tidak ingin menjadi beban untuk orang-orang terdekatnya. Dan Darren tidak ingin membuat mereka kesusahan.

__ADS_1


__ADS_2