
Darren, Brenda dan para sahabatnya sudah berada di kampus. Setiba di kampus, Brenda dan ketujuh sahabatnya langsung menuju kelas.
Sementara Darren dan ketujuh sahabatnya memutuskan untuk ke ruang rektor. Beberapa hari ini mereka selalu di teror oleh rektor sekaligus pemilik kampus agar segera menemuinya di ruangan kerjanya.
Kini Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel sudah berada di ruangan rektornya. Mereka duduk di sofa saling berhadapan.
"Kami sudah disini. Sekarang, buruan! Apa yang ingin anda sampaikan?" ucap dan tanya Darren dengan suara ketus dan wajah datarnya.
Mendengar suara ketus dan wajah datar Darren membuat sang rektor hanya bisa menghela nafas pasrahnya.
"Seperti yang sudah-sudah. Saya ingin kamu kembali ke posisi kamu lagi," ucap rektor itu.
"Bawa semua timmu kembali," ucap rektor itu lagi.
Darren menatap wajah rektornya dengan wajah datarnya.
"Kenapa anda menginginkan saya kembali? Apa yang sedang anda rencanakan?" tanya Darren.
"Alasan saya memintamu dan ketujuh sahabatmu kembali ke tim, karena kalian berbakat dan bertanggung jawab dalam semua tugas yang kalian kerjakan. Dan saya benar-benar ingin kamu dan ketujuh sahabat kamu kembali membentuk tim ini kembali."
Rektor itu menatap wajah kedelapan mahasiswa yang ada di hadapannya dengan tatapan penuh harap.
"Alasan utama saya adalah saya ingin pensiun dari jabatan saya menjadi rektor. Dan saya akan memberikan tanggung jawab penuh atas kampus ini kepada kalian."
Mendengar ucapan dari rektornya membuat Darren dan ketujuh sahabatnya terkejut.
"Jika kalian bersedia, maka saya akan....." perkataan rektor langsung terpotong oleh jawaban Darren.
"Tidak. Terima kasih."
Setelah itu, Darren langsung berdiri dan pergi meninggalkan ruang rektor tersebut. Diikuti oleh ketujuh sahabatnya.
Melihat kepergian Darren dan ketujuh sahabatnya membuat hati rektor tersebut sedih. Dirinya tahu bahwa Darren sudah sangat kecewa padanya.
***
Di kediaman Noberto terlihat seorang pria paruh baya bersama istrinya tengah duduk di sofa ruang tengah. Keduanya tengah bersantai sembari sibuk dengan urusan masing-masing dengan laptop dan ponselnya.
Kedua suami istri ini tengah sibuk dengan dunia masing-masing, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara teriakan dari salah anaknya.
"Papi, Mami!" teriak seorang gadis sembari melangkah menuju ruang tengah.
Sepasang suami istri itu langsung menghentikan kegiatannya menatap laptop dan ponselnya. Dan keduanya mengalihkan perhatiannya menatap kearah putri bungsunya yang kini sudah duduk di sofa.
"Ada apa, Connie? Kenapa teriak-teriak?" tanya Isabella Noberto, ibunya.
"Papi, bagaimana ini?" tanya Connie yang mengabaikan pertanyaan dari ibunya.
"Apanya? Kalau bicara itu yang jelas, sayang." Ferdian Noberto berucap dengan menatap wajah putri bungsunya.
"Aku sudah satu kampus dengan Darren. Aku sudah bertemu dengannya. Dan bahkan aku juga sudah memeluknya," jawab Connie.
Mendengar ucapan dari putrinya. Ferdian dan Isabella tersenyum.
"Bagus itu. Itu langkah awal buat kamu mendapatkan cintanya. Bukannya kamu mencintainya," ucap Ferdian.
__ADS_1
"Aish! Aku gagal Papi. Aku tidak berhasil menaklukkan Darren. Darren justru mengacuhkanku dan bersikap kasar padaku. Bahkan Darren mendorong kasar tubuhku ketika aku memeluknya di depan banyak orang," ucap Connie.
Mendengar perkataan putrinya membaut Ferdian marah. Begitu juga dengan Isabella. Mereka berdua tidak terima jika ada orang yang bersikap kasar terhadap putri kesayangannya.
"Brengsek! Berani sekali dia bersikap seperti itu padamu. Dia pikir siapa dia?" marah Ferdian.
"Papi harus melakukan sesuatu. Aku tidak mau kehilangan Darren. Aku sangat mencintai Darren. Dan aku ingin Darren menjadi milikku sepenuhnya," ucap Connie.
"Aku setuju dengan Connie, sayang! Kamu harus lakukan sesuatu. Buat pemuda yang bernama Darren itu menjadi milik putri kita," ujar Isabella.
"Kamu tidak perlu khawatir, sayang. Aku akan melakukan apapun untuk putri kita," sahut Ferdian.
Mendengar ucapan dan janji dari ayahnya. Connie berdiri dari duduknya dan mendekati ayahnya.
Setelah berada di dekat ayahnya. Connie langsung duduk di samping ayahnya dan memeluknya.
"Terima kasih, Papi!"
"Sama-sama, sayang."
***
Darren berjalan santai di koridor melewati ruang-ruang kelas. Sesekali tersenyum dan membalas sapaan mahasiswa dan mahasiswi yang memang sangat kenal dengan dirinya.
Saat Darren akan berbelok menuju tangga. Telinganya tak sengaja mendengar suara di ujung koridor dekat gudang kampus.
Darren menghentikan langkahnya dan menoleh ke asal suara tersebut. Di ujung koridor itu begitu sepi. Bahkan belokan di koridor tempat Darren berdiri saat ini tidak ada satupun mahasiswa ataupun mahasiswi yang berlalu-lalang.
Kening Darren mengernyit saat mendengar suara tawa seseorang disusul dengan suara tangisan yang Darren yakini berasal dari mulut seorang perempuan.
"Gimana? Sakit?"
"Tolong. Jangan, kak. Aku mohon."
"Hahaha... Apa?! Jangan?! Hahaha." tawa itu terdengar menyeramkan di telinga gadis itu.
Darren berdiri di balik lemari itu masih terus mendengarkan pembicaraan kedua mahasiswi itu.
"Itu masih belum seberapa, Riana. Masih banyak lagi penderitaan yang sedang menanti lo, saudara tiri!"
Sekarang sudah Darren paham dan juga mengerti. Suara dari dua mahasiswi itu adalah suara dari seorang mahasiswi bernama Pamela dan Riana yang Darren ketahui adalah saudara tiri Pamela.
Bagaimana Darren bisa tahu? Itu dikarenakan bahwa Pamela adalah teman dari Jessica putri donatur di kampusnya. Dan ditambah lagi Darren yang memegang semua data-data dari mahasiswa dan mahasiswi di kampus.
"Sekarang jawab pertanyaan gue yang tadi! Siapa yang ngasih tahu ke Papi masalah uang itu! Jawab!" bentak Pamela.
"A-aku beneran nggak tahu, kak Pamela? Beneran aku nggak tahu. Aku nggak ngomong apa-apa. "
"Lo masih nggak mau jawab juga? Oke! Sekarang lo akan ngerasain gimana sakitnya saat kayu ini gue pukul ke kepala lo!"
Saat mendengar perkataan Pamela. Darren benar-benar tidak menyangka jika Pamela akan senekat itu.
Awalnya Darren berpikir. Jika dirinya menyingkirkan Jessica. Maka otomatis ketujuh teman-temannya tidak akan melakukan apapun selama di kampus.
Menurut Darren, diantara Jessica dan ketujuh teman-temannya hanya Jessica yang memiliki sifat kejam dan tanpa ampun kalau sudah membully teman-teman kampusnya.
__ADS_1
Namun apa yang Darren pikirkan ternyata salah. Justru kelakuan ketujuh teman-temannya Jessica semakin merajalela, walau tidak ada Jessica bersama mereka.
Ketika Pamela hendak memukul kepala Riana dengan menggunakan kayu yang sudah dipegangnya, Darren langsung keluar dari balik lemari dan langsung menepis kayu itu hingga terlepas dari tangan Pamela.
Pamela terkejut dan segera menoleh ke arah samping kanannya. Begitu juga dengan Riana yang juga menoleh ke arah samping.
"Apa-apaan sih lo!" bentak Pamela.
"Nggak usah ikut campur urusan gue!"
"Ini udah jadi urusan gue. Lo itu udah ngelakuin tindakan kriminal. Dan lo bisa dilaporin karena ngelakuin hal tersebut!" bentak Darren balik dengan menatap tajam Pamela.
"Ini urusan gue. Lo orang luar dan nggak berhak ikut campur!" bentak Pamela.
"Tindakan pembullyan kaya gini udah jadi urusan gue juga! Dan ini di kampus. Beda jika lo ngelakuinnya di rumah!" bentak Darren.
"Lo siapa hah?! Apa urusan lo sama tindakan pembullyan yang gue lakuin?! Nggak ada yang berhak ngelarang gue buat membully di kampus ini, termasuk lo!"
"Gue ketua ORGANISASI di kampus ini. Jadi gue berhak buat ngelarang lo membully mahasiswi di kampus," ucap Darren dengan menatap marah Pamela.
Pamela tersenyum sinis menatap Darren.
"Ketua ORGANISASI KAMPUS! Hahahaha. Apa gue nggak salah dengar, hah?! Bukannya jabatan lo udah dicabut ya," ucap Pamela meremehkan.
Mendengar ucapan dari Pamela. Darren tersenyum menyeringai.
"Eemm. Bagaimana jika aku mengatakan padamu bahwa aku sudah mendapatkan kembali jabatanku itu, hum?!"
Pamela seketika terdiam mendengar ucapan sekaligus pertanyaan dari Darren. Pamela menatap wajah Darren tepat di manik hitam Darren.
"Nggak usah ngehalu lo. Nggak mungkin lo mendapatkan kembali jabatan itu," ejek Pamela.
"Apa yang bakal lo kasih ke gue jika perkataan gue benar kalau gue sudah kembali menjabat sebagai ketua ORGANISASI di kampus ini, hum?" tanya Darren dengan menantang Pamela.
Deg!
Pamela terdiam. Dirinya tidak bisa berkata apa-apa lagi untuk saat ini. Dan dirinya juga tidak mau sembarangan memberikan jawaban atas pertanyaan dari Darren tersebut, karena tidak ingin menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
Melihat keterdiaman Pamela. Darren tersenyum manis menatap wajah Pamela.
Darren mendekati Riana yang masih ketakutan. Setelah itu, Darren membantu Riana berdiri.
"Kamu baik-baik saja?"
"Aku baik saja, kak! Terima kasih," jawab Riana.
"Sama-sama. Sekarang kembalilah ke kelas. Aku jamin saudari tiri kamu itu tidak akan membully kamu lagi selama di kampus."
"Baiklah, kak! Sekali, terima kasih."
Setelah itu, Riana pun pergi meninggalkan Darren dan Pamela.
Darren menatap wajah Pamela. "Aku harap ini adalah terakhir kalinya kau membully di kampus ini. Jika kedapatan lagi. Maka kau akan aku keluarkan dari kampus ini. Bukan kau saja, teman-temanmu juga."
"Jika kau sampai dikeluarkan dari kampus ini, maka seluruh kampus di dunia ini tidak akan menerimamu dan teman-temanmu karena kelakuan buruk kalian."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan Pamela sendirian untuk menuju perpustakaan. Niat awalnya memang kesana untuk bertemu denganĀ yang lainnya.