
Tak butuh waktu lama, Darren dan Davin telah sampai di rumah sakit.
Sesampainya di depan rumah sakit, Darren langsung melangkah memasuki rumah sakit tersebut dan diikuti Davin di sampingnya.
Darren menghubungi Qenan dan menanyakan keberadaannya dan yang lainnya.
"Halo, Nan. Ruangannya dimana?"
"...."
"Oke."
Setelah selesai berbicara dengan Qenan. Darren memutuskan sambungan teleponnya dan menuju ruangan yang dikatakan oleh Qenan.
Darren dan Davin melangkah menyusuri koridor rumah sakit sehingga melihat segerombolan lelaki duduk dan berdiri dengan wajah khawatir dengan sesekali melihat kearah pintu UGD.
Setelah sampai disana, Darren langsung menanyakan keadaan Rehan, sahabatnya.
"Bagaimana keadaan Rehan?" tanya Darren khawatir.
"Parah, Ren. Benar-benar parah. Rehan mengalami patah tulang di punggungnya, kakinya kena bacok dan kepala kena hantaman balok yang lumayan besar. Sekarang Rehan lagi ditanganin dokter sekarang." Dylan berbicara dengan panjangnya sembari menahan tawa ketika melihat wajah syok Darren.
Davin yang ada di samping Darren berusaha menenangkan adiknya dengan mengusap-ngusap punggungnya.
Axel dan Jerry yang melihat wajah sedih, khawatir dan takut Darren menjadi tidak tega.
Dan detik kemudian...
Plak.. Plak..
Axel dan Jerry secara bersamaan memberikan pukulan di kepala belakang Dylan sehingga membuat Dylan meringis.
"Ren, lo jangan dengarkan makhluk kurus ini ya. Rehan baik-baik saja. Tidak ada luka serius kok," ucap Jerry.
"Dylan ngerjain lo doang tadi," sela Axel.
Mendengar ucapan dari Axel dan Jerry. Seketika Darren menatap tajam kearah Dylan.
Sedangkan yang ditatap hanya memperlihatkan cengiran khasnya tanpa dosa.
Detik kemudian...
Bagh!
Bugh!
Jedug!
Tak!
Plak!
"Ren, hentikan. Apa lo berniat ingin bunuh gue?" tanya Dylan.
Dylan saat ini mengalami pembullyan yang dilakukan oleh Darren. (Bayangkan sendiri apa yang terjadi)
"Ya. Gue ingin bunuh lo hari ini juga. Setelah itu, gue bakal potong-potong tubuh lo beberapa bagian. Kepala lo gue gantung di depan pintu rumah gue. Bola mata lo, gue jadiin panjangan di ruang tengah rumah gue. Jantung lo gue jadiin kalung untuk hewan peliharaan kakak Ziggy. Usus lo, gue jadikan uang. Dan sisanya gue jadiin makanan untuk hewan liar diluar sana."
Darren berbicara dengan santainya sembari masih mengapit kepala Dylan di ketiaknya.
Sementara yang lainnya seketika tubuh mereka merinding ketika mendengar ucapan dari Darren.
Bagaimana dengan Dylan?
Sudah pasti Dylan yang paling ketakutan dan juga merinding ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Darren.
"Ren, udah dong. Tuh kasihan anak orang. Ntar mati beneran, bagaimana?" ucap Willy.
Darren langsung melepaskan Dylan. Dan setelah itu menjauh dari sahabat laknatnya itu.
__ADS_1
Sementara Dylan, keadaannya sangat memperihatinkan. Salah satunya adalah rambut yang acak-acakkan dan baju yang sudah tak karuan. Dan jangan lupa, nafasnya yang ngos-ngosan.
Melihat keadaan Dylan. Mereka semua tertawa nista.
"Untung lo nggak dibunuh beneran sama anak kelinci itu, Lan!" bisik Darel di telinga Dylan.
"Dasar siluman kelinci sialan," umpat Dylan pelan. Namun terdengar oleh Darren.
Darren menatap kearah Dylan. "Apa? Mau lagi?"
Seketika Dylan mengatup mulutnya ketika mendengar perkataan dari Darren.
Sedangkan Davin dan sahabat Darren yang lainnya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Cklek!
Terdengar pintu ruang UGD terbuka. Darren dan yang lainnya langsung melihat kearah pintu itu. Dan mereka melihat seorang Dokter keluar.
"Bagaimana keadaan sahabat saya, Dokter?" tanya Darren.
"Jadi kalian sahabat dari pasien?" tanya Dokter itu.
"Iya, Dokter!" Darren dan keenam sahabatnya menjawab dengan kompak.
Dokter itu tersenyum. "Keadaan pasien baik-baik saja. Tidak ada luka serius sama sekali. Hanya luka goresan di bagian pinggang kanannya, tapi tidak terlalu dalam.
Mendengar jawaban dari Dokter yang menangani Rehan membuat Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan dan Darel menghela nafas lega. Mereka benar-benar bahagia mendengar jawaban dari sang Dokter. Begitu juga dengan Davin.
"Kalian boleh melihat setelah dipindahkan ke ruang rawatnya. Setidaknya pasien harus dirawat dua hari di rumah sakit."
"Baik, Dok!" seru Darren dan ketujuh sahabatnya.
"Baiklah. Kalau begitu saya pamit."
Setelah itu, Dokter itu pergi meninggalkan Darren dan yang lainnya untuk mengurus kepindahan Rehan dari ruang Unit Gawat Darurat ke ruang rawatnya.
Darren menatap keenam sahabatnya. "Apa kalian sudah hubungi Paman Valeo dan Bibi Revina?" tanya Darren.
Darren yang melihat senyuman di bibir keenam sahabatnya langsung paham. Dirinya yang melihat kelakuan keenam sahabatnya itu hanya menghela nafas pasrah dan sedikit menggelengkan kepalanya.
"Dasar bodoh," ucap Darren dengan kejamnya.
Setelah itu, Darren mengambil ponselnya untuk menghubungi keluarga Rehan dan mengabari mereka tentang keadaan sahabatnya itu.
Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan dan Darel seketika membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan kejam dari Darren.
"Dasar siluman sialan," batin mereka bersamaan.
"Jadi apa yang akan kita lakuin, Ren?" tanya Darel.
"Kita pastiin aja dulu. Kita tanya Rehan apa yang sebenernya terjadi," jawab Darren sambil menyisir rambutnya ke belakang.
BRUISER bukanlah geng motor yang sembarangan. Bruiser tidak akan berbuat ulah jika tidak ada yang mengawali. Maka dari itu geng ini tersimpan rapih. Tidak dengan geng VAGOS. Geng itu bikin onar di jalanan. Mengklaim dirinya sebagai raja jalanan. Penguasa jalanan.
Darren, sang ketua Bruiser dari UNIVERSITY NATIONAL JERMAN yang merupakan King of the Road. Dan Alvaro sebagai wakil ketua Bruiser dari UNIVERSITY HSBA.
Geng motor BRUISER tidak hanya berasal dari University National Jerman. Namun juga dari University HFBK, dan University HSBA kota Hamburg.
***
Di sebuah markas dimana terlihat beberapa orang tengah berkumpul. Mereka tengah membicarakan masalah tentang kejadian beberapa jam yang lalu.
"Bagaimana?"
"Beres."
"Salah satu sahabat dari Darren terkapar di rumah sakit."
"Kalian tidak meninggalkan jejak kan?"
__ADS_1
"Tenang, Bos. Kami bekerja sangat rapi."
"Kami melakukan sesuai dengan perintah Bos."
Pemuda itu tersenyum ketika mendengar jawaban demi jawaban dari anak buahnya.
"Sebentar lagi akan ada perang antara dua geng motor terkenal di Jerman. Aku sudah tidak sabaran. Kali ini siapa yang akan menang dan bertahan?" batin pemuda itu.
***
Kini semuanya sudah berada di ruang rawat Rehan, termasuk kedua orang tua dan kedua kakak laki-laki Rehan.
"Bagaimana keadaan kamu, sayang?" tanya Revina kepada putra bungsu nya sembari tangannya mengelus kepalanya.
"Aku baik-baik saja, Ma! Mama tidak perlu khawatir, oke!"
"Bagaimana Mama tidak khawatir. Saat Mama mendapatkan kabar dari Darren mengenai kamu. Mama langsung tidak bisa menahan air mata Mama."
Rehan tersenyum mendengar perkataan dari ibunya, lalu tangannya menghapus air mata ibunya itu.
"Terima kasih Mama udah ngawatirin aku. Tapi aku benaran baik-baik saja. Tidak ada luka serius. Jadi aku minta sama Mama, jangan nangis lagi ya."
"Kamu yakin baik-baik saja kan, Han?" tanya Valeo menatap putra bungsunya.
"Iya, Papa. Aku baik-baik saja. Hanya luka goresan di pinggang kanan aku. Selain itu, nggak ada luka apapun."
"Kamu nggak bohongkan, Han?" kini Cakra yang bertanya.
"Iya, kakak Cakra. Aku tidak bohong kepada kalian. Lagiankan sahabat-sahabat aku juga sudah mengetahui secara detail kondisiku dari Dokternya langsung. Mereka udah ngasih tahu kalian kan?" ucap dan tanya Rehan.
"Iya. Mereka sudah beritahu kami," Valeo, Revina, Cakra dan Rendy menjawab bersamaan.
"Nah! Kalau begitu tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagikan?"
Darren melangkah mendekati ranjang Rehan dan diikuti oleh yang lainnya.
"Qenan bilang sama gue kalau geng motor Vagos yang ngeroyok lo. Apa benar, Han?" ucap dan tanya Darren.
"Gue juga nggak tahu Ren. Pertama, gue melihat mereka memakai jaket anak Vagos. Tapi dari wajah-wajah mereka. Mereka bukan anak-anak Vagos," ucap Rehan ketika mengingat wajah dan jaket dari orang-orang yang ngeroyok dirinya.
"Lo yakin, Han?" tanya Darel.
"Yakin, Rel! Kalian masih ingat tidak ketika kita dihadang sama geng Vagos saat itu?" tanya Rehan dengan menatap satu persatu wajah ketujuh sahabatnya.
"Iya. Kita masih ingat," jawab Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan dan Darel bersamaan.
"Nah, saat itu gue memperhatikan satu persatu wajah-wajah dari geng Vagos. Jadi, pas kejadian pengeroyokan yang gue alami kemarin, nggak ada anak-anak Vagos disana. Hanya saja jaketnya yang bertuliskan Vagos." Rehan menjelaskan kejadian yang sebenarnya dan juga orang-orang yang telah mengeroyoknya itu.
Mendengar penjelasan dari Rehan membuat mereka semua saling memberikan tatapan. Begitu juga dengan Davin, kedua orang tua dan kedua kakak laki-laki Rehan.
Mereka berusaha memikirkan dan mencerna apa yang mereka dengar dari Rehan.
"Ini jebakan." tiba-tiba Davin bersuara.
Mereka semua melihat kearah Davin. Begitu juga dengan Davin. Davin menatap satu persatu orang yang ada di hadapannya.
"Jebakan? Maksud kakak Davin apa?" tanya Darren.
"Rehan barusan bilang wajah orang-orang yang sudah mengeroyok dia bukan dari anak-anak Vagos. Hanya jaketnya saja yang bertuliskan Vagos."
"Jadi dengan kata lain, orang-orang itu sudah menjadikan anak-anak Vagos tersangka utamanya."
"Jadi maksud kakak Davin kalau mereka...." perkataan Darren terpotong karena Rendy sudah terlebih bersuara.
"Mereka ingin mengadu domba kalian dengan geng motor Vagos. Mereka semua berharap kalian membalas perlakuan geng Vagos atas apa yang dialami oleh Rehan sehingga terjadi perkelahian dua kubu," sahut Rendy.
"Itu maksud kakak, Ren!" ucap Davin.
Mendengar perkataan dari Davin dan Rendy membuat Darren dan keenam sahabatnya mengepal kuat tangannya. Mereka benar-benar marah akan perbuatan dari orang-orang yang sudah berani mengeroyok Rehan dan mengkambinghitamkan geng motor Vagos.
__ADS_1
"Tunggu saja kejutan dariku. Aku tidak akan membiarkan kalian melakukan hal keji ini untuk kedua kalinya. Aku akan menyelidiki siapa kalian sebenarnya," batin Darren.