KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Flashback


__ADS_3

Darren saat ini sibuk dengan layar laptop ditambah dengan chip yang sudah dipasang di laptop milik Gilang.


Darren mengotak-atik isi dari chip tersebut dengan sangat lihai. Terlihat beberapa foto, video dan beberapa file.


Darren mengklik sebuah video. Dirinya penasaran akan isi dari video tersebut. Disaat video itu sudah terbuka dan berjalan, sayangnya video itu tidak terdengar suaranya sehingga membuat anggota keluarga Smith, anggota keluarga Mendez, Brenda, ketujuh sahabatnya Darren dan ketujuh sahabat Brenda berdecak kesal. Tapi tidak dengan Darren.


"Kakak Darren pasti butuh ini!" seru Melvin sembari memberikan earphone miliknya kepada Darren.


Darren langsung melihat kearah adik laki-lakinya. Dan seketika terukir senyuman manis di bibirnya.


"Terima kasih."


"Sama-sama, kakak Darren."


Darren memasang earphone itu ke telinganya. Setelah itu, Darren mengklik bagian suara yang memang aslinya tidak memiliki suara sama sekali.


Semuanya menatap kearah Darren. Mereka berharap Darren bisa mendengar suara dari video itu.


Beberapa menit kemudian.....


Terukir senyuman manis di bibir Darren ketika yang ditunggu oleh muncul.


Melihat senyuman manis di bibir Darren membuat mereka semua meyakini bahwa Darren telah berhasil mendengar isi dari video itu.


Mereka terus memperhatikan mimik wajah Darren. Beberapa detik kemudian, ekspresi wajah Darren berubah tak mengenakkan. Mereka yakin jika Darren mendengar sesuatu yang dicurigainya.


"Akhirnya aku menemukanmu. Tunggu apa yang akan segera mendatangimu," ucap Darren.


Mendengar ucapan dari Darren membuat mereka semua seketika langsung paham bahwa Darren sudah menemukan sang pelaku.


Setelah selesai mendengar semua isi dari video itu, Darren melepaskan earphone dari telinganya. Kemudian tangannya bermain-main di atas keyboard untuk memindahkan semua file dan data-data yang ada di dalam chip tersebut ke VCD.


"Selesai!" seru Darren sembari menekan tulisan ENTER!


Darren mematikan laptop tersebut. Setelah mati, Darren menutup laptop tersebut.


Darren menatap lekat wajah Livia, putri ketiga dari Reymond Mendez.


Mereka yang melihat Darren yang menatap lekat wajah Livia menjadi penasaran dan juga sedikit merasakan ketakutan, terutama anggota keluarga Mendez.


"Kenapa Askara menatap Mama seperti itu?" barin Rafif dan Daisy.


"Kenapa tatapan mata Darren seperti itu menatap Bibi Livia?" batin Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.


"Bibi Livia."


"Iya, Askara? Apa ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan sama Bibi?"


"Boleh?"


"Tentu."


"Aku ingin Bibi menjawab semua pertanyaan dariku dengan jujur, tidak boleh berbohong dan jangan ada yang ditutup-tutupi."


"Baik, sayang."


"Pertanyaan pertama. Ini soal Paman Agra. Apa Paman Agra itu suami keduanya Bibi?"


"Iya. Agra adalah suami kedua Bibi."

__ADS_1


"Sejak kapan Bibi menikah dengan Paman Agra?"


"Sudah 20 tahun. Yang Bibi ingat saat itu Mehdy dan Monica berusia 5 tahun."


"Apa hanya Rafif dan Daisy saja anaknya Bibi. Lalu Mikko, Kenzo dan Chintia?"


"Hanya Rafif dan Daisy yang anak Bibi. Mereka anak-anak Agra."


Kenapa Rafif dan Daisy tidak terkejut ketika mendengar perkataan dari ibunya yang mengatakan bahwa ayahnya bukanlah ayah kandungnya. Karena Rafif dan Daisy sudah tahu bahwa ayah kandungnya sudah meninggal karena kecelakaan.


"Pertanyaan kedua. Ini mengenai suami pertama Bibi. Apa yang menyebabkan suami pertama Bibi meninggal?"


"Karena kecelakaan."


"Bibi yakin jika suami pertama Bibi meninggal karena kecelakaan. Bukan karena hal yang lain?"


"Seperti itu kabar yang Bibi dan anggota keluarga Mendez dengar. Bahkan pihak kepolisian mengatakan hal yang sama."


"Baiklah," ucap Darren lalu menyandarkan punggungnya di punggung sofa.


Darren menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya. Begitu juga dengan mereka semua. Mereka saling memberikan tatapan satu sama lain.


"Aku sudah tahu dalangnya siapa? Dalang semua kejadian yang menimpa keluarga Mendez selama ini. Jika aku beritahu kalian. Pasti kalian semua akan syok, terutama Bibi Livia."


Mendengar ucapan dari Darren membuat anggota keluarga Mendez menjadi semakin penasaran akan dalang tersebut.


"Dari mulai kecelakaan yang menimpa suami pertama Bibi Livia, kecelakaan yang hampir merenggut nyawa Bibi Lidia dan kak Renata. Dan orang-orang yang hampir menghabisi nyawa kakek Reymond, aku dan orang-orangku ketika menyelamatkan kakek Reymond."


Mendengar penuturan dari Darren membuat mereka semua terkejut, terutama anggota keluarga Mendez.


"Apa orang yang sudah menanam chip di pergelangan tangan kiri Rafif, orang yang sama?" tanya Daisy.


"Iya," jawab Darren.


Darren langsung melihat kearah Rehan. "Iya, Han."


"Aku ingat sesuatu!"


"Apa?"


"Kemarin ketika kamu berbicara dengan kakak-kakak mafia kita. Disaat kamu bicara dengan kakak Ziggy, kamu bilang kalau kamu nggak mau kehilangan lagi. Apa maksud kamu, Ren?"


Mendengar pertanyaan dari Rehan. Raut wajah Darren seketika berubah menjadi sedih.


Flashback On


"Bos, lebih baik pergi dari sini. Selamat tuan Reymond!" pinta Hansel.


"Tapi...."


"Tidak ada waktu, Bos! Tuan Reymond harus segera dibawa ke rumah sakit. Dan Bos juga butuh pertolongan. Bos sedang terluka saat ini!" seru Ramon.


"Kalian juga terluka," jawab Darren.


"Kami baik-baik saja, Bos!" teriak Hansel.


"Sekarang, pergilah Bos! Ada beberapa anggota kita yang akan mengawal Bos dan tuan Reymond sampai ke rumah sakit." Ramon ikut berteriak meminta Darren untuk segera pergi meninggalkan lokasi.


"Bos, buruan pergi!" teriak Hansel dan Ramon bersamaan.

__ADS_1


Dengan berurai air mata, Darren pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Hansel dan Ramon.


Namun baru beberapa langkah meninggalkan Hansel and Ramon, Darren mendengar suara senjata api yang diyakini olehnya mengarah kearah kedua tangan kanannya itu.


Seketika Darren membalikkan tubuhnya untuk melihat keasal suara itu. Dan benar, kedua tangan kanan, Hansel dan Ramon dalam keadaan tak baik-baik saja. Keduanya terkapar di aspal dengan seorang pria berdiri di hadapannya dengan senjata mengarah kearah kedua tangan kanannya.


Darren menatap lekat kearah wajah pria itu. Darren bisa melihat sedikit bentuk wajah dari pria yang telah melukai kedua tangan kanannya.


Namun beberapa detik kemudian, tiba-tiba Darren merasakan sakit di kepalanya dan disertai dengan pandangan yang mengabur.


Flashback Off


"Ren, ada apa? Katakan Ren," sahut Jerry.


"Hansel dan Ramon," lirih Darren. Dan seketika air matanya jatuh membasahi wajahnya.


"Kenapa Ren?" tanya Qenan.


"Kenapa dengan mereka, Ren?" tanya Willy.


Darren menatap wajah Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel. Dan detik kemudian, Darren menggelengkan kepalanya disertai dengan air matanya yang semakin deras.


Mendapatkan gelengan kepala dan melihat keadaan Darren yang menangis membuat mereka meyakini bahwa Hansel dan Ramon sudah pergi untuk selamanya.


"Jika aku lebih memilih tidak mendengarkan perkataan mereka. Jika aku lebih memilih tetap bersama mereka, maka mereka berdua tidak akan pergi dari dunia ini. Aku telah membunuh mereka. Aku yang sudah menyebabkan mereka mati," ucap Darren dengan suara lirihnya.


Mendengar ucapan dan suara lirih dari Darren membuat hati mereka menjadi sedih.


"Lo nggak salah, Ren!" ucap Axel.


"Tapi gue yang...."


"Apapun alasannya. Lo nggak salah!" seru Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan dengan menatap wajah Darren.


"Dan kita semua yang ada disini nggak mau dengar apapun dari mulut lo," sahut Jerry.


***


Elzaro dan kelima sahabatnya telah selesai memeriksakan diri di rumah sakit. Saat ini mereka tengah berjalan menyusuri setiap koridor rumah sakit untuk menuju parkiran.


"Kita jadikan ke rumah keluarga Darren?" tanya Doddy.


"Jadi," jawab Elzaro.


"Jawaban apa yang akan kita berikan ketika mereka melihat wajah kita setelah kita tiba disana?" tanya Glen.


"Katakan saja apa adanya. Tidak ditambah dan tidak dikurangi," ujar Elzaro.


Mendengar jawaban dari Elzaro membuat Glen menganggukkan kepalanya paham. Begitu juga dengan Diego, Allan, Melky dan Derry.


Kini mereka sudah berada di depan rumah sakit. Ketika tiba disana, mereka melihat beberapa anggota dari Zaky dan Razky sudah menunggu kedatangan mereka.


"Kalian masih disini?" tanya Elzaro.


"Iya, tuan. Kami diperintahkan untuk mengawal tuan dan sahabat-sahabat tuan sampai selamat di kediaman keluarga tuan Darren," jawab salah satu anggota dari Zaky.


Mendengar jawaban dari salah satu anggotanya Zaky. Elzaro, Glen, Allan, Melky, Derry dan Diego tersenyum bahagia dan berucap syukur di dalam hati.


"Baiklah kalau begitu," sahut Elzaro.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Elzaro dan kelima sahabatnya pun pergi meninggalkan rumah sakit untuk menuju kediaman keluarga Smith.


Elzaro dan kelima sahabatnya dikawal oleh beberapa anggota dari Zaky dan Razky. Mereka akan mengawal Elzaro dan kelima sahabatnya sampai selamat di kediaman keluarga Smith.


__ADS_2