
Anggota keluarga Smith semuanya sudah berkumpul di meja makan. Mereka semua akan sarapan pagi bersama.
Ketika suasana tengah hening karena anggota keluarga Smith menyantap sarapan paginya dengan tenang, tiba-tiba dikejutkan dengan perkataan dari Ivan.
"Kakak Darren jangan sampai lupa. Hari ini adalah acara ulang tahun sekolahku dan Melvin," sahut Ivan.
Mendengar ucapan dari adiknya. Darren langsung melihat wajah adiknya itu.
"Bukannya sabtu depan ya!" ucap Darren yang menjahili adiknya itu.
Mendengar ucapan dari kakak kesayangannya yang mengatakan sabtu depan membuat Ivan dan Melvin menghentikan kegiatan makannya. Mereka dengan kompak menatap wajah kakaknya itu.
Sementara anggota keluarga lainnya tersenyum melihat wajah syok Ivan dan Melvin.
"Yak! Kakak Darren, acaranya hari ini pukul 10 pagi!" seru Melvin.
"Bukan sabtu depan!" seru Ivan.
Baik Ivan maupun Melvin menatap wajah Darren dengan wajah super kesalnya.
Darren melirik kecil kearah kedua adiknya itu sembari mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Oh. Hari ini acaranya. Kakak pikir sabtu depan," jawab Darren tanpa rasa bersalah sama sekali.
Mendengar jawaban dari kakaknya itu. Lagi-lagi Ivan dan Melvin menatap dengan wajah syok dan juga kesal.
"Kakak Darren!" teriak keduanya kompak.
Seketika mereka semua menutup telinga masing-masing ketika mendengar teriakan dari Ivan dan Melvin.
"Ivan, Melvin!" tegur Agneta.
"Maafkan kita, Mama!" ucap Ivan.
"Kalau Mama mau marah. Marahin aja tuh kakak Darren," ucap Melvin.
Mereka semua tersenyum ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Ivan dan Melvin.
Ivan dan Melvin kembali menatap wajah Darren. Mereka ingin memastikan apakah kakak kesayangannya itu akan datang ke acara sekolahnya.
"Kakak Darren," panggil Ivan dan Melvin.
Darren langsung melihat wajah kedua adiknya itu.
Dan detik kemudian...
Darren tersenyum menatap wajah memelas dan juga sedih adiknya itu.
Dan pada akhirnya, Darren pun menyerah. Dirinya pun menyudahi menjahili kedua adiknya itu.
"Jangan tatap kakak seperti itu. Lanjutkan makan kalian. Kakak tadi hanya bercanda," ucap Darren.
Mendengar ucapan dari kakaknya itu, Ivan dan Melvin tersenyum. Setelah itu, keduanya pun melanjutkan makannya.
Sedangkan anggota keluarganya yang melihat interaksi Darren, Ivan dan Melvin tersenyum bahagia.
***
Radeva saat ini berada di perusahaan miliknya. Dirinya saat ini benar-benar sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya.
Radeva ingin segera menyelesaikan semuanya agar dirinya bisa pergi ke sekolah adik perempuannya.
Ketika Radeva tengah sibuk dengan berkas-berkas di atas meja, tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan suara pintu yang dibuka oleh seseorang.
Cklek!
__ADS_1
"Maaf, Bos!"
Radeva langsung melihat ke asal suara tersebut. Dapat Radeva lihat asistennya yang saat ini tengah ngos-ngosan.
"Ada apa?"
"Ada keributan di lobi bawah, Bos."
"Keributan? Kenapa tidak panggil keamanan?"
"Sudah, Bos. Tapi orang itu justru makin menjadi-jadi. Orang itu berteriak sambil memanggil nama Bos."
Mendengar jawaban dari asistennya itu membuat Radeva berpikir. Di dalam hatinya berkata, "Siapa orang itu?"
Setelah itu, Radeva berdiri dari duduknya dan melangkah ke luar dan meninggalkan ruang kerjanya.
^^^
Kini Radeva dan asistennya itu sudah berada di lobi.
Ketika sampai di lobi, Radeva melihat dua pria paruh baya yang kini sedang menghajar satu karyawannya dan juga securitynya.
Melihat hal itu membuat Radeva marah.
Radeva langsung melangkah mendekati kedua pria paruh baya tersebut dengan wajah marahnya.
Radeva langsung memberikan pukul dan tendangan secara bersamaan kearah dua pria paruh baya itu.
Bugh!
Duagh!
Mendapatkan pukulan dan tendangan dari Radeva membuat kedua pria itu kesakitan di bagian wajah dan pinggangnya.
"Kalian tidak apa-apa?" tanga Radeva menatap dua karyawannya itu.
"Brengsek! Siapa kau? Beraninya kau mengganggu kami!" teriak salah satu pria itu.
Radeva langsung melihat kearah dua pria itu.
"Apa aku tidak salah dengar, hah?! Kalian bilang aku mengganggu kalian. Hei, tuan! Kalian berdua berada di lokasi saya. Kalian berada di perusahaan saya. Jadi yang mengganggu itu adalah kalian!" teriak Radeva.
"Kami tahu ini adalah perusahaanmu. Tapi kami tidak punya urusan denganmu!" bentak pria kedua dengan jari telunjuknya menunjuk kearah Radeva.
"Hahahaha."
Radeva tertawa ketika mendengar ucapan dari pria itu. Bagi Radeva bahwa perkataan dari pria itu benar-benar lucu.
"Hei, tuan. Orang yang kalian pukul itu adalah karyawan saya. Maka dari itu saya selaku pemilik perusahaan ini sekaligus atasan mereka berkewajiban untuk membela karyawan saya," ucap Radeva.
"Kami tidak peduli. Jadi sekarang pergilah dari sini. Biarkan kami menyelesaikan pekerjaan kami!" bentak pria pertama.
Mendengar jawaban dari salah satu pria yang ada di hadapannya itu membuat Radeva benar-benar marah.
Ketika Radeva ingin menjawab perkataan pria itu, tiba-tiba sopir dari Radeva datang.
"Maaf, Bos! Apakah Bos jadi ke sekolahnya nona Salsa?"
Mendengar ucapan dari sopirnya itu, Radeva langsung melihat jam di tangan kirinya. Dan sontak Radeva terkejut.
"Sepertinya aku tidak akan bisa pergi," batin Radeva.
Radeva mengambil ponselnya di saku celananya. Setelah ponselnya sudah berada di tangannya. Radeva mencari nama kontak 'Axel' adik laki-lakinya.
Setelah mendapati nomor ponsel adik laki-lakinya itu, Radeva pun langsung menghubunginya.
__ADS_1
***
Axel saat ini berada di Showroom bersama dengan Dylan dan Jerry. Mereka saat ini tengah mengecek mobil-mobil yang baru datang dari gudang.
Ketika Axel dan kedua sahabatnya tengah sibuk mengecek semua mobil-mobil yang ada di hadapan mereka. Axel dikejutkan dengan suara ponselnya.
Axel langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Ketika Axel melihat nama kakak laki-laki tertuanya di layar ponselnya. Axel pun langsung menjawabnya.
"Hallo, kakak Radeva. Ada apa?"
"Apa kakak ganggu?"
"Tidak sama sekali. Kenapa?"
"Sepertinya kakak nggak bisa ke sekolahnya Salsa. Apa kamu bisa gantiin kakak?"
"Apa ada masalah?"
"Iya, Axel. Ada masalah di perusahaan kakak. Ada dua pria yang tak dikenal datang ke perusahaan kakak. Kedua pria itu memukul dan menghajar dua karyawan kakak."
"Apa?!"
Mendengar jawaban dari kakak laki-lakinya itu membuat Axel terkejut. Begitu juga dengan Dylan dan Jerry. Keduanya terkejut ketika mendengar teriakan dari Axel.
"Memangnya apa alasan kedua pria itu memukul kedua karyawan kakak Radeva?"
"Alasan itulah yang akan kakak cari tahu. Kakak akan selesaikan masalah ini. Maka dari itu kenapa kakak menghubungi kamu dan meminta kamu buat gantiin kakak untuk ke sekolah Salsa."
"Baiklah. Kakak selesaikan dulu masalah kedua karyawan kakak itu dengan kedua pria gila tersebut. Masalah Salsa, kakak serahkan padaku."
Mendengar jawaban dari adik laki-lakinya membuat Radeva tersenyum bahagia dan merasakan kelegaan di hatinya.
"Terima kasih ya. Kamu dewa penolong kakak."
"Ih. Apaan sih, kakak Radev! Kita ini saudara. Sesama saudara itu saling bantu membantu."
"Iya, iya!"
Setelah selesai berbicara dengan kakaknya di telepon, Axel pun mematikan panggilan tersebut.
"Ada apa?" tanya Jerry.
"Apa ada masalah?" tanya Dylan.
"Kakak Radeva memintaku untuk menggantikannya datang ke sekolah Salsa. Kakak Radeva tidak bisa datang ke sekolah Salsa karena ada masalah di kantornya."
"Masalah?" tanya Dylan dan Jerry bersamaan.
"Ada dua pria tak dikenal datang ke perusahaan kakak Radeva, lalu kedua pria itu memukul dan menghajar dua karyawan kakak Radeva."
Jerry dan Dylan seketika melotot ketika mendengar jawaban dari Axel.
"Ya, sudah pergilah! Jangan buat Salsa kecewa karena tidak melihat salah satu kakak laki-lakinya berada di sekolah," ucap Jerry.
"Tak apa aku tinggal?" tanya Axel dengan menatap wajah Jerry dan Dylan.
"Tak apa. Lagian pekerjaan kita hari ini tidak terlalu banyak. Hanya mengecek saja," jawab Dylan.
"Ya, sudah kalau begitu. Aku pergi ya," pamit Axel.
"Hati-hati!" seru Dylan dan Jerry bersamaan.
"Oke!"
__ADS_1
Setelah itu, Axel pun pergi meninggalkan Showroom untuk menuju sekolah adik perempuannya.