KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Membujuk Darren


__ADS_3

Darka dan Gilang yang mendengar isak tangis adik bungsunya langsung menghampiri sang adik.


"Darren," lirih Darka dan Gilang bersamaan.


Darren melepaskan pelukannya dari Ziggy. Dan seketika itu juga Darren langsung menghambur ke dalam pelukan Gilang dan Darka.


GREP!


"Kakak," isak Darren.


Gilang dan Darka memeluk tubuh adiknya erat. Tangan mereka mengusap lembut punggung dan kepala belakangnya.


"Kakak disini, Ren. Kakak tidak akan meninggalkan kamu. Kita akan selalu bersama-sama," ucap Darka.


"Kakak akan selalu menemani kamu. Sesibuk apapun kakak nantinya. Kakak akan berusaha membagi waktu kakak untuk kamu," ucap Gilang.


"Benarkah? Kakak Darka dan kakak Gilang tidak akan membohongiku?"


"Tidak akan. Kakak tidak membohongi kamu," jawab Darka.


"Kakak tidak akan membohongi kamu," jawab Gilang.


"Terima kasih, Kak. Kalau begitu kakak Darka dan kakak Gilang tinggal disini saja bersamaku. Selamanya!" seru Darren.


"Apa boleh?" tanya Darka dan Gilang bersamaan.


Sebenarnya Darka dan Gilang ingin Darren kembali pulang ke rumah. Tapi mereka tidak berani mengatakan hal itu pada Darren. Hubungan mereka baru membaik. Jadi mereka memutuskan untuk bersabar. Mereka berusaha untuk mengambil hati adiknya terlebih dahulu. Membuat adiknya merasa nyaman dan membuat momen-momen yang indah bersama adiknya. Dari situlah nantinya Gilang dan Darka akan menyakinkan sang adik untuk pulang ke rumah keluarga Smith. Semua butuh proses. Tidak ada yang instan. Itulah yang mereka pikirkan.


^^^


Mereka saat ini sudah duduk di sofa di ruang tengah lengkap dengan berbagai macam jenis makanan dan minuman di atas meja.


"Ren," panggil Axel.


"Hm." Darren menjawab dengan deheman.


"Apa kau yakin besok akan ikut serta dalam uji coba mobil-mobil itu?" tanya Axel.


"Iya," jawab Darren singkat.


"Tapi, Ren. Kau baru saja keluar dari rumah sakit. Sebaiknya istirahatlah dulu," ujar Dylan.

__ADS_1


"Iya, Ren. Apa yang dikatakan oleh Dylan benar. Paling tidak pulihkan dulu tenagamu," sela Willy.


"Aku baik-baik saja Wil, Xel. Kalian tidak perlu khawatir. Aku memang sakit. Tapi bukan berarti itu akan menjadi penghalang untukku melakukan apapun yang aku mau," jawab Darren.


"Kami mengerti, Ren! Tapi paling tidak untuk kali ini dengarkanlah kami. Kami seperti ini karena peduli dan sayang padamu," sahut Rehan.


"Beberapa hari ini kegiatan kita sangat banyak, Ren! Besok kita akan melakukan uji coba mobil-mobil itu," kata Dylan.


"Lusanya kita akan mengadakan acara Baksos di Kampus. Sehari setelah acara Baksos selesai, besoknya kita akan mengerjakan sebuah proyek iklan dengan Perusahaan CV PRATAMA. Kita semua tidak ingin kau drop, Ren!" seru Willy.


Darren terdiam saat mendengar perkataan dari sahabat-sahabatnya. Darren baru menyadari beberapa hari ini dirinya dan sahabat-sahabat memang sibuk. Banyak pekerjaan yang mesti mereka selesaikan. Waktunya juga secara berurutan.


"Darren," panggil Darka.


Darren pun melihat kearah Darka. Darren tersenyum tulus kearah Darka.


"Ada apa, kakak?"


"Maaf kalau kakak ikut campur dalam obrolan kamu dan sahabat-sahabat kamu"


"Tidak apa, kak Darka. Kakak mau menyampaikan apa padaku?"


Darka berharap adiknya itu mau mendengarkan permintaannya. Dirinya tidak ingin adiknya kenapa-kenapa.


"Kakak setuju, Ren. Kamu istirahat saja di rumah. Kakak akan temani kamu. Dan kakak akan buat kamu nyaman dan tidak akan bosan selama di rumah." Gilang juga ikut memberikan nasehat pada adiknya.


Sama seperti Darka. Gilang juga tidak ingin adiknya sakit lagi. Gilang ingin adiknya baik-baik saja.


Darren menatap satu persatu wajah para kakak-kakaknya dan juga para sahabatnya. Kemudian Darren memberikan senyuman manisnya.


"Aku bersyukur memiliki kalian semua. Hidupku begitu sangat lengkap karena memiliki kalian. Tapi... tapi aku akan tetap ikut dalam uji coba mobil-mobil itu. Aku janji pada kalian, aku akan baik-baik saja. Dan setelah uji coba itu selesai, aku bakal menuruti semua keinginan kalian. Begitu juga dengan kakak Darka dan kakak Gilang."


Mendengar ucapan dari Darren, mereka hanya bisa menghela nafas. Bagaimana pun kerasnya mereka memohon, melarang tetap saja tidak akan didengar oleh Darren. Tapi mereka semua bahagia saat mendengar ucapan terakhir Darren yang mengatakan kalau Darren akan menuruti semua keinginan mereka setelah uji coba mobil-mobil itu selesai.


"Ach, baiklah! Terserah kau saja kelinci keras kepala!" seru Noe dengan kejamnya.


Darren merengut saat mendengar ucapan sarkas dari Noe. "Ya, ya! Terserah kakak juga mau menyebutku apa," balas Darren.


Mereka semua tersenyum gemas melihat wajah kesal Darren.


***

__ADS_1


[KEDIAMAN KELUARGA SMITH]


Erland, Agneta dan anggota keluarga lainnya kini berkumpul di ruang tengah. Setelah selesai makan malam, mereka memutuskan untuk berkumpul sejenak di ruang tengah.


"Rumah ini sudah sepi semenjak Darren pergi. Dan sekarang tambah sepi saat Gilang dan Darka yang memutuskan untuk ikut Darren pulang ke rumahnya!" seru Dzaky.


"Iya, kau benar, Dzaky. Rumah ini sepi tanpa mereka bertiga. Baik mereka dalam keadaan berdamai maupun dalam keadaan bertengkar. Rumah ini menjadi ramai kalau melihat mereka," sahut Adnan.


"Apa benar kakak Darren sudah memaafkan kesalahan kakak Darka dan kakak Gilang, Papa?" tanya Melvin.


"Iya, sayang. Itu benar. Kakak Darren kamu sudah memaafkan kesalahan Gilang dan Darka," jawab Erland.


"Kalau kakak Darren mau memaafkan kakak Darka dan kakak Gilang. Berarti kakak Darren juga mau memaafkan kesalahan Melvin, Papa! Kan Melvin sama seperti kakak Darka. Melvin tidak ikut menyakiti kakak Darren. Kalau pun saat itu Melvin ada bersama kalian, Melvin sama seperti kakak Adrian, kakak Mathew, kakak Nathan dan kakak Ivan, karena kan saat kejadian itu mereka hanya diam saja. Mereka tidak ikut memarahi, membentak, memaki, menuduh, memukul dan menampar kakak Darren. Papa, Mama, kakak Davin, kakak Andra, kakak Dzaky dan kakak Adnan. Kalianlah yang melakukan hal itu pada kakak Darren. Jadi kakak Darren juga harus memaafkanku." Melvin berbicara panjang lebar sembari mengingat kesalahan kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya.


"Mana bisa begitu. Jika kakakmu itu mau memaafkanmu, maka kakakmu itu juga harus memaafkan kami juga. Bagaimana pun kami ini adalah kakak-kakaknya," sela Davin tak terima akan ucapan Melvin.


Melihat putra-putranya yang berdebat, Erland pun bersuara.


"Hei, kenapa kalian jadi berdebat begini?" lerai Erland.


"Ini semua salahnya kakak Davin dan kakak Andra. Jika kakak Darren tidak mau memaafkan kesalahanku, maka aku akan menjadikan kalian berdua musuhku," sahut Melvin dengan nada mengancamnya.


Setelah mengatakan hal itu, Melvin pun langsung pergi meninggalkan anggota keluarganya menuju kamarnya.


Sementara Davin dan Andra sukses melotot saat mendengar ancaman dari Melvin.


"Aish!" kesal Andra.


"Alah. Palingan cuma sehari doang ngajak musuhan. Besoknya pasti sudah seperti cacing kepanasan cari-cari kita," ucap Davin.


"Darren, Darka dan Gilang sedang apa sekarang, ya?" tanya Adnan.


"Pasti saat ini mereka tengah tertawa bahagia," sahut Dzaky sembari membayangkan wajah bahagia Darren, Darka dan Gilang ketika berkumpul.


"Kalian harus banyak sabar lagi untuk mendapatkan maaf dari adik kalian itu. Lagian ini juga kesalahan kalian," ucap Carissa.


"Terutama untuk Davin dan Andra. Akibat ulah kalian, Darren kembali masuk ke rumah sakit. Dan Paman yakin, Darren akan makin susah untuk didekati. Apalagi sekarang ini ada Gilang dan Darka. Mereka berdua pasti akan lebih melindungi dan menjaga Darren!" seru Evan.


"Ya, sudah. Lebih baik kita tidur. Hari sudah malam. Masalah Darren kita akan bicarakan lagi besok," sela Erland.


Setelah mengatakan hal itu, Baik Erland maupun anggota keluarga lainnya pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamar masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2