KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Menyelesaikan Hukuman


__ADS_3

Mendengar teriakan kesakitan dari Helena membuat anggota keluarga Darren menatap kasihan Helena. Tapi mereka tidak ada yang bersedia menolong atau hanya sekedar untuk menghentikan Darren, Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya Darren. Mereka memutuskan untuk menjadi penonton setia.


"Aku sudah cukup memberikan nasehat, peringatan dan juga ancaman kepadamu dan keluargamu, terutama ibumu. Tapi kau dan ibumu sama sekali tidak mengindahkan peringatan dan juga ancamanku. Justru sebaliknya kau dan ibumu makin menjadi-jadi."


Darren berbicara dengan tangannya menarik kuat rambut Helena. "Kau benar-benar menjijikkan Helena. Kau tak lebih dari perempuan rendahan. Sudah salah tapi tak mau mengaku salah."


"Oh, iya. Aku hampir lupa. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu Helena. Ini mengenai sekutumu bernama Samuel Frederick." Darren menatap wajah Helena dengan senyuman di sudut bibirnya.


"Kau tahu Helena. Samuel saja yang seorang penjahat bisa berubah menjadi orang baik. Sementara kau..." Darren kembali menarik kuat rambut Helena.


"Kau sama sekali tidak berubah. Kelakuanmu benar-benar menjijikkan. Jelas-jelas semua ini kesalahan ayahmu. Bahkan ketika ayahmu menghina keluargaku dan ibu kandungku, kau ada disana melihatnya dan juga mendengar semuanya."


Mendengar perkataan dari Darren membuat Helena terkejut. Dirinya benar-benar tak percaya dan juga tak menyangka jika Samuel berubah.


"K-kau bohong. Tidak mungkin Samuel berubah menjadi orang baik," jawab Helena dengan gugup.


"Jadi kau tidak mempercayaiku, hum?" tanya Darren dengan menatap nyalang Helena.


"Tidak. Aku tidak percaya padamu. Kalau Samuel telah berubah jadi orang baik, Samuel tidak mungkin menghubungiku dan memberitahuku tentang dia yang berhasil menghancurkanmu, keluargamu, sahabat-sahabatmu. Bahkan keluarga dari sahabat-sahabatmu. Samuel juga bilang kau koma akibat luka tembak di perut dan di jantungmu." Helena berbicara dengan menatap wajah Darren.


Mendengar perkataan dari Helena membuat Darren tersenyum di sudut bibirnya. Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabatnya Darren.


"Hahahahaha."


Seketika tawa Qenan, Willy, Jerry, Dylan, Axel, Rehan dan Darel menggema di ruang rawat Darren. Mereka menatap remeh Helena.


"Jadi kau percaya bahwa yang menghubungimu itu adalah Samuel, hah?" tanya Axel.


"Kau yakin jika Samuel yang menghubungimu, hum?" tanya Qenan.


"Bagaimana kalau bukan Samuel yang menghubungimu," sahut Willy.


Mendengar perkataan dari Willy, Qenan dan Axel. Helena menggelengkan kepalanya.


"Aku yakin kalau Samuel yang menghubungiku kemarin. Aku kenal suaranya," sahut Helena.


"Hahahaha."


Qenan, Willy, Jerry, Dylan, Axel, Rehan dan Darel kembali tertawa.


"Kau benar-benar wanita bodoh, Helena!" seru Darel.


"Kau tidak ada pintar-pintarnya sama sekali," ucap Rehan.


"Kau hanya pintar dalam bidang penipuan. Menipu laki-laki kaya raya dengan cara menggunakan tubuhmu dan juga wajahmu. Selebihnya kau tak lebih dari wanita murahan," ucap Dylan yang memang dikenal silidah tajam.


"Apa kau mau tahu siapa yang menghubungimu saat itu dan mengatakan bahwa Darren koma dengan luka tembak di perutnya dan juga di jantungnya?" tanya Darel.


Baik Qenan, Willy, Jerry maupun Dylan, Axel, Rehan dan Darel saling melirik. Dan setelah itu, mereka kembali menatap wajah Helena.


"Orang yang menghubungimu saat itu bukanlah Samuel. Orang yang menghubungimu itu adalah Gustavo Frederick yang tak lain adalah Pamannya Samuel," sahut Axel.


DEG!


Helena terkejut ketika mendengar perkataan dari Axel yang mengatakan bahwa yang menghubunginya saat itu adalah Pamannya Samuel.


"Tidak. Aku tidak percaya. Aku yakin Samuel yang menghubungiku saat itu. Aku kenal suaranya!" teriak Helena.


"Itu urusanmu. Bukan urusanku dan juga urusan kami semua. Intinya, yang menghubungimu itu adalah Gustavo Frederick bukan Samuel Frederick!" seru Axel.

__ADS_1


"Dan satu hal lagi, masalah niatmu, niat ibumu dan niat kedua Pamanmu yang ingin membunuh Darren di rumah sakit. Aku dan sahabat-sahabatku sudah mengetahuinya. Kami mendapatkan informasi tersebut langsung dari tangan kanannya Samuel."


Jerry berbicara dengan menatap wajah Helena yang saat ini menahan sakit di kepalanya. Yah! Darren masih menarik kuat rambut Helena.


"Kau pasti tahu nama dari tangan kanannya Samuel, bukan?" tanya Jerry.


"Morris!" seru Qenan, Willy, Dylan, Axel, Rehan dan Darel bersamaan.


Helena terkejut mendengar seruan dari Qenan, Willy, Dylan, Axel, Rehan dan Darel ketika menyebut nama tangan kanannya Samuel.


"Dari dia lah kami tahu niatmu dan keluargamu," ucap Jerry.


"Dan dari dia juga kami bisa sampai di sini, walau sedikit terlambat sehingga tiga adiknya Darren berhasil dilukai." Dylan berucap.


"Awalnya kau, ibumu dan kedua pamanmu akan melakukannya jam 10 malam. Namun tiba-tiba ibumu mengubah rencananya menjadi jam 7 malam. Ibumu sudah tidak sabaran ingin membunuh Darren, termasuk kau dan kedua Pamanmu itu." Rehan berbicara dengan menatap tajam Helena.


Darren melepaskan tarikan di rambut Helena dengan kasar. Setelah itu, Darren berdiri dari posisi tubuhnya membungkuk dan berdiri tegap.


"Sudah jelas semuanya, bukan! Sekarang, enyahlah dari kehidupanku!" seru Darren dengan tersenyum menatap wajah Helena.


Dengan senyuman di sudut bibirnya, tanpa diduga-duga. Darren dengan kejamnya mendorong kuat kursi roda Helena kearah dinding.


DUG!


BRUUKK!


Tubuh Helena terjatuh dari kursi roda dengan posisi kursi roda yang menghimpit kedua kakinya. Dan kepala Helena yang membentur lantai.


Melihat Darren yang sudah menyelesaikan pekerjaannya, Brenda pun memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Brenda melepaskan cekikannya dari leher Riana. Dan kemudian, Brenda mendorong kuat tubuh Riana sehingga tubuh Riana terlempar ke belakang.


BUGH!


BRUUKK!


CKLEK!


Pintu ruang rawat Darren dibuka oleh seseorang.


Mendengar suara pintu di buka. Darren, anggota keluarganya, Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya langsung melihat ke arah pintu. Dan dapat mereka lihat salah satu kakak mafia Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya datang.


Salah satu kakak mafia Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya Darren yang datang itu adalah Ziggy Chaim. Ziggy datang bersama seorang pemuda tampan yang tak lain adalah kakak laki-lakinya.


"Kakak Ziggy, kakak Farraz!" sapa Darren, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Dylan dan Jerry bersamaan.


"Apa kedatangan kami berdua mengganggu pekerjaan kalian?" tanya Ziggy yang matanya melirik kearah Helena, ibunya Helena dan kedua pamannya Helena yang tergeletak di lantai.


"Oh, tidak sama sekali kakak Ziggy!" seru Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Dylan dan Jerry bersamaan.


"Justru bagus kalian datang," sahut Darren.


Mendengar ucapan Darren dan juga tatapan Darren. Farraz dan Ziggy langsung paham.


"Apa yang kau inginkan, hum?" tanya Farraz.


Darren langsung tersenyum menatap wajah Farraz. "Aku sudah tidak bernafsu untuk bermain-main dengan mereka. Apalagi menyiksa mereka. Itu hanya akan membuang-buang energiku saja. Bawa saja mereka ke kantor polisi. Dan berikan mereka hukuman seumur hidup di penjara. Jadi dengan begitu setidaknya aku, gadisku yang kejam ini. Dan juga ketujuh sahabat-sahabatku masih bisa memberikan siksaan kepada mereka dengan cara melihat mereka menderita di dalam penjara."


Mendengar perkataan dari Darren membuat ketujuh sahabat-sahabatnya langsung menyetujui idenya itu.

__ADS_1


"Wah, ide yang sangat bagus. Aku setuju!" seru Jerry.


"Dengan mereka di penjara seumur hidup. Itu sudah sama dengan penyiksaan yang kita berikan," ucap Darel.


"Jadi kita tidak perlu membuang-buang energi kita untuk menyiksa mereka. Secara mereka akan mendapatkan siksaan lebih menyakitkan ketika di dalam penjara," sahut Willy.


"Hm." Darren, Qenan, Rehan, Darel, Axel, Dylan dan Jerry menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Baiklah," jawab Farraz.


"Kalian," panggil Farraz kepada anak buahnya yang kini menunggu di luar.


"Ada apa, Pak?"


"Bawa mereka semua ke kantor polisi. Setelah itu, masukkan mereka ke sel tahanan."


"Siap, Pak!"


Setelah itu, sepuluh anak buah dari Farraz membawa pergi Helena, ibunya Helena dan kedua pamannya Helena.


"Oh, iya. Kakak Ziggy," panggil Darren.


"Ada apa, Ren?" tanya Ziggy.


"Jangan lupakan ayahnya Helena. Jika ayahnya Helena sadar dari koma. Bawa juga bajingan itu ke penjara. Bajingan itu adalah tersangka utamanya."


"Baiklah," jawab Ziggy dan diangguki oleh Farraz.


"Terima kasih kakak Ziggy, kakak Farraz."


"Sama-sama Darren," jawab Farraz dan Ziggy.


"Oh, iya hampir lupa!" seru Farraz.


Farraz berjalan mendekati Darren. Setelah berada di dekat Darren. Farraz mengeluarkan sesuatu dalam tasnya.


"Ini dari Mama," ucap Farraz dengan memberikan sebuah kotak warna merah kepada Darren.


"Ini apa, kakak Farraz?" tanya Darren.


"Kakak juga nggak tahu apa isinya. Mama hanya titipkan kotak itu pada kakak untuk diberikan ke kamu. Bahkan Mama juga bilang. Ketika kamu membuka kotak itu. Kamu harus membukanya bersama dengan sahabat-sahabat kamu."


Mendengar jawaban dari Farraz membuat Darren melihat kearah ketujuh sahabat-sahabatnya. Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabatnya yang juga melihat kearah dirinya.


"Baiklah," jawab Darren, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Dylan dan Jerry bersamaan.


"Ya, sudah kalau begitu. Kami permisi," pamit Farraz.


"Jangan terlalu banyak bergerak. Kamu itu belum pulih seratus persen. Apalagi luka di pinggang kamu itu. Mengerti!" ucap Ziggy.


"Siap kapten!"


Ziggy tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya, terutama keluarganya. Mereka terharu akan perhatian Ziggy terhadap Darren.


Ziggy mendekatkan wajahnya ke telinga Darren, lalu membisikkan sesuatu disana.


"Setelah keluar dari rumah sakit. Jangan lupa resmikan hubunganmu dengan Brenda secepatnya. Kakak tunggu kabar bahagia itu."


Sontak Darren langsung membulatkan matanya ketika mendengar perkataan Ziggy di telinganya. Seketika wajahnya memerah berusaha menahan malu.

__ADS_1


Melihat reaksi dari Darren membuat mereka semua langsung mengerti. Mereka semua menebak bahwa Ziggy membisikkan sesuatu tentang Darren dan Brenda.


Mereka semua tersenyum gemas dan juga tersenyum geli melihat ekspresi wajah Darren saat ini. Begitu juga dengan Brenda.


__ADS_2