
Di lapangan sekolah semua telah berkumpul. Mulai dari para murid, para guru, para kakak perempuan dan para kakak laki dari murid-murid tersebut.
Sedangkan Ivan dan Melvin menatap sedih kearah dimana teman-teman sekolahnya tengah berbahagia dengan kakak perempuan dan kakak laki-lakinya.
Melihat Ivan dan Melvin yang kini tengah bersedih membuat Brenda menghampiri keduanya. Begitu juga dengan Raya.
Brenda datang setengah jam yang lalu ke acara sekolahnya Raya. Ketika tiba di sekolah, Brenda melihat Ivan dan Melvin terlihat sedih karena Darren tak kunjung datang.
"Kakak Darren... Hiks," isak Ivan dan Melvin.
"Kalian jangan sedih begini dong. Siapa tahu kakak kesayangan kalian itu terjebak macet," hibur Raya.
"Kakak setuju apa yang dikatakan Raya. Kalian jangan berpikir negatif dulu tentang kakak laki-laki kalian itu ya," ucap Brenda yang juga berusaha menghibur Ivan dan Melvin.
"Aku terlambat ya?" seru seseorang menghampiri Brenda, Raya, Ivan dan Melvin.
Mendengar seruan dari seseorang. Brenda, Raya, Ivan dan Melvin langsung melihat keasal suara itu.
"Axel!"
"Kakak Axel!"
"Kamu nggak terlambat kok. Acaranya belum mulai," jawab Brenda.
"Ach, syukurlah!"
Axel mencari keberadaan adik perempuannya. Namun Axel tak menemukan adik perempuannya itu.
"Brenda. Apa kamu lihat Salsa? Kenapa Salsa tidak bersama kalian?"
Mendapatkan pertanyaan dari Axel. Sontak membuat Ivan, Melvin, Brenda dan Raya akhirnya menyadari bahwa sedari tadi mereka tidak melihat keberadaan Salsa.
"Xel, kita sedari tadi tidak melihat keberadaan Salsa disini. Dan kita juga baru menyadari ketika kamu menanyakan Salsa," jawab Brenda.
Ketika Axel, Brenda, Ivan, Melvin dan Raya tengah memikirkan Salsa, tiba-tiba terdengar salah satu guru berteriak ketika melihat Darren yang menggendong Salsa.
"Oh, Tuhan. Kenapa dengan Salsa, tuan?" guru kelas Salsa berlari menghampiri Darren.
Mendengar teriakan dan pertanyaan dari guru kelasnya Salsa membuat Axel langsung berlari menghampiri Darren dan diikuti oleh Brenda, Ivan, Melvin dan Raya.
"Ren, kenapa dengan Salsa?" tanya Axel ketika melihat kondisi Salsa, lalu Axel mengambil alih tubuh adik perempuannya itu.
"Bawa dulu Salsa ke rumah sakit. Nanti aku jelaskan apa yang terjadi."
"Baiklah."
Axel langsung pergi meninggalkan sekolah adik perempuannya untuk menuju rumah sakit.
__ADS_1
"Brenda, pergilah bersama Axel ke rumah sakit. Kau temani Axel disana."
"Baik, Ren."
"Raya, kamu juga. Pergilah bersama kakak perempuan kamu."
"Tapi kakak Darren, acaranya?"
"Nggak penting dengan acara sialan ini. Sekarang kamu pergilah bersama kakak perempuan kamu ke rumah sakit."
Mendengar perkataan dan melihat wajah yang tak mengenakkan dari Darren membuat Raya hanya bisa menurut.
"Ayo, Raya!"
Setelah itu, Brenda dan Raya pergi meninggalkan sekolah. Kini tinggal Darren, Ivan dan Melvin.
Darren menatap wajah guru perempuan di hadapannya. Terlihat raut khawatir di tatapan mata guru tersebut.
"Saya hanya memberitahu anda. Di salah satu ruangan yang dekat parkiran ada empat siswi yang tak sadarkan diri. Silahkan periksa."
Mendengar perkataan dari Darren beberapa guru langsung berlari ke tempat tersebut.
Tak butuh waktu lama, terlihat empat guru laki-laki menggendong murid perempuan.
Melihat hal itu, para murid-murid dan para guru lainnya berteriak sembari menyebut nama keempat murid tersebut.
"Rebeca, Viola, Laura, Rachel!"
"Apa yang terjadi kepada adik perempuan kami?" tanya salah satu laki-laki.
Darren menatap kearah empat laki-laki yang menatap khawatir keempat murid perempuan yang sudah membully Salsa.
"Jadi mereka kakak-kakaknya dari keempat gadis sialan itu?" batin Darren.
Darren melangkah menghampiri keempat laki-laki itu dengan wajah datar dan dingin.
"Jadi kalian berempat adalah kakak laki-laki dari keempat siswi itu?" tanya Darren.
Keempat laki-laki itu langsung melihat kearah Darren.
"Iya. Kami adalah kakak laki-laki dari empat siswi itu," jawab keempatnya kompak.
"Kenapa?" tanya kakak laki-laki Rebeca.
Darren tersenyum di sudut bibirnya. "Apa kalian mengetahui tentang apa yang dilakukan adik perempuan kalian selama berada di luar rumah?" tanya Darren.
"Kenapa? Apa urusannya dengan anda?" tanya kakak laki-laki Viola.
__ADS_1
"Jelaslah ada urusannya dengan saya. Dan kemungkinan besar anggota keluarga dari murid-murid disini juga punya urusan dengan keempat adik perempuan kalian itu."
Darren menjawab perkataan dari kakak laki-laki Viola dengan menatap semua orang-orang yang ada di hadapannya.
"Kalian tahu tidak apa yang dilakukan oleh ketiga adik perempuan kalian itu, hah?!"
"Dan kalian tahu tidak kenapa ketiga adik perempuan kalian seperti saat ini?"
"Apa kalian tahu siapa yang sudah membuat adik perempuan kalian menjadi seperti sekarang ini?"
Darren memberikan pertanyaan kepada keempat laki-laki yang berstatus sebagai kakak laki-laki dari Rebeca, Viola, Laura dan Rachel.
Mendengar pertanyaan dari Darren membuat keempat laki-laki itu melihat kearah adik perempuan mereka masing-masing.
Ketika salah satu dari laki-laki itu hendak menjawabnya, tiba-tiba terdengar ucapan demi ucapan dari beberapa murid.
"Rebeca, Viola, Laura dan Rachel selalu membully kami selama berada di sekolah ini!"
"Mereka suka menindas kami para murid lemah!"
"Rebeca dan ketiga temannya selalu menyiksa kami jika perintahnya tidak dituruti!"
"Rebeca dan ketiga temannya tak segan-segan menghajar kami sampai tubuh kami terluka dan kesakitan hanya karena kami tak sengaja menabrak mereka!"
"Baik Rebeca maupun ketiga temannya selalu membully kami di sekolah!"
"Kalau bully yang mereka berikan hanya ringan. Kami tak masalah. Tapi ini beda. Rebeca dan ketiga temannya membully kami sampai seluruh tubuh kami kesakitan dan terluka. Bahkan kami sampai pingsan!"
Mendengar perkataan demi perkataan dari beberapa murid perempuan membuat keempat laki-laki yang berstatus kakak laki-laki dari Rebeca, Laura, Viola dan Rachel terdiam seketika. Keempatnya benar-benar syok ketika mendengar fakta tentang adik perempuannya.
"Yang lebih para membully kami adalah Rebeca. Rebeca tidak mengenal kata ampun jika sudah membully korbannya. Sekali pun korbannya itu sudah memohon ampun, menangis dan juga dalam keadaan terluka. Rebeca tak mempedulikannya sama sekali. Justru Rebeca makin bersemangat membully korbannya?"
Kakak laki-laki Rebeca tampak syok ketika mendengar perkataan terakhir dari salah satu teman sekolah adik perempuannya. Dirinya tidak menyangka jika adik perempuannya bisa berubah menjadi gadis liar ketika berada di luar rumah.
Darren melangkah menghampiri keempat laki-laki itu dengan tatapan dinginnya.
Setelah berada di hadapan keempat laki-laki itu, Darren menyeringai.
"Sekarang kalian sudah tahukan bagaimana kelakuan dari adik perempuan kalian itu, hum?"
"Sekarang dengarkan aku baik-baik. Pertama, aku lah orang yang sudah membuat adik perempuan kalian seperti itu. Kedua, mereka telah berani membully adik perempuan dari sahabatku sampai pingsan. Ketiga, katakan kepada adik perempuan kalian itu untuk tidak mengusik orang-orang terdekatku lagi."
Darren menatap dengan tatapan dingin keempat laki-laki di hadapannya.
"Kalian seharusnya mengucapkan kata terima kasih padaku, karena aku adalah orang yang pertama melihat dan menyaksikan bagaimana adik perempuan kalian membully Salsa. Jika seandainya yang melihat dan menyaksikan kejadian itu adalah kakak laki-laki dari Salsa. Maka kondisi adik perempuan kalian tidak akan seperti ini. Bisa dipastikan nyawa adik perempuan kalian itu akan langsung hilang atau koma berbulan-bulan di rumah sakit."
"Jadi aku peringatkan kepada kalian. Cari aman saja. Jangan ada niat untuk membalas apa yang aku lakukan terhadap adik perempuan kalian itu."
__ADS_1
"Jika kalian berniat ingin membalanya. Maka urusan kalian bukan kepadaku saja. Keluarga dari Salsa juga akan ikut membalas atas apa yang telah dilakukan oleh adik perempuan kalian."
Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan sekolah. Dan tak lupa Darren meminta kepada kedua adiknya itu untuk ikut pulang bersamanya.