KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Robby Sang Pelindung


__ADS_3

Seorang gadis cantik berlari secepat mungkin dengan napas yang tidak beraturan untuk bisa sampai ke kelasnya. Gadis itu adalah Saskia Alexa Egger.


Saskia sampai berlarian seperti itu karena dia tidak ingin terlambat masuk ke kelasnya sehingga berakhir mendapatkan ceramah panjang dari dosennya tersebut.


Materi kuliah pertama di kelas Saskia adalah bahasa Inggris. Dan Dosen yang memberikan materi itu terkenal killer. Dosen itu bernama Pak Mahler.


Saskia terus berlari tanpa mempedulikan keadaan di sekitarnya dan tatapan orang-orang kearah dirinya. Dan tanpa Saskia sadari di tubuhnya menabrak seseorang yang memang orang itu berjalan berlawanan denganya.


Seketika Saskia pun terjatuh dengan pantatnya yang terlebih dahulu mendarat di lantai.


Saskia meringis sembari memegang dan mengelus-elus pantatnya yang sakit akibat terjatuh.


Saski benar-benar kesal hari ini. Dia kemudian mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang telah ditabraknya.


Seketika mata Saskia membulat ketika melihat wajah orang yang ditabraknya itu.


"Ganteng banget... Oh, Tuhan!" gumam Saskia tanpa sadar.


"Jalan itu tidak hanya menggunakan kaki, tapi menggunakan mata juga!" seru orang itu dengan nada dingin dan ketus.


Mendengar perkataan ketus dari pemuda itu membuat Saskia diam di tempat. Namun di dalam hatinya, Saskia mengumpat kesal. Bahkan Saskia pun menarik kembali kata-katanya yang sempat memuji pemuda atas ketampanannya.


"Gue dari rumah sampai di kampus ini, jalannya sudah menggunakan mata," ucap Saskia ketus sembari berdiri dari jatuhnya dan tangannya menepuk-nepuk debu yang ada di celananya.


Kekesalan Saskia makin bertambah terhadap pemuda yang dia tabrak itu. Pemuda bukannya memberikan bantuan berupa uluran tangan. Justru pemuda itu memberikan komentar peda kepadanya.


Seketika Saskia membelalakkan matanya ketika melihat pemuda yang ada di hadapannya itu berjalan mendekatinya.


"Lo-lo mau ngapain? Jangan macam-macam!"


Saskia langsung menutup matanya ketika pemuda sudah berada di hadapannya. Bahkan wajahnya saat itu sudah sangat dekat dengan wajah pemuda itu.


"Lo berani sama gue," bisik pemuda itu di telinga Saskia.


Mendengar ucapan dari pemuda itu membuat Saskia seketika menelan kasar air ludahnya.


Tidak ingin berlama-lama dalam keadaan seperti ini diman tubuh pemuda itu hanya beberapa senti saja di hadapannya. Di tambah lagi, jantungnya berdebar kencang.


Dan detik kemudian, Saskia mendorong dada pemuda itu kuat sehingga membuat tubuh pemuda itu mundur dua langkah.


"Maaf! Gue harus pergi!"


Setelah itu, Saskia kembali berlari menuju kelasnya. Dan meninggalkan pemuda itu sendirian.


Sementara pemuda itu yang masih berdiri di tempatnya dengan tatapan matanya menatap kearah Saskia. Pemuda itu tersenyum penuh arti.


"Gadis yang menarik. Aku akan menjadikanmu milikku."


Tanpa pemuda itu sadari, sejak tadi kelima sahabatnya memperhatikannya.


Puk!


Sebuah tepukan mendarat di bahunya. Pemuda itu langsung melihat ke samping dan melihat kelima sahabatnya telah berdiri di sampingnya.


"Lo suka sama tuh cewek, Lino?" tanya Melky.


Pemuda yang ditabrak oleh Saskia adalah Elzaro Adelino Radmilo.


"Nggak," jawab Elzaro lalu pergi meninggalkan kelima sahabatnya itu.


"Nggak usah bohong deh," ujar Derry yang berjalan mengikuti Elzaro. Begitu juga dengan Diego, Allan dan Glen.


"Gue nggak bohong. Gue benaran nggak suka sama cewek urakan seperti itu," jawab Elzaro.


"Yang benar?" tanya Diego.


"Iya," jawab Elzaro.


"Yakin?" tanya Allan.


"1000% keyakinan gue. Gue nggak suka sama tuh cewek," jawab Elzaro.


"Oke, kita lihat endingnya nanti. Apa yang akan terjadi antara Elzaro Adelino Radmilo dengan cewek urakan itu?" sahut Glen.


Elzaro dan kelima sahabatnya sudah tiba di depan pintu kelasnya. Dia membalikkan badannya dan menatap satu persatu wajah kelima sahabatnya itu.

__ADS_1


"Bodoh."


Setelah mengatakan itu, Elzaro melangkah memasuki kelasnya dan disusul oleh kelima sahabatnya dengan tersenyum kemenangan karena sudah berhasil membuat seorang Elzaro kesal dan juga malu.


***


Darren dan ketujuh sahabatnya saat ini berada di kantin. Mereka memutuskan untuk mengisi perutnya sebelum masuk ke kelas. Padahal di rumah, mereka sudah sarapan. Tapi tetap saja di kampus mereka sarapan lagi. Walau pun bukan pagi karena waktu sudah menunjukkan pukul 10.


"Bagaimana? Apa lo jadi pulang ke rumah keluarga Smith nanti?" tanya Jerry.


"Jadi, karena ini adalah rencana pertamaku," jawab Darren.


"Terus apa yang akan lo lakukan jika nanti lo bertemu Paman Erland? Gue tahu perasaan lo, Ren!" ucap Rehan.


"Kalian tenang saja. Aku nggak akan terbawa suasana nanti ketika bertemu dengan Papa. Bagaimana pun aku sudah mengetahui kenyataan yang sesungguhnya tentang kondisi Papa. Papa melupakanku karena ulah bajingan itu. Justru aku akan mengikuti permainan dari orang yang sudah mencuri identitasku."


Mendengar jawaban dari Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel langsung menganggukkan kepalanya.


"Aku setuju dengan Darren. Si penipu itu pasti ingin membuat Darren menangis di hadapan keluarganya. Jika penipu itu berhasil membuat Darren terluka bahkan sampai menangis, maka itu satu poin bagi si penipu itu." Axel berucap sembari memikirkan rencana yang akan dilakukan oleh si penipu terhadap Darren.


"Perlu kita temani? Setidaknya jika ada kita-kita, sipenipu bakalan kalah ," usul Dylan.


"Eemm! Ide yang bagus. Boleh juga," sahut Darren.


"Baiklah. Pulang kuliah nanti kita akan pulang ke rumah keluarga Smith!" seru Qenan.


"Hm!" gumam Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.


***


Adrian dan Mathew berada di lapangan. Sejam yang lalu keduanya baru saja menyelesaikan pelajaran matematika yang membuat otaknya pusing.


Saat ini baik Adrian maupun Mathew tengah menikmati cemilan dan minuman yang mereka bawa dari rumah.


Yang ada di lapangan itu bukan hanya Adrian dan Mathew saja. Melainkan sebagian teman-teman sekelasnya juga berada di sana.


Ketika Adrian dan Mathew tengah asyik dengan dunianya, tiba-tiba musuh yang selama ini selalu mengganggu mereka datang.


"Kalian!" bentak salah satu dari lima teman sekolahnya.


Adrian dan Mathew langsung melihat kearah kelima teman sekolahnya itu. Seketika keduanya menghela nafas secara kasar.


"Apa mereka nggak punya kerjaan lain selain mencari denganku dan Kakak Adrian?" batin Mathew.


Adrian dan Mathew menatap malas kelima teman-temannya itu.


"Mau apalagi, hah?!" tanya Adrian.


"Yang kemarin kurang?" tanya Mathew.


Mendengar ucapan dari kedua Smith bersaudara membuat kelima pelajar itu marah.


Kelima pelajar itu bernama Gege Mahler, Riyan Naumann, Norris Richter, Torry Schiffer dan Nigel Trommler.


"Jangan sombong dulu kalian berdua!" bentak Gege.


"Siapa yang sombong. Bukankah buktinya sudah terlihat jelas kalau kalian itu nggak akan pernah bisa mengalahkan kami berdua," jawab Mathew.


Mendengar perkataan Mathew membuat Gege, Riyan, Norris, Torry dan Nigel menggeram marah.


"Banyak bacot lo berdua. Serang!"


Dan terjadilah perkelahian antara Adrian dan Mathew melawan Gege, Riyan, Norris, Torry dan Nigel. Perkelahian tak seimbang. Dua lawan lima.


Adrian dan Mathew beberapa kali terkena pukulan. Tapi bagi mereka itu tidak seberapa dibandingkan dengan Gege, Riyan, Norris, Torry dan Nigel yang bisa dikatakan mendapatkan pukulan dan tendangan sebanyak sepuluh kali dari Adrian dan Mathew.


Perkelahian itu diketahui oleh para guru dan kepala sekolah. Namun tidak satu pun yang berani untuk melerainya.


Pihak guru dan kepala sekolah takut dengan anak donatur yaitu Gege Mahler. Jika mereka ikut campur, maka anak itu akan mengadukan hal tersebut kepada orang tuanya.


Dan pada akhirnya, baik kepala sekolah, para guru dan murid-murid yang lainnya hanya menyaksikan perkelahian tersebut.


Namun ada satu orang yang saat ini memang bertugas mengawasi dan menjaga Adrian dan Mathew. Orang itu langsung berlari menuju lapangan dan menghajar Gege, Riyan, Norris, Torry dan Nigel secara bersamaan sehingga membuat kelimanya tersungkur di lantai.


Melihat kejadian itu membuat para guru, kepala sekolah dan semua murid-murid membelalakkan matanya. Mereka semua tak percaya ketika melihat salah satu guru olahraga tiba-tiba datang dan langsung memberikan pukulan demi pukulan bahkan tenda kepada Gege, Riyan, Norris, Torry dan Nigel.

__ADS_1


Guru olahraga itu melihat kearah Adrian dan Mathew.


"Tuan Adrian, tuan Mathew. Apa anda baik-baik saja?"


Adrian dan Mathew saling memberikan tatapan. Mereka menatap dengan tatapan bingung akan pertanyaan dari guru olahraga itu.


"Ka-kami...."


"Sebenarnya saya bukan guru olahraga. Saya berada di sekolah ini karena sedang menyamar."


Adrian dan Mathew seketika membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan dari guru olahraga tersebut.


"Bagaimana bisa?" tanya Adrian dan Mathew bersamaan.


"Itu bisa saja, karena...."


Perkataan guru olahraga itu terhenti ketika mendengar perkataan dan teriakan dari Nigel.


"Kenapa Bapak ikut campur?!"


"Apa Bapak tidak takut jika kami mengadukan hal ini kepada orang tua kami?!"


"Apa Bapak tidak takut jika Bapak dipecat?!"


"Sekolah ini milik orang tua saya!"


"Dan orang tua kami sebagai donatur terbesar di sekolah ini!"


Itulah ucapan dan teriakan dari Gege, Riyan, Norris, Torry dan Nigel.


Mendengar ucapan dan teriakan dari Gege, Riyan, Norris, Torry dan Nigel membuat guru olahraga itu tersenyum. Lebih tepatnya tersenyum menyeringai.


"Saya tidak takut akan ancaman murahan dari kalian. Apa kalian pikir, jika saya dipecat dari jabatan saya sebagai guru olahraga. Saya tidak akan bisa bekerja lagi. Jawabannya adalah saya masih tetap bisa bekerja. Bahkan saya sudah memiliki pekerjaan tetap selain menjadi guru olahraga disini."


Mendengar jawaban dari guru olahraga itu membuat Gege, Riyan, Norris, Torry dan Nigel menatap tajam kearah guru olahraga itu.


"Jangan sombong, Pak!" bentak Torry.


"Apa kalian ingin saya membuktikan pekerjaan tetap saya itu? Baiklah, sekarang juga saya akan buktikan kepada kalian."


Guru olahraga itu langsung membuka pakaian olahraganya di hadapan Gege, Riyan, Norris, Torry dan Nigel. Yang juga disaksikan oleh kepala sekolah, para guru dan semua murid-murid.


Kini guru olahraga itu telah berubah pakaiannya. Pakaian kini berubah warna hitam seperti layaknya bodyguard.


"Perkenalkan saya Robby. Saya adalah salah satu anggota dari Bos Ramon. Sementara Bos Ramon itu adalah tangan kanannya tuan Darren. Dan tuan Darren itu adalah kakak laki-laki dari tuan Adrian dan tuan Mathew. Apa kalian sudah paham, sekarang?!"


Mendengar penuturan dari Robby membuat Adrian dan Mathew terkejut dan juga tersenyum. Keduanya tak menyangka jika kakak laki-laki kesayangannya itu mengutus seseorang untuk menjaga dan melindunginya.


"Kakak Darren," batin Adrian dan Mathew.


"Oh iya! Satu hal lagi. Apa kalian ingin tahu berapa gaji saya menjadi bodyguard untuk kedua adik laki-laki dari tuan saya? Gaji yang saya terima tiga kali lipat dari gaji saya menjadi guru olahraga di sekolah ini."


Mendengar ucapan dari Robby membuat Gege, Riyan, Norris, Torry dan Nigel bungkam. Begitu juga para guru dan kepala sekolah.


"Ini peringatan terakhir untuk kalian. Jika kalian masih berani mengusik tuan Adrian dan tuan Mathew. Bukan hanya kalian saja, melainkan semua anggota keluarga kalian akan mendapatkan balasan yang setimpal dari tuan saya yaitu Darrendra Smith! Data-data kalian, latar belakang keluarga kalian. Bahkan pekerjaan semua anggota keluarga kalian sudah ada pada tuan Darren. Sedikit saja kalian bertindak, maka habislah kalian semua!"


Setelah mengatakan itu kepada Gege, Riyan, Norris, Torry dan Nigel. Robby menatap kearah kepala sekolah dan para guru.


"Dan untuk kalian. Saya akan mengadukan masalah ini kepada tuan saya agar tuan saya tahu bagaimana sikap kalian terhadap kedua adik laki-lakinya. Apalagi ketika keduanya tengah dikeroyok oleh kelima murid sialan itu!"


Robby menatap tajam kearah para guru dan kepala sekolah. Dia benar-benar akan memberikan laporan kejadian hari ini kepada Darren.


Mendengar ucapan dan ancaman dari Robby membuat kepala sekolah dan para guru itu seketika ketakutan.


Robby menatap wajah Adrian dan Mathew. "Kalau begitu saya permisi untuk kembali berjaga-jaga di tempat biasa. Jika tuan Adrian dan tuan Mathew butuh saya. Silahkan langsung temui saya. Atau hubungi saya. Di kontak ponsel tuan Adrian dan tuan rumah sudah tersimpan nomor saya. Tuan Darren yang menyimpannya."


"Baik, kakak Robby!" Adrian dan Mathew menjawab bersamaan.


"Ya, sudah. Saya permisi dulu."


Setelah itu, Robby pun kembali ke tempat biasa dirinya berada. Di tempat itulah dia selalu mengawasi Adrian dan Mathew. Dia akan keluar dengan menyamar sebagai guru olahraga.


Setelah kepergian pelindungnya. Adrian dan Mathew menatap tajam kearah Gege, Riyan, Norris, Torry dan Nigel. Kemudian tatapan matanya beralih menatap kearah kepala sekolah dan para guru. Terlihat kekecewaan di mata Adrian dan Mathew ketika menatap kepala sekolah dan para gurunya itu.


Adrian dan Mathew tahu alasan dari kepala sekolah dan para guru itu hanya diam dan tidak ikut campur setiap melihat Gege, Riyan, Norris, Torry dan Nigel membully teman-teman sekolahnya. Mereka takut dikeluarkan secara tidak terhormat oleh sipemilik sekolah. Bukan hanya dikeluarkan, mereka juga terancam tidak bisa mengajar lagi di sekolah manapun.

__ADS_1


Jika dipikir-pikir, seandainya kepala sekolah dan para gurunya itu berani dan tidak takut akan ancaman tersebut. Hal itu tidak akan pernah terjadi. Si pemilik sekolah atau pun si donatur itu tidak akan bisa sembarangan memecat kepala sekolah dan para guru, jika alasannya hanya karena tidak mematuhi perintahnya.


Seandainya saja, kepala sekolah dan para guru berani melawan. Besar kemungkinan si pemilik sekolah dan si donatur itu akan kalah. Bahkan mereka yang akan ketakutan dan juga malu karena reputasi mereka tersebar.


__ADS_2