KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Penyesalan Davin


__ADS_3

[PARADISE CITY JERMAN]


Di sebuah kamar hotel terlihat seorang pemuda yang berumur sekitar 27 tahun. Pemuda itu tengahnya membaringkan tubuh di atas kasur. Dirinya benar-benar seharian melakukan pekerjaan dari Bos nya.


Saat pemuda itu hendak memejamkan matanya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Mau tidak mau, pemuda itu harus segera mengangkatnya.


"Hallo, Bos."


"Bagaimana? Apa kau sudah melakukan apa yang aku minta?"


"Sudah, Bos. Aku bahkan sudah membayar empat orang yang bekerja disana dengan bayaran yang mahal dan juga besar. Dan mereka berempat bersedia melakukan pekerjaan itu untuk kita."


"Bagus. Aku jadi tidak sabar menunggu sampai besok."


"Aku juga, Bos."


"Ya, sudah. Aku akan mentransfer bonus untukmu malam ini."


"Terima kasih, Bos."


Setelah selesai berbicara dengan sang Bos. Pemuda itu pun mematikan panggilannya.


***


[KEDIAMAN DARREN]


Waktu menunjukkan pukul 07:10 am. Gilang dan Darka sudah bangun dari tidurnya. Mereka juga sudah mandi dan dalam keadaan rapi.


Gilang dan Darka tidur di kamar yang sama. Semenjak Gilang dan Darka menginjakkan kakinya di rumah Darren. Darren sudah meminta pada kedua kakaknya itu untuk menggunakan kamar sendiri-sendiri. Namun Gilang dan Darka tetap tidur di kamar yang sama. Dan bahkan Gilang dan Darka memilih kamar tepat di depan kamar Darren. Jadi mereka bisa dengan gampang memantau keadaan adik mereka.


"Hooaaammm." Darren menguap sembari keluar dari kamarnya untuk menuju kamar kedua kakaknya.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Darren langsung membuka pintu kamar tersebut.


CKLEK!


"Kakak Gilang, kakak Darka." Darren memanggil kedua kakaknya sembari melangkah dengan mata yang masih mengantuk.


BRUUKK!


Darren langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


Sedangkan Gilang dan Darka tersenyum melihat kelakuan adiknya itu. Lalu keduanya menghampiri Darren. Mereka duduk masing-masing di samping adiknya. Tangan mereka secara bergantian bermain-main di rambutnya.


"Kalau masih mengantuk kenapa bangun, eeemm?" tanya Darka.


"Kangen kakak Darka," jawab Darren.


Gilang dan Darka tersenyum bahagia.


"Jadi kangennya cuma sama.... " perkataan Gilang terpotong karena Darren sudah terlebih dahulu menjawabnya.


"Kangen kakak gilang juga."


Gilang tersenyum mendengar jawaban dari Darren, lalu tangan mencubit gemas hidung mancung adiknya itu.


Darren membuka kedua matanya. Lalu menatap lekat kedua kakaknya itu.


"Kakak Gilang dan kakak Darka mau kemana? Kenapa sudah pada rapi?"


"Kita berdua mau pulang ke rumah, Ren!" seru Gilang.


"Loh, kenapa?" Darren langsung bangun dari posisi tidurnya. Lalu menatap sedih kedua kakaknya itu. "Apa kakak Darka dan kakak Gilang tidak suka tinggal disini bersamaku?" Darren seketika menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Mampus. Sianak kelinci salah paham lagi," batin Gilang dan Darka.


Lalu detik kemudian..


Terdengar isak tangis Darren sehingga membuat Darka dan Gilang khawatir.


"Hei, Darren. Kok malah nangis?" tanya Darka panik.


"Huuaaaa!! Kakak Darka dan kakak Gilang tidak sayang aku. Kakak Darka dan kakak Gilang mau ninggalin aku. Mamaaa! Kakak Darka dan kakak Gilang jahat... Huuaaa!" tangis Darren menggema di kamar Gilang dan Darka.


Darka dan Gilang panik melihat Darren yang tiba-tiba menangis histeris. Mereka berdua kelabakan melihat Darren yang menangis.


"Gil..."


"Darren, hei. Berhenti dulu dong nangisnya," bujuk Gilang sembari mengelus-elus lembut rambut Darren.


"Huuaaaa... Mama..." tangis Darren makin kencang.


"Yah, Gil! Bukannya berhenti. Darren malah makin kencang nangisnya," ucap Darka.


GREP!


Gilang langsung memeluk tubuh Darren. "Kakak Gilang dan kakak Darka pulang ke rumah hanya sekedar untuk mengambil pakaian dan perlengkapan kuliah saja. Setelah itu kakak Gilang dan kakak Darka akan kembali lagi ke rumah kamu," ucap Gilang lembut sembari tangannya mengusap-ngusap punggung adik laki-lakinya.


Gilang berharap dengan mengatakan hal ini, adiknya ini percaya dan berhenti menangis.


Memang benar apa yang dikatakan Gilang. Gilang dan Darka pulang ke rumah keluarga Smith hanya ingin mengambil beberapa pakaian mereka dan juga perlengkapan kuliah. Setelah itu, mereka akan kembali lagi ke rumah adik laki-laki mereka.


Mendengar ucapan dari Gilang. Darren langsung melepas pelukan Gilang. Darren menatap tepat di mata Gilang.


"Benarkah? Kakak Gilang tidak membohongiku?"


"Tidak. Kakak Gilang tidak membohongi kamu. Kan kakak Gilang dan kakak Darka sudah janji akan selalu bersama kamu dan tidak akan pernah ninggalin kamu. Janji seorang laki-laki itu harus ditepati. Bukan begitu!" Gilang berucap sambil mengusap kedua pipi adik laki-lakinya.


Darren mengalihkan pandangannya melihat kearah Darka. Darka yang mengerti akan tatapan mata adik laki-lakinya itu langsung mengangguk dan tersenyum.


"Baiklah. Aku izinkan kakak Gilang dan kakak Darka pulang," jawab Darren dengan memperlihatkan senyumannya.


"Hah!" Gilang dan Darka akhirnya bisa bernafas lega. Apa lagi saat melihat adik laki-lakinya berhenti menangis.


"Tapi kakak Gilang dan kakak Darka setelah pulang ke rumah akan langsung pergi kuliah. Setelah pulang kuliah, kami berdua balik lagi ke rumah untuk mengambil beberapa baju dan perlengkapan kuliah juga. Setelah itu baru pulang ke rumah kamu." Gilang berbicara sembari menatap mata Darren.


"Tidak apakan?" tanya Darka memastikan.


"Hm." Darren mengangguk. Gilang dan Darka tersenyum lega adiknya mau mengerti.


"Lagian aku juga tidak akan tega ngeliat kakak Darka dan kakak Gilang harus bolak-balik dari sana kesini. Jadi tidak apa-apa. Biar sekali jalan," ucap Darren.


"Terima kasih, ya sayang." Darka berucap.


Darka memberikan ciuman kening dan kedua pipi adiknya itu.


"Terima kasih, sayang. Kakak Gilang sayang kamu," ucap Gilang.


Gilang juga memberikan ciuman di kening dan di kedua pipi adiknya itu.


***


[KEDIAMAN KELUARGA SMITH]


Para penghuni keluarga Smith sudah bangun dari tidur mereka. Dan saat ini mereka semua tengah bersiap-siap dikamar masing-masing.


Beberapa menit kemudian..

__ADS_1


TAP!


TAP!


TAP!


Terdengar derap langkah kaki para penghuni untuk menuju ruang tengah.


Kini mereka semua sudah berkumpul di ruang tengah. Sementara Carissa dan Agneta berada di dapur membantu para pelayan untuk menyiapkan sarapan pagi.


"Kangen kakak Darren, kakak Darka dan kakak Gilang!" seru Melvin.


"Iya. Kakak juga kangen kakak Darren, kakak Darka dan kakak Gilang," sahut Adrian.


"Papa. Telepon kakak Gilang atau kakak Darka. Suruh mereka pulang. Ajak sekalian kakak Darren!" seru Melvin sembari memohon pada Ayahnya.


"Papa bisa saja meminta kakak Darka dan kakak Gilang untuk pulang. Lalu bagaimana dengan kakakmu yang keras kepala itu?"


Mendengar penuturan dari Erland, mereka semua tersenyum.


"Kan keras kepala putra kakak itu juga gara-gara kakak dan kalian juga!" seru Carissa yang datang dari arah dapur. Setelah itu, Carissa menduduki pantatnya di sofa.


Erland melihat kearah adik perempuannya. "Carissa, sudah ya. Jangan mulai lagi," sahut Erland.


"Aish.. iya.. iya. Maaf." Carissa pun mengalah.


Saat mereka semua tengah mengobrol, tiba-tiba terdengar suara bell rumah ditekan.


TING!


TONG!


TING!


TONG!


"Aish! Itu siapa sih yang menekan bell seenaknya saja," kesal Andra.


"Gilang!" seru mereka semua.


"Aish! Dasar bantet sialan," umpat Andra.


"Biar aku saja yang bukan pintunya!" seru Nathan.


Nathan langsung berdiri dari duduknya dan berlari menuju pintu utama.


Beberapa detik kemudian...


"Papa, Mama. Kakak Gilang dan kakak Darka pulang!" teriak Nathan sembari berlari menuju ruang tengah.


Mereka yang mendengar teriakan Nathan langsung mengalihkan pandangannya melihat kearah Nathan. Dan dapat mereka lihat Gilang dan Darka melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Lebih tepatnya keduanya melewati ruang tengah dan mengabaikan anggota keluarganya.


Gilang dan Darka melangkahkan kakinya langsung menuju kamar masing-masing. Mereka ingin bersiap-siap ke Kampus dan juga menyiapkan beberapa pakaian dan perlengkapan kuliah mereka.


Sementara anggota keluarganya yang melihat Gilang dan Darka yang tidak menghiraukan mereka menjadi sedih, terutama Erland dan Agneta. Begitu juga dengan Davin, Andra, Dzaky dan Adnan.


"Apa Gilang dan Darka masih marah pada kita?" tanya Dzaky sembari menatap satu persatu wajah anggota keluarganya.


"Aku rasa begitu," jawab Adnan.


"Hah!" Erland menghela nafas. "Kenapa jadi begini? Darren belum memaafkan kesalahan kita. Sekarang Gilang dan Darka ikut-ikutan membenci kita," sahut Erland.


"Maafkan aku, Papa. Ini semua kesalahanku. Aku yang sudah mengacaukan semuanya. Jika saja aku......" ucapan Davin terpotong karena tiba-tiba Darka langsung bersuara.

__ADS_1


"Ini memang kesalahanmu. Kau biang masalah dalam keluarga Smith. Kau menghancurkan semua. Kau egois. Kau jahat!"


Darka berucap dengan sangat kejamnya. Ditambah lagi Darka tidak menyebut kata 'kakak' kepada Davin. Sedangkan Davin hanya bisa diam dan menunduk.


__ADS_2