
Di kediaman Carlos terlihat semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah. Mulai dari keluarga besar Carlos, keluarga besar Jones dan keluarga besar Brown.
Keluarga Carloz dan keluarga Jones adalah keluarga dari ayah dan ibunya Valencia. Sementara keluarga Brown adalah keluarga dari suaminya Valencia.
Ketiga keluarga ini tengah membahas pernikahan Valen dengan Gilang yang akan dilaksanakan besok pukul 10 pagi di gedung yang mewah dan besar dengan tamu undangan 2000 orang termasuk para pengusaha-pengusaha terkenal dan juga para rekan bisnis yang hadir dari beberapa negara.
"Bagaimana persiapan untuk besok?" tanya tuan Carloz.
"Semuanya sudah dipersiapkan sesuai rencana, Papa!" jawab putra sulung dari tuan Carloz.
"Lima ratus anak buah kita akan berjaga-jaga disekitar gedung itu. Jika ada yang berbuat keributan akan langsung dibunuh," sahut keponakan tuan Carloz.
"Pastikan pemuda yang bernama Darren jangan sampai masuk ke dalam gedung itu dan bertemu dengan Gilang. Jika pemuda itu bertemu dengan Gilang. Bisa-bisa Gilang akan langsung membatalkan pernikahannya dengan Valen. Bagaimana pun Gilang begitu menyayangi adik laki-lakinya itu. Apapun yang diminta oleh adik laki-lakinya itu, Gilang akan langsung menurutinya."
"Satu lagi, pemuda itu begitu licik. Jadi aku minta kepada kakak Diego dan yang lainnya jangan sampai lengah," ucap dari pria yang berstatus suami Valen.
"Hm." mereka semua mengangguk.
"Aku dan Valen sudah menyiapkan sesuatu untuk keluarga Smith jika Gilang tiba-tiba membatalkan pernikahannya dengan Valen."
"Baguslah kalau begitu. Jadi kita tidak akan kalah begitu saja," ucap ibunya Valen.
***
Di kediaman Smith saat ini tengah sarapan pagi bersama. Mereka sarapan pagi dengan penuh kebahagiaan.
Erica, putri angkat Darren saat ini duduk di pangkuan Erland. Dan keduanya tengah menikmati sarapan pagi dengan sesekali saling suap-suapan.
Melihat adegan itu, mereka semua tersenyum bahagia, terutama Darren.
Darren benar-benar bahagia ketika melihat ayahnya yang begitu bahagia ketika bersama Erica.
Ketika Darren tengah menikmati sarapan paginya sembari memperhatikan ayah dan putri angkatnya yang sesekali saling suap-suapan, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Mendengar bunyi ponselnya, Darren langsung mengambil di saku celananya. Ketika ponselnya sudah berada di genggamannya, Darren melihat nama 'Kakak Tommy' salah satu tangan kanan dari kakak mafianya yaitu Enzo Federico.
Tanpa membuang waktu lagi, Darren pun langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, kak Tommy. Ada apa?"
Mendengar Darren menyebut salah satu tangan kanan dari kakak mafianya, anggota keluarganya meyakini pasti ada sesuatu yang akan disampaikan oleh tangan kanan tersebut. Mereka semua pun setia mendengar pembicaraan Darren sembari terus menikmati sarapan paginya.
"Hallo, Ren! Kakak ingin memberitahu kamu bahwa dua anggota kakak sudah berhasil mendapatkan banyak bukti kejahatan dan kecurangan dari keluarga Carlos, keluarga Jones dan keluarga Brown. Dan sesuai keinginan kamu. Bukti-bukti itu akan kita perlihatkan kepada semua tamu undangan di pernikahan Gilang besok."
Mendengar informasi dari Tommy. Seketika terukir senyuman manis di bibir Darren.
"Aku sudah tidak sabar menunggu besok, kakak!"
"Kakak juga, Ren. Bahkan kakak tidak sabaran melihat kehancuran ketiga keluarga itu."
"Oh iya, Ren! Kakak ada satu kabar untukmu. Kakak tidak tahu apakah kabar ini adalah kabar buruk atau sebaliknya kabar baik!"
"Apa itu, kak Tommy? Katakan."
"Ini mengenai ibu kandung kamu."
Deg!
Darren terkejut ketika Tommy menyebut ibu kandungnya. Seketika tangannya menyentuh dada kirinya yang kini sudah dalam keadaan tak baik-baik saja. Dengan kata lain, saat ini jantung Darren berdebar sangat kencang kala mendengar Tommy menyebut nama ibu kandungnya.
Melihat perubahan wajah Darren dan melihat Darren yang menyentuh dada kirinya. Seketika rasa takut menjalar di seluruh tubuh anggota keluarganya.
Erland, Agneta dan yang lainnya menatap khawatir Darren. Mereka semua takut jika jantung Darren kembali kambuh.
"Darren!" seru mereka semua dengan wajah khawatir masing-masing.
Darka yang duduk di samping Darren, tangannya sudah berada di punggung adik laki-lakinya itu. Darka berusaha memberikan ketenangan kepada kesayangannya.
"Sayang," lirih Erland dan Agneta dengan tatapan khawatirnya.
"Darren, sayang." Carissa dan Evan tak kalah khawatir menatap Darren.
__ADS_1
"Ren, jangan buat kami khawatir. Ada apa, Ren?" ucap dan tanya Davin.
Darren menatap satu persatu anggota keluarganya yang saat ini menatap khawatir padanya.
"Aku baik-baik saja," ucap Darren.
"Kamu yakin, Ren?" tanya Dzaky dan Adnan.
"Yakin kak Davin, kak Adnan. Aku baik-baik saja. Jantungku juga baik-baik saja," jawab Darren jujur.
"Kalau jantung kamu baik-baik saja. Kenapa kamu menyentuhnya seperti itu?" tanya Gilang yang khawatir dua kali lipat kepada adik laki-lakinya.
"Kamu menyentuhnya sama ketika kamu lagi kambuh," sela Andra.
"Maafkan aku. Tapi sungguh, aku baik-baik saja. Aku seperti ini karena aku terkejut ketika kakak Tommy menyebut Mama kandung kita."
"Hallo, kak Tommy."
"Hallo, Ren. Maafkan kakak yang sudah membuatmu khawatir."
"Tak apa. Sekarang katakan padaku, kenapa kakak Tommy menyebut Mama kandungku?"
"Begini, Ren! Seperti yang kamu ketahui dari keluarga kamu, terutama ayah kamu bahwa ibu kamu meninggal karena penyakit yang dideritanya. Benar begitu?"
"Iya. Papa dan Mama Agneta mengatakan seperti itu padaku kalau Mama kandungku meninggal karena penyakit yang dideritanya."
"Itu semua tidak benar, Ren!"
Seketika Darren membulatkan matanya kala mendengar perkataan dari Tommy.
"Apa maksud kak Tommy?"
"Sebenarnya ibu kandung kamu itu baik-baik saja dan tidak sakit apapun. Sakit yang diderita sama ibu kandung kamu itu bermula dari keluarga Carloz.
Darren makin meremat kuat dada kirinya kala mendengar informasi mengenai ibu kandungnya.
Sementara anggota keluarganya sedari tadi menatap khawatir dan juga takut terhadap Darren.
"Kejadian itu ketika kamu masih di dalam kandungan ibu kamu. Wanita yang tak lain adalah ibu dari Valencia. Calon istri dari Gilang, kakak laki-laki kamu telah melakukan sesuatu terhadap ibu kamu ketika berada diluar rumah."
"Saat itu ibu kamu tengah berbelanja ke supermarket untuk membeli persediaan di rumah. Setelah selesai berbelanja dan ketika ibu kamu tengah memasukkan semua barang-barang belanjaannya, wanita itu memukulnya dari belakang hingga ibu kamu pingsan. Melihat korbannya tak sadarkan diri, wanita itu menyuntikkan sesuatu ke leher ibu kamu. Bukan hanya satu suntikkan, melainkan empat suntikan sekaligus."
Seketika air mata Darren jatuh membasahi wajah tampannya ketika mendengar cerita secara detail dari Tommy mengenai ibu kandungnya. Tatapan matanya mengisyaratkan kemarahan dan dendam.
"Efek dari obat yang di suntikkan oleh wanita itu ke tubuh ibu kamu adalah ibu kamu akan merasakan sakit luar biasa setiap malam selama dua minggu. Dan rasa sakit itu akan berkali lipat dirasakan oleh ibu kamu ketika usia kandungan ibu kamu bertambah setiap bulannya. Dan obat itu juga akan berdampak pada kandungannya yaitu tak lain adalah kamu sendiri."
"Seperti yang sudah kamu ketahui dari keluarga kamu kalau kamu sempat dinyatakan meninggal dunia ketika dilahirkan ke dunia, bukan? Dan bahkan dokter memfonis kamu memiliki masalah di jantung kamu. Itu semua dari efek obat itu."
"Satu tahun diusia kamu. Keadaan ibu kamu makin parah, karena obat itu bekerja sangat kuat. Obat yang ada di dalam tubuh ibu kamu itu tidak bisa dideteksi sama sekali oleh Dokter mana pun. Makanya saat itu Dokter hanya bisa mengatakan bahwa ibu kamu mengidap kanker stadium akut."
"Ketika ibu kamu dirawat di rumah sakit. Wanita itu datang dan mempercepat kematian ibu kamu dengan kembali menyuntik racun mematikan ke tubuh ibu kamu. Padahal kondisi ibu kamu saat itu sedikit menunjukkan perubahan. Kakak dapat informasi ini dari Dokter yang menangani ibu kamu."
Tatapan mata Darren benar-benar mengisyaratkan kemarahan terhadap orang yang sudah menyakiti dan membunuh ibunya. Serta yang sudah membuat jantungnya bermasalah sejak lahir.
Anggota keluarganya makin ketakutan melihat perubahan wajah dan tatapan mata Darren. Bahkan mereka semua saat ini memikirkan kondisi kesehatan Darren.
"Apa alasan perempuan itu melakukan hal keji itu?"
"Hanya satu. Perempuan itu tergila-gila dengan ayah kamu dari dulu. Sebelum menikah dengan ibu kamu. Perempuan itu sudah menaruh hati terhadap ayahmu."
"Jadi karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Perempuan sialan itu tega melakukan hal sekeji itu."
"Begitulah sifat manusia jika sudah menyukai seseorang. Orang tersebut tidak peduli jika orang yang disukainya itu tidak menyukainya atau sudah memiliki pasangan."
"Ibu dan anak sama saja. Sama-sama murahan dan rendahan. Dulu ibunya yang menjadi wanita murahan. Sekarang anak perempuannya. Apakah memang seperti itu keluarga mereka?"
"Apa yang akan kamu lakukan kepada para keluarga sampah itu ketika kamu bertemu dengan mereka besok?"
Mendengar pertanyaan dari Tommy. Seketika terukir senyuman di sudut bibirnya.
"Yang pastinya aku tidak akan membiarkan mereka hidup terlalu lama di dunia ini. Aku akan benar-benar melenyapkan mereka semua. Setidaknya perempuan itu harus mati di tanganku atas perbuatannya dulu."
__ADS_1
"Baiklah. Masalah itu kamu tidak perlu khawatir. Jika seandainya kamu nggak sanggup untuk melakukannya. Maka kelima kakak-kakak mafia kamu yang akan melakukan pekerjaan kamu itu."
"Aku mengerti!"
"Ya, sudah. Hanya informasi itu saja yang kakak sampaikan kepada kamu. Persiapkan diri kamu untuk besok."
"Hm."
Setelah itu, baik Tommy maupun Darren sama-sama mematikan panggilannya.
Tes!
Air mata Darren makin deras mengalir membasahi wajahnya.
"Mama," ucap Darren.
"Aku bersumpah. Apa yang kau lakukan kepada ibu kandungku. Itu juga yang akan aku lakukan padamu. Jika kau menggunakan empat suntikkan sekaligus. Maka aku hanya butuh satu suntikkan dengan efek yang jauh luar biasa dari pada punyamu," batin Darren.
***
Gilang, Darka dan Darren berangkat ke kampus bersama dalam satu mobil. Mobil yang digunakan adalah mobil milik Gilang.
Gilang yang nyetir, Darka duduk di sampingnya Gilang. Sedangkan Darren di belakang.
Sesekali Gilang menatap adik laki-lakinya melalui kaca spion depannya. Dan dapat dilihat oleh Gilang adik laki-lakinya tengah melamun dengan tatapan matanya menatap keluar jendela.
"Ren," panggil Gilang.
Mendengar Gilang yang memanggil Darren dengan mata yang menatap kaca spionnya. Darka yang berada di sampingnya melihat kearah Darren.
Setelah itu, Darka mengalihkan perhatiannya menatap kearah adik laki-lakinya yang duduk di belakang. Darka melihat adik laki-lakinya itu tengah memikirkan sesuatu dengan tatapan matanya keluar jendela.
"Ren." kini Darka yang memanggil adik laki-lakinya itu.
Hasilnya tetap sama. Baik panggilan dari Gilang maupun panggilan dari Darka. Darren sama sekali tidak mendengar panggilan dari kedua kakak laki-lakinya itu.
Gilang yang melihat adik laki-lakinya yang masih melamun dari kaca spionnya seketik tersenyum evil.
Dengan tidak etisnya, Gilang seketika menginjak rem mobilnya tiba-tiba sehingga membuat kening sang adik terjeduk kaca jendela.
Duk!
"Aww!" Darren mengelus-ngelus keningnya.
Sementara Gilang dan Darka tersenyum melihat kesayangannya yang sedang mengelus-ngelus keningnya.
Darren menatap horor kearah kakak bantetnya itu. Dan jangan lupakan bibir yang sudah manyun.
"Nggak lucu, tahu." Darren mempoutkan bibirnya.
Gilang tersenyum. "Oke, Oke! Maafkan kakak. Ada apa?"
"Apanya?" tanya Darren.
Mendengar adik laki-lakinya memberikan pertanyaan bukan jawaban membuat Gilang dan Darka menghela nafas pasrahnya.
"Jika ada yang nanya, maka wajib dijawab. Bukan justru ngasih pertanyaan balik ke orang itu," sahut Darka sewot.
Darren seketika melotot ketika mendengar perkataan dari kakak aliennya itu.
Dan detik kemudian, ekspresi wajahnya balik ke awal.
"Yey! Suka-suka aku dong. Kok malah kak Darka yang sewot," pungkas Darren.
Setelah mengatakan itu, Darren kembali bersandar di kursi dan menatap keluar jendela.
Gilang dan Darka saling memberikan tatapan. Setelah itu, keduanya menatap adik laki-lakinya yang hari ini menyebalkan.
Gilang menatap ke depan dan kembali menghidupkan mesin mobil. Di dalam hatinya Gilang meyakini jika dirinya tidak menjalankan mobilnya saat ini juga, maka akan terdengar ocehan tak jelas dari adik laki-lakinya itu.
Dikarenakan tidak ingin mendapatkan amukan dan omelan dari adik laki-lakinya itu, Gilang memutuskan untuk menghidupkan mesin mobil dan pergi meninggalkan lokasi saat ini untuk menuju kampus.
__ADS_1