KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kemarahan Riyo Terhadap Rebeca


__ADS_3

Darren dan anggota keluarganya saat ini berada di ruang tengah.


Darren dan Gilang pulang ke rumah dengan membawa banyak paper bag di tangan.


Jika Darren membawa 20 paper bag. Sementara Gilang membawa 30 paper bag.


Isi dari paper bag itu adalah baju, celana, sepatu, jam tangan, tas dan perhiasan.


Semua barang-barang itu dibelikan oleh Darren untuk kedua orang tuanya, keenam kakaknya dan kelima adiknya.


"Ini semua pasti kakak Darren yang belikan. Iyakan?" tanya Melvin.


Mendengar ucapan dari Melvin seketika Darren tersenyum. Darren melirik sekilas kearah Gilang, lalu kembali melihat kearah adiknya itu.


"Iya," jawab Darren.


"Wah! Kakak Darren hebat!" seru Melvin.


"Sering-sering aja seperti ini kakak Darren," sahut Ivan.


Darren hanya tersenyum menanggapi seruan dan semangat dari Ivan dan Melvin.


"Kakak Darren aja yang paling kecil dari kakak Darka dan kakak Gilang sudah bisa belikan kita barang-barang mahal. Nah, sementara kakak Darka dan kakak Gilang belum pernah belikan apa-apa untuk kita-kita," ucap Nathan menyindir Darka dan Gilang.


Mendengar sindiran dari Nathan membuat Gilang dan Darka menatap tajam kearah Nathan.


Darka dan Gilang ingin menjawab perkataan dari Nathan, namun sudah keburu dikentikan oleh Darren.


"Kalian kayak nggak tahu aja kedua kakak kalian itu seperti apa. Mereka kan memang dijuluki kakak yang paling pelit di keluarga Smith. Jangankan sama kalian. Aku saja yang katanya adik kesayangannya nggak pernah dijajani." Darren berbicara sembari melirik kedua kakaknya itu.


Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky dan Adnan tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar percakapan antara Darren dan kelima adiknya.


Sedangkan Gilang dan Darka menatap tajam adiknya yang menyebalkan itu.


"Kalian nggak usah dengarin omongan siluman kelinci jelek itu. Semua omongannya nggak ada yang benar. Asal kalian tahu saja semua barang-barang yang kalian terima itu bukan dari siluman kelinci itu." Gilang berbicara sambil menatap horor adiknya itu.


"Dan asal kalian tahu juga. Kakak kesayangan kalian itu juga pernah berlaku curang di belakang kalian semua. Kakak kesayangan kalian itu pernah melarang kakak Darka untuk tidak membelikan apapun untuk kalian. Jika kakak ketahuan membelikan sesuatu untuk kalian, maka kakak kesayangan kalian itu akan mogok bicara dengan kakak." Darka sengaja berbicara seperti itu untuk membalas keusilan adik nya itu.


Darren seketika menatap tajam kearah Darka. Dan jangan lupakan bibirnya yang bergerak-gerak menyumpahi kakaknya itu.


"Kakak Darka jangan ngarang ya. Aku nggak pernah ngomong kayak gitu," protes Darren tak terima.


"Ada kok. Kamu pernah ngomong kayak gitu sama kakak," balas Darka.


"Nggak," jawab Darren ngegas.


"Kamu lupa kali," ejek Gilang.

__ADS_1


"Kakak Gilang diam aja," sungut Darren.


"Yey! Marah nih," ledek Darka.


Darren menatap Darka dan Gilang dengan wajah super kesalnya. Padahal dia sendiri yang memulai menjahili kedua kakaknya itu. Sekarang justru dia yang merasa kesal seakan-akan dialah korbannya.


Sementara Gilang dan Darka tersenyum penuh kemenangan karena sudah berhasil membalas kejahilan adiknya itu.


Bagaimana dengan yang lainnya? Sudah pasti mereka juga ikut tersenyum melihat wajah kesal Darren akan kejahilan Darka dan Gilang.


***


"Mama, Papa, kakak!" teriak Rebeca, Laura, Rachel dan Viola ketika melihat kedatangan kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya.


Melihat ketakutan dan mendengar teriakan dari putrinya/adik perempuannya membuat mereka menangis. Mereka benar-benar tidak tega melihat kondisi putrinya/adik perempuannya yang dalam tangan diborgol.


"Mama, tolong keluarkan aku dari sini. Aku tidak mau berada disini," ucap Rebeca sembari menangis memohon pada ibunya.


Laura, Rachel dan Viola juga melakukan hal yang sama seperti Rebeca. Mereka memohon kepada kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya untuk membebaskannya dari penjara.


"Papa, Mama. Tolong aku. Keluarkan aku dari sini," pinta Laura.


"Papa, Rachel tidak mau disini."


"Papa, Viola mohon. Bawa Viola pulang."


Kedua orang tua Rebeca, Laura, Rachel dan Viola seketika teringat akan ucapan dan ancaman dari keluarga Salsa bahwa keluarga Salsa akan menghancurkan mereka semua jika mereka berbuat nekat.


"Kamu harus tetap disini dan menjalani hukuman kamu. Bagaimana pun kamu telah melakukan tindak kejahatan, Rebeca!" seru Riyo kakak laki-laki kedua Rebeca.


"Ka-kakak Riyo," lirih Rebeca.


"Apa yang dikatakan oleh kakakmu benar, Rebeca? Kamu tidak bisa keluar dari sini. Keluarga Salsa sudah mengancam kita jika kami tetap mengeluarkan kamu dari sini," ucap ibunya Rebeca.


Mendengar ucapan dari ibunya membuat Rebeca terkejut. Begitu juga dengan Laura, Rachel dan Viola.


Laura, Rachel dan Viola melihat kearah kedua orang tuanya. Mereka bermaksud untuk bertanya.


"Apa itu benar, Mama?" tanya Laura.


"Apa benar yang dikatakan ibunya Rebeca?" tanya Viola.


"Ibunya Rebeca bohongkan, Mama?"


"Apa yang dikatakan oleh ibunya Rebeca memang benar. Keluarga Salsa memberikan ancaman keras kepada kita semua jika kita berani mengeluarkan kalian dalam penjara," ucap kakak laki-laki kedua dari Laura.


"Ancamannya adalah mereka akan menghancurkan kita semua dan juga seluruh anggota keluarga kita. Baik itu dari pihak Mama maupun dari pihak Papa kamu," jawab ibunya Viola.

__ADS_1


Mendengar ucapan dari ibu dan kakaknya membuat Rebeca, Laura, Viola dan Rachel terkejut.


"Jadi kalian takut kepada keluarga murahan itu? Siapa tahu mereka hanya sekedar mengancam dan tidak akan serius dalam perkataan mereka," ucap Rebeca yang masih menganggap Salsa bukanlah apa-apa di dunia ini.


"Kenapa tiba-tiba kalian jadi pengecut begini, hah?!" teriak Rebeca.


Plak!


"Aakkhhh!" Rebeca meringis merasakan sakit di pipinya akibat tamparan tak main-main dari kakak laki-laki keduanya.


Riyo memberikan tamparan keras ke wajah adik perempuannya. Dia benar-benar malu dan muak memiliki adik perempuan seperti Rebeca.


"Ternyata benar apa yang kakak dengar selama ini. Ternyata benar informasi yang kakak dapatkan dari beberapa orang yang kakak bayar buat mengawasi kamu. Kamu adalah perempuan keji, perempuan hina, perempuan tidak tahu diri, perempuan tidak tahu malu, perempuan tidak memiliki sopan santun sama sekali dan kamu perempuan yang memiliki attitude yang sangat buruk!" bentak Riyo dengan menatap tajam adik perempuannya.


Rebeca seketika tersentak ketika mendengar ucapan demi ucapan dari kakak laki-laki keduanya itu. Bahkan Rebeca lebih terkejut lagi ketika dia mendapatkan bentakan. Ini adalah bentakan pertama yang diterimanya.


Bukan hanya Rebeca saja yang terkejut. Kedua orang tuanya juga terkejut ketika melihat Riyo putra keduanya berbicara kasar dan juga membentak Rebeca.


"Asal kamu tahu Rebeca. Kakak sudah tahu sejak lama tentang kelakuan buruk kamu selama diluar rumah, terutama ketika berada di sekolah. Kakak selama ini berusaha tutup telinga dan pura-pura tidak tahu apa yang kamu dan ketiga teman kamu lakukan diluar sana. Ketika kamu dan ketiga teman kamu masuk rumah sakit saat itu, seharusnya kakak dan kakak Remon tidak menyalahkan pemuda yang bernama Darren. Tapi nyatanya apa, kita menyalahkan pemuda itu karena sudah menyakiti kamu dan ketiga teman kamu."


"Saat itu kakak masih berusaha membela kamu. Bagaimana pun kamu adalah adik perempuan kakak. Namun kakak salah. Dan benar apa yang dikatakan oleh ayahnya Salsa kalau mereka sudah memberikan kamu dan ketiga teman kamu kesempatan. Mereka tidak melaporkan kalian ke kantor polisi. Soal ancaman dari keluarga Salsa yang mengatakan akan menghancurkan keluarga kita jika kamu dan ketiga teman kamu bebas dari penjara itu adalah benar. Mereka tidak main-main dengan ucapannya. Mereka sudah membuktikannya."


"Maksud kakak Riyo apa?" tanya Laura.


"Kakakku, kakak Remon mendapatkan luka tembak di pahanya. Yang melakukan itu adalah anak buah dari putra pertama tuan Dario. Bukan hanya kakak Remon saja, kakak laki-laki pertama kalian juga mengalami hal yang sama."


Rebeca, Laura, Rachel dan Viola terkejut ketika mendengar cerita dari Riyo.


Riyo menatap wajah adik perempuannya. "Apa kamu mau ada korban lagi gara-gara perbuatan kamu itu, hah?! Jika memang begitu keinginan kamu. Baiklah, kakak akan bebaskan kamu. Dan sebagai gantinya. Kamu akan kehilangan kami dan seluruh keluarga kamu."


Setelah mengatakan itu, Riyo pergi meninggalkan kantor polisi. Dia tidak ingin berlama-lama ada disana.


"Kakak juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh Riyo barusan. Pilihan dan keputusan ada ditangan kamu Laura. Itupun jika kau masih anggap kami keluarga kamu," ucap Leon.


"Kami juga seperti itu!" seru Vidi dan Rasta.


"Laura, terima hukuman ini. Berubahlah," ucap Vidi.


"Kamu juga Rachel. Terima saja hukuman ini dengan ikhlas. Bagaimana pun kamu salah disini. Dan kakak berharap kamu berubah selama di dalam penjara," ucap Rasta.


"Mama, Papa!"


Rachel, Laura dan Viola menangis sembari menatap wajah kedua orang tuanya.


"Maafkan Mama. Mama tidak bisa berbuat apa-apa," ucap ibunya Laura.


Sementara ibunya Rachel dan Viola hanya bisa menangis sembari tangannya menghapus air mata putrinya.

__ADS_1


__ADS_2