KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kemarahan Brenda Dan Ketujuh Sahabat-Sahabatnya


__ADS_3

Sesuai yang dijanjikan oleh Darren kepada ketujuh sahabat-sahabatnya. Kini Darren, Brenda beserta ketujuh sahabat-sahabatnya sudah berada di mall yang terkenal di Jerman.


Baik Darren dengan Brenda maupun ketujuh sahabat-sahabatnya Darren dengan ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda, mereka berjalan sambil bergandengan tangan sehingga para pengunjung mall tersebut menatap mereka dengan rasa iri. Iri melihat betapa mesranya hubungan Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya dengan para kekasihnya.


"Kalian para gadis. Pergilah berbelanja sepuas kalian. Kami para pria akan kesana!" seru Darren sambil menunjuk kearah toko perhiasan.


Mendengar ucapan dari Darren membuat Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya melihat wajah Darren.


"Jadi ini beneran?" tanya Elsa dan Felisa bersamaan dengan menatap wajah Darren.


"Iya. Jadi kalian nggak percaya?" tanya Darren dengan menatap wajah ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda.


"Hehehe. Sedikit," jawa kompak dari Elsa, Alice, Feliasa, Vania, Milly, Lenny dan Tania.


Mendengar jawaban kompak dari ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda yang tak lain juga kekasih dari para sahabatnya membuat Darren menghela nafasnya.


"Ya, sudah! Pergi sana. Jangan sampai aku berubah pikiran," ucap Darren.


Mendengar ucapan dari Darren membuat Elsa, Alice, Feliasa, Vania, Milly, Lenny dan Tania melotot. Dan setelah itu, mereka pun pergi untuk berbelanja.


Cup!


Brenda memberikan satu ciuman di bibir Darren. "Terima kasih, calon suamiku!"


Setelah itu, Brenda pun pergi menyusul ketujuh sahabat-sahabatnya. Sementara Darren tersenyum bahagia karena mendapatkan ciuman sayang dari kekasihnya tepat di bibirnya.


Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel tersenyum bahagia ketika melihat sahabat terbaiknya itu tersenyum. Senyuman kebahagiaan.


Darren menatap wajah ketujuh sahabat-sahabatnya. Ketika dirinya melihat wajah ketujuh sahabat-sahabatnya. Ketujuh sahabat-sahabatnya juga melihat kearah diriya.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Darren.


"Tidak kenapa-kenapa," jawab Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel bersamaan.


"Aish!"


Darren benar-benar kesal akan kelakuan ketujuh sahabat-sahabatnya itu. Sementara Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel tersenyum melihat wajah kesal Darren.


Darren pergi begitu saja meninggalkan ketujuh sahabat-sahabatnya untuk melihat-lihat sesuatu. Siapa tahu ada barang yang membuatnya tertarik.


Sedangkan Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel yang melihat kepergian Darren begitu saja langsung menyusulnya sembari berteriak memanggil namanya.


"Darren, tunggu!"

__ADS_1


^^^


Kini Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya tengah melihat dan memilih beberapa barang yang mereka inginkan.


Baik Brenda maupun ketujuh sahabat-sahabatnya sudah mendapatkan masing-masing lima barang dengan harga tidak terlalu mahal dan juga tidak terlalu murah.


Baik Elsa, Alice, Feliasa maupun Vania, Milly, Lenny dan Tania tidak ingin membuat Darren membayar begitu banyak akan barang-barang yang mereka ambil. Walaupun Darren serius dan tulus mentraktir mereka semua. Tapi Elsa, Alice, Feliasa, Vania, Milly, Lenny dan Tania tidak ingin memanfaatkan kebaikan Darren.


Sekali pun Elsa, Alice, Feliasa, Vania, Milly, Lenny dan Tania mengambil banyak barang. Hanya sebagian saja yang akan mereka perlihatkan kepada Darren. Dan untuk barang yang lainnya akan mereka bayar sendiri atau mereka akan minta kepada kekasih mereka masing-masing.


Setelah lima belas menit mutar-mutar mencari dan memilih barang-barang kesukaan mereka. Baik Brenda maupun ketujuh sahabat-sahabatnya kini sudah mendapatkan sekitar 10 barang dengan harga sekitar USD$1000.


"Aku udah, ach!" seru Lenny sembari memperlihatkan barang-barang belanjaannya.


"Aku juga udah," ucap Milly yang kedua tangannya udah penuh dengan barang belanjaannya.


"Kami juga udah!" seru Brenda, Elsa, Alice, Feliasa, Vania dan Tania bersamaan.


"Kita ke kasir sekarang!" seru Brenda.


Setelah itu, mereka semua pun pergi menuju kasir untuk membayar semua barang-barang belanjaan.


Sementara Brenda menghubungi Darren dan mengatakan bahwa mereka telah selesai dan kini berada di kasir.


^^^


Ketika mereka tengah meletakkan semua barang-barang belanjaannya diatas meja kasir. Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya dikejutkan dengan kedatangan tiga gadis cantik.


Ketiga gadis itu menatap tak suka dan juga jijik kearah Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


Ketiga gadis itu adalah pelanggan tetap dari toko yang ada di mall tersebut. Toko yang dikunjungi oleh Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya itu termasuk toko barang-barang super mewah dan mahal. Dan juga barang-barang terkenal. Barang-barang yang dijual oleh toko itu selalu laris manis.


Tatapan mata kedua gadis itu menatap tepat pada semua barang-barang belanjaan milik Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda. Melihat semua itu membuat ketiga gadis itu tak terima. Secara semua barang-barang belanjaan milik Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya itu adalah barang-barang incaran ketiga gadis itu sejak dua hari yang lalu.


"Kami mau semua barang-barang ini!" seru salah satu gadis itu.


Mendengar seruan dari salah satu gadis yang ada di hadapan mereka membuat Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya menatap marah kearah gadis itu.


"Ini semua milik kami," sahut Brenda tak suka akan sikap gadis itu.


"Aku tidak peduli. Pokoknya semua barang-barang ini milikku dan kedua temanku," jawab gadis itu sambil mendorong tubuh Brenda.


"Tolong hitung semua barang-barang ini, nona! Aku dan kedua temanku ini akan membayar semua barang-barang ini," ucap gadis yang kedua.

__ADS_1


"Baiklah," jawab pelayan toko itu.


Mendengar jawaban dari pelayan toko itu membuat Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya terkejut.


"Apa-apaan ini, nona! Itu semua barang-barang kami. Kenapa nona memberikan kepada mereka?!" bentak Brenda.


"Maafkan saya, nona! Ketiga gadis ini adalah pelanggan tetap disini. Jadi saya harus melayani mereka bertiga."


"Tidak bisa begitu, nona! Bagaimana pun kami disini juga pelanggan anda. Dan anda harus bersikap sopan dan adil. Jangan seperti ini!" bentak Tania.


"Apa nona berpikir kalau kami nggak sanggup bayar, hah?!" bentak Lenny.


"Kalau kami mau. Hari ini juga kami bisa memborong semua barang-barang yang ada di toko ini!" bentak Milly.


"Dan jika kami mau. Kami bisa beli toko ini. Dan kami akan pecat anda. Setelah itu, nama dan identitas anda akan kami masukkan ke daftar hitam di semua mall yang ada di dunia ini!" bentak Felisa dengan nada mengancamnya.


Mendengar ucapan demi ucapan dan juga ancaman dari pelanggannya membuat pelayan toko itu ketakutan.


Namun beberapa detik kemudian, rasa takut pelayan toko itu hilang setelah mendengar ucapan dari pelanggan tetapnya itu.


"Hei, kalian. Tidak usah berteriak dan tidak usah membentak orang. Dan kalian tidak usah mengancam nona ini," ucap gadis ketiga.


"Kalian pikir kami disini percaya akan ucapan kalian itu, hah?! Kalau kalian tidak punya uang. Ngaku aja. Jika kalian mengaku. Setidaknya harga diri kalian tidak jatuh disini," ucap gadis pertama dengan suaranya dikeraskan.


Tanpa disadari oleh Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya, para pengunjung mall yang mendengar teriakan di salah satu toko langsung menghampiri toko tersebut. Mereka mendengar apa yang diucapkan oleh Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Begitu juga dengan ucapan dari ketiga gadis itu.


Bahkan tak sedikit dari pengunjung itu menyumpahi dan menghina Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya itu.


"Setiap orang yang datang ke mall ini pasti membawa uang. Hanya orang gila yang datang ke mall ini dengan membawa tangan kosong," ucap Alice.


"Dan kalian bertiga nggak bisa seenaknya menyimpulkan bahwa kami kesini tidak punya uang untuk membayar semua barang-barang belanjaan kami. Apa buktinya?!" bentak Elsa.


Mendengar ucapan dari Elsa dan Alice membuat ketiga gadis itu menatap marah.


"Udahlah, nona. Benar apa yang dikatakan oleh gadis ini. Lebih kalian ngaku saja jika kalian tidak punya uang," ucap salah satu pengunjung perempuan kepada Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


"Lebih baik kalian tinggalkan toko ini. Kalau kalian masih bersikeras mempertahankan barang-barang itu. Itu akan membuat kalian makin malu," ucap pengunjung laki-laki.


Mendengar ucapan dari dua pengunjung dan juga hinaan dari pengunjung lainnya membuat Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya marah.


Ketika Brenda ingin membalas perkataan dari dua pengunjung itu, tiba-tiba terdengar suara seseorang.


"Jika kekasihku dan sahabat-sahabatnya bisa membayar semua barang-barang belanjaan itu. Apa yang akan kalian berikan untuk kekasihku dan juga sahabat-sahabatnya sebagai hadiahnya?" tanya orang itu yang datang bersama tujuh pemuda lainnya.

__ADS_1


Baik Brenda, ketujuh sahabat-sahabatnya maupun ketiga gadis itu dan para pengunjung langsung melihat kearah delapan pemuda yang berjalan menghampiri orang-orang yang mereka hina dan permalukan.


"Ren," ucap Brenda.


__ADS_2