KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Mama Tidak Salah


__ADS_3

Masih suasana di rumah sakit. Dan sudah dua hari Darren tidak sadarkan diri. Kini Erland duduk di sisi kiri ranjang Darren. Sementara disisi kanan ranjang Darren ada Darka. Baik Erland maupun Darka menatap sedih wajah pucat Darren.


"Ren," lirih Darka.


Erland, Agneta dan putra-putranya sudah mengetahui kebenaran yang terjadi ketika Darren dan ketujuh sahabatnya berada di markas Almight Black milik Enzo. Serta kejadian di tengah jalan yang membuat jantung Darren kambuh.


Ketujuh sahabatnya Darren menceritakan bahwa Darren telah membunuh ibunya Kathy dengan menebas kepalanya.


Mendengar ucapan demi ucapan dari ketujuh sahabatnya Darren membuat Erland, Agneta beserta putra-putranya, Kathleen, Elzaro dan kelima sahabatnya terkejut dan juga syok.


Melihat keterkejutan anggota keluarga Darren, Kathleen, Elzaro dan kelima sahabatnya membuat ketujuh sahabatnya Darren menjelaskan alasan kenapa Darren sampai nekat berbuat seperti itu.


Axel mengatakan bahwa Altar Ego dalam diri Darren sudah keluar sejak ketika ibunya Kathy membenarkan apa yang dilakukan oleh putrinya. Bahkan ibunya Kathy menghina Darren demi membela suaminya dan kedua anak laki-lakinya. Darren yang dalam keadaan tak baik-baik saja sejak kedatangannya ke markas Almight Black. Ditambah lagi ketika telinganya mendengar ucapan demi ucapan serta hinaan demi hinaan yang dilontarkan oleh kedua orang Kathy sehingga membuat Altar Ego dalam diri Darren tidak bisa lagi menahan diri untuk segera memberikan hukuman untuk keduanya, terutama untuk ibunya Kathy.


Saat ini mereka masih di ruang rawat Darren dan Darka. Belum ada yang pulang ke rumah. Mereka akan pulang jika sudah melihat Darren membuka matanya.


"Apa yang dilakukan oleh Darren atau sisi lain dalam diri Darren itu sudah benar? Disini posisi Darren sebagai korban," ucap Elzaro.


"Iya, Lino benar. Aku kalau ada di posisi Darren sekali pun aku tidak memiliki Altar Ego. Aku juga akan melakukan apa yang dilakukan oleh Darren. Anak mana yang tahan dan akan diam saja jika kedua orang tuanya dihina. Bahkan sampai dikatakan sebagai perempuan murahan." Glen berucap sembari matanya melirik kearah Darren yang masih menutup mata.


Allan, Diego, Melky dan Derry mengangguk tanda setuju. Mereka juga akan melakukan hal yang sama seperti Darren jika kedua orang tuanya atau ibunya dihina.


"Kakak tidak menyangka jika perempuan sialan itu sekejam itu menghina Mama dan Mama Agneta," ucap Davin sedih.


Mendengar ucapan dari Davin membuat Elzaro dan kelima sahabatnya bingung. Mereka menatap wajah Davin.


"Maafkan aku kak Davin. Ma-maksud kak Davin apa ya barusan? Aku dan kelima sahabatku bingung disini?" tanya Elzaro.


Davin melihat kearah Elzaro dan kelima sahabatnya. Begitu juga dengan anggota keluarga Smith, ketujuh sahabatnya Darren dan Kathleen.


Davin bingung harus menjawab dan mau menjelaskan seperti apa kepada Elzaro dan kelima sahabatnya, termasuk Kathleen.


"Bibi bukanlah ibu kandung dari Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka dan Darren!" seru Agneta tiba-tiba.

__ADS_1


Agneta melangkah menghampiri sofa. Lalu dia duduk di samping putra sulungnya yaitu Davin.


Agneta mengusap lembut kepala belakang Davin. "Bibi adalah adik perempuan dari ibu mereka. Bibi sangat menyayangi kakak perempuan Bibi. Dia perempuan yang hebat dan juga kuat. Dia istri sekaligus ibu terbaik yang Tuhan berikan untuk keluarga ini.  Dia juga perempuan yang hebat untuk Bibi. Sejak ibu kandung kami meninggal, kakak perempuan Bibi yang menggantikan peran ibu untuk Bibi dan adik laki-laki kami. Kami hanya bertiga bersaudara."


Agneta menangis ketika mengingat bagaimana sosok kakak perempuannya itu yang telah menjaga dan merawat dirinya dan adik laki-lakinya sejak dia umur 7 tahun dan adik laki-lakinya berumur 5 tahun. Sementara kakak perempuannya ketika itu berumur 11 tahun.


"Kakak perempuan Bibi meninggal ketika usia Darren 1 tahun. Kakak perempuan Bibi meninggal karena sakit yang dideritanya. Sebelum kakak perempuan Bibi meninggal. Dia meninggalkan pesan. Lebih tepatnya sebuah permintaan."


"Apa itu Bibi?" tanya Melky.


"Kakak perempuan Bibi meminta Bibi untuk menikah dengan suaminya. Padahal saat itu kakak perempuan Bibi masih bersama Bibi. Bibi marah ketika dia meminta hal itu pada Bibi."


Flashback On


"Menikahlah dengan Erland, Agneta."


"Kak Belva! Apa kak Belva sadar?!."


"Kak Belva sadar, Agneta! Sangat... Sangat sadar."


Belva seketika menangis. Dia melakukan itu demi ketujuh putra-putranya, terutama putra bungsunya.


Agneta yang tiba-tiba melihat kakak perempuannya menangis seketika merasa bersalah. Inilah kelemahan Agneta. Dia paling tidak suka melihat kakak perempuannya menangis.


"Kak Belva," lirih Agneta.


"Kak Belva meminta kamu untuk menikah dengan Erland itu semua demi anak-anak. Begitu juga dengan Erland. Jika Erland menikah dengan perempuan lain, kak Belva tidak menjamin suami dan ketujuh putra-putra kak Belva akan bahagia. Terutama untuk Darren. Kau tahukan Agneta kondisi Darren seperti apa ketika dia dilahirkan ke dunia ini?"


Mendengar ucapan dari kakak perempuannya membuat Agneta menatap sedih wajah kakak perempuannya itu. Dia tahu bagaimana kondisi keponakan bungsunya itu.


"Hanya kamu yang bisa menjaga dan melindungi suami dan ketujuh putra-putra kak Belva, Agneta!"


"Aku bisa menjaga dan merawat keponakan-keponakanku tanpa harus menikah dengan kakak Erland! Bagaimana pun mereka tanggung jawabku jika kelak kak Belva pergi meninggalkanku dan meninggalkan kita semua untuk selamanya. Aku Bibi dari ketujuh putra-putramu, kak Belva! Jadi sampai kapan pun mereka akan menjadi tanggung jawab aku, walau mereka masih punya ayah!"

__ADS_1


Mendengar ucapan demi ucapan tulus dari Agneta. Belva tersenyum penuh kebahagiaan. Dia benar-benar beruntung dan bersyukur memiliki adik perempuan seperti Agneta.


"Kakak percaya sama kamu kalau kamu akan menjaga dan melindungi ketujuh putra-putra kakak. Tapi kamu tidak bisa sepenuhnya melakukan itu."


"Kenapa begitu?" tanya Agneta.


"Kalau misalkan Erland menikah lagi. Sudah pasti istrinya itu yang akan menjadi ibu untuk ketujuh putra-putra kakak. Jika misalnya Erland memilih untuk tidak menikah lagi. Dan dia memutuskan untuk menjadi ayah sekaligus ibu untuk anak-anaknya. Dan ditambah kamu yang akan menjaga anak-anak. Otomatis kamu akan setiap hari datang ke rumah kan? Dan kamu juga tidak akan bisa menginap di rumah ini setiap harinya. Apa kata orang-orang nantinya!"


"Jika kamu menikah dengan Erland. Kamu bisa tinggal di rumah ini selamanya dan menjadi ibu untuk ketujuh putra-putra kak Belva tanpa ada gunjingan-gunjingan dari pihak luar. Dengan begitu Darren akan mendapatkan sentuhan, pelukan dan kasih sayang dari seorang ibu. Disini Darren yang lebih membutuhkannya. Dan kamulah yang bisa melakukannya, Agneta!"


"Kakak percaya sama kamu. Kamu akan menjadi istri sekaligus ibu yang baik dan bijak untuk ketujuh putra-putra kakak. Begitu juga nantinya ketika kamu memiliki anak dari Erland."


"Dan satu hal yang Kakak minta sama kamu. Jagalah mereka, lindungilah mereka, sayangilah mereka, perlakukan mereka seperti anak-anak kandungmu sendiri. Jangan sakiti mereka, terutama Darren." Belva berucap sembari menangis memohon di hadapan Agneta, adik perempuannya.


"Kak Belva... Hiks," ucap Agneta terisak.


Agneta langsung memeluk tubuh kakak perempuannya dengan erat. "Kak Belva tidak perlu takut akan hal itu. Jika itu keinginan kak Belva. Baiklah, aku akan mengabulkan semua keinginan kak Belva. Aku janji dan bersumpah akan menjaga ketujuh putra-putra kak Belva. Aku akan merawat dan menjaganya seperti putra-putra kandungku sendiri. Aku tidak akan membeda-bedakan kasih sayangku dan perhatianku terhadap putra-putra kak Belva dengan putra-putraku."


"Terima kasih sayang," ucap Belva lalu mencium pucuk kepala adik perempuannya.


Flashback Off


Mendengar cerita dari Agneta membuat Kathleen, Elzaro dan kelima sahabatnya menangis. Di dalam hati mereka begitu memuji kebaikan dan ketulusan Agneta yang sudah berhasil menjadi istri dan ibu yang baik untuk semua anak-anaknya.


"Bibi sempat gagal menjadi ibu yang baik untuk Darren. Bahkan Bibi melupakan janji yang sudah Bibi buat di depan kakak perempuan Bibi. Bukan itu saja, Bibi juga tanpa sadar melupakan fakta tentang kondisi kesehatan Darren sehingga membuat Darren tertekan selama ini. Sejak kejadian dimana Darren jatuh dari motor dan dilarikan ke rumah sakit. Dari situlah Bibi sadar akan kesalahan Bibi. Seketika Bibi mengutuk diri Bibi sendiri yang telah menyakiti Darren dan membuat kesehatannya menurun. Berulang kali Bibi memanggil dan menyebut nama kakak perempuan Bibi. Bibi memanggil nama kakak perempuan Bibi disertai kata-kata permintaan maaf Bibi kepadanya."


Davin yang sudah tidak tahan melihat ibunya menangis langsung memeluk ibunya.


"Maafkan Mama, Davin! Jika saat kejadian itu, Mama tidak melupakan fakta tentang kondisi Darren. Dan Mama tidak melupakan janji dan sumpah Mama terhadap Mama kandung kalian. Mama tidak akan ikut memarahi Darren. Ini semua salah Mama sehingga Darren harus kembali merasakan sakitnya. Jantung Darren kembali kambuh, itu juga puncak awalnya juga dari Mama."


Mendengar ucapan demi ucapan dari ibunya membuat hati Davin sesak dan sakit. Begitu juga dengan Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka. Mereka menangis.


"Mama," ucap Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka lirih.

__ADS_1


"Maafkan Mama... Hiks," isak Agneta.


"Mama tidak salah!"


__ADS_2