KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kedua Pasangan Misterius


__ADS_3

[Apartemen]


Di sebuah kamar terlihat seorang pria bersama istrinya sedang bersantai sembari menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur setelah beberapa menit yang lalu selesai melakukan bergulatan panasnya.


Sang pria yang hanya memakai boxer menghisap sebatang rokok dengan nikmatnya. Sementara sang wanita yg tubuh telanjangnya masih berbalut selimut itu sembari menyenderkan kepalanya dengan manja di lengan pria itu.


Fiuuuhh!


Terlihat asap rokok mengudara di dalam sebuah kamar Apartemen mewah.


"Sayang... Eemmm. Kapan kita akan menjalankan rencana terakhir kita? Aku sudah tidak sabaran untuk melihat perempuan itu dan juga anak-anaknya menderita," ucap wanita itu.


"Sebentar lagi sayang. Kita hanya menunggu waktu yang tepat. Bagaimana pun perempuan itu dan juga anak-anaknya menganggapku keluarganya paling dekat. Hanya aku dan tidak ada yang lain. Kita harus berhati-hati. Jangan sampai kita salah melangkah," ucap pria itu.


"Iya. Tapi kapan? Aku sudah tidak sabaran untuk menjadi nyonya rumah di rumah besar itu. Apalagi anak-anak kita. Mereka sudah bosan tinggal di Apartemen jelek ini," sahut wanita itu dengan bermanja-manja di dada pria itu


"Aku minta padamu untuk bersabar satu bulan ini. Tidak mudah bagiku untuk mengusir perempuan itu dan anak-anaknya dari rumah besar tersebut. Apalagi rumah itu adalah warisan dari kedua orang tuanya. Kita tidak boleh gegabah dalam bertindak. Rencana kita selama enam tahun ini berjalan dengan sempurna. Jangan hanya kesalahan kecil, rencana kita selama ini hancur. Kita sudah berhasil menyingkirkan penghalangnya. Hanya tunggu waktu saja untuk menyingkirkan sisanya."


Mendengar perkataan dari suaminya. Wanita itu pun hanya diam. Di dalam hatinya, wanita itu membenarkan apa yang telah dikatakan oleh suaminya itu.


"Baiklah. Hanya sampai akhir bulan ini saja."


"Iya, sayang."


"Ketika kita sudah bertemu dengan mereka. Setidaknya kita memperlihatkan sisi baik kita terlebih dahulu. Setelah itu, barulah kita perlihatkan siapa kita sebenarnya."


"Baiklah, sayang."


***


[Kediaman Darren]


Cklek!


Darka membuka pintu kamar yg adik dengan pelan. Darka seketika tersenyum saat melihat adik kesayangannya masih bergelung dalam selimut. Padahal hari sudah menunjukkan pukul 7 malam.


Malam ini adalah malam minggu. Dan sebentar lagi waktunya makan malam. Darka ingin adik laki-laki kesayangannya itu ikut makan malam bersama.


Darka berlahan melangkah mendekati ranjang adik laki-lakinya itu dengan senyuman yang masih mengembang di bibirnya.


Kini Darka sudah duduk di pinggiran ranjang adik laki-lakinya. Darka makin tersenyum ketika menatap gumpalan di tengah ranjang.


Berlahan Darka menarik selimut yang menutupi tubuh adik laki-lakinya itu sehingga terlihat wajah tampan dan manis adik laki-lakinya itu. Darka kembali tersenyum melihat wajah tampan, manis dan wajah lelap adik laki-lakinya itu. Kemudian tangannya terangkat untuk mengelus rambut hitam adik laki-lakinya.


"Hei, Darren. Ayo, bangun? Ini sudah pukul 7 malam. Sebentar lagi waktunya makan malam," ucap Darka lembut.

__ADS_1


"Aku masih mengantuk, Mama! Sebentar lagi," jawab Darren.


Mendengar perkataan dari adik laki-lakinya membuat Darka terkejut.


"Sejak kapan aku berubah jadi Mama?" batin Darka.


"Tapi ini sudah pukul 7 malam, Darren! Kamu harus makan. Kakak Darka nggak mau kamu sakit karena telat makan atau nggak ikut makan."


Tak butuh lama setelah Darka mengatakan itu, Darren pun langsung membuka kedua matanya. Dan bangun dari tidurnya.


"Baiklah," jawab Darren.


Darka tersenyum, lalu mengacak-acak rambut adik laki-lakinya.


"Ya, sudah! Sekarang pergi basuh muka kamu. Setelah itu, turunlah ke bawah," ucap Darka.


"Hm." Darren langsung bangkit dari tempat tidurnya dan langsung pergi menuju kamar mandi.


Melihat adiknya yang sudah masuk ke dalam kamar mandi. Darka pun pergi meninggalkan kamar adik laki-lakinya untuk turun ke bawah.


***


[Kediaman William]


Ketika Qenan tengah sibuk dengan tugas-tugasnya. Kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya datang. Dan mereka langsung duduk di sofa.


"Sibuk banget keliatannya. Sampai nggak nyadar kehadiran kita-kita," sahut Aaron.


Qenan langsung mengalihkan perhatiannya dari layar laptopnya dan melihat kearah kakak pertamanya. Dapat dilihat oleh Qenan, kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya sudah duduk cantik di sofa.


"Nggak bisa diselesaikan besok, hum?" tanya Aldez pada putra bungsunya.


"Nggak bisa, Papa! Jika tugas-tugas ini nggak selesai malam ini. Aku bakal digorok sama anak kelinci itu," jawab Qenan.


Mendengar jawaban dari Qenan membuat kedua orang tuanya Aldez dan Emma. Serta kedua kakak laki-laki Aaron dan Raka menatap bingung Qenan.


"Anak kelinci?" tanya Aldez, Emma, Aaron dan Raka bersamaan.


"Iya," jawab Qenan.


"Siapa?" tanya Raka.


"Kakak Raka sudah tahu jawabannya," jawab Qenan.


"Darren!" seru Raka dan Aaron bersamaan.

__ADS_1


"Iya. Benar!" Qenan menjentikkan jarinya ke udara.


"Kamu ini ada-ada aja. Sahabat sendiri dikatain anak kelinci," ucap Emma, ibunya.


"Eh, Mama jangan salah. Mama pikir anak kelinci itu tidak memberikan julukan anehnya untukku. Mama salah besar. Anak kelinci itu yang paling banyak memberikan julukan-julukan anehnya," sahut Qenan.


Aldez, Emma, Aaron dan Raka hanya tersenyum mendengar perkataan dari Qenan. Mereka sebenarnya tahu watak dan sifat putranya/adik laki-lakinya dan ketujuh sahabatnya.


Baik Qenan, Willy, Rehan maupun Darel, Jerry, Dylan dan Axel sama-sama memiliki lidah tajam. Perkataan mereka akan lebih kejam lagi jika sudah berurusan dengan namanya musuh.


"Oh iya! Kamu tadi bilang jika tugas-tugas itu nggak selesai, maka kamu akan digorok sama Darren. Ada apa sih?" tanya Aaron yang masih penasaran dengan jawaban adik laki-lakinya itu.


"Sebenarnya ini semuanya tugas-tugasnya Darren. Sementara tugas-tugas aku dan Willy udah kelar," jawab Qenan.


"Maksud kamu itu semuanya tugas-tugas kantornya Darren?" tanya Aldez.


"Iya, Papa." Qenan menjawab pertanyaan dari ayahnya.


"Loh. Kok bisa?" tanya Emma.


"Iya, bisalah! Apa yang nggak bisa dilakukan oleh Darren. Secara dia kan atasanku di kantor," sahut Qenan dengan wajah sepetnya.


"Eem. Pasti kamu melakukan satu kesalahan fatal nih sehingga membuat anak kelinci itu ngasih kamu tugas sebanyak ini? Benarkan?" tanya Aaron menyelidik.


"Hehehehe."


Qenan menggaruk tengkuknya yang tak gatal ketika mendengar pertanyaan dari kakak pertamanya itu.


Mendengar kekehan dari Qenan. Aldez, Emma, Aaron dan Raka hanya bisa menghela nafasnya. Bahkan mereka meyakini jika putranya/adik laki-lakinya telah melakukan kesalahan. Dan para sahabatnya tengah menghukumnya.


Baik Aldez, Emma maupun Aaron dan Raka benar-benar bahagia akan persahabatan putranya/adik laki-lakinya dengan Darren, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel. Mereka selalu ada satu sama lain. Jika yang satu sedang bersedih, maka yang lainnya juga ikut bersedih. Jika yang satu dalam kesulitan, maka yang lainnya akan memberikan semangat dan penopang untuk sahabatnya.


"Papa bangga sama kamu dan ketujuh sahabat kamu, Nak! Kalian sudah bersama-sama selama 15 tahun. Suka duka kalian lalui bersama sehingga kalian meraih kesuksesan juga bersama," ucap Aldez.


Mendengar perkataan ayahnya. Qenan menatap wajah ayahnya itu. "Terima kasih, Papa!"


"Mama juga bangga sama kamu dan juga ketujuh sahabat-sahabat kamu. Semoga persahabatan kalian abadi sampai tua nanti," ucap Emma.


"Terima kasih, Mama!"


"Kakak Aaron juga bangga sama kamu dan ketujuh sahabat kamu, Qenan!"


"Kakak Raka juga," ujar Raka.


"Terima kasih kakak Aaron, kakak Raka."

__ADS_1


__ADS_2