
Cklek!
Darren membuka pintu ruang rektor. Setelah itu, Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya dan kedua kakak-kakaknya melangkah masuk ke dalam ruang rektor tersebut.
Sesampainya di dalam, Darren dengan lancangnya langsung menduduki pantatnya di sofa dan diikuti oleh ketujuh sahabat-sahabatnya dan kedua kakak-kakaknya.
Sementara sang rektor menatap kehadiran kesepuluh mahasiswanya dengan tatapan bingung.
"Mau ngapain kalian kemari? Lebih baik kalian kembali ke kelas," ucap rektor itu.
Mendengar ucapan dari rektornya membuat Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya dan kedua kakak-kakaknya menggeram marah.
"Kami ingin membahas sesuatu dengan anda," sahut Willy.
"Tidak ada yang perlu dibahas lagi. Semuanya sudah jelas," jawab rektor itu.
Darren melihat kearah rektornya. Darren menatap tepat dimanik hitam sang rektor. Seketika Darren memicingkan matanya ketika melihat gerakan bola mata rektornya itu kadang-kadang melihat sedikit ke atas.
Dengan rasa penuh penasaran. Darren melihat ke samping, lalu melihat sedikit ke atas. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya setelah mendapatkan sesuatu.
Darren berdiri dari duduknya, lalu berjalan mendekati meja kerja rektornya. Darren berdiri di samping rektornya dengan memberikan senyuman manisnya.
Detik kemudian..
Darren tiba-tiba merangkul bahu rektornya dengan mensejajarkan wajahnya dengan wajah sang rektor.
"Hallo, tuan."
Darren berbicara dengan tatapan matanya fokus ke depan sembari melambaikan tangan kanannya. Dan jangan lupa senyuman manisnya yang terpampang jelas di wajahnya.
Melihat Darren yang berbicara dengan tatapan matanya yang fokus ke depan. Dan ditambah lagi lambaian tangannya membuat Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan menatap dengan curiga.
Jerry dan Axel menatap tepat di manik coklat Darren. Dan dapat dilihat oleh Jerry dan Axel bahwa Darren memberikan kode.
Jerry dan Axel langsung mengerti. Setelah itu, Jerry dan Axel langsung memutar kepalanya ke samping dan sedikit melirik ke atas.
Seketika terukir senyuman manis di bibir keduanya setelah mengetahui sesuatu.
Jerry dan Axel melihat kearah Qenan, Willy, Rehan, Darel dan Dylan. Keduanya menunjuk kearah atas.
Qenan, Willy, Rehan, Darel dan Dylan langsung melihat kearah tunjuk Axel dan Jerry. Begitu juga dengan Darka dan Gilang.
Setelah itu, mereka semua pun tersenyum sebagai tanda mengerti. Kemudian mereka melihat kearah Darren dan rektornya.
"Hallo, tuan. Kenalkan saya Darrendra Smith. Saya tahu bahwa anda sudah memasang beberapa kamera pengintai dan juga alat pelacak di sekitaran kampus. Bahkan anda juga telah mengancam rektor saya dengan ancaman kalau anda akan meledakkan kampus ini bersama para mahasiswa dan mahasiswi jika rektor saya tidak mematuhi keinginan anda."
"Saya memiliki satu pilihan untuk anda, tuan. Putri kesayangan anda ada di dalam penjara. Dan hanya saya yang bisa mengeluarkannya dari sana. Jika anda berani menyentuh kampus saya. Jika anda berani menyakiti teman-teman kampus saya. Maka anda tidak akan pernah bertemu lagi dengan putri kesayangan anda itu. Saya bisa pastikan anda akan mendengar kabar kematiannya."
"Dan satu lagi. Jika anda punya nyali. Keluar dan hadapi saya. Jangan bisanya main belakang. Apalagi mengandalkan sebuah ancaman dan kekuasaan. Anda pikir anda itu siapa. Orang-orang diluar sana boleh saja takut kepada anda dan keluarga besar anda. Tapi tidak dengan saya. Saya Darrendra Smith tidak pernah takut kepada anda. Jadi saya katakan sekali lagi kepada anda. Jangan bermain api dengan saya jika anda dan keluarga besar anda tidak ingin ikut terbakar bersama saya."
Setelah selesai berbicara, Darren melepaskan rangkulannya dari bahu rektornya. Darren berjalan menghampiri ketujuh sahabat-sahabatnya. Lebih tepatnya mendekati arah dinding dimana terpasang sebuah benda kecil disana.
__ADS_1
Darren mengambilnya, lalu membantingnya dengan sangat kuat sehingga benda itu hancur berkeping-keping.
"Masalah kedua selesai," ucap Darren.
"Ternyata keyakinan lo meleset," sindir Dylan.
Mendengar sindiran dari Dylan membuat Darren mendengus.
"Setidaknya otak gue pintar. Nggak kayak lo. Idiot kambuhan," balas Darren.
Darren menatap kearah rektornya. "Dan untuk anda," ucap Darren sembari menunjuk kearah rektornya. "Anda memiliki utang penjelasan kepada saya. Saya akan tagih itu setelah saya menyelesaikan masalah saya yang lain. Jika anda tidak mau menjelaskan semuanya kepada saya. Maka saya akan ambil alih kampus ini. Dan saya akan tendang anda dari kepemilikan kampus ini." Darren berbicara dengan menatap tajam rektornya.
Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan ruang rektornya dan diikuti oleh ketujuh sahabat-sahabatnya dan kedua kakak-kakaknya. Darren tidak ingin berlama-lama berada di ruang rektornya, karena masih banyak masalah lain yang harus diselesaikannya.
***
Di kediaman Adalrich terlihat seorang pria paruh baya yang saat ini tengah marah besar.
Pria paruh baya itu baru saja membanting laptop mahalnya ke lantai sampai hancur. Pria itu marah akan perkataan Darren ketika dirinya tengah mengawasi dan memata-matai pemilik kampus dimana putrinya berkuliah.
"Brengsek! Berani sekali bajingan itu berbicara seperti itu padaku. Apa dia pikir, dia sudah hebat sehingga berani menceramahiku?"
"Awas saja kau. Aku akan buat kau menyesal dan berlutut di hadapanku," ucap pria itu.
Ketika pria itu tengah marah, tiba-tiba datang dua adik laki-lakinya bersama istri dan keluarga lainnya.
Mereka semua langsung menduduki pantatnya di sofa.
Roland melihat kearah adik laki-lakinya dan juga anggota keluarga lainnya. Dapat dilihat oleh Roland, mereka semua menatap dirinya.
"Pemuda yang menyebabkan Jessica dipenjara telah mengetahui bahwa kita memasang beberapa kamera di sekitar kampus. Bahkan pemuda itu juga sudah tahu bahwa kita yang telah meminta dan mengancam rektornya untuk memecatnya dari jabatannya."
Mendengar perkataan dari Roland membuat kedua adik laki-lakiny, istrinya dan anggota keluarga lainnya terkejut.
"Bagaimana bisa? Apa rektor itu buka mulut?" tanya istrinya.
"Sepertinya bukan. Aku memantaunya terus. Bahkan tangan kananku bilang pria bodoh itu sangat ketakutan ketika kita mengancamnya akan meledakkan kampus itu."
"Kalau bukan dari rektornya. Terus pemuda itu tahu dari mana? Sayang, kita harus balas pemuda itu. Pemuda itu sudah buat putri kita masuk penjara."
"Kau tenang, sayang. Kita akan membalas pemuda itu."
Ketika mereka tengah memikirkan balasan apa yang cocok untuk orang yang sudah menjebloskan putri kesayangannya, tiba-tiba dua tangan kanannya datang.
"Maaf, bos. Mengganggu!"
"Ach, tidak apa-apa. Silahkan duduk."
Kemudian dua tangan kanannya itu pun duduk di sofa.
"Bagaimana? Apa kalian sudah mendapatkan identitas keluarganya dan pekerjaan bocah sialan itu?"
__ADS_1
"Sudah, Bos."
"Sekarang katakan!"
"Begini, Bos! Pemuda itu bernama Darrendra Smith. Dia berasal dari keluarga kaya raya, keluarga terpandang dan keluarga yang terkenal di dunia dan di Jerman. Dan lebih hebatnya lagi keluarganya itu keluarga yang sangat berpengaruh di semua bidang bisnis. Perusahaan-perusahaan mana pun di seluruh dunia sangat menghormati keluarga itu. Jika keluarga itu dalam bahaya. Tak butuh waktu lama, bala bantuan datang untuk menolong keluarganya."
Mendengar cerita dari salah satu tangan kanannya membuat pria itu terkejut. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
"Apa segitu besarkah pengaruh dan kekuasaannya keluarganya?" tanya adik laki-laki kedua pria itu.
"Iya, tuan. Ayah dari pemuda itu bernama Erland Faith Smith. Tuan Erland memiliki tujuh orang sahabat. Sama seperti putranya Darrendra Smith. Baik tuan Erland maupun ketujuh sahabat-sahabatnya, mereka semua orang-orang penting di dunia bisnis. Mereka berdelapan pemilik perusahaan COMPANY terbesar di dunia dan di Jerman."
"Hasil penyelidikan kami yang terakhir. Ini akan buat kalian semua terkejut!"
"Apa? Katakan!"
"Tuan Erland dan ketujuh sahabat-sahabatnya beserta anggota keluarganya dilindungi oleh pihak kepolisian dan lima kelompok mafia.
"Polisi yang melindungi mereka memiliki kedudukan tinggi nomor satu di negara Jerman dan memiliki pengaruh yang kuat sampai di beberapa negara. Dan untuk kelompok mafia yang melindungi mereka berasal dari kelompok mafia terkejam nomor satu di dunia dan di Jerman."
Mendengar jawaban dari tangan kanannya membuat ayahnya Jessica, ibunya Jessica dan keluarga besarnya terkejut. Mereka tidak menyangka jika lawannya memiliki pengaruh kuat. Mereka berpikir jika mereka yang paling disegani, paling ditakuti, paling berpengaruh dan paling berkuasa. Ternyata masih ada diatas mereka.
"Bagaimana sekarang, Bos? Apa bos masih ingin mengusik keluarganya?"
"Aku tidak peduli. Aku akan tetap buat perhitungan. Kita bermain cantik. Sebisa mungkin jangan sampai ketahuan."
"Bagi tugas. Buat rencana menjadi dua. Kita bermain-main dengan keluarganya. Dan kita juga bermain-main dengan bocah sialan itu."
"Baik, Bos."
"Maaf, Bos! Ada satu lagi, Bos."
"Apa itu?"
"Mahasiswa yang bernama Darrendra Smith itu bukan hanya mahasiswa saja. Pemuda itu juga seorang CEO hebat dan juga terkenal. Dia sama seperti ayahnya. Perusahaannya sudah terkenal dimana-mana. Sudah banyak pengusaha-pengusaha yang bekerja sama dengan perusahaan miliknya."
"Apa nama perusahaannya?" tanya ayahnya Jessica.
"Perusahaan Accenture, Bos!"
"Apa? Perusahaan Accenture? Apa kau yakin?"
"Iya, tuan. Saya sangat yakin."
"Kau kenapa? Apa kau kenal?"
"Aku salah satu rekan bisnis perusahaan itu, kakak Roland. Perusahaan Accenture itu memang perusahaan hebat. Banyak pengusaha yang perusahaannya berkembang dengan pesat setelah bekerja sama dengan perusahaan Accenture. Kakak Roland tahukan bagaimana kondisi perusahaanku enam bulan yang lalu. Perusahaanku hampir gulung tikar. Aku mendapatkan rekomendasi dari salah satu pengusaha yang bekerja sama dengan perusahaan Accenture. Aku ikuti anjuran dari beliau. Dan hanya butuh satu bulan kerja sama perusahaanku dengan perusahaan Accenture. Perusahaanku kembali bangkit."
"Kakak Roland. Aku mohon maaf. Untuk kali ini aku tidak bisa bantu kakak Roland. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada perusahaanku. Ada baiknya kakak Roland selesaikan baik-baik dengan mereka. Sekali lagi aku minta maaf pada kakak Roland. Jangan marah dan jangan membenciku."
Setelah mengatakan itu, adik laki-laki kedua ayahnya Jessica pergi meninggalkan rumah besar keluarga Jessica untuk kembali pulang ke rumahnya. Dirinya memutuskan untuk tidak lagi ikut campur masalah kakak laki-lakinya.
__ADS_1