KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Ancaman Gilang


__ADS_3

Gilang dan beberapa orang-orangnya saat ini berada di depan gerbang rumah pria yang akan menikahi Kayana.


"Apa kita masuk sekarang tuan?"


"Iya. Mari kita masuk!"


Gilang melangkah memasuki gerbang rumah itu dan diikuti oleh anggotanya di belakang.


Brak!


Salah satu anggota Gilang langsung menendang pintu utama kediaman keluarga Muntaz sehingga membuat pintu itu rusak.


Gilang dan anggotanya melangkah memasuki rumah itu dengan dengan tatapan matanya menatap ke sekelilingnya.


"Siapa kalian!" teriak seseorang yang menuruni anak tangga.


Gilang dan anggotanya melihat kearah tangga. Dan dapat dilihat seorang pria paruh baya bersama seorang wanita melangkah menuruni anak tangga.


"Aku adalah malaikat mautmu," jawab Gilang dengan wajah dinginnya.


Sebelum mendapatkan izin, Gilang sudah duduk di sofa ruang tengah.


Pria tua itu dan istrinya menatap tajam Gilang. Keduanya marah dan tak terima melihat sikap Gilang yang seenaknya duduk di sofa tanpa seizinnya.


Gilang melirik sekilas sepasang suami istri itu. Dia tersenyum melihat sepasang suami istri itu menatap tak suka padanya.


"Silahkan duduk tuan, nyonya! Apa kaki kalian tidak lelah berdiri terus, hum?"


"Brengsek! Siapa kau!" bentak pria itu.


Gilang tersenyum. "Makanya duduklah tuan. Setelah itu, aku akan menjelaskan maksud kedatanganku kemari."


Pria itu pun menduduki pantatnya di sofa itu dan diikuti oleh istrinya.


"Baiklah. Aku langsung saja ya," ucap Gilang tersenyum menyeringai menatap pria itu.


Gilang menatap kearah salah satu anggotanya. "Lexi, mana laptopku?"


"Ada tuan. Sebentar!"


Lexi mengambil tasnya, lalu mengeluarkan laptop milik Gilang. Setelah itu, Lexi memberikan laptop itu kepada Gilang.

__ADS_1


"Ini tuan."


"Terima kasih Lexi."


"Sama-sama tuan."


Gilang membuka laptopnya dan kemudian menghidupkannya. Setelah laptop itu dalam keadaan hidup.


Beberapa detik kemudian, Gilang mencari file penyimpanan video. Setelah dapat apa yang dicarinya. Gilang pun memainkan video itu.


"Lihatlah ini tuan. Siapa tahu tuan tertarik," ucap Gilang sembari menggeser layar laptop itu ke hadapan pria itu.


Baik pria itu maupun istrinya melihat kearah layar laptop milik Gilang. Dan seketika pria itu terkejut apa yang dilihatnya. Begitu juga istrinya.


Melihat keterkejutan pria dan wanita di hadapannya, Gilang kembali menarik laptopnya dan mengarahkan layar lapto itu kembali kearahnya.


"Tuan sudah lihat bukan. Itu semua adalah bukti-bukti kecurangan anda terhadap beberapa perusahaan dan juga beberapa klub yang bekerja sama dengan anda. Jika bukti-bukti ini tersebar di internet, bisa dijamin mereka semua mengetahuinya. Dan nasib anda ak..."


"Apa maumu, hah?!" bentak pria itu marah.


Gilang tersenyum menyeringai menatap wajah pria itu. "Wah! Anda sudah tidak sabaran lagi ya tuan. Baiklah!"


Gilang meletakkan satu foto di atas meja, lalu tangannya mendorong foto itu ke hadapan pria itu.


Pria itu mengambil foto itu, lalu melihatnya. Seketika pria itu terkejut.


"Salsa Madhavi," ucap pria itu dengan menyebut nama wanita yang ada di foto itu.


"Anda mengenalnya?" tanya Gilang lagi.


"Iya. Saya mengenalnya. Dia perempuan yang meminjam uang kepadaku sebesar $1000. Perempuan ini berjanji akan melunasinya selama 1 tahun. Beberapa hari yang lalu saya ke rumahnya untuk menagih utangnya pada saya. Namun perempuan itu mengatakan belum ada uang sama sekali. Mendengar hal itu saya emosi."


"Beberapa menit kemudian, masuklah seorang gadis cantik ke dalam rumah. Ketika saya melihatnya, saya langsung tertarik. Kemudian saya membuat kesepakatan kepada perempuan itu."


"Anda akan melunasi hutang-hutang perempuan itu tapi dengan syarat perempuan itu harus menikahkan gadis cantik itu kepada anda. Begitukah?"


"I-iya," jawab pria itu gugup.


Gilang kembali mengeluarkan satu foto lagi, lalu meletakkannya di atas meja. "Apa ini gadis cantik itu?" tanya Gilang.


Baik pria itu maupun istrinya melihat kearah foto tersebut.

__ADS_1


"Iya. Dialah gadis itu," jawab pria itu.


Gilang kembali mengambil foto itu dan menyimpannya. Setelah itu, Gilang menatap tajam wajah pria tersebut.


"Jauhi gadis itu. Dan batalkan niat anda untuk menikahinya," perintah Gilang.


"Apa hakmu memintaku untuk membatalkan pernikahanku dengan gadis itu?"


"Gadis itu adalah kekasihku. Kami sudah menjalin hubungan selama 1 tahun. Apa anda berpikir aku akan membiarkan gadisku menikah dengan pria tua tak tahu diri seperti anda?! Jika anda tetap bersikeras menikahi gadis itu, padahal kau sudah tahu gadis itu sudah memiliki kekasih. Itu sudah termasuk tindak pidana."


"Tapi perempuan sialan itu telah meminjam uang dengan jumlah yang besar kepada saya. Jika aku tidak jadi menikah dengan gadis itu, bagaimana dengan uangku yang sudah dipinjam oleh perempuan itu?!" bentak pria.


"Bukankah perempuan itu memiliki anak perempuan. Usia anak perempuannya itu seusia dengan kekasihku. Anda bisa menikah dengan anak perempuannya. Seharusnya anak perempuannya yang menikah dengan anda karena perempuan itu yang meminjam uang tersebut."


"Atau jika anda tidak ingin menikahi anak perempuannya. Anda bisa memaksa atau mengancam perempuan itu untuk segera membayar utang-utangnya beserta bunga dalam waktu dua bulan. Jika perempuan itu tidak juga mau membayarnya. Anda cukup mengancamnya dengan membunuh anak perempuannya. Perempuan itu sangat menyayangi anak perempuannya."


Pria itu hanya diam ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Gilang. Namun di dalam hatinya, pria itu menyetujui semua yang dikatakan Gilang.


"Jika anda mau mendengarkan saya untuk membatalkan pernikahan anda dengan kekasih saya. Kehidupan anda dan keluarga anda akan baik-baik saja. Namun jika anda tetap pada keputusan anda, maka jangan salahkan saya jika terjadi sesuatu pada anda dan keluarga anda. Saya sudah memegang data-data semua anggota keluarga anda tuan. Baik anggota keluarga besar dari pihak anda maupun anggota keluarga besar dari pihak istri-istri anda. Saya juga tahu kalau perempuan yang duduk di samping anda ini adalah istri pertama anda."


Pria dan wanita itu terkejut ketika mendengar perkataan Gilang. Mereka tidak menyangka jika pemuda yang ada di hadapannya ini mengetahui semuanya.


"Sekali lagi aku katakan pada anda. Jauhi gadis itu. Jangan berbuat hal-hal buruk yang bisa merugikan anda dan seluruh keluarga anda. Anda tidak tahu siapa saya dan keluarga saya. Jika saya mau hari ini juga saya bisa menghancurkan semua usaha anda."


Setelah mengatakan itu, Gilang berdiri dari duduknya. Gilang melirik sekilas kearah pria itu.


"Pikirkan semua perkataanku barusan tuan!"


Gilang pun pergi meninggalkan kediaman Muntaz dan diikuti oleh para anggotanya.


***


Di kediaman milik Darren terlihat beberapa anak buah dari tuan Muntaz dalam keadaan luka-luka parah akibat pukulan dan tendangan tak main-main dari Fito dan anggotanya. Luka yang mereka alami seperti patah tulang kaki, tulang punggung, pembengkakan di perut, sayatan-sayatan di wajah dan di seluruh tubuh.


Fito dan anggotanya sampai melakukan hal kejam itu dikarenakan para suruhan dari tuan Mumtaz memaksa masuk ke dalam rumah untuk membawa paksa Kayana calon istri dari tuannya.


"Bawa pergi mereka semua dari sini," perintah Fito kepada anggotanya.


"Baik, Bos!"


"Dan untuk kalian. Perketat lagi penjagaan. Jangan sampai masalah ini terulang lagi."

__ADS_1


"Baik, Bos."


__ADS_2