
Darren dan ketujuh sahabatnya sudah berada di kampus. Ketika mereka tiba di kampus kedua kakak Darren yaitu Gilang dan Darka datang menghampirinya. Keduanya memang menunggu kedatangan Darren.
Sekarang ini mereka semua berada di Aula tempat mereka mengadakan pertemuan. Di sana bukan hanya ada Darren, ketujuh sahabatnya, Gilang dan Darka. Melainkan juga ada anggota organisasi.
"Bagaimana, Ren?" tanya Gilang.
Gilang dan Darka sudah menceritakan keinginan teman-teman sekelasnya, terutama anggota organisasinya untuk mengadakan bakti sosial.
Teman-teman sekelasnya dan beberapa anggota organisasinya meminta hal itu karena kepedulian dan empatinya terhadap musibah yang menimpa ayah dari Gilang, Darka dan Darren.
Ketika mendengar cerita dari Gilang dan Darka. Di tambah dengan usulan-usulan dari anggota organisasi dibawah kepemimpinan Gilang dan Darka membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel memutuskan mengumpulkan anggota-anggota organisasinya.
"Kalau itu keinginan mereka. Kakak Gilang dan Kakak Darka lakuin aja," jawab Darren.
"Apa keburu?" tanya Darka.
"Maksud kakak Darka?" tanya Darren balik.
"Bukannya acara bakti sosial pribadi kamu dan ketujuh sahabat-sahabat kamu akan dilakukan setelah selesai kuliah nanti?" tanya Darka.
"Iya, lalu?" ucap dan tanya Darren.
"Kalau kakak Darka dan Gilang melakukan bakti sosial bersama dengan anggota organisasi lainnya. Kegiatannya kapan akan diadakan?" tanya Darka.
Darren terdiam sejenak. Tatapan matanya menatap ketujuh sahabatnya. Setelah itu, Darren kembali menatap wajah kedua kakak laki-lakinya.
"Yang terpenting, kumpulkan dulu sumbangan dari teman-teman kampus. Setelah Dananya terkumpul, baru kita akan membuat rincian pengeluarannya. Di tambah dengan membuat jadwal kegiatan itu."
Mendengar usulan dari Darren membuat mereka semua menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.
"Baiklah," jawab mereka kompak.
"Jangan terlalu dipaksakan. Yang mau saja. Bagi yang tidak mau ikut menyumbang, itu urusan mereka," ucap Darren.
"Baik, Ren!" seru para anggota organisasi.
"Satu hal prinsip dalam organisasi kita. Dan jangan pernah lupakan hal itu," ujar Darren dengan menatap semua orang yang ada di ruang Aula itu.
"Dan jangan lupakan juga motto organisasi kita," ucap Darren lagi.
"Kami ingat, Ren!" seru mereka dengan kompak.
"Salah satunya adalah jika ada salah satu mahasiswa atau mahasiswi yang mengalami musibah. Sementara mahasiswa dan mahasiswi tersebut tidak pernah peduli, tidak pernah ikut serta dan berpartisipasi dalam kegiatan kampus. Bahkan tidak pernah sekalipun memberikan sumbangan atau bantuan untuk membantu setiap kegiatan di kampus. Maka kita tidak perlu repot-repot untuk mengurusi atau sekedar memberikan rasa kepedulian kita terhadap mahasiswa dan mahasiswi tersebut. Dengan kata lain, kita tidak akan memberikan bantuan apapun."
Salah satu anggota dari Axel menjawab perkataan dari Darren dengan sangat jelas.
Mendengar jawaban dari salah satu anggota Axel membuat Darren seketika tersenyum. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel.
"Iya, kamu benar Santi. Itu adalah salah satu prinsip organisasi kita. Mereka cuek dan acuh akan organisasi kita. Bahkan tidak peduli setiap kegiatan yang kita buat. Maka kita juga bisa seperti mereka yang cuek, acuh dan tidak peduli disaat mereka dalam kesulitan," ucap Qenan.
"Itulah kenapa aku mengatakan kepada kalian ketika meminta sumbangan kepada teman-teman kampus jangan ada paksaan apapun. Jika mereka tidak mau memberikan sumbangan dengan berbagai alasan. Ya, sudah! Mintalah kepada yang lainnya. Tujuan kita meminta sumbangan kepada mereka itu hanya untuk membuktikan sebesar apa kepedulian, perhatian dan ketulusan mereka terhadap apa yang terjadi di kampus. Baik itu kegiatan yang kita lakukan maupun ketika melihat ada teman-temannya yang terkena musibah." Darren berbicara dengan menatap semua anggota-anggotanya.
"Jika mereka tidak peduli akan sekitarnya. Maka kita juga tidak usah pedulikan mereka ketika mereka dalam kesulitan. Tapi jika masalahnya tentang pembullyan. Semuanya dapat perlindungan yang sama. Bagaimana pun di kampus ini harus bersih dengan pembullyan," sahut Darren
__ADS_1
Mendengar ucapan demi ucapan dari Darren membuat mereka semua kagum dengan cara kerja dan cara pikir Darren.
"Ada sekitar 15 orang yang bertugas meminta sumbangan sekaligus bendahara, bukan?" tanya Darren.
"Iya. Itu benar, Ren!" ucap Jerry.
"Kalian langsung saja nanti mulai meminta sumbangan. Di mulai di kelas masing-masing dulu," ucap Darren.
"Baik," jawab kelima belas mahasiswi yang bertugas meminta sumbangan.
"Baiklah. Rapat kita tutup sampai disini. Lima menit lagi kuliah kita akan dimulai."
"Baik!"
Setelah itu, Darren pun menyudahi rapat dadakannya bersama kedua kakaknya, ketujuh sahabatnya dan para anggotanya. Mereka semua pun kembali ke kelas masing-masing.
***
Di kediaman Dominic dimana di ruang tengah tampak ramai. Keenam sahabatnya David mendatangi kediaman David atas perintah dari David.
David menghubungi semua sahabat-sahabatnya melalui video call dan meminta sahabat-sahabatnya itu untuk datang ke rumahnya.
Keenam sahabat-sahabatnya itu datang bersama istri dan kedua putranya. Putra pertama dan putra kedua.
"Kita semua sudah ada disini. Sekarang katakan kepada kami. Ada hal apa yang ingin kau sampaikan kepada kami?" tanya Dario.
Aldez, Dellano, Valeo, Eric, Hendy dan Dario menatap wajah David. Begitu juga para istri dan para putra-putranya.
"Ach, baiklah! Aku sudah tahu dimana jatuhnya pesawat yang ditumpangi oleh Erland," ucap David.
"Benarkah?" tanya Aldez.
"Iya, Aldez. Aku mendapatkan kabar dari Rommy, tangan kananku."
"Dimana? Dimana pesawat yang ditumpangi oleh Erland jatuh?" tanya Hendy.
"Pesawat yang ditumpangi oleh Erland jatuh di hutan Hutewald Halloh," jawab David.
"Hutan Hutewald Halloh! Aku tahu dimana letak hutan itu. Jarak dari sini ke Hutewald Halloh membutuhkan waktu satu hari satu malam," sahut Eric.
"Bagaimana kondisi pesawat itu?" tanya Dellano.
"Yang aku dengar dari Rommy. Pesawat itu rusak parah. Badan pesawat terbelah menjadi dua. Bagian kepalanya hancur," jawab David.
"Oh, Tuhan!"
Para istri seketika terkejut ketika mendengar jawaban dari David yang mengatakan kondisi pesawat yang ditumpangi oleh Erland.
"Semoga Erland dan penumpang lainnya selamat," ucap Emma.
"Iya, Emma! Aku juga berharap seperti itu. Semoga semua dalam keadaan baik-baik saja," ucap Bella.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Valeo.
__ADS_1
"Apa kita langsung kesana saja?" tanya Dario.
"Ada baiknya jangan dulu," cegah Eric
"Bagaimana kalau kita beritahu kabar ini kepada Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico. Kita diskusikan dengan mereka sekalian kita tanyakan pendapat mereka," usul Hendy.
Mendengar usulan Hendy. Mereka semua langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Baiklah. Aku akan menghubungi Ziggy. Bagaimana pun Ziggy adalah anak seorang jendral polisi. Setidaknya dengan Ziggy mengetahui kabar ini, Ziggy bisa langsung meminta bantuan ayah atau kakak laki-lakinya," ucap David.
"Aku setuju denganmu, David! Ya, sudah! Kau hubungi Ziggy sekarang," pungkas Valeo.
"Baiklah."
Setelah itu, David langsung menghubungi Ziggy.
Beberapa detik kemudian...
"Hallo, Paman David. Ada apa?"
"Hallo, Ziggy. Kamu dimana? Apa Paman mengganggu kamu?"
"Kebetulan aku ada di rumah. Tidak, Paman. Kenapa?"
"Begini, Ziggy! Paman mendapatkan informasi dari tangan kanan Paman. Dia mengatakan kepada Paman bahwa dia sudah berhasil menemukan lokasi jatuhnya pesawat yang ditumpangi oleh Erland."
Mendengar perkataan dari David membuat Ziggy terkejut disertai juga raut kebahagiaan di wajahnya.
"Benarkah itu, Paman?"
"Benar, Ziggy."
"Katakan padaku dimana lokasinya?"
"Di Hutan Hutewald Halloh."
"Berarti satu hari satu malam membutuhkan waktu kesana."
"Iya, kau benar. Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Aku akan mendiskusikannya kepada Chico, Noe, Enzo dan Devian."
"Apa Paman dan yang lainnya boleh ikut dalam mendiskusikan masalah ini?"
"Tentu. Paman dan Paman yang lain mau bertemu dimana?"
"Bagaimana di rumah Paman saja?"
"Baiklah. Aku akan kabari Chico, Devian, Noe dan Enzo."
"Baiklah. Terima kasih, Nak Ziggy!"
"Sama-sama, Paman!"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, baik David maupun Ziggy sama-sama mematikan panggilannya.