
Di depan Perusahaan ACCENTURE milik Darren terlihat dua kelompok yang sedang mengawasi dan memata-matai keadaan di sekitar Perusahaan itu. Mereka berjumlah sekitar 100 orang. Berpakaian dan bermasker hitam. Serta lengkap dengan senjata
Para kelompok itu tengah berusaha untuk masuk ke dalam Perusahaan tersebut. Ada beberapa dari mereka yang berusaha masuk melalui pintu masuk lainnya. Dua kelompok tersebut berasal dari kelompok mafia yang berbeda. Mereka diperintah atau lebih tepatnya telah dibayar oleh seseorang. Orang itu berasal dari keluarga Frederick.
"Aakkhhh!"
"Aakkhhh!"
Terdengar teriakan-teriakan yang keluar dari mulut para kelompok itu ketika hendak memasuki Perusahaan ACCENTURE dan juga ingin membakar Perusahaan itu.
Sekitar 30 orang mati terkena laser yang telah diaktifkan oleh Qenan dan Willy. Tubuh dari ke 30 orang-orang itu menjadi abu.
***
Di sisi lain dimana hal serupa juga terjadi. Tepat di depan Galeri Lukisan milik Darren juga terlihat dua kelompok dari kelompok mafia yang berbeda tengah berusaha untuk masuk ke dalam dan juga hendak membakar Galeri tersebut.
Namun ketika mereka ingin melakukannya. Usaha mereka selalu gagal. Yang ada justru nyawa mereka yang menjadi korbannya. Sekitar 50 anggota dari kelompok itu mati dengan sangat mengenaskan dalam keadaan tubuh sudah menjadi abu.
Sama halnya dengan Willy dan Qenan. Rehan dan Darel juga diperintahkan oleh Darren untuk mengaktifkan laser-laser itu.
***
"Buruan ledakan Perusahaan ini! Pasang semua bom di seluruh ruangan!" perintah seorang pemuda kepada anggotanya.
"Baik Prince!"
Mendengar perintah dari ketuanya. Para mafioso tersebut pun langsung menjalankan perintah dari ketuanya itu. Mereka berlari memasuki perusahaan dengan membawa masing-masing 10 bom di tangan. Mereka membagi tugas untuk memasang dan mengaktifkan bom-bom tersebut.
Beberapa menit kemudian, para mafioso tersebut kembali keluar dengan tangan kosong.
"Bagaimana?"
"Sesuai apa yang direncanakan, Prince!"
"Bagus."
Lima pemuda tersebut saling lirik, lalu tersenyum di sudut bibir masing-masing dengan menatap ke arah Perusahaan yang masih utuh berdiri kokoh.
Detik kemudian, salah satu dari kelima pemuda itu mengangkat tangan ke udara dan langsung memberikan perintah kepada para mafiosonya untuk meninggalkan lokasi.
"Ayo, pergi!"
Setelah mengatakan itu, kelima pemuda itu beserta para mafiosonya pun pergi meninggalkan lokasi.
Dan beberapa detik kemudian...
DUUAAARRR!
DUUAAARRR!
DUUAAARRR!
Terdengar suara ledakan berulang kali yang begitu besar yang menandakan bahwa perusahaan tersebut berhasil diledakkan.
Mendengar suara ledakan itu membuat kelima pemuda itu tersenyum kemenangan.
***
__ADS_1
Darren saat ini berada di ruang tengah bersama anggota keluarganya. Erland, Agneta maupun anggota keluarga lainnya memutuskan untuk tidak masuk kerja. Mereka semua memilih untuk menemani Darren sembari menghabiskan waktu bersama.
Baik Erland, Agneta maupun anggota keluarga lainnya menatap khawatir Darren, terutama Erland.
"Darren sayang," panggil Erland.
Mendengar suara ayahnya. Darren yang tadinya menatap layar laptop. Kini beralih menatap ke arah ayahnya.
"Ya, Pa!"
"Kamu yakin tidak apa-apa, Nak? Kita ke rumah sakit ya," ucap Erland khawatir.
Darren tersenyum mendengar ucapan dari ayahnya. "Aku baik-baik saja, Papa! Aku kan sudah diperiksa sama Dokter. Jadi tidak perlu lagi ke rumah sakit?"
"Tapi, sayang..."
"Papa tidak perlu khawatir, oke!"
"Bagaimana Papa tidak khawatir. Beberapa jam yang lalu jantung kamu kambuh lagi. Papa tidak kuat setiap melihat kamu kambuh, Nak!" seketika air mata Erland mengalir membasahi wajah tampannya.
Jantung Darren beberapa menit yang lalu sempat kembali kambuh. Bahkan kambuhnya jantung Darren kali ini benar-benar luar biasa sehingga membuat Darren tak sadarkan diri beberapa menit.
Dokter yang memeriksa Darren mengatakan bahwa Darren kelelahan dan juga banyak pikiran sehingga membuat kinerja otot jantung tak stabil.
Melihat ayahnya yang sudah menangis membuat hati Darren sesak. Darren paling tidak suka melihat ayahnya menangis. Apalagi menangis akan dirinya.
Dulu ketika Darren masih berstatus sebagai putra bungsu. Dengan kata lain sebelum kelima adik-adiknya lahir. Ayahnya begitu sangat menyayanginya. Bukan hanya sayang. Bahkan ayahnya juga sangat memanjakannya. Apapun yang diinginkan olehnya. Ayahnya selalu mewujudkannya.
Bukan hanya ayahnya saja. Bahkan Agneta yang berstatus sebagai bibi sekaligus ibunya juga sangat menyayanginya dan juga memanjakannya. Agneta selalu ada untuknya. Agneta selalu memberikan semua yang dibutuhkan oleh Darren.
Mendengar perkataan dari Darka membuat Darren mempoutkan bibirnya. "Aish, Kakak Darka! Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."
"Tapi, Darren..."
"Please deh! Jangan anggap aku lemah kayak gini. Aku memang sakit. Tapi bukan berarti aku tidak bisa melakukan apa pun."
Mendengar penuturan dari Darren membuat mereka hanya bisa pasrah. Mereka semua sangat tahu dan juga paham akan sikap keras kepala yang dimiliki Darren.
***
Samuel dan Pamannya Gustavo sedang berada di ruang kerja milik Gustavo. Keduanya saat ini tengah membahas apa yang telah mereka rencanakan untuk menghancurkan musuh-musuhnya. Bahkan saat ini kedua tengah merencanakan rencana selanjutnya.
"Apa rencana selanjutnya, Samuel?" tanya Gustavo.
"Aku akan mengincar perusahaan Erland Faith Smith, ayahnya Darren. Begitu juga dengan perusahaan para ayah dari ketujuh sahabatnya," jawab Samuel.
"Rencana yang bagus. Paman juga sedang mengincar kedelapan Perusahaan besar itu," ucap Gustavo.
Ketika mereka sedang membahas rencana selanjutnya, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan pintu ruang kerja yang dibuka secara paksa oleh seseorang.
BRAAKK!
Baik Gustavo maupun Samuel langsung melihat ke arah pintu. Mereka menatap tajam ke arah dua pemuda yang saat ini sedang terengah-engah.
"Ada apa dengan kalian, hah?!" bentak Gustavo.
"Ma-maafkan kami Bos."
__ADS_1
"Iya, Bos. Ma-maafkan kami."
"Ada apa? Katakan!" tanya Samuel.
"Be-begini Bos. Perintah yang Bos berikan pada kami untuk membakar perusahaan Accenture dan Galeri milik Darrendra Smith gagal Bos."
"Apa maksudmu gagal, hah?!" teriak Samuel.
"Orang-orang yang kami bawa untuk membakar Accenture dan Galeri milik Darrendra Smith langsung mati ditempat karena terkena dua laser sekaligus."
"Apa? Dua laser?" tanya Samuel dan Gustavo bersamaan.
Baik Samuel maupun Gustavo sama-sama terkejut ketika mendengar apa yang disampaikan oleh kedua tangan kanan mereka.
"Dua laser itu langsung menandai kami ketika kami mendekati Accenture dan Galeri."
"Bahkan laser-laser itu langsung memberikan serangan kepada kami ketika kami mulai melakukan tugas kami."
"Sial," batin Samuel marah.
"Ternyata kau sudah mempersiapkan semuanya, Darren! Aku salut padamu," batin Samuel.
Gustavo melihat ke arah Samuel. "Ternyata kita sudah salah menganggap remeh bajingan itu, Samuel! Lihatlah hasilnya. Justru kita banyak kehilangan anggota," ucap Gustavo.
Ketika Samuel dan Gustavo sedang dilanda rasa keterkejutannya, tiba-tiba keduanya kembali dikejutkan dengan kedatangan asisten dari Gustavo. Asisten yang bekerja Di perusahaan utama keluarga Frederick.
"Gawat, Bos!" teriak asisten itu.
"Ada apa?" tanya Samuel dan Gustavo bersamaan.
Samuel dan Gustavo menatap tajam ke arah asisten tersebut.
"Perusahaan utama keluarga Frederick hangus dilalap api, Bos!"
DEG!
Baik Samuel maupun Gustavo sama-sama terkejut ketika mendengar apa yang disampaikan oleh asistennya itu. Asistennya itu mengatakan bahwa perusahaan utama keluarga mereka hangus terbakar.
"Ja-jangan asal bicara kau. Apa kau sudah bosan hidup, hah?!" bentak Gustavo.
"Saya tidak berani berkata bohong. Apakah selama ini saya pernah membohongi Bos?"
Mendengar ucapan dari asistennya itu membuat Gustavo diam seketika. Memang benar apa yang dikatakan oleh asistennya itu bahwa asistennya itu tidak pernah berbohong selama ini.
"Jadi benar jika perusahaan utama keluarga Frederick hangus terbakar?" tanya Samuel.
"Benar, Bos."
"Siapa yang sudah berani membakar perusahaan milik mendiang Kakak laki-lakiku?" tanya Gustavo marah.
"Aku mendapatkan kabar bahwa yang membakar perusahaan utama milik keluarga Frederick adalah dari salah satu kelompok mafia. Tapi aku tidak tahu dari kelompok mana. Sementara yang menjadi dalangnya adalah Darrendra Smith."
Mendengar asisten tersebut menyebut nama Darren membuat Samuel marah.
"Aarrgggghhh! Brengsek kau Darren!" teriak Samuel.
"Darren. Aku tidak menyangka kau membalasku langsung ke sumbernya. Kau menghancurkanku tepat dititik kelemahanku. Aku benar-benar salut padamu Darren. Tapi kau jangan merasa menang dulu. Aku belum kalah. Tunggu apa yang akan terjadi selanjutnya," batin Samuel.
__ADS_1