
Orang yang melangkah masuk ke dalam ruang kerja Erland adalah Davin, putra sulung dari pernikahan pertamanya.
"Davin," lirih Erland.
"Papa kenapa? Kenapa Papa nangis?"
Erland tidak menjawabnya. Matanya masih terus menatap foto putra bungsunya.
Davin mendekati sang Ayah dan kini Davin sudah berdiri di sampingnya. Matanya pun melihat ke arah bingkai foto yang dipegang oleh Ayahnya itu.
"Pasti Papa teringat akan kejadian itukan?"
"Iya, Davin. Papa teringat kejadian saat Papa menampar adik laki-lakimu. Coba saat itu Papa lebih memilih percaya padanya pasti keadaan kita tidak seperti ini. Dan adik laki-lakimu tidak membenci kita."
"Disini bukan Papa saja yang merasa bersalah pada Darren. Aku juga. Bahkan aku yang saat itu bersikap terlalu kejam terhadap Darren."
"Sudahlah, Papa! Jangan diingat-ingat lagi kejadian itu. Yang terpenting sekarang ini adalah bagaimana caranya agar Darren mau memaafkan kesalahan kita. Kita harus segera memperbaiki hubungan kita dengan Darren. Aku tidak ingin berlama-lama dimusuhi dan dibenci oleh Darren."
"Iya. Kau benar, Davin. Kita harus segera memperbaiki hubungan kita dengan Darren. Papa juga tidak ingin Darren terlalu lama membenci kita."
"Ya, sudah! Papa jangan bersedih lagi, oke!"
"Terima kasih, sayang. Oh iya! Ada apa kamu ke ruangan Papa?"
"Oh itu. Aku hanya ingin menanyakan soal pameran lelang lukisan. Apa Papa dapat undangannya?"
"Dapat! Ini." Erland menunjukkan undangan tersebut pada Davin.
"Apa Papa sepemikiran denganku? Pameran lelang lukisan itu apa Darren salah satu pesertanya?"
"Iya, Davin. Papa juga berpikir seperti itu. Papa jadi tidak sabar menunggu besok. Dan Papa juga tidak sabar untuk melihat lukisan-lukisan adik laki-lakimu itu," ucap Erland sembari tersenyum.
"Aku juga, Papa!" seru Davin.
***
[PERUSAHAAN ACCENTURE]
Saat mereka bertiga sedang asyik didunia mereka, tiba-tiba seseorang datang membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.
CKLEK!
Lalu kemudian orang itu langsung masuk dan tanpa ada rasa malu orang itu langsung memeluk Darren. Hal itu sukses membuat Darren, Willy dan Qenan terkejut.
"Sayang. Aku sangat merindukanmu."
"Maafkan saya, Bos. Saya...." ucapan sekretaris itu terpotong.
"Tidak apa-apa. Kembalilah bekerja," kata Willy.
__ADS_1
"Baik, Bos." Sekretaris itu pun langsung pergi.
"Lepaskan." Darren langsung menarik kasar tangan wanita itu yang memeluk tubuhnya, lalu mendorong kuat tubuh wanita itu. Wanita itu adalah Helena.
"Kenapa kau seperti, Ren? Apa kau tidak merindukanku?"
"Apa tujuanmu datang kemari, Helena?" Bukannya menjawab. Justru Darren balik memberikan pertanyaan pada Helena.
"Pertanyaan apa itu, sayang. Aku datang kesini karena aku sangat merindukanmu," jawab Helena.
"Huueeekkk.. Najis," batin Willy.
"Dasar perempuan tidak tahu malu. Menjijikkan," batin Qenan.
"Tapi aku tidak merindukanmu sama sekali. Bahkan kehadiranmu saat ini membuat moodku hancur," sahut Darren dingin.
"Sayang. Aku tahu kau masih marah padaku karena aku meninggalkanmu dulu. Tapi saat itu aku terpaksa meninggalkanmu. Pria itu mengancamku dan menyuruhku untuk meninggalkanmu. Kalau aku tidak melakukannya pria itu akan menghancurkan keluargaku," ucap Helena bohong.
"Hahaha. Kau pikir aku ini bodoh, hah! Kau meninggalkanku setelah mendapat kabar bahwa aku pergi meninggalkan keluargaku yang kaya raya dan memilih hidup sendiri. Kau mendekatiku kembali saat mengetahui bahwa aku memiliki banyak uang dan kekayaan," batin Darren.
Darren tidak mempedulikan ocehan Helena. Begitu juga Willy dan Qenan. Mereka benar-benar jijik melihat kelakuan Helena.
Helena yang melihat Darren yang hanya diam dan tidak mengatakan apapun, dirinya berusaha untuk menarik perhatian Darren. Helena menyentuh seluruh tubuh Darren mulai dari perut hingga dada.
Darren yang melihat Darren yang berani menyentuhnya, tangannya langsung memegang tangan Helena dengan kuat sehingga membuat Helena meringis. Setelab itu, Darren menghempaskan kasar tangannya.
"Jauhkan tanganmu!" ucap Darren dingin.
"Helena. Jika tidak ada hal penting yang ingin kau bicarakan. Lebih baik kau pergi saja dari sini," usir Willy
"Lagian beberapa hari ini kami sangat sibuk. Dan tidak ada waktu untuk berleha-leha," sela Qenan.
"Kenapa kalian berani mengusirku? Sedangkan Darren yang pemilik Perusahaan ini saja tidak mengusirku. Jangan belagu jadi orang. Kalian bukan siapa-siapa di Perusahaan ini," ucap Helena dengan menatap tak suka ke arah Willy dan Qenan.
"Diam kau!" bentak Darren. Helena yang mendapatkan bentakan dari Darren menjadi terkejut.
"Kau membentakku, Ren?" tanya Helena.
"Iya. Kenapa?" ucap dan tanya Darren sembari menatap tajam Helena.
"Demi mereka kau berani membentakku?" tanya Helena lagi.
"Memangnya kenapa? Dan apa peduliku. Kita sudah tidak memiliki hubungan apapun. Jika pun kita masih memiliki hubungan, kau tidak berhak bersikap kasar pada sahabat-sahabatku. Perusahaan ini memang milikku. Tapi mereka juga ikut andil dalam memajukan Perusahaan ini. Mereka selalu ada untukku. Baik dulu maupun sekarang. Apa kau mengerti!" bentak Darren.
Darren beranjak dari duduknya, lalu melangkah menuju pintu. Darren langsung membuka pintu tersebut.
CKLEK!
"Lebih baik kau pergi dari sini. Apa yang dikatakan Willy dan Qenan benar. Beberapa hari ini kami sangat sibuk. Banyak pekerjaan kami yang belum selesai," ucap Darren.
__ADS_1
"Kau! Kau mengusirku?" tanya Helena.
"Menurutmu?" Darren balik bertanya.
"Tidak. Aku tidak akan pergi. Aku masih mau disini," ucap Helena.
"Jika itu maumu. Baiklah. Tunggu sebentar."
DarrenĀ berteriak memanggil staf keamanan. Tidak butuh lama, dua keamanan datang menghampirinya.
"Ada apa, Bos."
"Usir perempuan gila itu dari Perusahaanku. Dan pastikan perempuan itu untuk tidak datang lagi ke Perusahaanku. Jika sampai perempuan gila itu kembali lagi kesini, aku pecat kalian. Mengerti!"
"Baik, Bos."
Lalu kedua staf keamanan itu langsung menarik paksa tangan Helena. Setelah kepergian ketiganya, Darren kembali masuk dan menutup pintu ruangannya dengan cara dibanting.
BLAAMM!
^^^
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Baik Darren, Qenan maupun Willy mereka sudah tampak kelelahan. Dan pada akhirnya mereka bertiga pun memutuskan untuk istirahat.
"Aku benar-benar lelah," sahut Willy.
"Apalagi aku," sela Qenan.
"Bagaimana denganmu, Ren?" tanya Willy.
Tidak ada jawaban dari Darren. Hal itu sukses membuat Willy dan Qenan khawatir. Lalu keduanya melihat kearah Darren. Dapat mereka lihat Darren yang sedang bersandar di punggung sofa dengan kedua matanya yang terpejam.
"Ren. Kau baik-baik saja?" tanya Qenan.
"Aku baik-baik saja, Qenan." Darren menjawab dengan suara yang sedikit lirih.
"Wajahmu pucat, Ren. Kita pulang, ya." Willy berucap dengan menatap khawatir Darren.
"Aku tidak apa-apa, Wil." Darren menjawab perkataan Willy.
"Apanya yang tidak apa-apa. Wajahmu pucat begini," sela Qenan.
"Pokoknya kau harus pulang. Aku yang akan mengantarkanmu. Dan aku tidak menerima penolakan," ucap Willy tegas.
"Ya, Ren! Pulanglah bersama Willy. Biarkan aku yang disini. Nanti aku akan menghubungi Axel, Jerry dan Dylan salah satu dari mereka untuk datang kesini membantuku. Lagian mereka tidak terlalu sibuk juga di Shoowroom. Nanti disaat uji coba mobil-mobil itu, aku juga akan ikut dalam menguji mobil-mobil itu." Qenan berbicara sembari membujuk Darren agar mau pulang.
Mendengar ucapan dari Qenan. Akhirnya Darren pun pasrah dan menurut. Dirinya juga saat ini benar-benar lelah dan juga Darren merasakan sedikit sakit di dadanya.
"Antarkan aku pulang ke rumahku, Willy! Aku tidak ingin pulang ke rumah keluarga Smith. Moodku sedang buruk saat ini. Aku tidak mau melihat mereka atau ribut dengan mereka," ucap Darren lirih.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan membawamu pulang ke rumahmu," jawab Willy.
Di dalam hati Willy, sejujurnya Willy juga tidak ingin membawa Darren pulang ke rumah keluarganya. Melihat beberapa hari ini Darren sering tertekan akan masalahnya dengan keluarganya. Willy berniat untuk membawa Darren pulang ke rumahnya. Dikarenakan Willy sedikit ragu, makanya Willy hanya menunggu jika Darren yang memintanya. Dan pada akhirnya, keinginan dan niatnya tersampaikan.