KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Menjalankan Rencana


__ADS_3

[SHOOWROOM BMWX]


Setelah mendapatkan telepon dari Darren. Jerry, Dylan dan Axel langsung meluncur ke SHOOWROOM. Sesuai yang dikatakan Darren saat ini mereka tengah mempersiapkan rencana berikutnya.


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Axel.


"Sudah, Bos!" jawab para beberapa karyawan yang diperintahkan untuk memindahkan semua mobil ke gudang penyimpanan dan hanya menyisakan satu mobil saja di aula.


"Apa kalian yakin?" kini Jerry yang bertanya.


"Yakin, Bos! Kami sudah berulang kali mengerjakannya," jawab salah satu karyawan laki-laki.


"Bagus kalau begitu," jawab Dylan.


"Jangan sampai ada kesalahan," sahut Jerry.


"Pasti, Bos!" jawab mereka semua.


Ketika ketiganya tengah fokus dengan tugas-tugas mereka. Darren dan Helena pun datang. Darren langsung menghampiri ketiga sahabatnya itu.


Sementara Helena menatap takjub SHOOWROOM BMWX milik Darren. Tanpa disadari olehnya, Darren dan ketiga sahabatnya memperhatikan gerak-geriknya ketika sedang memperhatikan sekitarnya. Mereka menatap tajam kearahnya.


"SHOOWROOM yang besar dan juga mewah. Benar apa yang dikatakan oleh tangan kanannya Samuel, jika bajingan ini benar-benar sudah menjadi orang yang paling kaya. Menyesal aku sudah meninggalkannya dulu," batin Helena.


"Bagaimana? Apa sudah disiapkan apa yang aku minta?" tanya Darren.


"Sudah, Ren." Axel, Jerry dan Dylan menjawab bersamaan.


"Sebenarnya untuk siapa mobil itu, Ren?" tanya Axel.


Darren melihat kearah Helena. Begitu juga dengan Helena. Helena juga melihat ke arah Darren.


"Helena, kemarilah."


Helena pun menghampiri Darren dan ketiga sahabatnya.


"Hallo Jerry, Dylan, Axel." Helena menyapa ketiganya sembari mengulurkan tangannya.


Jerry, Axel dan Dylan tidak mempedulikan sapaan dan uluran tangan Helena. Helena yang merasa diabaikan hanya mengangkat bahunya, lalu menarik kembali tangannya.


"Ren. Kau belum menjawab pertanyaanku barusan. Untuk siapa mobil itu?" Axel mengulangi lagi pertanyaannya tersebut.


Darren memeluk pinggang Helena, lalu menariknya agar mendekat. Kemudian Darren mencium pipi kanan Helena.


"Mobil itu untuk kekasihku ini, Axel!" Darren menjawab pertanyaan dari Axel sembari tersenyum.


Mendengar penuturan dari Darren. Helena langsung membelalakkan kedua matanya sembari menatap wajah Darren. Dalam hatinya apakah Helena tidak salah dengar, jika Darren memberikan mobil mewah untuk dirinya.


Melihat keterkejutan dari Helena. Darren tersenyum. Dirinya menatap lekat wajah Helena.


"Kenapa? Apa kau tidak percaya jika aku akan memberikanmu mobil mewah, hum?" tanya Darren.


Helena langsung mengangguk-angguk kepalanya.


"Aku serius. Mobil mewah berwarna silver yang ada di hadapanmu itu adalah milikmu. Aku memang dari dulu ingin memberikanmu mobil," ucap Darren.


Helena menatap binar ke arah mobil tersebut. Mobil idamannya selama ini. Mobil incarannya selama ini. Akhirnya dirinya bisa memilikinya.


"Be.. benarkah mobil itu untukku, sayang?"

__ADS_1


"Iya. Itu untukmu." Darren menjawab pertanyaan dari Helena. Dan tak lupa senyuman manisnya.


GREP!


"Terima kasih, sayang." Helena berucap dengan penuh kebahagiaan.


Sementara Darren, Jerry, Dylan dan Axel tersenyum kemenangan karena telah membuat Helena masuk ke dalam permainannya sendiri.


"Rencana pertama mendapatkan hati bajingan ini telah sukses. Sekarang mendapatkan sebuah mobil mewah dari bajingan sialan ini. Rencanaku berjalan dengan sangat sempurna," batin Helena.


"Tunggu saja apa yang sedang menantimu. Helena Orlando," batin Jerry dengan menatap tajam Helena.


Helena melepaskan pelukannya dari Darren, lalu mencium pipi Darren.


"Sekali lagi terima kasih, sayang."


"Sama-sama, sayang."


"Jerry, berikan kuncinya." Darren berucap dengan mengarahkan tangannya.


"Ren. Apa kau yakin akan memberikan mobil itu pada wanita sialan ini?" ucap dan tanya Jerry.


"Apa kau tidak ingat apa yang telah dilakukan oleh wanita ini padamu?" tanya Axel.


"Sadarlah, Ren! Wanita ini hanya memanfaatkanmu saja. Wanita ini tidak benar-benar mencintaimu," kata Dylan.


"Sudahlah. Kalian urusi saja pekerjaan kalian. Jangan campuri masalah pribadiku," sahut Darren.


"Tapi, Ren..." ucapan Axel terpotong.


"Mana kuncinya?" bentak Darren.


"Ini."


"Kau akan menyesal, Ren!" ucap Dylan.


"Aku tidak akan pernah menyesal atas apa yang sudah aku lakukan hari ini," jawab Darren dengan penuh penekanan.


Melihat perdebatan antara Darren dan ketiga sahabatnya membuat Helena tersenyum di dalam hati. Lebih tepatnya senyuman kemenangan. Dirinya berhasil menguasai Darren dengan cara berbeda, bukan cara seperti dulu lagi.


"Dasar bodoh. Kau lebih mempercayaiku dari pada sahabatmu sendiri. Benar apa yang dikatakan oleh Dylan. Kau pasti akan menyesal, Darren! Kau sudah kehilangan empat sahabatmu untuk selamanya. Dan sekarang kau malah menyia-nyiakan tiga sahabatmu yang tersisa demi aku," batin Helena.


"Sayang. Lebih baik batalkan saja niatmu untuk memberikan mobil itu untukku. Lain kali saja ya! Jangan hanya karena kau ingin memberikanku mobil, kau sampai bermusuhan dengan Jerry, Axel dan Dylan. Akunya yang jadi tidak enak disini. Aku tidak ingin dikatakan orang yang sudah merusak hubungan persahabatan kekasihku." Helena berbicara dengan lembut sembari mengusap lembut pipi Darren.


Darren memegang kedua bahu Helena, lalu menatap kedua matanya.


"SHOOWROOM ini milikku. Jadi aku bebas melakukan apapun yang aku mau, termasuk memberikan mobil itu kepadamu. Sekali pun aku bertengkar dengan Jerry, Axel dan Dylan. Itu bukan kesalahanmu. Kau mengerti!" ucap Darren tegas.


"Tapi....." perkataan Helena terpotong.


"Tidak tapi-tapian dan aku tidak menerima penolakan. Ini kunci mobilnya. Mulai hari ini, mobil itu resmi menjadi milikmu."


"Baiklah kalau begitu. Aku akan terima. Terima kasih ya, sayang."


"Eemm."


"Yeess!" batin Helena.


Ketika Helena sedang berbahagia, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Helena langsung mengambil ponselnya di dalam tasnya.

__ADS_1


Ketika ponselnya sudah berada di tangannya, terlihat di layar ponselnya nama sang Ibu.


Tanpa pikir panjang lagi, Helena langsung menjawab panggilan dari Ibunya itu.


"Hallo, Mama."


"Hallo, Helena. Kau ada dimana, sayang?"


Helena dapat mendengar suara lirih dari Ibunya itu. Seketika Helena menjadi khawatir.


"Aku berada di SHOOWROOM milik Darren, Mama!"


Mendengar nama Darren, Ibunya langsung marah.


"Mengapa kau bisa ada disana? Dan kenapa juga kau bisa dekat dengan laki-laki yang telah menyakiti Papamu, Helena!"


"Nanti aku jelaskan, Mama. Sekarang katakan padaku, ada apa?"


"Pulang sekarang. Di rumah ada beberapa polisi dan juga beberapa rekan-rekan bisnis Papamu. Mereka semua marah besar dan juga mereka meminta pertanggung jawaban Papamu atas apa yang telah dilakukan oleh Papamu terhadap mereka. Mama tidak mengerti, apa maksud dari perkataan mereka."


Mendengar penuturan dari ibunya, Helena semakin panik dan khawatir.


"Baiklah, Mama. Aku akan segera pulang."


PIP!


Setelah berbicara dengan Ibunya, Helena langsung mematikan teleponnya. Helena menatap wajah Darren.


"Aku harus segera pulang, sayang!" ucap Helena.


"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Darren yang menunjukkan wajah sok baiknya.


"Aku tidak tahu pasti. Tapi Mama mengatakan ada beberapa orang yang datang ke rumah untuk meminta pertanggung jawaban dari Papa," jawab Helena.


"Eeemm! Pasti ini yang dimaksud oleh kakak Enzo," batin Darren tersenyum.


"Apa perlu aku antar?" tawar Darren.


"Tidak usah, sayang. Kalau kau mengantarku pulang, Mama pasti akan marah-marah padamu. Aku tidak mau menambah masalah lagi," jawab Helena.


"Ya, sudah. Kau pulanglah dengan mobil yang aku berikan itu. Kau tidak perlu khawatir. Tidak akan ada yang menilangmu hanya karena mobil itu masih baru," ucap Darren.


"Eemm... baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu, ya! Kasihan Mama hanya di rumah sendirian," pamit Helena.


"Berhati-hatilah," balas Darren.


Setelah itu, Helena langsung menghampiri mobil tersebut dimana mobil itu sudah dibawa keluar oleh beberapa karyawan. Dan saat ini mobil tersebut sudah berada di depan halaman SHOOWROOM.


Helena langsung masuk ke dalam mobil itu, lalu kemudian menghidupkannya. Setelah itu, Helena pun menjalankan mobil tersebut.


Sementara Darren, Jerry, Axel dan Dylan tersenyum bak iblis karena rencana mereka berhasil membuat Helena menerima mobil tersebut. Dan langsung menggunakannya.


"Kejutan selanjutnya segera menghampirimu, sayang." Darren berucap di dalam hatinya.


"Bersiap-siaplah, Helena Orlando. Sesuatu menantimu diluar sana," batin Axel.


"Ucapkan selamat tinggal untuk masa depanmu, Helena Orlando!" batin Dylan.


"Selamat menikmati hadiahnya. Semoga kau suka," batin Jerry.

__ADS_1


__ADS_2