
[Apartemen]
Di sebuah Apartemen terlihat seorang gadis cantik tengah sibuk dengan tugas-tugas Kampusnya. Bukan tugas materi kuliah, melainkan tugas mengumpulkan data-data dan nama-nama dari para kelompok Organisasi. Dimulai dari ketuanya, wakil, sekretaris, bendara sampai anggota-anggotanya.
Gadis itu mencatat terlebih dahulu nama-nama yang sudah dia dapatkan, walau baru beberapa saja. Setelah itu, barulah gadis itu akan meminta tanda tangan.
Ketika gadis itu tengah sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara bunyi ponselnya.
Gadis itu melirik kearah layar ponselnya yang mana ponselnya itu kebetulan terletak di sampingnya.
Seketika terukir senyuman manis di bibir gadis cantik itu ketika melihat nama tertera di layar ponselnya. Kemudian gadis itu pun menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Papi!"
"Hallo, Sayang! Kamu sedang apa, hum?"
"Aku sedang bicara denga Papi sekarang!"
"Hahahaha."
Seketika pria yang dipanggil Papi oleh gadis itu tertawa.
"Kalau itu Papi tahu, Sayang! Maksud Papi itu kamu sedang apa sekarang?"
"Hehehehe. Maaf, Pi! Aku bercanda. Ini aku sedang mendata-data nama-nama dari kakak kelasku di Kampus yang masuk dalam keanggotaan Organisasi di Kampus."
"Kalau misalnya selesai dengan mendata nama-nama kakak kelas kamu. Mau kamu apakan data-data itu, Sayang?"
"Aku harus mendatangi mereka satu-satu dan kemudian meminta tanda tangan mereka. Papi tahu tidak? Aku tidak tahu ada berapa keanggotaan Organisasi yang ada di Kampus. Bahkan jenis kegiatannya juga aku belum hafal semua. Ini saja aku baru mengumpulkan sekitar 50 nama-nama anggota Organisasi, itu pun dari dua kegiatan. Olahraga dan Seni."
Mendengar ucapan sekaligus curhatan dari putri bungsunya membuat pria itu tidak tega.
"Apa kamu masih mau kuliah di Jerman? Apa tidak seba...."
"Aku nyaman kuliah disini, Pi! Apalagi Kampus yang aku kuliah sekarang ini adalah Kampus yang terkenal dan ternama nomor 1 di Hamburg, Jerman. Banyak orang yang ingin kuliah di Kampus itu."
"Papi jangan salah paham dulu setelah mendengarkan ucapanku tadi. Sebenarnya ini salahku dan salah semua mahasiswa dan mahasiswi baru. Kita diberikan tugas sama kakak-kakak kelas. Dan waktu yang diberikan lumayan lama yaitu satu bulan. Tapi kami justru tidak mengerjakannya dengan baik. Kami mengerjakannya tidak sesuai arahan dan bimbingan dari ketua Tim masing-masing. Bahkan ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi nakal yang tidak mengerjakannya sama sekali sehingga membuat semua kakak-kakak kelas yang membimbing kami frustasi."
"Ketika kami mau dihukum, salah satunya justru memberikan waktu untuk kami istirahat. Namun ketika kami hendak istirahat, datang ketua Tim dari semua kelompok. Dia menjabat semua jenis kegiatan di kampus bahkan dia menjabat sebagai pemimpin di Kampus itu. Dia meminta kami kembali ke posisi semula."
"Pasti kakak kelas kamu itu yang memberikan tugas untuk meminta tanda tangan semua anggota Organisasi itu?" tanya sang ayah yang bisa langsung menebak.
"Benar, Pi! Kakak kelas yang satu ini benar-benar galak. Berbeda dengan kakak-kakak kelas yang lainnya. Dia memberikan waktu satu bulan untuk kami mendapatkan semua tanda tangan dari anggota-anggotanya yang bergabung dalam kegiatan di Kampus. Jika kurang, hanya diperbolehkan dua saja. Misalkan jika jumlah anggota Organisasinya ada 40, maka boleh 38 jika tidak mendapatkan 40. Kurang dari 38 atau 40, maka akan mendapatkan hukuman lebih berat lagi. Jika tidak mampu dan ingin protes, maka silahkan tinggalkan Kampus tersebut dan cari Kampus lain."
"Semangat terus untuk kamu, Sayang. Jangan pernah menyerah dalam hal apapun. Selama itu baik, lakukanlah."
"Baik, Pi!"
"Oh iya! Bagaimana kabar Pamanmu Paman Evan dan Bibi Carissa? Apa kamu sudah mengunjungi mereka sejak kamu datang ke Hamburg?"
"Maafkan aku, Pi! Aku belum mengunjungi Paman Evan dan Bibi Carissa. Tapi aku janji sama Papi. Besok aku akan mengunjungi mereka."
Pria tersebut tersenyum mendengar jawaban, permintaan maaf dan janji dari putrinya.
"Tidak apa-apa , Sayang! Baiklah kalau begitu. Nanti jika kamu bertemu dengan Paman dan Bibimu itu, sampai salam Papi kepada mereka terutama Paman Evan."
__ADS_1
"Baiklah, Pi. Sampai juga salamku Sam Mami, kak Atilla, kak Raffi dan dan kak Lucca. Katakan kepada mereka bahwa aku menyayangi mereka. Katakan juga bahwa aku baik-baik disini."
"Siap, Sayang! Ya, sudah! Papi matikan panggilannya. Kamu lanjutkan tugas kamu. Dan ingat! Jangan lupa istirahat. Papi tidak ingin kamu sakit."
"Baik, Pi!"
Setelah itu, keduanya sama-sama mematikan panggilannya setelah berbicara cukup lama.
***
"Aakkkhhh!" pelayan wanita itu berteriak kesakitan di bagian tangan kanannya akibat dipelintir kuat oleh seorang pemuda yang tidak dia kenal.
Mendengar teriakan kesakitan dari pelayan itu membuat para pengunjung terkejut dan ada juga yang merinding ketika melihat seorang pemuda yang tiba-tiba datang dan langsung menyerang pelayan itu.
Carinna yang melihat kedatangan seorang pemuda seketika tersenyum ketika melihat jelas wajah dari pemuda itu.
"Nak Darren!"
Darren tersenyum ketika mendengar sapaan dari Carinna ibunya Samuel.
"Apa bibi terluka?"
"Tida, Sayang! Bibi baik-baik saja. Untung ada kamu. Kalau kamu tidak datang lebih cepat, kemungkinan tangan kotor pelayan perempuan itu sudah menyentuh pipi Bibi."
"Sebenarnya apa yang terjadi? Dan kenapa pakaian Bibi kotor seperti itu?" tanya Darren melihat kearah pakaian yang dikenakan oleh Carinna.
"Ini karena ada sebuah mobil lewat di depan Bibi. Kebetulan di depan ada genangan air. Yah, begini jadinya. Pakaian Bibi jadi basah dan kotor."
"Lalu perempuan sialan ini menghina Bibi dan merendahkan Bibi hanya karena pakaian Bibi yang basah dan sedikit kotor itu?"
"Apa yang dilakukan oleh pelayan menjijikan ini kepada Bibi?"
"Pertama, dia menarik dengan kasar buku menu dari tangan Bibi. Kedua, dia langsung meminta Bibi untuk pergi meninggalkan Cafe ini. Ketiga, dia mengatakan bahwa Bibi sayang kesini untuk meminta belas kasihan agar diberikan makan gratis. Bahkan dia juga mengatakan bahwa bibi berpura-pura memesan makanan disini. Bukan itu saja, wanita ini juga mengatakan bahwa Bibi berasal dari keluarga rendahan."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Carinna, ibunya Samuel. Membuat Darren seketika menatap tajam kearah pelayan wanita itu.
Sreeekkk..
"Aakkhhh!" pelayan wanita itu kembali berteriak akibat pemuda yang ada di belakangnya kembali memelintir tangannya hingga kuat.
"Anda benar-benar wanita menjijikan. Bisa-bisanya anda berbicara seperti kepada pelanggan anda!"
"Le-lepas-kan," ucap pelay wanita itu dengan suara bergetarnya.
"Hahahaha. Apa anda bilang? Lepaskan?! Setelah apa yang anda lakukan beberapa menit yang lalu kepada pelanggan anda, bahkan anda hendak menamparnya. Sekarang anda meminta saya untuk melepaskan anda. Jangan harap!"
Darren mengambil ponselnya di saku celananya, kemudian Darren menekan aplikasi Kontak lalu mencari nama Samuel disana.
Setelah mendapatkannya, Darren pun langsung menghubungi Samuel dengan menggunakan video call.
Beberapa detik kemudian..
"Hallo, Darren!"
Terlihat wajah Samuel di layar ponselnya.
__ADS_1
"Apa aku mengganggumu?"
"Tentu tidak! Kenapa?"
"Kau lihat ini!" Darren merubah kamera depan menjadi kamera belakang menghadap kearah Carinna.
"Mama!"
"Samuel!"
Samuel terkejut ketika melihat pakaian ibunya yang basah dan sedikit kotor.
"Kenapa dengan Mama? Dan kenapa pakaian Mama basah dan kotor? Mama ada dimana sekarang?"
Carinna seketika tersenyum ketika mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari putra sulungnya. Dia paham bahwa putranya saat ini mengkhawatirkan dirinya.
"Kamu tidak perlu khawatir, oke! Mama baik-baik saja. Pakaian Mama seperti ini karena ada mobil yang lewat tepat di genangan air sehingga mengenai pakaian Mama. Mama baru pulang dari butik Mama, lalu singgah sebentar untuk memesan makanan untuk kedua adik perempuan kamu yang Mama tinggalkan di rumah."
"Lalu apa yang terjadi? Tadi aku sempat melihat Darren yang bersikap kasar pada seorang wanita. Dan wanita itu sepertinya seorang pelayan."
Ketika Carinna hendak menjawab pertanyaan dari putra sulungnya itu, Darren sudah terlebih dulu bersuara sehingga membuat Samuel marah.
"Pelayan menjijikan ini sudah bersikap buruk terhadap ibu lo. Apa lo tidak ingin membalas perbuatannya, hum?"
"Gue boleh minta tolong sama lo, Ren?"
"Apa? Katakan!"
"Gue mau anggota keluarga dari pelayan menjijikan itu hancur. Dan untuk pelayan itu menjadi pengangguran seumur hidup. Tidak ada satu manusia pun mau menerima dia bekerja. Begitu juga dengan keluarga."
Mendengar permintaan dari Samuel membuat Darren seketika tersenyum di sudut bibirnya. Ini yang dia inginkan, membuat hancur orang-orang yang selalu memandang rendah orang lain hanya karena melihat penampilan luarnya.
"Dengan senang hati, saudara Samuel?"
Sementara pelayan wanita itu seketika ketakutan ketika mendengar ucapan demi ucapan dari dua pemuda, baik pemuda yang menyakiti tangannya maupun pemuda yang ada di seberang telepon yang tak lain adalah putra dari wanita yang dia hina dan dia rendahkan.
"Lalu bagaimana dengan pelayan yang lainnya dan manager Cafe ini? Mereka sejak tadi mendengar dan melihat, namun mereka hanya diam saja."
"Kalau begitu samakan saja hukumannya dengan pelayan menjijikan. Buat mereka semua hancur!"
Deg..
Para pelayan lainnya dan sang Manager terkejut dan syok ketika mendengar obrolan Darren dan Samuel. Mereka tidak menyangka jika perbuatannya yang hanya diam tanpa mencegah rekannya akan menjadi seperti ini.
"Baiklah. Dengan senang hati aku akan melakukannya."
"Terima kasih." Mama langsung pulang saja. Biar aku yang membelikan makan malam untuk Jihan dan Yelly. Termasuk untuk Mama dan aku."
"Baiklah, Sayang!"
Selesai berbicara dengan Samuel. Baik Darren maupun Samuel sama-sama mematikan panggilannya.
Dan setelah itu, Darren pun mulai memberikan hukuman kepada orang-orang yang suka memandang rendah orang lain.
Sementara Carinna sudah minta izin kepada Darren untuk pulang ke rumah sesuai keinginan putranya.
__ADS_1