
Di kediaman Santa terlihat seorang pemuda tengah duduk di kursi kebesarannya. Pemuda itu adalah Rolando Santa.
Rolando saat ini tengah berkutat dengan laptopnya. Ada sedikit pekerjaan kantornya yang belum terselesaikan.
Setelah satu setengah jam berkutat dengan laptopnya, Rolando pun selesai.
Selesai dengan pekerjaannya itu, Rolando langsung mematikan laptopnya.
Rolando menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya. Dan detik kemudian, dia tersenyum memikirkan rencana besok untuk menghancurkan perusahaan milik musuhnya yaitu Darren. Begitu juga dengan perusahaan milik ketujuh sahabatnya.
"Darren. Sebentar lagi kau akan kehilangan perusahaan Accenture. Bagaimana pun kau harus merasakan apa yang dirasakan oleh ayahku saat dia kehilangan perusahaannya akibat ulahmu dan ketujuh sahabat-sahabatmu."
"Setelah aku menghancurkan perusahaan milikmu dan juga milik ketujuh sahabatmu. Aku akan menghabisimu. Begitu juga dengan ketujuh sahabatmu itu. Tunggu aku, Darren!"
Rolando Santa berbicara dengan ekspresi wajah penuh dendam. Dia dendam terhadap Darren dan ketujuh sahabatnya itu.
Rolando sudah bertekad akan menghancurkan orang-orang yang sudah membuat ayahnya meninggal akibat kehilangan perusahaannya.
Ketika Rolando sedang memikirkan rencananya untuk menghancurkan perusahaan milik Darren dan ketujuh sahabatnya, tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi dari ponselnya.
Mendengar bunyi notifikasi tersebut, Rolando langsung mengambil ponselnya dan melihat sebuah pesan WhatsApp dari adik laki-laki kesayangannya.
Rolando tersenyum ketika mendapatkan pesan WhatsApp dari adik laki-lakinya itu.
Rolando membuka lalu membaca isi dari pesan WhatsApp dari adik laki-lakinya itu.
Deg!
Rolando seketika terkejut ketika membaca isi pesan dari adik laki-lakinya. Isi pesan itu menuliskan bahwa Bar milik adik laki-lakinya itu akan diserang oleh sekelompok orang yang tak dikenal.
Dipesan itu juga tertulis bahwa kelompok itu dibayar oleh beberapa orang yang tidak menyukai kesuksesan adik laki-lakinya dalam mengembangkan usaha Bar nya.
Roger, adik laki-lakinya itu meminta untuk dikirimkan pasukan sebanyak 350 pasukan. Sementara adik laki-lakinya itu hanya memiliki 100 orang pasukan.
Setelah membaca pesan dari adik laki-lakinya itu, Rolando langsung menghubungi tangan kanannya dan memerintahkan tangan kanannya itu untuk mengirimkan sekitar 350 pasukan membantu adik laki-lakinya yang saat ini berada di Bar bersama 100 pasukannya.
"Hallo, Bos!"
"Kirimkan pasukan 350 ke Bar milik adik laki-lakiku. Ada sekelompok orang yang akan menyerang Bar milik adik laki-lakiku."
"Baik, Bos!"
Setelah mengatakan itu, Rolando langsung mematikan panggilannya. Begitu juga dengan tangan kanannya.
***
Di kediaman Dilbara, Nicko saat ini tengah berada di ruang kerjanya. Pria itu saat ini tengah menunggu kabar dari tangan kanannya yang tengah menjalankan perintah darinya untuk membunuh orang-orang yang melindungi Anin, keponakannya.
Saat ini Nicko sudah tidak sabaran menunggu tangan kanannya itu membawa pulang keponakan manisnya itu.
Ketika Nicko tengah menunggu kabar dari tangan kanannya itu, tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi menandakan panggilan masuk dari seseorang.
Nicko melihat nomor ponsel yang beberapa hari ini yang sering dia hubungi.
"Hallo, tuan Nicko! Apa kabar, hum!"
Mendengar sapaan yang mengandung ejekan dari lawan bicaranya membuat Nicko mengepalkan kuat tangannya.
"Mau apa kau menghubungiku!"
"Kenapa? Apa aku tidak boleh menghubungi Paman dari putri angkatku, hum? Kemarin-kemarin kau terlalu bersemangat ketika menghubungku. Tapi kenapa sekarang terdengar lesu? Oh iya! Apa jangan-jangan, rencana tuan Nicko ingin membawa keponakannya pulang mengalami kegagalan? Kalau itu benar, aku secara pribadi turut berduka cita atas kegagalan tuan Nicko."
Mendengar ucapan demi ucapan. Serta ejek-ejekan dari Darren membuat Nicko benar-benar marah.
"Di dalam hidupku tidak ada yang namanya kegagalan. Semua yang aku lakukan dan aku rencanakan selalu membuahkan hasil. Kau tunggu saja kejutan dariku. Sebentar lagi kau akan berpisah dengan putri angkatmu."
"Oh, aku takut! Baiklah, tuan Nicko! Aku berdoa kepada Tuhan agar rencanamu kali ini mengalami kegagalan. Selamat siang."
Setelah mengatakan itu, Darren langsung mematikan panggilannya secara sepihak.
***
Darren saat ini berada di ruang tengah. Sedari tadi dia tersenyum penuh kebahagiaan.
Bagaimana tidak bahagia. Sejam yang lalu, Zaky memberitahu dirinya mengenai keberhasilannya dan yang lainnya dalam menghabisi semua anggota Nicko Dilbara.
Zaky juga mengatakan kepadanya bahwa semua rencana yang telah disusun berjalan dengan sangat sempurna. Jadi, bisa dipastikan bahwa Nicko tidak memiliki pendukung atau anak buah lagi.
Kebahagiaan Darren bertambah menjadi dua kali lipat dimana beberapa menit yang lalu dia baru saja mengirimkan sebuah pesan kepada Rolando dengan menggunakan ponsel milik Rogert, adik laki-lakinya Rolando. Dan kemungkinan sebentar lagi, Rolando juga akan bernasib sama seperti Nicko.
__ADS_1
Disaat Darren tengah berbahagia akan rencana dan kabar bahagia dari Zaky. Tanpa Darren ketahui bahwa kedua orang tuanya, Adnan, Gilang, Darka dan kelima adik laki-lakinya menatap dirinya dengan tatapan bingung dan juga penasaran.
"Ehem!" Erland seketika berdehem ketika dia dan yang lainnya sudah berada di ruang tengah. Bahkan sudah duduk santai disana.
Darren yang sejak tadi asyik dengan dunianya seketika terkejut mendengar deheman seseorang.
Darren langsung melihat keasal suara. Dan dapat Darren lihat bahwa ayah, Ibu ketiga kakak-kakaknya dan kelima adik-adiknya telah duduk di sofa dengan tatapan matanya menatap dirinya.
"Sepertinya putra Papa yang tampan ini sedang berbahagia. Bolehkah berbagi dengan Papa, hum?"
"Kita juga!" seru Adnan, Gilang, Darka, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin bersamaan.
"Apalagi Mama. Mama pengen tahu sekali apa yang membuat putra Mama ini sejak tadi tersenyum," ucap Agneta.
Darren makin melebarkan senyumnya ketika melihat wajah penasaran dari anggota keluarganya.
"Ayolah, Ren! Jangan senyum-senyum mulu. Kasih tahu dong!" seru Adnan.
"Iya, iya! Semua rencana yang sudah kita susun beberapa hari ini berjalan dengan sangat lancar," sahut Darren.
Mendengar ucapan dari Darren membuat Erland, Agneta, Adnan, Gilang, Darka, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin seketika terkejut sekaligus bahagia.
"Benarkah, Ren?" tanya Gilang.
"Hm!" Darren bergumam sembari menganggukkan kepalanya.
"Jadi?" tanya Darka.
"Nicko Dilbara sudah tidak memiliki pendukung dan juga sudah tidak memiliki anak buah lagi. Bahkan markasnya juga sudah dihancurkan," ujar Darren.
"Ini adalah kabar yang sangat menggembirakan, kakak Darren!" seru Ivan.
"Hm." Adrian, Mathew, Nathan dan Melvin menggumam sambil mengangguk setuju.
"Dan beberapa menit yang lalu aku baru saja mengirimkan sebuah pesan kepada Rolando dengan menggunakan ponsel milik Rogert, adik laki-lakinya. Dan sebentar lagi kita semua akan mendapatkan kejutan selanjutnya," ucap Darren.
"Kakak nggak sabar menunggu kabar itu," ucap Darka.
"Kakak juga," sela Gilang.
***
Ketika mereka sampai di lokasi. Mereka sama sekali tidak melihat tanda-tanda bahwa sekelompok orang yang akan menyerang Bar milik Roger. Bahkan mereka bisa melihat keadaan sekitar Bar dalam keadaan tenang dan damai.
"Bos. Semuanya aman. Tidak ada yang mencurigakan. Bahkan kita sudah setengah jam berada disini. Tapi para kelompok itu tak kunjung datang," ucap salah satu anggotanya.
"Apa ini jebakan, Bos?!"
Mendengar perkataan dari salah satu anggotanya seketika pemuda itu pun menyadarinya. Pemuda itu pun sadar bahwa semua ini adalah jebakan.
Namun sayangnya ketika mereka semua telah menyadari bahwa semua itulah adalah jebakan. Semuanya telah terlambat.
Disisi lain dilokasi yang sama hanya beberapa meter saja jarak yang memisahkan keduanya dimana tangan kanan dari Devian dan Chico yaitu Dorris, Marco, Daksa dan Marcel serta beberapa anggotanya tengah memperhatikan para anak buahnya Rolando Santa.
Beberapa dari mereka telah mempersiapkan senjatanya dengan membidik tepat sasaran kearah para anak buahnya Rolando Santa.
Beberapa detik kemudian...
Daksa dan Dorris secara bersamaan mengangkat tangannya ke udara lalu memberikan kode untuk menembak para anak buahnya Rolando Santa.
"Sekarang!" seru Daksa dan Dorris bersamaan.
Para anggotanya pun membidik tepat sasaran kearah para anak buahnya Rolando Santa.
Sementara sang pemimpin yang melihat anggotanya tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri dengan memandikan cairan merah di seluruh tubuhnya seketika terkejut.
Pemuda itu tidak tahu apa penyebabnya. Jika para anggotanya terkena tembakan. Pasti dia bisa mendengarnya. Tapi suara tembakan sama sekali tidak terdengar.
Ketika sang pemimpin bersama dengan anggotanya yang tersisa hendak melawan dengan mengarahkan senjatanya masing-masing. Mereka kembali mendapatkan serangan misterius secara beruntun sehingga membuat mereka tidak bisa memberikan perlawanan.
Sekitar 200 anggotanya tewas. Kini tersisa 150 anggotanya lagi ditambah dengan dirinya.
Srrek! Srrek!
Terdengar suara bunyi senjata dari beberapa arah. Sang pemimpin dan sisa anggota tersebut langsung memperhatikan sekitarnya.
Mereka seketika terkejut melihat beberapa kelompok berpakaian hitam dan dengan wajah yang ditutupi topeng melangkah menuju kearah mereka.
Sang pemimpin beserta 150 anggota yang tersisa terkejut ketika melihat dan mengetahui dari kelompok mana kelompok berpakaian hitam itu.
__ADS_1
"Bos, mereka itu dari kelompok mafia Latin King dan Area Boy!" seru salah satu anggotanya.
"Iya, saya tahu itu. Tapi kenapa mereka ada disini. Dan kenapa mereka menyerang kita. Setahuku Bos Rolando tidak pernah mengusik kedua kelompok mafia itu. Apalagi tiga kelompok mafia lainnya," ucap pemimpin itu.
Sang pemimpin dan anggotanya itu menatap kearah dua kelompok mafia itu. Mereka penasaran alasan dua kelompok itu menyerangnya dan anggotanya.
"Kenapa kalian menyerang kami? Apa kesalahan kami? Kami bahkan tidak pernah mengusik kelompok kalian," ucap dan tanya sang pemimpin itu.
"Kalian bahkan Bos kalian memang tidak pernah mengusik kelompok kami. Tapi kalian dan juga Bos kalian itu sudah mengusik kedelapan adik laki-laki dari para ketua kami!" bentak Dorris.
"Siapa kedelapan adik laki-laki dari ketua kalian?" tanya sang pemimpin.
"Apa kalian yakin ingin tahu, hah?!" bentak Daksa.
"Katakan saja! Siapa mereka?"
"Mereka adalah para putra-putra bungsu dari keluarga Smith, keluarga William, keluarga Dominic, keluarga Dustine, keluarga Zordy, keluarga Antonius, keluarga Carlo dan keluarga Immanuel!" Carly menyebutkan satu persatu nama delapan keluarga besar dan keluarga terkaya nomor satu di dunia dan di Jerman.
Mendengar jawaban dari salah satu pemuda yang ada di hadapannya itu membuat sang pemimpin dan anggotanya terkejut. Mereka tidak menyangka jika musuh Bos nya itu adalah kedelapan adik laki-laki dari kelima ketua mafia nomor satu di dunia.
"Bagaimana? Sudah tahu sekarang?" tanya Yohanes.
Zidan dan Dirga memberikan kode kepada para anggotanya untuk menyerang dan menghabisi para anak buahnya Rolando yang masih tersisa saat ini.
"Habisi mereka semua. Sekarang!"
Mendapatkan perintah dari para prince mereka. Anggota Mafioso itu pun langsung menyerang para anak buahnya Rolando.
Mendapatkan serangan tiba-tiba membuat para anak buahnya Rolando pun memberikan perlawanan. Walau jumlah mereka sedikit, tapi mereka tidak akan menyerah begitu saja.
Tak butuh waktu lama, para anggota dari Daksa, Marcel, Garra, Zidan, Dirga, Dorris, Marco, Carly, Leo dan Yohanes berhasil menghabisi semua musuh-musuhnya tanpa ada yang selamat.
"Kalian! Bakar Bar itu!" perintah Leo.
"Baik, Prince!"
"Leo, Yohanes. Lebih baik kalian pergi ke markas milik Rolando. Hancurkan markas itu dan habisi semua yang ada di markas," ucap Dorris.
"Baiklah," jawab Leo dan Yohanes.
"Garra, Zidan. Kalian bantu Leo dan Yohanes," ucap Daksa.
"Hm!" Garra dan Zidan bergumam sembari menganggukkan kepalanya.
Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan menuju markas milik Rolando dan melakukan tugas mereka disana.
***
Keesokan harinya dimana anggota keluarga Smith telah berkumpul di kediaman keluarga Smith. Bukan di rumah Darren.
Sementara Fito dan para anggotanya masih harus terus berjaga-jaga seperti biasa di rumahnya.
Dan untuk tiga orang tersangka yang masih dikurung di gudang. Darren belum berniat untuk membawa ketiganya ke kantor polisi. Secara Darren masih ingin bermain-main dengan ketiganya. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya.
Ketujuh sahabatnya itu ingin sekali bermain-main dengan mantan anggotanya Fito dan juga Lusiana. Sementara untuk Lani, itu urusan Darren.
"Apa selanjutnya, sayang?" tanya Erland kepada putra ketujuhnya itu.
Mendapatkan pertanyaan dari ayahnya. Darren langsung melihat kearah ayahnya itu.
"Kepokok permasalahan, Papa!" jawab Darren.
"Jadi maksud kamu. Kamu akan langsung menghadapi Rolando Santa, begitu?" tanya Evan.
"Iya, Paman! Bukan aku saja. Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel juga akan ikut bersamaku.
"Lalu bagaimana dengan Nicko Dilbara?" tanya Daffa.
"Nicko Dilbara akan menjadi urusannya kakak Ziggy," jawab Darren.
"Papa. Sudah saatnya kita menggunakan Roger, adik laki-lakinya Rolando. Dengan kita mengikut sertakan Roger, maka Rolando Santa akan keluar dari persembunyiannya.
"Bukankah Roger itu...." perkataan Darka terhenti karena Darren sudah terlebih dulu memotongnya.
"Kakak Darka tenang saja. Aku tahu bagaimana wataknya Roger. Dia tidak akan membiarkan kakak laki-lakinya keluar dari persembunyiannya. Setiap Roger mendapatkan masalah. Roger akan meminta tolong kepada kakak laki-lakinya dengan cara menelpon atau mengerikan pesan kepada kakak laki-lakinya itu. Roger bahkan melarang Kakak laki-lakinya itu untuk keluar dan bahkan melarang kakak laki-lakinya itu mempublikasikan bahwa dia adalah kakak laki-lakinya. Roger akan mengizinkan kakak laki-lakinya itu keluar dari persembunyiannya bila waktu itu tiba."
"Lalu bagaimana caranya agar Rolando Santa keluar dari persembunyiannya, Ren?" tanya Tristan.
"Kita akan bermain-main dengan Roger. Tidak ada salahnya kan jika kita sedikit memberikan hiasan-hiasan indah di tubuhnya. Ketika kita melakukan itu, kita akan rekam secara langsung agar Rolando ikut menyaksikannya. Dengan begitu, Rolando pasti akan keluar. Dia tidak akan tinggal diam melihat adik laki-laki satu-satunya disakiti."
__ADS_1
"Jika seperti itu rencana kamu. Papa akan membicarakan rencana ini kepada Ibra."