
[MARKAS ALMIGHTY BLACK]
Di sebuah ruangan yang cukup besar terdapat empat orang pemuda bersama tiga puluh anggota yang tengah berkutat dengan komputer mereka masing-masing. Kelima pemuda itu adalah Justin (Wakil), Tommy (Wakil 2), Zee (Sekretaris), Lian (Bendahara), Jason (Bendahara 2). Masing-masing mereka memiliki 100 anggota yang memang ditugaskan khusus untuk melacak lokasi, menyadap pembicaraan dan penyergapan atau penangkapan.
Sementara untuk para anggota mafia lainnya berstatus anggota biasa dan tugas mereka menjaga keamanan markas. Mereka juga bisa membantu melacak para musuh dengan ponsel canggih milik mereka. Jumlah keseluruhan kelompok mafia Almighty Black adalah 6000 orang. Semua anggota sangat jago dalam ilmu bela diri dan juga menggunakan berbagai macam senjata.
Mereka saat ini sedang mengawasi setiap pergerakan dari orang-orang yang melakukan kecurangan dan ke jahatan. Baik di dalam Perusahaan, Kepolisian, Partai, Rumah Sakit, Sekolah, Universitas, dan tempat-tempat yang akan dijadikan tempat bisnis atau ladang uang.
"Bos, ada berita baru!" seru salah satu anggota Almighty Black.
Baik Justin, Tommy, Zee maupun Lian dan Jason menghampiri anggota tersebut.
"Berita apa yang kau dapatkan?" tanya Justin.
"Ini, Bos. Di dalam video ini Ramoz Orlando Ayah dari Helena Orlando mencari masalah dengan keluarga Smith. Pria itu sengaja mempermalukan Tuan Erland di depan semua tamu."
Justin, Tommy, Zee, Lian dan Jason yang melihatnya menjadi geram. Dalam video itu terlihat Ramoz mengungkit tentang kematian istri pertama dari Erland Faith Smith. Di dalam video itu juga terlihat Ramoz menghina istri pertama dari Erland yang tak lain adalah ibu kandung dari Darrendra Smith sehingga berakhir dengan penusukan.
"Cih! Bisa-bisanya bermain-main api dengan keluarga Smith," ucap Tommy.
"Bagaimana pun keluarga Smith itu bukan keluarga sembarangan. Mereka memang terlihat seperti biasa, diam, tidak terlalu peduli keadaan sekitar. Tapi jika sudah diganggu atau diusik, sisi iblis mereka akan bangun," ujar Jason
"Tu buktinya. Pria brengsek itu sudah mendapatkannya dari Darren," sela Justin.
"Iya. Kau benar, Justin. Pria itu sengaja berbicara seperti itu agar Darren terpancing," Kata Zee.
"Mungkin pria itu mengira jika Darren tidak mengetahui hal tentang ibu kandungnya dan juga penyebab kematiannya. Padahal Darren sudah mengetahui semuanya. Makanya Darren tidak terlalu ambil pusing akan ucapan pria itu," kata Lian.
"Darren sampai nekat menusuk pria itu karena pria itu sudah menghina Ibunya. Aku kalau diposisi Darren juga akan melakukan hal yang sama seperti Darren. Tidak ada seorang anak yang akan diam saja jika orang tuanya dihina," sahut Jason.
"Sekalipun hubungan Darren dan keluarganya sampai detik masih belum membaik. Tapi aku yakin jika salah satu anggota keluarga dihina atau disakiti, Darren pasti akan membalasnya. Bagaimana pun mereka adalah keluarga kandung Darren," ucap Justin.
"Kecuali mereka itu hanya keluarga angkat dan tidak memiliki hubungan darah, itu lain lagi ceritanya. Bisa saja Darren tidak akan pernah kembali lagi pada mereka," pungkas Zee.
"Kau benar, Zee." Tommy menjawab perkataan Zee dengan tatapan matanya menatap layar komputer.
"Baiklah. Aku akan mengabari hal ini pada, Bos!" seru Justin.
Setelah mengatakan hal itu, Justin pun pergi meninggalkan ruangan komputer. Baru beberapa langkah, langkahnya terhenti.
"Bos, tunggu!"
Justin berbalik lalu kembali menghampiri anggota dan tiga temannya.
"Ada apa?" tanya Justin.
"Lihat ini, Bos."
Justin, Tommy, Zee, Lian dan Jason melihat ke layar komputer. Mereka membelalakkan matanya saat melihat video tersebut.
"Aish! Kedua manusia itu punya hati kagak ya?" kesal Lian.
"Hobby sekali nyakitin adik sendiri," kesal Zee.
"Kalau seandainya Tuhan mentakdirkan Darren menjadi adikku. Aku bakal jagain dia. Aku bakal percaya sama dia. Dan aku gak bakal percaya dengan apa yang aku lihat dan dengan apa yang aku dengar," sahut Zee.
"Dasar manusia egosi," ucap Justin.
__ADS_1
Tommy, Zee, Lian dan Jason mengerutkan kedua alis mereka saat mendengar ucapan dari Justin.
"Egosi," batin mereka.
"Egois kali," sela Zee, Lian dan Jason bersamaan, tapi mata mereka tetap melihat ke layar komputer.
"Iya, itu maksudku." Justin bersuara dengan tatapan matanya juga menatap layar komputer.
"Dasar," ucap mereka bersamaan.
"Cari tahu Darren dibawa ke rumah sakit mana?" perintah Tommy.
"Pladys Hospital, Bos."
"Baiklah. Aku akan memberitahu Bos Enzo masalah ini."
Setelah itu, Justin pun pergi untuk menemui Enzo, ketua dari kelompok mafia Almighty Black.
***
[RUMAH SAKIT]
Darren sudah berada di ruang IGD. Saat tiba di rumah sakit, Celsea langsung berteriak memanggil para perawat agar segera membantunya.
Sementara para anggota keluarga Smith, para sahabatnya, para anggota keluarga dari sahabat-sahabatnya berada diluar. Mereka menunggu dengan keadaan kacau, panik dan juga khawatir. Mereka semua berharap tidak terjadi apa-apa pada Darren.
Darka yang saat ini berada di pelukan Gilang tak hentinya menangis. Saat ini Darka benar-benar takut jika terjadi sesuatu pada adiknya itu.
"Darren, kakak mohon bertahanlah. Jangan tinggalkan kakak," batin Darka.
"Darren. Kakak yakin... Sangat yakin. Kamu adik kakak yang paling kuat. Kakak juga yakin, kamu pasti mau bertahan untuk kami semua," batin Gilang.
"Bertahanlah, sayang." batin para orang tua dari ketujuh sahabatnya.
"Bertahanlah kelinci manis. Kakak menyayangimu," batin para kakak dari ketujuh sahabatnya.
"Darren, sayang. Mama mohon, bertahanlah. Jika kamu mau bertahan, Mama berjanji akan selalu ada untuk kamu. Mama akan selalu membuat kamu tersenyum. Mama tidak akan membuat kamu menangis lagi, kecuali menangis karena bahagia. Apapun akan Mama lakukan untuk menebus kesalahan Mama, sayang." Agneta berucap sembari berdoa di dalam hatinya.
"Darren. Papa mohon bertahanlah. Jangan tinggalkan Papa. Papa tidak sanggup untuk kehilangan lagi. Papa sudah kehilangan Mamamu. Dan Papa tidak ingin kehilanganmu, Nak! Berikan kesempatan Papa untuk menjadi Papa yang lebih baik lagi untukmu," batin Erland.
"Darren... maafin kakak... maafin yang lagi-lagi menyakitimu," batin Davin menangis terisak.
"Darren," lirih Andra dengan air mata membasahi wajahnya.
"Darren, sayang. Bertahanlah. Kakak menyayangimu," batin Dzaky dan Adnan.
"Keponakan Bibi yang manis. Bibi mohon tetaplah bersama Bibi. Jangan tinggalkan Bibi," batin Carissa.
"Bertahanlah demi kami semua, Darren." Evan, Daffa, Tristan dan Davian membatin.
Saat mereka semua dalam keadaan kalut dan mendoakan untuk kesayangan mereka, tiba-tiba pintu ruang IGD dibuka.
CKLEK!
Mendengar suara pintu dibuka, mereka semua mengalihkan pandangannya menatap ke arah pintu tersebut lalu keluarlah seorang wanita cantik lengkap dengan seragam kedokterannya.
"Mama, bagaimana?" Axel langsung bertanya tanpa mempedulikan yang lainnya.
__ADS_1
Celsea tidak langsung menjawabnya. Matanya menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya. Dapat dilihat olehnya, semuanya tampak kacau, panik dan khawatir. Bahkan mata yang sembab karena menangis.
"Bibi, aku mohon. Bicaralah. Katakan pada kami, bagaimana keadaan Darren? Darren baik-baik sajakan? Darren tidak kenapa-kenapakan, Bibi?" tanya Darka bertubi-tubi dan jangan lupa air matanya yang mengalir deras membasahi wajah tampannya.
"Darren dinyatakan Koma," sahut Celsea.
DEG!
Jantung mereka berdegup kencang saat mendengar ucapan dari Celsea. Mereka semua menggeleng-gelengkan kepala mereka tidak percaya atas apa yang mereka dengar.
"Bi-bi.. a-pa maksud, Bibi. Ko-koma! Adikku Koma!" ucap lirih Darka.
"Ini yang kesekian kalinya jantung Darren kambuh. Dan kali ini sangat amat beresiko. Jantungnya benar-benar lemah. Saat dibawa ke rumah sakit, detak jantungnya sudah tidak ada. Tapi aku berusaha mati-matian mengembalikan detak jantungnya. Dan aku berhasil. Tapi....." ucapan Celsea terhenti. Dirinya sudah tidak sanggup lagi untuk meneruskannya. Celsea pun akhirnya menangis.
GREP!
Axel langsung memeluk tubuh Ibunya. Dapat Celsea rasakan tubuh Ibunya yang bergetar.
"Terima kasih, Ma. Mama adalah seorang pahlawan. Mama sudah berhasil mengembalikan detak jantungnya Darren, walau hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita. Aku sangat yakin, Darren akan bertahan. Sahabat sekaligus saudaraku itu pasti akan bangun dari tidurnya," ucap Axel sembari menghibur ibunya.
Axel tidak bisa membendung kesedihannya. Dan pada akhirnya, air matanya pun lolos membasahi wajah tampannya. Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya yang lainnya. Mereka menangis.
"Ren," lirih Axel, Qenan, Willy, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel.
Darka yang mendengar penuturan dari Celsea langsung melepaskan pelukannya dari Gilang, lalu kemudian Darka menghampiri Davin, kakak tertuanya itu.
BUGH!
Darka memberikan pukulan yang sangat keras di wajah Darka sehingga membuat sudut bibir Davin terluka dan berdarah.
"Darka, tidak!" teriak mereka.
Mereka terkejut saat melihat Darka yang tiba-tiba memukuli Davin. Sementara Davin sama sekali tidak bergeming. Dirinya pasrah dipukul oleh Darka. Davin tahu apa yang menyebabkan adiknya itu sampai berani memukulinya.
Darka menatap tajam wajah kakaknya itu disertai air matanya yang mengalir.
"Puas kau sekarang, hah! Ini yang kau inginkan bukan? Lagi-lagi kau menyakiti adikku. Apa belum puas kau menyakitinya 6 bulan yang lalu sehingga kau melakukannya lagi. Apa kau sudah lupa? Jika bukan Darren yang menolongmu saat itu, kau sudah mati Davin Aldan Smith! Jika Darren tidak ada disana, mungkin preman-preman itu sudah membunuhmu saat itu juga. Kau benar-benar manusia tidak tahu diri dan tidak tahu terima kasih!" bentak Darka.
"Seharusnya kau belajar dari kesalahan pertamamu. Bukannya melakukan kesalahan lagi!" bentak Darka lagi.
Davin hanya bisa diam mendengar ucapan dari Darka. Air matanya mengalir membasahi wajahnya.
"Darka, sudahlah. Jangan seperti ini," hibur Gilang sembari merangkul Darka.
Darka menatap tajam Gilang. Gilang yang melihat tatapan itu hanya bisa pasrah, dirinya mengerti. Disini dirinya juga ikut andil dalam menyakiti Darren adik manisnya itu.
"Kalian jahat! Kalian semua jahat! Kalian tega menyakiti adikku," lirih Darka.
Lalu tiba-tiba Darka merasakan sakit di kepalanya.
"Aakkhhh." Darka meringis kesakitan sambil memegang kepalanya.
"Darka!" teriak mereka panik.
BRUUKK!
Seketika Darka jatuh tak sadarkan diri tepat di tubuh Gilang. Gilang menjadikan tubuhnya untuk menahan tubuh Darka.
__ADS_1
"Bawa Darka ke ruanganku," sahut Celsea.
Davin dan Adnan mengangkat tubuh Darka, lalu mereka membawa Darka ke ruangan Celsea.