KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Menceritakan Kejadian Yang Terjadi


__ADS_3

Davin dan Andra saat ini sedang di ruang tengah. Sejak kepergian adiknya. Mereka memutuskan untuk tidur di sofa. Mereka ingin menunggu kepulangan adiknya itu.


TAP!


TAP!


TAP!


Terdengar derap langkah kaki seseorang yang hendak menuju kearah dapur.


Seketika orang itu berhenti ketika melihat kedua kakak-kakaknya tertidur di sofa ruang tengah. Dan akhirnya, orang itu menghampiri kedua kakak-kakaknya di ruang tengah.


"Kak Davin, kak Andra."


Davin dan Andra seketika berlahan membuka matanya. Dan dapat dilihat oleh keduanya, adik kelimanya tengah menatapnya.


"Gilang," sapa Davin dan Andra dengan suara khas orang bangun tidur.


"Kak Davin dan kak Andra ngapain tidur disini?" tanya Gilang.


"Kita nungguin Darren pulang, Gil!" Andra yang menjawabnya.


Mendengar jawaban dari kakak keduanya membuat Gilang terkejut. "Apa? Nungguin Darren pulang," batin Gilang.


Tanpa babibubebo. Gilang langsung berlari menuju kamar adik kesayangannya yang ada di lantia dua.


Kini Gilang sudah berada di depan kamar adik laki-lakinya. Tanpa pikir dua kali, Gilang langsung membuka pintu kamar adiknya itu.


CKLEK!


Pintu kamar adiknya terbuka. Gilang melangkah masuk. Ketika tiba di dalam kamar. Gilang tidak menemukan keberadaan adiknya itu. Bahkan Gilang juga mencari adiknya di kamar mandi. Tapi adiknya juga tidak ada disana.


"Darren," batin Gilang.


Rasa takut sudah menjalar di tubuh Gilang. Dirinya benar-benar khawatir akan adiknya itu.


Gilang kemudian pergi meninggalkan kamar adik laki-lakinya untuk menuju lantai bawah dengan terburu-buru.


"Kak Davin, kak Andra. Sebenarnya Darren pergi kemana! Kenapa kalian membiarkan Darren pergi?" teriak Gilang.


Dan tanpa sadar, teriakannya itu membangunkan kedua orang tuanyanya, para saudaranya yang lainnya, paman dan bibinya.


"Ada apa ini? Gilang, kenapa kamu berteriak-teriak, Nak? Ini masih pukul satu pagi," tegur Erland yang datang dengan yang lainnya.


"Darren tidak ada di kamarnya. Kak Davin dan kak Andra tahu kalau Darren pergi," jawab Gilang.


"Gil," panggil Darka dengan menatap sendu Gilang.


"Darren tidak ada di kamarnya. Aku barusan mengecek kamarnya," ujar Gilang.


Mereka semua melihat kearah Davin dan Andra yang terlihat baru bangun dari tidurnya.


"Davin, Andra." Erland berbicara dengan lembut.


"Darren pergi Papa," jawab Davin.


"Darren pergi sekitar pukul 11 malam. Aku dan Kak Davin sudah mencegah Darren. Tapi Darren tidak mempedulikannya. Darren tetap pergi," jawab Andra.


"Bahkan aku dan Darren sempat berdebat," sela Davin.


"Apa kau menyakiti adikku?" tanya Darka ketus.


"Darka," lirih Davin.


"Jawab saja. Biasanya kau seperti itu. Jika sudah emosi pasti kau akan main tangan," sahut Darka.


"Tidak Darka. Kakak tidak menyakiti Darren. Hanya saja kakak sedikit membentak Darren. Kakak ngelakuin itu agar Darren mau dengarin kakak. Dan tidak pergi keluar. Saat Darren ingin pergi keluar. Wajah Darren sedikit pucat." Davin berbicara dengan wajah sedih sembari mengingat kondisi terakhir adiknya sebelum pergi.


Mendengar jawaban dari Davin membuat mereka menjadi tidak tega, termasuk Gilang dan Darka. Gilang dan Darka merasa bersalah sudah bersikap kasar terhadap kedua kakak-kakaknya itu.


"Maafkan aku kak Davin, kak Andra!" Darka berucap sembari mengucapkan kata maaf.


"Maafkan aku juga Kak Davin, kak Andra!" Gilang juga ikut meminta maaf kepada kedua kakaknya itu.


Davin dan Andra tersenyum ketika mendengar ucapan maaf dari kedua adiknya.


"Tidak apa-apa. Kalian tidak salah. Kita disini posisinya sama-sama ingin melindungi Darren. Kita disini sama-sama ingin menjaga Darren. Dan kita disini sama-sama mengkhawatirkan Darren." Davin berbicara sambil menatap wajah tampan kedua adiknya itu.

__ADS_1


Ketika mereka semua tengah memikirkan Darren, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan bell rumah berbunyi.


TING!


TONG!


TING!


TONG!


"Itu pasti Darren!" seru Dzaky.


Gilang dan Darka langsung berlari menuju pintu utama dan disusul oleh Davin, Andra, Dzaky dan Adnan.


CKLEK!


Ketika pintu sudah terbuka. Gilang, Darka, Davin, Andra, Dzaky dan Adnan terkejut melihat adiknya yang dipapah oleh Qenan dan Axel.


"Darren!" seru Gilang, Darka, Davin, Andra, Dzaky dan Adnan bersamaan.


"Qenan, Axel. Kenapa dengan Darren?" tanya Darren.


"Kak Darka. Bawa Darren nya masuk dulu ke dalam. Kasihan Darren," sahut Qenan.


"Ach, iya! Maaf," Darka berucap maaf.


"Naikkan Darren ke punggung kakak," tutur Davin.


Qenan dan Axel dibantu oleh Dylan meletakkan tubuh Darren ke atas punggung Davin.


Setelah dipastikan posisi Darren sudah aman. Davin pun berlahan membawa adiknya ke kamar yang ada di lantai dua.


Melihat Davin yang menggendong Darren membuat Erland, Agneta, Carissa dan Evan terkejut dan juga khawatir.


Ketika Erland ingin bertanya. Dzaky sudah terlebih dahulu memberikan kode pada Ayahnya. Erland yang mendapatkan kode dari putranya pun paham.


^^^


Kini semuanya telah berkumpul di ruang tengah, termasuk ketiga sahabat-sahabatnya Darren.


Erland menatap wajah ketiga sahabat-sahabat putranya. Dirinya berharap ketiga sahabat-sahabat putranya itu mau menjelaskan perihal yang terjadi. Begitu juga dengan yang lainnya.


Baik Qenan maupun Dylan dan Axel menatap wajah anggota keluarga Darren dengan tatapan iba.


"Begini, Paman!"


FLASHBACK ON


Darren, Qenan dan para tangan kanannya Ziggy sudah tiba di lokasi tempat SHOWROOM milik Darren.


Setiba disana, baik Darren maupun Axel, Jerry dan Dylan tampak syok. Begitu juga dengan Rehan, Darel, Qenan dan Willy.


BRUUKKK!


Seketika tubuh Darren merosot ke aspal. Darren menatap SHOWROOM miliknya yang sudah hangus dilalap api. Darren tak kuasa menahan air matanya. Air matanya berlomba-lomba jatuh membasahi wajahnya.


"Tidak... Ini tidak mungkin. Ini pasti mimpi kan? Showroom ku... Hiks... Tidak." Darren berucap sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ren." Qenan, Willy, Jerry, Dylan, Axel, Rehan dan Darel mengerubungi Darren. Mereka berusaha memberikan kekuatan kepada Darren.


"Aarrggghhh!"


Darren berteriak histeris dan tanpa sadar tangannya dengan kuat mendorong tubuh ketujuh sahabat-sahabatnya sehingga mereka tersungkur ke belakang.


"Samuel! Aku tahu ini ulahmu. Brengsek kau! Kau benar-benar biadab. Kau sudah berani menyentuh milikku!" teriak Darren.


"Aarrrgghhh!" teriak Darren lagi dengan air matanya yang masih mengalir membasahi wajahnya.


"Ren."


GREP!


Axel, Dylan dan Jerry langsung memeluk tubuh Darren. Mereka memeluk Darren begitu erat.


"Showroom ku... Axel, Dylan, Jerry...," isak Darren.


"Brengsek kau Samuel," batin Axel menatap bangunan tempat dirinya dan ketiga sahabatnya bekerja.

__ADS_1


"Bajingan. Tunggu pembalasan kami," batin Jerry.


Jerry menatap dengan mata yang memanas kearah gedung yang sudah 8 tahun ditempati olehnya dan ketiga sahabatnya hangus terbakar.


Dylan tak kalah sedih dan menangis. Matanya menatap kearah Showroom yang kini sudah menjadi abu. Hanya tersisa dinding yang retak dan berwarna hitam. Bahkan ada sekitar tiga puluh mobil mewah yang baru tiga hari yang lalu mereka selesaikan. Dan kini ketiga puluh mobil mewah itu ikut terbakar tanpa sisa.


"Kau sudah melampui batas, Samuel. Tunggu apa yang akan kau terima setelah ini," batin Dylan.


Darren masih menangis terisak dengan matanya menatap kearah bangunan yang sudah hangus terbakar.


Qenan, Willy, Rehan dan Darel menangis melihat Showroom yang sudah 8 tahun berdiri hangus terbakar. Hati mereka bertambah hancur ketika melihat mobil-mobil mewah yang juga ikut terbakar.


Qenan, Willy, Rehan dan Darel sangat tahu jika mobil-mobil itu adalah mobil-mobil yang baru saja diselesaikan tiga hari yang lalu oleh Darren, Axel, Jerry dan Dylan.


Qenan, Willy, Rehan dan Darel menatap tepat kearah Darren. Mereka dapat melihat betapa hancurnya Darren.


"Kakak Caleb," panggil Darren dengan suara seraknya.


Seketika Axel, Dylan dan Jerry melepaskan pelukannya.


Caleb dan yang lainnya mendekati Darren. Mereka menatap Darren dengan tatapan sedih.


"Ada apa, Ren?" tanya Caleb.


"Apa yang kau inginkan? Katakanlah," ucap Ruby.


Darren menatap kearah Showroomnya yang kini telah hangus terbakar dengan tatapan amarahnya.


"Aku mau kak Caleb, kak Ruby, kak Tory, kak Billy dan kak Mark membakar habis Perusahaan utama milik keluarga Frederick dan juga Perusahaan milik Samuel. Aku ingin melihat bagaimana reaksi bajingan itu ketika mendapatkan kabar dua Perusahaan itu hangus terbakar."


"Baiklah. Kakak akan segera memerintah anggota Kakak yang masih berada di lokasi Perusahaan utama keluarga Frederick." Caleb berucap.


"Kakak juga akan mengabari anggota yang lainnya untuk membakar Perusahaan milik Samuel," sahut Billy.


Setelah mengatakan itu, Caleb dan yang lainnya langsung menjalankan tugasnya.


"Willy, kau pergilah ke Perusahaan Accenture. Setiba disana. Kau aktifkan semua alarm. Alarm itu berguna untuk melacak dan mengakses keadaan diluar. Dengan alarm itu perusahaan akan terlindungi. Jadi jika ada seseorang atau kelompok yang diam-diam ingin membakar Perusahaanku, maka alarm itu akan langsung berbunyi. Dan jika alarm sudah berbunyi. Laser yang aku pasang disekeliling perusahaan, terutama bagian luar perusahaan akan aktif sehingga membuat tubuh orang-orang itu hancur."


"Baiklah, Ren!"


"Jerry. Kau temani Willy."


"Hm." Jerry mengangguk.


"Dan untuk kalian berdua Rehan, Darel! Kalian juga pergilah ke Galeri. Lakukan seperti yang aku katakan kepada Willy barusan. Aktifkan alarm disetiap sudut ruangan. Baik di dalam maupun diluar. Fungsinya juga sama seperti di Perusahaan Accenture."


"Baik, Ren!"


"Aku sangat yakin. Samuel akan melakukan pembalasan jika dia tahu dua perusahaannya hangus terbakar. Dan kali ini aku tidak akan membiarkan bajingan itu menyentuh Accenture dan Galeri milikku. Cukup sekali dan malam ini aku kecolongan yaitu Showroomku yang sudah menjadi korban dan aku tidak akan kecolongan untuk yang kedua kalinya." Darren berbicara dengan wajah penuh amarah.


Ketika Darren hendak berdiri, tiba-tiba rasa sakit di bagian dada kirinya kembali kambuh. Dan sakitnya kali ini tidak main-main.


Darren meremat dada kirinya disertai dengan rintihan yang keluar dari mulutnya.


"Aakkhhh."


"Ren!" teriak ketujuh sahabat-sahabatnya.


"Lebih baik pulang sekarang!" seru Rehan.


Qenan dan Axel memapah tubuh Darren untuk menuju mobil.


Willy dan Jerry pergi menuju Perusahaan Accenture. Rehan dan Darel menuju Galeri.


Sementara Axel, Qenan dan Dylan mengantarkan Darren pulang.


FLASHBACK OFF


Mendengar cerita dari Qenan, Axel dan Dylan membuat anggota keluarga Darren terkejut. Mereka semua tidak menyangka jika Samuel dengan kejinya membakar Showroom milik Darren.


"Hari sudah pukul satu pagi. Lebih baik kalian bertiga menginap disini saja. Bibi tidak tega jika membiarkan kalian pulang dalam keadaan lelah dan tertekan seperti ini. Bibi sangat yakin kalau kalian juga merasakan apa yang dirasakan oleh Darren." Agneta berbicara sembari menatap wajah lelah dan tertekan Axel, Qenan dan Dylan.


"Paman setuju apa yang dikatakan oleh istri Paman. Menginaplah disini. Setidaknya Darren ada temannya. Kalian bisa tidur di kamar tamu atau tidur di kamar Darren," sela Erland.


"Baiklah, Paman! Kami akan menginap," jawab Dylan mewakili Axel dan Qenan.


"Kami akan tidur di kamar Darren saja," sahut Qenan dan diangguki oleh Axel dan Dylan.

__ADS_1


"Ya, sudah! Lebih baik sekarang kita istirahat," sahut Evan.


Setelah mengatakan itu, mereka semua pun menuju kamar masing-masing. Sementara Axel, Dylan dan Qenan menuju kamarnya Darren.


__ADS_2