KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Jatuh Tak Sadarkan Diri


__ADS_3

Darren sudah berada di kampus. Setelah menyelesaikan urusannya di galeri, Darren memutuskan untuk segera ke kampus.


Ketika tiba di kampus, ketujuh sahabatnya langsung menyerangnya dengan banyak pertanyaan sehingga membuat dirinya kewalahan.


Kini Darren, ketujuh sahabatnya, Brenda beserta para sahabatnya berada di ruang komputer.


"Lo kemana aja, hah?! Di hubungi susah benar," ucap dan tanya Rehan.


"Lo nanya atau ngajak ribut gue sialan?" tanya Darren dengan memberikan pelototannya kepada Rehan.


Mendengar pertanyaan dari Darren dan melihat tatapan matanya membuat Rehan cengengesan.


Sementara yang lainnya tersenyum melihat wajah kesal Darren dan wajah cengengesan Rehan.


"Ren," panggil Qenan.


Darren melihat kearah Qenan. Setelah itu, tatapan matanya menatap satu persatu orang-orangnya yang ada di hadapannya.


"Sorry. Ponsel gue mati. Dan gue lupa bawa charger nya," ucap Darren tanpa rasa bersalah di wajahnya.


Mendengar ucapan dari Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel, Brenda, Alice, Elsa, Felisa, Vania, Milly, Lenny dan Tania hanya menghela nafasnya. Mereka semua paham akan sifat lupa Darren.


"Kebiasaan," omel Brenda.


Mendengar omelan dari Brenda seketika Darren membelalakkan matanya.


"Terus saat kita menghubungi lo melalui video call. Kenapa tidak diangkat?" tanya Jerry.


"Males," jawab Darren asal.


Mendengar jawaban tak mengenakkan dari Darren membuat mereka semua menatap horor Darren.


"Enak banget jawabnya," kesal Qenan.


Melihat wajah-wajah kesal para sahabatnya, kekasihnya dan para kekasih dari sahabat-sahabatnya membuat Darren tersenyum.


"Udah jelek malah makin jelek kalau wajah kalian seperti itu," ucap Darren.


"Darren!" teriak mereka bersamaan.


Darren langsung menutup telinganya ketika mendengar suara teriakan dari Brenda, ketujuh sahabatnya dan ketujuh sahabatnya Brenda.


***


Di lokasi hutan Hutewald Halloh dimana terlihat beberapa kelompok tengah menyusuri hutan tersebut. Mereka adalah dua tangan kanan dan dua puluh anggota mafioso dari Devian, Enzo, Chico, Ziggy dan Noe.


Mereka berpencar menyusuri tiap-tiap hutan dan terus mencari keberadaan Erland. Mereka berharap menemukan rumah di sekitar hutan tersebut


Ketika tim dari Lian dan Jason, tim dari Leo dan Yohanes, tim dari Billy dan Mark, tim dari Diaz dan Rodya tengah menyusuri tiap-tiap hutan. Mereka semua mendapatkan panggilan dari alat pemanggil yang dipegang oleh tiap-tiap tangan kanan dari timnya Garra dan Zidan.


Garra dan Zidan mengatakan bahwa mereka menemukan sebuah rumah besar dan mewah terletak tak jauh dari hutan tempat pencarian mereka saat ini.


Mendengar kabar itu, tim dari Lian dan Jason, tim Leo dan Yohanes, tim Billy dan Mark serta tim Diaz dan Rodya langsung menunju ke lokasi dimana Garra dan Zidan berada.


^^^


Kini mereka sudah berkumpul bersama dengan tim Garra dan Zidan.  Tatapan mata mereka menatap ke satu arah yaitu ke depan dimana terlihat sebuah rumah mewah dan besar.


"Apa kau yakin jika tuan Erland ada di rumah itu?" tanya Lian.


"Kabar yang aku dengar dari salah satu warga disini mengatakan seperti itu," jawab Garra.

__ADS_1


"Terus bagaimana dengan Penum lainnya?" tanya Diaz.


"Katanya para penumpang yang selamat sudah dibawa ke rumah sakit. Sementara untuk tuan Erland dibawa ke rumah itu," jawab Zidan.


Lian, Jason, Leo, Yohanes, Billy, Mark dan Diaz dan Rodya saling memberikan tatapan satu sama lainnya.


Setelah itu, mereka semua kembali menatap kearah rumah mewah itu. Detik kemudian, mereka semua melangkah untuk mendatangi rumah itu.


Mereka semua sudah berada di depan pintu rumah mewah itu. Dan mereka secara bersamaan menendang pintu rumah tersebut dengan sangat kuat sehingga membuat pintu rumah itu rusak.


Mereka langsung memasuki rumah itu dan memeriksa setiap ruangan di dalam rumah tersebut.


"Periksa setiap ruangan yang ada di dalam rumah ini!"


"Baik, Prince!"


Setelah memeriksa beberapa menit, semua anggotanya kembali dan memberikan laporan masing-masing.


"Maaf, Prince! Kami tidak menemukan apa-apa."


"Seperti rumah ini kosong."


"Prince, saya menemukan ini di ruang sebelah sana!" seru anggota mafioso dari Lian dan Jason.


Lian mengambil benda yang ada di tangan anggota mafiosonya itu.


"Kemeja," ucap Lian.


"Kemungkinan ini kemeja yang dikenakan oleh tuan Erland ketika pergi," ucap Rodya.


"Mungkin saja," ucap Billy.


"Dan kemungkinan orang yang sudah menolong tuan Erland tahu kedatangan kita, makanya orang itu membawa tuan Erland pergi." Leo berbicara sembari menatap satu persatu rekannya.


"Bisa jadi," ucap Jason, Yohanes dan yang lainnya.


"Ya, sudah! Lebih baik kita kembali dan melaporkan masalah ini kepada ketua kita," ucap Lian.


"Hm." mereka semua menganggukkan kepalanya.


Setelah itu, mereka semua pergi meninggalkan rumah mewah itu.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Semua anggota keluarga Smith telah berada di rumah.


Saat ini mereka tengah berkumpul di ruang tengah. Mereka sengaja berkumpul disana untuk sekedar melepaskan rasa lelah dan menghabiskan waktu bersama.


Di kediaman keluarga Smith itu juga ada keluarga Radmilo. Seperti yang sudah mereka rencanakan kalau mereka semua akan mengunjungi keluarga Smith dan menginap disana.


Sementara Darren berada di kamarnya. Sejak pulang dari kampus, Darren langsung masuk ke kamarnya dan sampai detik ini belum keluar.


"Darren mana? Dari tadi kita nggak lihat dia?" tanya Intan putri bungsu dari Gerald.


"Darren di kamarnya. Sejak pulang dari kampus, Darren langsung masuk kamar. Sampai detik ini," jawab Darka.


"Apa Darren kembali mengurung diri di kamarnya?" tanya Carol.


"Tidak, Bibi. Hanya saja Darren sedikit lelah saat pulang dari kampus tadi. Sebelum dari kampus, Darren harus ke perusahaannya dulu. Setelah dari perusahaannya, Darren ke Galeri Lukisannya. Dari sanalah baru Darren ke kampus. Jadi sehari ini Darren benar-benar memforsir tenaganya." Gilang menjelaskan kegiatan Darren hari kepada keluarga Radmilo.


Ketika mereka tengah membahas tentang Darren, tiba-tiba mereka semua mendengar derap langkah kaki dan juga suara yang sedang berbicara.

__ADS_1


Mereka semua secara bersamaan langsung melihat keasal suara. Dan dapat mereka lihat bahwa Darren lah yang menuruni anak tangga sambil berbicara dengan seorang di telepon.


"Aku butuh bantuan kamu dan Willy."


"Apa yang kamu butuhkan?"


"Kamu dan Willy ke perusahaan Accenture sekarang. Aku saat ini sedang bersiap-siap untuk kesana."


"Ada apa? Apa ada masalah?"


"Ini lebih dari sekedar masalah. Ada seseorang yang ingin bermain-main dengan perusahaan Accenture. Dan kebetulan orang itu masih ada sangkut pautnya dengan rekan kerja yang saat itu kamu dan Willy pegang."


"Baiklah. Apa kau sudah menghubungi Willy?"


"Belum."


"Ya, sudah! Biarkan aku yang menghubungi Willy dan menyampaikan hal ini kepadanya. Aku dan Willy akan segera ke perusahaan Accenture."


"Baiklah. Terima kasih."


"Sama-sama, Ren!"


Setelah itu, baik Darren maupun Qenan sama-sama mematikan panggilannya.


Anggota keluarganya dan anggota keluarga Radmilo masih terus memperhatikannya. Mereka semua menatap khawatir kearah Darren, terutama Agneta dan anak-anaknya.


Darren tiba-tiba merasakan sesak di dadanya. Dan tangannya langsung meremat kuat dada kirinya.


Darren seketika menumpu dianak tangga menggunakan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya masih meremat kuat dada kirinya.


Melihat kondisi Darren yang tiba-tiba kambuh, Agneta langsung berdiri dan disusul oleh anggota keluarga lainnya. Mereka semua langsung berlari menghampiri Darren.


"Darren!" teriak Agneta yang sudah menangis melihat kondisi putranya.


"Darren," panggil Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, dan Darka.


Mereka menatap khawatir Darren. Mereka juga menangis melihat kondisi Darren saat ini.


"Kakak Darren," isak Adrian, Mathew, Nathan, Ivan, dan Melvin.


"Darren, ini Mama sayang! Kita ke kamar yuk!" Agneta berucap sambil tangannya mengusap-usap dada kiri putranya.


"Ren. Benar kata Mama. Kita ke kamar ya," bujuk Darka.


"Ti-tidak. Aku harus pergi. Ada masalah di perusahaan Accenture. Aku ingin menyelesaikannya hari ini juga. Aku tidak ingin terjadi sesuatu terhadap perusahaanku itu," jawab Darren dengan suara lirihnya.


"Tapi sayang," lirih Agneta.


"Mama tidak perlu khawatir. Aku tidak apa-apa. Rasa sakit yang aku rasakan sekarang hanya sedikit. Jadi aku masih bisa menahannya," ucap Darren.


Darren tetap memaksakan diri untuk turun ke bawah. Hanya tinggal beberapa langkah lagi sampai ke bawah.


Namun ketika Darren baru melangkahkan kakinya tiga langkah, tiba-tiba tubuh langsung tumbang sehingga membuat semuanya berteriak.


Elzaro, Davin, Daffa dan Arkana yang kebetulan posisi berdiri di depan langsung dengan sigap menahan tubuh Darren sehingga tubuh Darren jatuh di pelukan mereka.


"Darren!" teriak mereka semua.


"Kita bawa Darren ke rumah sakit sekarang!" seru Damian.


Mereka mengangkat dan menggendong tubuh Darren dan membawanya ke mobil. Mereka saat ini benar-benar khawatir akan kondisi Darren saat ini

__ADS_1


__ADS_2