KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Teguran Darren Terhadap Adrian Dan Mathew


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu. Semua permasalahan pun telah selesai. Tidak ada lagi dendam yang tersimpan. Semuanya telah usai dan berakhir damai.


Inilah yang dirasakan oleh keluarga Mendez dan Agra Benjamin. Kedua belah telah berdamai dan memutuskan untuk melupakan masa lalu dan menata masa depan.


Agra Benjamin!


Dia merenungkan setiap apa yang dikatakan oleh Darren yang mana bahwa keluarga Mendez tidak bersalah. Yang bersalah itu adalah ayah dari ayah mertua atau kakek dari istrinya di masa lalu.


Jika dia tetap melanjutkan aksi balas dendamnya. Justru yang rugi adalah dirinya sendiri. Dia akan kehilangan istrinya sekaligus cinta pertamanya yang telah menemaninya selama 20 tahun lamanya. Dan bukan itu saja, dia juga akan menyakiti ketiga anak-anaknya yang akan kehilangan sosok ibu yang baik, penyayang dan perhatian seperti Livia. Apalagi ketika anak-anak itu begitu dekat dan begitu menyayangi Livia.


Baik Livia maupun Agra. Keduanya sama-sama memberikan kasih sayang yang setara dan adil untuk semua anak-anaknya. Mereka tidak pernah pilih kasih atau memandang status anak-anaknya. Bagi mereka semuanya sama.


***


Di kediaman keluarga Smith terlihat dimana Erland, Agneta, Davin, Andra, Adnan, Gilang, Darka, Evan, Carissa, Daffa, Tristan dan Davian tengah berkumpul di ruang tengah. Mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama dengan anggota keluarganya.


Sementara Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin berada di kamarnya masing-masing. Dan untuk Darren tidak tahu dimana keberadaannya. Itulah yang sedang dipikirkan oleh anggota keluarga Smith.


Ketika Erland dan anggota keluarga lainnya tengah mengobrol banyak hal, termasuk mengobrol tentang masalah-masalah yang selama ini menghampiri keluarganya, tiba-tiba terdengar suara orang yang berlarian menuruni anak tangga.


Baik Erland, Agneta maupun anggota keluarga lainnya langsung melihat kearah suara tersebut. Dan mereka semua melihat Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin yang berlarian menuruni anak tangga.


"Hei, kalian! Kenapa berlari-larian begitu?" tegur Andra.


Mendengar perkataan dari Andra membuat Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin langsung berhenti. Dan kelimanya langsung melihat kearah ruang tengah dimana anggota keluarga berkumpul.


"Kita lagi nyariin kakak Darren," jawab Ivan.


"Memangnya kakak kelinci kalian itu kemana!" tanya Gilang.


"Kalau kita tahu, kita nggak akan seperti ini nyariin kakak Darren!" sahut Melvin.


Mendengar jawaban dari Melvin membuat Gilang dan anggota keluarga lainnya tersenyum.


"Apa kakak kalian itu tidak ada di kamarnya, hum?" tanya Erland lembut sembari tersenyum menatap kelima putra-putra bungsunya.


"Nggak ada, Papa!" Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin menjawab bersamaan.


"Lah, kemana anak kelinci itu perginya!" seru Davin seenaknya.


"Bahkan kita sejak tadi juga tidak melihat keberadaan Darren," sela Dzaky.


"Justru kita berpikir jika Darren berada di kamarnya," ucap Tristan.


Mereka terus membahas masalah Darren yang tidak ketahui keberadaan dimana. Bahkan Erland, Agneta dan anggota keluarga lainnya sampai menerka-nerka kalau Darren keluar rumah tanpa sepengetahuan mereka.


Ketika mereka membahas Darren, tiba-tiba mereka semua mendengar suara orang yang sedang berbicara. Dan dengan kompaknya, mereka semua langsung menolehkan kepalanya untuk melihat keasal suara.


"Apa semuanya telah dipersiapkan?"


"Sudah, Bos!"


"Siapa saja yang hadir?"

__ADS_1


"Banyak Bos. Salah satunya adalah pemilik perusahaan yang berada di nomor sepuluh di dunia dan di Jerman. Beliau ingin sekali bertemu dengan Bos dan ketujuh sahabat-sahabat Bos."


"Bagaimana dengan ketujuh sahabat-sahabatku?"


"Ketujuh sahabat-sahabat Bos sudah tahu akan hal itu."


"Baiklah. Kau urus semuanya. Dua jam lagi aku akan berangkat ke lokasi."


"Baik, Bos."


Setelah selesai berbicara dengan asistennya di perusahaan Accenture, Darren pun langsung mematikan panggilannya.


Dan seketika Darren dibuat terkejut ketika mendengar panggilan disertai teriakan dari kelima adik laki-lakinya.


"Kakak Darren!"


Darren langsung memberikan tatapan tajam kearah kelima adik laki-lakinya itu. Sedangkan kelima adik laki-lakinya itu hanya memperlihatkan cengiran khasnya masing-masing.


Sementara Erland, Agneta dan anggota keluarga lainnya hanya tersenyum gemas melihat Darren, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.


"Kakak Darren," panggil Ivan.


"Apa!"


Darren menjawab panggilan dari Ivan dengan nada ketus. Dan jangan lupa tatapan matanya yang membulat sempurna.


Sedangkan Ivan seketika merenggut kesal ketika mendengar jawaban dan melihat tatapan mata sang kakak kesayangannya.


"Ih, kakak Darren! Kok gitu sih jawabnya? Terus tuh tatapan matanya kenapa natap Ivan seperti itu?"


"Ada apa?" tanya Darren lembut dengan tatapan matanya menatap satu persatu wajah kelima adik laki-lakinya itu.


Mendengar pertanyaan disertai dengan suara lembut dari kakak kesayangannya membuat Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin tersenyum.


"Begini kakak Darren. Di sekolahku dan Mathew ada pertemuan dengan wali murid. Pertemuan tersebut akan membahas tentang masalah kelulusan nanti," ucap Adrian.


"Kakak Darren kan tahu sendiri bahwa kita berdua maunya sama kakak Darren, walau masih ada yang lainnya." Mathew juga ikut bersuara.


Mendengar perkataan dari Adrian dan Mathew membuat Darren menatap keduanya tanpa memberikan jawaban apapun. Begitu juga dengan anggota keluarga Smith lainnya.


Ketika Darren ingin membuka mulutnya hendak bertanya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Darren langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Terlihat nama 'Jerry' di layar ponselnya itu.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Darren pun menjawab panggilan dari sahabatnya itu.


"Hallo, Jer!"


"Kamu dimana, Ren?"


"Masih di rumah. Kenapa?"


"Kamu nggak lupakan acara kita hari ini?"

__ADS_1


"Nggak. Ini aku mau bersiap-siap."


"Baiklah. Aku dan yang lainnya menunggu kamu di tempat yang sudah kita janjikan dua hari yang lalu."


"Baiklah."


"Oh iya, satu lagi! Dua Minggu ini kita sibuk mengurus perusahaan masing-masing, termasuk Qenan dan Willy. Nggak ada waktu buat kita leha-leha. Aku berharap kamu nggak tumbang karena nggak ada Qenan dan Willy membantu kamu." Terdengar nada khawatir dan juga takut dari Jerry.


Jerry khawatir dan juga takut jika Darren akan kelelahan meng-handle perusahaannya tanpa Qenan dan Willy. Dia tahu bahwa selama ini Qenan dan Willy selalu ada di sampingnya.


Namun untuk dua minggu ke depan. Qenan dan Willy tidak bersama dengan sahabat kelincinya itu karena memang fokus terhadap perusahaan masing-masing.


Sementara Darren seketika tersenyum ketika mendengar nada khawatir dari sahabatnya tersebut. Darren tahu bahwa sahabatnya itu tengah mengkhawatirkan dia.


"Kamu tidak perlu khawatir akan hal itu. Kamu nggak lupakan kalau aku sudah memperkerjakan 4 orang-orang handal untuk selalu mendampingiku di perusahaan. Di tambah Dito dan Vicky. Mereka berdua yang bertanggung jawab di perusahaan jika aku tidak ada."


Mendengar perkataan dari Darren membuat Jerry sedikit lega. Jerry bahkan membenarkan apa yang dikatakan oleh Darren jika di perusahaan Accenture memiliki 4 orang-orang handal di tambah dua orang tangan mereka.


"Baiklah kalau begitu. Aku lega mendengarnya. Ya, sudah! Kita bertemu di tempat yang sudah kita janjikan."


"Baiklah."


Setelah selesai mengatakan itu, baik Darren maupun Jerry sama-sama mematikan panggilannya. Darren kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


Darren menatap wajah kedua adiknya. "Kapan pertemuan di sekolah kalian?"


"Kamis besok, kakak Darren!" seru Adrian.


"Sepertinya aku tidak bisa datang," sahut Darren.


Darren menatap keenam kakak-kakak satu persatu. "Jika diantara kalian tidak terlalu sibuk. Kalian saja yang datang ke sekolah Adrian dan Mathew."


"Baik, Ren!"


Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka langsung menganggukkan kepalanya.


Darren kembali menatap wajah kedua adiknya. "Kakak Davin, kakak Andra, kakak Dzaky, kakak Adnan, kakak Gilang atau kakak Darka yang akan ke sekolah kalian," ucap Darren.


Setelah mengatakan itu, Darren langsung pergi untuk menuju kamarnya untuk bersiap-siap.


Namun langkahnya seketika terhenti ketika mendengar perkataan dari Mathew.


"Tapi kita maunya kakak Darren yang datang."


Darren membalikkan badannya untuk menatap kedua adiknya itu. Dan seketika tatapan mata Darren berubah menajam.


"Kalian bisa mengerti, tidak?! Jika aku bilang tidak bisa. Itu tandanya aku benar-benar tidak bisa. Dan lagian, kalian memiliki kakak bukan hanya aku saja. Kalian masih memiliki enam kakak lainnya dan ditambah dengan tiga kakak sepupu. Kalian bisa meminta tolong kepada mereka kan? Dan aku yakin mereka tidak akan menolaknya."


Mendengar perkataan dan melihat tatapan marah dari Darren membuat Adrian dan Mathew menundukkan kepalanya. Mereka tidak berani menatap wajah Darren.


"Cobalah dewasa sedikit. Tidak selamanya keinginan kalian itu selalu dipenuhi. Ada waktunya dimana keinginan kalian itu tidak bisa terpenuhi. Contohnya sekarang ini."


"Dan satu lagi, selama aku menjadi kakak kalian. Ini adalah untuk pertama kalinya aku tidak bisa memenuhi keinginan kalian. Selama ini aku sudah berusaha menjadi kakak yang baik dan perhatian terhadap kalian. Salah satunya adalah dengan memenuhi setiap keinginan kalian itu."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Darren kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju kamarnya.


__ADS_2