KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Amarah Dan Dendam Sosok Rendra


__ADS_3

Sosok Rendra menatap kearah lima laki-laki di hadapannya dengan tatapan yang mengerikan. Sementara kelima laki-laki yang berdiri di hadapan sosok Rendra tersebut justru tersenyum menyeringai menatap Darren. Mereka belum menyadari bahwa yang di hadapan mereka itu bukanlah Darren, melainkan sosok Rendra yang menguasai tubuh Darren.


"Enyahlah dari hadapanku. Jangan mencari masalah denganku. Aku sedang tidak ingin ribut dengan siapa pun hari ini." Darren berbicara dengan nada dingin dan wajah tak mengenakkan.


Sementara kelima laki-laki itu hanya tersenyum remeh ketiga mendengar ucapan dari Darren. Mereka sama sekali tidak memperdulikan ucapan dari Darren. Justru mereka berniat untuk membuat emosi Darren keluar sehingga nanti mereka bersama-sama akan menyerang Darren.


"Kenapa, Darren? Apa kau takut, hum? Apa kau tidak berani melawan kami karena kau sendirian?" tanya mantan rekan kerja Darren dengan tatapan matanya yang menajam kearah Darren.


"Jangan kau tanyakan lagi, Leon! Ya, sudah pastilah laki-laki ini takut kepada kita. Apa kau tidak melihat. Dia hanya sendirian," ucap temannya Leon disertai dengan senyuman mengejeknya kearah Darren.


"Hahahahahaha." mereka semua tertawa dengan tatapan matanya menatap kearah Darren.


Sedangkan Darren atau sosok Rendra menatap dengan tatapan mengerikan. Telinganya masih terus mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut kelima laki-laki yang ada di hadapannya itu.


"Oh, ya! Aku ingin memberitahu sesuatu padamu. Tapi sebelumnya, aku ingin bertanya. Apakah perusahaanmu Micro Sinopec dimasuki oleh tiga mata-mata? Dan apa benar perusahaanmu itu keamanannya sudah dihancurkan?" tanya Leon dengan menatap tajam kearah Darren.


Darren/sosok Rendra masih terus menatap dengan tatapan tajam kearah lima laki-laki di hadapannya itu. Kadang tatapan mata Darren/sosok Rendra menatap kearah Leon, mantan rekan kerjanya tiga tahun yang lalu.


Detik kemudian....


Darren/sosok Rendra seketika tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar pertanyaan dari Leon.


"Kau adalah manusia pecundang, manusia pengecut, manusia busuk dan manusia sampah." Darren/sosok Rendra berucap dengan kejamnya.


"Apa kau tidak salah menyebutku seperti itu, Darrendra Smith?! Kata-kata itu lebih tepat ditujukan untukmu. Kau dengan keji menghanguskan perusahaan milikku!" teriak Leon.


"Dan kau tidak lupakan apa yang telah kau lakukan kepadaku, hum? Kau tiba-tiba mengundurkan diri dari kerjasama perusahaan kita disaat perusahaan kita sedang membangun sebuah proyek. Dalam proyek tersebut, aku mengeluarkan banyak uang, sedangkan kau hanya seperempatnya saja." Darren menatap dengan tersenyum di sudut bibirnya.


"Sekarang katakan padaku, siapa diantara kita yang paling menjijikan? Aku atau kau? Jika aku menghanguskan perusahaan milikmu itu dikarenakan kau yang sudah terlebih dulu mengkhianatiku."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Darren/sosok Rendra membuat Leon mengepal kuat tangannya dan menatap penuh amarah kearah mantan rekan kerjanya itu.


"Tidak akan ada asap jika tidak ada api. Jika kau tidak mengkhianatiku dan tetap menyelesaikan proyek tersebut bersama, maka aku tidak akan menghanguskan perusahaan milikmu itu."


"Sekarang aku sudah mendapatkan dalangnya sekaligus bukti tentang kerusakan sistem data dan sistem keamanan perusahaanku."


Darren berbicara dengan sorot matanya yang menatap penuh amarah. Dendam masalah seketika keluar merusak akal pikirannya, ditambah lagi sosok Rendra yang sudah muncul sejak awal mood yang tak baik-baik saja.


"Sudahlah Leon. Lebih baik kita lakukan sekarang. Mumpung orangnya ada di hadapan kita sekarang. Jangan membuang-buang waktu lagi. Dia sendirian, sedangkan kita berlima. Aku sangat yakin dia tidak akan bisa mengalahkan kita." laki-laki yang bernama Gody berbicara sembari menatap wajah Leon dan Darren secara bergantian. Begitu juga dengan ketiga rekannya.


"Apa yang dikatakan oleh Gody benar Leon. Kita hajar sekarang saja anak pembunuh ini. Aku juga sudah muak melihat dia yang hidup bahagia bersama dengan keluarga serta sahabat-sahabatnya. Sementara aku sudah kehilangan keluargaku akibat ulah laki-laki brengsek itu!"


Mendengar ucapan dari Raffy membuat Gody dan Leon terkejut. Begitu juga dengan dua temannya, termasuk Darren/sosok Rendra.


"Maksud kamu?" tanya Leon.


"Dia!" tunjuk Raffy kearah Darren/sosok Rendra. "Dia sudah membunuh ayahku dan Pamanku dan beberapa anggota keluarga Jones. Yang tersisa dari keluarga Jones hanya aku, kakak perempuanku, dua sepupuku dan dua bibiku."


Deg..


Leon, Gody dan dua rekannya terkejut ketika mendengar cerita dari Raffy yang mengatakan tentang keluarga Jones.


Sementara Darren/sosok Rendra menatap tajam kearah Raffy. Seketika ingatan tentang kejadian di acara pernikahan kakak kelimanya Gilang berputar di kepalanya.


Seketika Darren/sosok Rendra tersenyum di sudut bibirnya ketika mengetahui ada beberapa keluarga Jones yang masih hidup.


"Hahahaha." seketika terdengar suara tawa dari Darren/sosok Rendra.


Mendengar suara tawa Darren membuat Leon dan keempat temannya langsung melihat kearah Darren yang juga menatap mereka.


"Aku pikir keluarga Jones sudah hancur dan lenyap dari dunia ini. Ternyata masih tersisa. Hahahaha. Sangat disesalkan pada saat kejadian itu aku tidak menghabisi semua keluarga Jones."


Raffy mengepal kuat tangannya ketika mendengar ucapan kejam dari Darren/sosok Rendra. Tatapan matanya menatap tajam kearah Darren/sosok Rendra.


"Brengsek! Lo manusia keji dan rendahan. Dasar pembunuh!" teriak Raffy.


Setelah mengatakan itu, Raffy langsung berdiri dari duduknya dan langsung menghajar Darren/sosok Rendra. Begitu juga dengan Leon, Gody dan dua temannya.


Dan pada akhirnya terjadilah perkelahian satu melawan lima laki-laki dimana Darren/sosok Rendra melawan lima musuhnya sekaligus.

__ADS_1


Bagh.. Bugh..


Duagh.. Duagh..


Praakk.. Kreekkk..


Bugh.. Bugh..


Duagh.. Duagh..


Terdengar pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan, pelintiran dan sayatan demi sayatan sehingga membuat kelima laki-laki itu terluka.


"Kalian pikir kalian bisa menyentuhku, hum? Sampai kapan pun kalian tidak akan bisa menyentuhku, apalagi mencoba menyakitiku." sosok Rendra berbicara dengan tatapan matanya menatap tajam kearah kelima laki-laki di hadapannya itu.


"Jangan sombong lo, Darrendra Smith!" bentak Raffy.


"Bukan sombong, tapi kenyataan. Buktinya kalian bisa lihat sendiri. Aku masih dalam keadaan baik-baik saja, sementara kalian sudah terluka di beberapa anggota tubuh kalian." Darren/sosok Rendra berucap dengan tatapan mata yang mengerikan.


"Hahahaha." Leon tertawa keras. "Hidupmu sudah seperti ini. Perusahaan Micro Sinopec milikmu sudah dalam keadaan tak terkendali, tapi kamu masih bersikap sombong seperti ini. Aku beritahu padamu, tuan Darrendra Smith. Akulah yang memasukkan tiga mata-mata itu ke perusahaan-perusahaan kamu itu. Aku juga yang memberikan perintah untuk menghancurkan sistem keamanan perusahaan kamu dan merusak data-data perusahaan kamu.


Sosok Rendra mengepal kuat tangannya ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Leon yang mengatakan bahwa dia sebagai dalang kerusakan sistem keamanan perusahaan Micro Sinopec.


"Tanpa kau memberitahuku, aku sudah mengetahuinya sejak beberapa menit yang lalu. Aku ucapkan terima kasih. Aku bahagia karena bisa mendengar langsung dari mulutmu. Dan aku juga mau berterima kasih kepadamu karena aku tidak perlu repot-repot untuk mencari tahu orang yang sudah membayar tiga mata-mata itu," sahut sosok Rendra.


Leon mengepal kuat kedua tangannya ketika mendengar ucapan dari Darren. Dia tidak menyangka jika Darren sudah mengetahui akan pelaku yang sebenarnya.


"Brengsek!"


Leon dan keempat temannya kembali menyerang Darren/sosok Rendra dengan brutal dan keji. Mereka berniat untuk menghabisi nyawa Darren/sosok Rendra hari ini juga.


^^^


Di luar club dimana tiga sahabat Darren yaitu Jerry, Axel dan Dylan. Kelima kakak mafianya bersama dua tangan kanannya sedang berbicara dengan Ramon. Ramon menceritakan dari awal hingga akhir ketika melihat Darren yang mendatangi sebuah club.


Jerry, Axel dan Dylan benar-benar bersyukur dua tangan kanannya dan juga tangan kanannya sahabat-sahabatnya masih hidup.


"Baik, tuan!"


Ramon, Axel, Jerry, Dylan kelima ketua mafia dan dua tangan kanannya melangkah kakinya memasuki Club tersebut. Di dalam Club Hansel memperhatikan gerak-gerik kelima pemuda yang menyerang Bos nya. Dia akan membantu Bos nya jika salah satu dari kelima pemuda itu bermain curang.


Praakk.. Praakk..


Praakk.. Praakk..


"Aakkhhh!" teriak dua temannya Leon, Gody dan Raffy.


Darren memukul kuat kepala dua teman Raffy, Gody dan Leon dengan menggunakan botol minuman miliknya sehingga membuat kepala dua pemuda itu terluka dengan menyemburkan darah segar.


Bruuukkkk.. Bruuukkk..


Kedua pemuda itu jatuh tak sadarkan diri di lantai Club.


Kini sosok Rendra telah sepenuhnya menguasai tubuh Darren. Jika beberapa menit yang lalu keduanya secara bergantian berkomunikasi dan berbicara dengan musuh-musuhnya, namun sekarang tidak lagi.


Sosok Rendra menatap dengan tatapan matanya yang penuh dendam dan amarah kearah tiga pemuda di hadapannya.


"Aku bersumpah, ini adalah hari terakhir kalian menghirup udara bebas di dunia ini. Setelah ini, kalian tidak akan bisa lagi bernafas." sosok Rendra berucap dengan tatapan mata mengerikan.


Melihat perkelahian di dalam Club. Beberapa orang datang lalu langsung menghajar sosok Rendra.


Hansel yang sejak tadi memantau keadaan seketika terkejut. Namun detik kemudian, Hansel berlari dan langsung memberikan tembakan bersamaan dengan tendangan kearah orang-orang yang hendak menyerang Bos nya.


Dor.. Dor..


Duagh.. Duagh..


Bruukk.. Bruukk..


Sekitar lima orang seketika tewas ditempat akibat tembakan dan tendangan dari Hansel.

__ADS_1


"Mundur kalian semua! Jik kalian ingin menyerang Bos saya, maka peluru ini menembus kepala dan jantung kalian!"


Mendengar ucapan serta ancaman dari Hansel membuat orang-orang tersebut melangkah mundur.


"Tapi pemuda itu yang....."


"Yang memulai perkelahian tersebut adalah orang-orang yang menyerang Bos saya. Bos saya hanya ingin melindungi diriya dari orang-orang itu!" jawab Hansel dengan suara yang dikeraskan.


"Ucapkan selamat tinggal pada dunia ini!" teriak sosok Rendra dengan berteriak.


"Darren, tidak!" teriak Axel, Jerry dan Dylan ketika melihat Darren hendak memukul kepala musuh-musuhnya dengan pecahan botol minuman.


Jerry hendak menghampiri Darren, namun dihalangi oleh Ziggy.


"Jangan. Dia bukan Darren, melainkan Rendra!"


Seketika Jerry terkejut ketika melihat di hadapannya adalah sosok Rendra, bukan sahabatnya.


Praakkk... Praakkk..


Praakk..


Jleb.. Jleb.. Jleb..


Jleb.. Jleb..


Sosok Rendra memukul dan menusuk-nusuk pecahan botol minuman itu secara bertubi-tubi di kepala dan dada kiri Gody, Leon dan Raffy sehingga membuat kepala dan dada kiri ketiganya terluka parah serta dalam.


Sreekkk.. Sreekkk..


Sosok Rendra menarik pecahan botol minuman itu yang masih tertancap di dada kiri ketiga pemuda itu memanjang ke bawah secara bergantian sehingga menimbulkan teriakan keras dari ketiganya.


"Aakkhhh!"


Setelah puas, sosok Rendra langsung menarik pecahan botol minuman itu secara kasar. Kemudian sosok Rendra memberikan tendangan kuat tepat di perut ketiganya hingga membentur sebuah meja kaca.


Gedebug..


Kreekkk..


Ketiga pemuda itu tewas seketika karena punggungnya mengenai sudut meja kaca tersebut.


Prang..


Pecahan botol minuman itu jatuh dari genggaman tangannya. Sosok Rendra tersenyum manis ketika melihat semua musuh-musuhnya telah tertidur dengan pulasnya.


Melihat keadaan sekitarnya merasa aman. Berlahan Axel, Jerry dan Dylan melangkahkan kakinya menghampiri sosok Rendra, diikuti oleh kelima ketua mafia, dua tangan kanannya dan Ramon.


"Ren," sapa Axel, Jerry dan Dylan dengan suara lirihnya.


Sosok Rendra langsung mengalihkan perhatiannya ke samping. Dapat dia lihat ketiga sahabatnya Darren menatap dirinya dengan tatapan sedih.


Detik kemudian...


Tubuh Darren seketika jatuh tak sadarkan diri. Dan dengan sigap Noe dan Chico langsung berlari dan berhasil menahan tubuh Darren dari belakang.


"Darren!"


"Kita ke rumah sakit!" seru Ziggy.


"Kalian urus mayat-mayat itu," perintah Devian kepada tangan kanannya.


"Baik, Bos!" Dorris dan Marco menjawab bersamaan.


"Kalian bantu Dorris dan Marco," perintah Enzo.


"Baik, Bos!" Justin dan Tommy menjawab bersamaan.


Setelah itu, semua pergi meninggalkan Club tersebut untuk menuju rumah sakit. Tinggallah Dorris, Marco, Justin dan Tommy

__ADS_1


__ADS_2