KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Ucapan Bijak Dari Sahabat


__ADS_3

Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel saat ini berada di kampus. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya Brenda. Sementara untuk Brenda sendiri belum memutuskan untuk kuliah.


Kini Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel berada di kantin. Setiba mereka di kampus, mereka langsung menuju kantin.


"Gue kangen Darren," ucap Axel sembari mengaduk-aduk minumannya.


Mendengar ucapan dari Axel. Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel langsung melihat kearah Axel.


Seketika wajah dan senyuman Darren melintas di kepala mereka masing-masing.


Dan detik kemudian, air mata mereka pun mengalir membasahi wajahnya ketika bayangan wajah dan senyuman Darren berputar-putar di kepalanya.


"Ini sudah tiga hari sejak mobil Darren ditemukan," sahut Dylan.


"Dan tiga hari juga Darren dinyatakan menghilang dalam insiden kecelakaan itu," ucap Rehan.


"Kita tidak bisa diam saja hanya menunggu kabar dari kelima kakak mafia kita. Dan juga anggota keluarga kita yang lainnya," ujar Willy.


"Kita ini adalah sahabat-sahabatnya Darren. Kita juga harus ikut mencari keberadaan Darren," ucap Darel.


Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel saling memberikan tatapan. Dan setelah itu, mereka pun memutuskan untuk ikut mencari keberadaan Darren, sahabat kesayangannya itu.


Ketika Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel tengah memikirkan Darren dan tengah merencanakan untuk mencari keberadaan Darren, tiba-tiba ponsel milik Dylan berbunyi.


Dylan yang mendengar ponselnya berbunyi langsung mengambilnya di saku celananya.


Setelah ponselnya ada di tangannya. Dylan melihat nama 'Steven' di layar ponselnya.


"Siapa?" tanya Qenan.


"Steven ," jawab Dylan.


"Ya, udah angkat. Siapa tahu penting," ucap Rehan."


Setelah itu, Dylan langsung menjawab panggilan dari Steven.


"Hallo, Steven. Ada apa?"


"Maaf, sebelumnya Bos!"


"Iya, tidak apa-apa! Katakan!"


"Bisakah Bos ke perusahaan Micro Sinopec?"


"Kenapa? Ada apa? Apa ada masalah?"


"Begini, Bos! Ini tentang tiga perusahaan yang ditolak langsung oleh Bos Darren."


"Kenapa dengan tiga perusahaan itu?"


"Tiga perusahaan itu sudah tahu apa yang terjadi terhadap Bos Darren hingga tiga perusahaan itu berniat untuk masuk ke dalam perusahaan Micro Sinopec untuk melakukan pembobolan data-data perusahaan sehingga seolah-olah perusahaan Micro Sinopec telah melakukan perjanjian kerja sama dengan mereka."


"Apa?!"


Dylan seketika terkejut ketika mendengar perkataan dari Steven selaku Direktur di perusahaan Micro Sinopec milik Darren.


Mendengar teriakkan dari Dylan membuat Qenan, Willy, Axel, Jerry, Rehan dan Darel terkejut dan juga khawatir.


"Lan, ada apa?" tanya Jerry.


Dylan tidak menjawab pertanyaan dari Jerry. Dia masih fokus berbicara dengan Steven di telepon.


"Kapan mereka akan melakukannya?"


"Lusa, Bos. Sekitar pukul 12 siang."


"Baiklah. Aku mengerti!"


"Apa yang harus kita lakukan, Bos?"


"Kau tidak perlu khawatir. Yang perlu kau lakukan adalah perketat penjagaan, terutama dibagian sumber data perusahaan. Aktifkan alarm keamanan yang ada dalam ruangan itu sampai saya datang."


"Baik, Bos."


Setelah mengatakan itu, Dylan langsung mematikan panggilannya.


"Kenapa dengan perusahaan Micro Sinopec?" tanya Qenan.

__ADS_1


"Ada yang ingin bermain curang dengan perusahaan Micro Sinopec," jawab Dylan.


"Ya, sudah! Kalau begitu kita kesana sekarang!" seru Jerry.


"Biarkan aku saja yang menyelesaikan masalah ini. Untuk sementara ini aku yang akan memimpin perusahaan itu. Aku tidak mau jika sampai terjadi hal yang buruk terhadap perusahaan tersebut," ucap Dylan.


"Baiklah," jawab Qenan, Willy, Axel, Jerry, Rehan, dan Darel bersamaan.


"Untuk sementara ini hanya kalian berdua saja yang ada di Showroom dan bengkel," ucap Dylan.


"Tidak masalah!" jawab Jerry.


"Kau pimpinlah perusahaan Micro Sinopec. Jangan sampai ketiga perusahaan itu berhasil melakukan hal buruk terhadap perusahaan itu. Kasihan Darren. Darren pasti akan sedih jika tahu perusahaannya hancur," sahut Axel.


Mendengar ucapan dari Axel dan Jerry membuat Dylan tersenyum.


"Baiklah. Kalau begitu aku pergi sekarang. Izinkan aku kepada Dosen."


"Baik!" seru Qenan, Willy, Axel, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.


***


Di sebuah ruang kerja perusahaan ER'Land terlihat seorang pria paruh baya yang sedang duduk melamun di sofa. Di tangannya terdapat sebuah bingkai foto dimana di bingkai foto itu terlihat seorang pemuda manis dan tampan.


Pria paruh baya itu adalah Erland Faith Smith. Sementara pemuda yang ada di dalam bingkai foto itu adalah putra kesayangannya Darrendra Smith.


Erland menatap dengan hati yang terluka dan dengan deraian air mata wajah putra ketujuhnya yang sudah menghilang selama tiga hari dalam pasca kecelakaan tiga hari yang lalu.


"Sayang. Kamu dimana, Nak? Papa merindukanmu. Papa berharap kamu baik-baik saja dimana pun kamu berada. Segeralah pulang," ucap Erland sembari tangannya mengusap-usap wajah putranya di bingkai foto itu.


Cklek!


Terdengar suara pintu ruang kerjanya dibuka. Dan terlihat tujuh pria paruh baya yang berdiri di ambang pintu.


Ketujuh pria paruh baya itu menatap sedih kearah Erland yang saat ini masih fokus menatap bingkai foto yang mereka yakini bahwa bingkai foto itu adalah bingkai foto Darren.


Ketujuh pria paruh baya itu pada akhirnya memutuskan untuk menghampiri Erland yang masih menatap foto putranya. Dan tak lupa menutup kembali pintu tersebut.


Kini ketujuh pria paruh baya itu sudah duduk di sofa berhadapan dengan Erland. Tatapan mata mereka masih terus menatap kearah Erland.


"Erland," panggil salah satu dari ketujuh pria paruh baya itu.


"Dario, Aldez, David, Dellano, Valeo, Eric, Hendy." Erland menyapa satu persatu nama sahabat-sahabatnya itu.


Ketujuh pria paruh baya itu adalah para sahabat-sahabatnya Erland. Mereka sengaja datang ke perusahaan milik Erland untuk menghibur sahabatnya itu.


"Sejak kapan kalian disini?" tanya Erland sembari meletakkan kembali bingkai foto putranya itu di meja yang ada di samping sofa.


"Baru saja," jawab David mewakili sahabatnya yang lain.


"Kita kesini hanya ingin melihat kondisimu," ucap Eric.


"Aku dengar dari Carissa. Kau beberapa hari ini kurang istirahat. Bahkan kau tidak pernah ikut makan bersama dengan keluargamu," ucap Hendy.


"Erland, ayolah! Kau tidak bisa seperti ini hanya karena memikirkan Darren. Pikirkan juga istri dan putra-putramu yang lain," sahut Aldez.


"Aku dan yang lainnya sangat tahu perasaanmu. Kau begitu merindukan Darren. Disini bukan kau saja yang begitu merindukan Darren. Aku, Dario, Aldez, David, Valeo, Eric, Hendy juga merindukan Darren," ujar Dellano.


"Istrimu, putra-putramu, Carissa, Evan, ketujuh sahabat Darren dan kelima kakak-kakak mafia Darren. Mereka juga semua juga merindukan Darren. Semua orang-orang yang menyayangi Darren begitukah merindukan Darren," pungkas Valeo.


"Erland! Kau kepala keluarga. Dan kau juga penopang hidup istri dan putra-putramu. Kau harus bangkit. Jangan seperti ini," ucap David.


"Darren diluar sana mungkin sedang berjuang untuk bisa kembali bersama kita. Sementara kau disini seperti ini," sahut Dario.


"Erland, tugasmu banyak dan juga berat. Dan kau tidak bisa hanya skak disatu titik saja. Kau seorang suami, ayah dan sekaligus kakek. Kau harus menjadi penguat untuk keluargmu. Istrimu, putra-putramu, Carissa, Evan dan ketiga keponakanmu juga sangat merindukan Darren. Mereka juga sedih disini. Bukan kau saja." Eric berbicara dengan penuh penekanan dengan tatapan matanya menatap kearah Erland.


"Dan kau juga jangan lupakan satu orang lagi?!" seru Dario.


"Erica!" Aldez, David, Dellano, Valeo, Eric dan Hendy bersamaan.


"Erica belum mengetahui masalah Darren yang pergi meninggalkan kita semua hingga berakhir Darren hilang dalam sebuah kecelakaan yang menimpanya tiga hari yang lalu. Coba kau pikirkan dan bayangkan  bagaimana reaksi Erica ketika mengetahui tentang ayah angkatnya?" ucap dan tanya Aldez.


Mendengar ucapan demi ucapan dari ketujuh sahabatnya membuat air mata Erland tak bisa ditahan lagi. Air matanya itu langsung mengalir membasahi wajahnya.


"Erland. Keluargamu membutuhkanmu terutama putra-putramu. Yang paling terpukul akan musibah yang dialami oleh Darren adalah Gilang dan Darka karena mereka yang paling dekat dengan Darren," ucap Dellano.


"Dan pikirkan juga Erica. Dia masih membutuhkanmu. Dia sudah kehilangan kedua orang tua kandungnya. Dan sekarang ayah angkatnya menghilang. Dan jika kau seperti ini terus, maka dia juga akan kehilangan kamu." Hendy berbicara dengan menatap wajah sedih dan basah Erland.

__ADS_1


"Kamu tidak sendirian, Erland! Kita semua ada untuk kamu," ujar Eric.


Erland menatap satu persatu wajah ketujuh sahabatnya. Lalu seketika Erland tersenyum.


"Terima kasih karena kalian sudah mengingatkanku. Maaf karena aku sudah seperti ini," ucap Erland.


"Kau tak salah, Erland! Wajar saja kau menjadi seperti sekarang ini. Itu dikarenakan kau begitu menyayangi Darren," sahut Aldez.


"Ketika kau hilang dalam kecelakaan pesawat beberapa bulan yang lalu. Darren juga sepertimu. Tidak ada gairah hidup sama sekali. Bahkan dia mengurung diri beberapa hari di dalam kamar. Namun berkat Erica. Darren berhasil melewati semuanya. Dia mulai beraktivitas kembali," tutur Hendy.


Mendengar ucapan dari Hendy membuat Erland terkejut. Dia tidak menyangka bahwa putra kesayangannya itu begitu tertekan akan kehilangannya saat itu.


"Oh iya! Bagaimana pencarian putra bungsuku?" tanya Erland dengan menatap satu persatu wajah ketujuh sahabatnya yang juga menatap dirinya.


"Belum ada hasil sama sekali. Tapi mereka masih terus mencari," jawab Dario.


"Lalu kau bagaimana? Apa sudah mendapatkan kabar dari empat tangan kananmu?" tanya Valeo.


"Belum," jawab Erland.


"Jangan berkecil hati. Pencarian itu butuh proses. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Yang kita lakukan sekarang ini hanyalah berdoa kepada Tuhan. Semoga semuanya berjalan lancar tanpa hambatan," ucap Eric.


"Hm!" Erland, Aldez, David, Dellano, Valeo, Eric, Hendy dan Dario bergumam bersamaan sembari menganggukkan kepalanya.


***


Dylan sudah berada di perusahaan Micro Sinopec milik Darren. Setibanya dia disana, Steven dan beberapa karyawan menyambut kedatangannya.


Kini Dylan berada di ruang dimana semua data-data perusahaan tersimpan rapi.


Steven sudah menceritakan semuanya kepada Dylan, termasuk data dan identitas asli dari tiga perusahaan yang hendak melakukan hal buruk terhadap perusahaan Micro Sinopec.


Dylan saat ini tengah berkutat dengan layar laptop milik Darren yang memang tersedia di ruangan itu. Laptop itu dirancang dan terhubung dengan beberapa alat penghubung yang ada di dalam ruangan itu.


Darren sudah menjelaskan cara kerja semua alat-alat yang ada di dalam ruangan itu kepada Dylan ketika Dylan ikut bersama Darren ke perusahaan Micro Sinopec saat itu.


"Kau benar-benar jenius, Ren! Aku nggak nyangka kamu menyiapkan semua ini untuk melindungi milikmu. Dan berkat kejeniusan kamu. Dan berkat pengetahuan dari kamu. Aku dan yang lain juga melakukan hal yang sama di perusahaan milik kami. Kami melindungi perusahaan milik kami dengan pengetahuan kamu," batin Dylan.


Dylan tersenyum ketika membayangkan wajah Darren ketika menjelaskan cara kerja laptop dan semua alat-alat yang terpasang saling terhubung yang ada di ruangan yang dia tempati saat ini.


"Aku bangga padamu, Ren! Pesanku untukmu, cepatlah pulang!"


Setelah beberapa menit berkutat dengan laptopnya, Dylan akhirnya selesai dengan pekerjaannya.


Semua alat-alat yang ada di dalam ruangan tersebut sudah terpasang. Jadi jika ada yang masuk ke dalam ruangan ini, maka orang itu akan langsung bisa terdeteksi. Lengkap dengan wajahnya. Sekali pun orang itu menggunakan penutup wajah.


Selesai dengan pekerjaannya, Dylan langsung keluar meninggalkan ruangan tersebut.


^^^


Kini Dylan berada di lobi utama pintu masuk perusahaan Micro Sinopec. Dia tidak sendirian, melainkan bersama dengan Steven selaku Direktur dan semua karyawan dan karyawati.


"Dengarkan semuanya. Pasti kalian semua sudah tahu musibah yang menimpa Bos kalian. Beberapa hari yang lalu?"


"Iya, Bos! Kami sudah tahu apa yang terjadi terhadap Bos Darren," jawab seorang karyawan laki-laki.


"Kalian semua sudah tahu siapa saya kan? Dan apa hubungan saya dengan Bos kalian? Maka dari itu, saya memutuskan untuk memimpin perusahaan ini selama Bos kalian masih dalam pencarian. Saya melakukan semua ini karena saya tidak ingin terjadi sesuatu terhadap perusahaan ini. Perusahaan ini adalah kekuatan sekaligus nyawa Bos kalian."


"Tolong kerja samanya."


"Baik, Bos Dylan!" seru semua karyawan dan karyawati.


Dylan melihat kearah Steven lalu membisikkan sesuatu di telinganya. "Waspadalah. Aku mencurigai jika ada mata-mata di perusahaan ini."


Steven seketika membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan dari sahabat Bosnya. Dia tidak menyangka jika di perusahaan tempat dia bekerja ada mata-mata.


"Bersikap biasa saja seolah-olah tidak ada masalah. Jadi dengan begitu kau akan dengan mudah mengetahui siapa mata-mata itu. Aku sudah memasang beberapa alat di sekitar ruangan dan juga sudut ruangan yang ada di dalam dan di luar perusahaan ini. Kau lakukan tugasmu sembari terus memantau. Begitu juga dengan alat-alat yang sudah aku pasang itu."


Steven langsung menganggukkan kepalanya tanda mengerti akan perkataan dan arahan dari sahabat Bosnya itu.


Dylan kemudian menjauhkan wajahnya dari wajah Steven lalu menatap satu persatu wajah karyawan dan karyawati yang ada di hadapannya.


"Bekerjalah dengan baik. Jika ada apa-apa, jangan sungkan-sungkan untuk membicarakannya kepada saya," ucap Dylan.


"Baik, Bos!" jawab mereka bersamaan.


Setelah mengatakan itu kepada semua karyawan dan karyawati Darren. Dylan pergi meninggalkan lobi untuk menuju kampus.

__ADS_1


Sebelum pergi, Dylan sudah memberikan keamanan perusahaan kepada Steven dan juga beberapa anggotanya yang dia bawa ketika pergi ke perusahaan Micro Sinopec.


__ADS_2