KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kedatangan Para Kakak


__ADS_3

"Darren! Nandito! Kalian dimana!" Darka berteriak memanggil kedua adiknya.


"Darren! Nandito! Kalian dengar kakak tidak!" Gilang juga berteriak memanggil kedua adiknya itu.


Gilang, Darka, Brenda, ketujuh sahabat-sahabatnya, Mehdy, Monica dan para anggota Organisasi yang ikut dalam kegiatan Touring tersebut dalam keadaan baik-baik saja, walau keadaan mereka dalam keadaan luka-luka.


Semuanya menangis dikarenakan Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan dan Nandito tidak ditemukan. Tidak ada yang tahu keberadaan mereka.


Kini Gilang, Darka dan para kelompoknya sudah berkumpul di sebuah lapangan dimana lapangan tersebut tempat kemahnya Darren dan kelompok Organisasi Kampusnya.


"Winka! Salom!" panggil kepala desa kepada dua gadis.


"Iya, pak!" Winka dan Salom langsung menjawab panggilan dari kepala desa itu.


"Apa kalian berdua yakin dengan laporan kalian itu?"


"Kami yakin Pak!"


"Ada apa ini?" tanya Gilang.


Mendengar pertanyaan dari Gilang membuat kepala desa itu langsung melihat kearah Gilang. Begitu juga dengan Winka dan Salom.


"Begini tuan Gilang. Winka dan Salom ini memberikan informasi kepada tuan Qenan, tuan Willy, tuan Axel, tuan Jerry, tuan Dylan, tuan Darel dan tuan Rehan bahwa mereka melihat tuan Darren dan tuan Nandito pergi menuju lokasi yang kami para warga desa tidak pernah pergi kesana!"


Deg..


Gilang dan Darka seketika terkejut ketika mendengar penjelasan dari kepala desa itu. Begitu juga dengan Brenda, ketujuh sahabat-sahabatnya dan kelompok mereka.


"Apa maksud anda, hah?!" bentak Darka.

__ADS_1


"Begini, tuan! Lokasi yang didatangi oleh tuan Darren dan tuan Nandito adalah lokasi yang jarang dimasuki oleh kami."


"Apa?!"


Gilang, Darka serta para kelompoknya seketika berteriak ketika mendengar ucapan dari kepala desa itu.


"Kalian jangan salah mengartikan dari ucapan kepala desa. Kami para warga desa memang tidak pernah pergi kesana, tapi bukan berarti lokasi itu berbahaya. Jawabannya adalah lokasi tersebut tidak berbahaya sama sekali. Lokasi tersebut sangat aman bahkan aman untuk ditempati," sahut salah satu warga laki-laki.


"Jika aman. Kenapa kalian tidak pernah kesana. Atau dengan kata lain kalian jarang datang kesana?" tanya Brenda.


"Lokasi itu adalah mata pencaharian kami. Disana tersedia banyak buah-buahan serta sayur-sayuran yang kami tanam. Kenapa kami jarang kesana. Karena kami menyembunyikan lokasi itu dari dunia luar. Kami tidak ingin orang-orang luar mengetahuinya kemudian mereka datang dan mengambil semua itu," jawab seorang wanita paruh baya.


"Jika ingin kesana, maka kami harus melapor dulu. Jika mendapatkan izin. Hanya lima orang yang boleh pergi kesana. Lima orang itu dipilih dari beberapa anggota keluarga yang berbeda. Sementara untuk yang lainnya akan memberikan catatan kepada lima orang tersebut. Catatan tersebut adalah bahan-bahan yang mereka inginkan."


"Waktu untuk pergi kesana sekitar pukul 7 malam. Dan kembali pulang ke rumah pukul 12 malam. Kenapa seperti itu? Itu karena orang-orang diluar sana tidak akan bisa melacak pergerakan kami. Maka dari itulah orang-orang diluar sana beranggapan desa kami adalah desa yang miskin bahan-bahan makanan. Terlihat dengan kehidupan kami seperti sekarang ini."


Mendengar ucapan demi ucapan dari kepala desa dan beberapa warga desa membuat Gilang, Darka, Brenda serta anggota lainnya akhirnya paham kenapa lokasi itu jarang dimasuki.


"Pasti ada sesuatu sehingga membuat kedua adik saya pergi kesana," sela Gilang.


Gilang dan Darka menatap kearah Winka dan Salom. Begitu juga dengan Brenda, ketujuh sahabat-sahabatnya, Mehdy, Monica dan para kelompoknya termasuk para warga desa dan kepala desa.


"Dari yang saya lihat dan saya dengar. Kakak Darren berlari kearah barat sembari berteriak memanggil nama Nandito," ucap Winka.


"Begitu juga dengan saya. Saya mendengar pemuda yang namanya Nandito itu juga berteriak memanggil nama kakak Darren. Wajahnya juga terlihat panik dan ketakutan," kata Salom.


"Lalu saya kemudian ingin melaporkan masalah tersebut langsung kepada kepala desa, namun saya melihat ketujuh sahabatnya kakak Darren. Dan berakhir saya memberitahu mereka," ucap Winka.


"Begitu juga dengan saya. Saya juga memberitahu tentang apa yang saya lihat dan saya dengar kepada ketujuh sahabatnya kakak Darren," ucap Salom.

__ADS_1


"Kakak Darren dan kakak Nandito berada d lokasi yang berbeda!" seru Salom dan Winka.


Kepala desa tersebut menatap kearah Gilang dan Darka. Pria itu berusaha untuk menenangkan keduanya.


"Tuan Gilang dan tuan Darka tidak perlu khawatir. Saya sudah memerintahkan sekitar 40 orang untuk menyisir dua lokasi itu guna mencari tuan Darren, tuan Nandito dan sahabat-sahabatnya tuan Darren. Semoga mereka berhasil menemukan keberadaan tuan Darren, tuan Nandito dan sahabat-sahabatnya tuan Darren."


Gilang, Darka serta yang lainnya berharap para warga berhasil menemukan keberadaan Darren, sahabat-sahabatnya Darren dan Nandito tanpa kurang satu apapun. Mereka ingin semuanya dalam keadaan baik-baik saja.


Ketika Gilang, Darka serta yang lainnya memikirkan dan mengkhawatirkan Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan dan Nandito seketika mereka semua dikejutkan dengan suara panggilan beberapa orang.


Beberapa orang tersebut memanggil nama adik-adiknya masing-masing disertai mimik wajah dan sorot mata yang kentara dengan ketakutan.


Gilang, Darka, Brenda serta yang lainnya langsung melihat keasal suara. Begitu juga dengan kepala desa dan para warganya.


"Kakak Davin!" teriak Gilang dan Darka memanggil kakaknya itu.


Yah! Yang memanggil nama adik-adiknya masing-masing itu adalah Davin, Aaron, Angga, Ardy, Cakra, Dendra, Ettan dan Radeva. Mereka datang bersama kelima ketua mafia, masing-masing 3 tangan kanannya dan 30 anggota mafianya.


Devian, Chico, Enzo, Noe dan Ziggy memakai pakaian biasa, bukan pakaian khusus mafianya. Begitu juga dengan tangan kanannya dan anggotanya.


Grep..


Davin langsung memeluk tubuh kedua adiknya. Hati saat ini sedikit lega karena melihat kondisi adiknya baik-baik saja, walau ada sedikit luka di wajahnya.


Devian, Chico, Enzo, Noe dan Ziggy menatap sekitarnya. Dan tatapan mata mereka terhenti pada rombongan Touring. Mereka tidak menemukan keberadaan Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan dan Nandito sepupunya Darren.


"Kenapa Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan dan Nandito tidak bersama kalian?!" tanya Noe.


Mendengar pertanyaan dari Noe membuat Davin langsung melepaskan pelukannya. Dan seketika dirinya sadar bahwa kedua adiknya yang lainnya tidak terlihat. Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabat adiknya itu.

__ADS_1


"Gilang! Darka! Dimana mereka?" tanya Cakra kakaknya Rehan.


__ADS_2