KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
25. Igauan Darren


__ADS_3

[DI DALAM PERJALANAN]


Gilang, Darka dan Darren berada di dalam mobil. Mereka saat ini dalam perjalanan pulang ke rumah. Darka bersama Darren kursi penumpang. Sedangkan Gilang yang menyetir. Sesekali Gilang melirik Darren melalui kaca spionnya.


Darren kini sedang tertidur dengan menyandarkan kepalanya di bahu Darka. Lebih tepatnya Darka yang menyandarkan kepala adiknya di bahunya. Sesekali Darren masih merasakan sesak di bagian dada kirinya dan juga nafasnya masih belum teratur.


Darren dengan setia menghapus keringat yang membasahi wajah tampan adiknya itu.


"Darren... Hiks." Darka terisak saat melihat kondisi adiknya saat ini.


"Lang, badan Darren panas. Sepertinya Darren demam," ucap Darka khawatir.


"Iya, Daria. Sebentar lagi kita sampai. Kau tenang, ya." Gilang berusaha menghibur Darka.


"Ma-mama," igau Darka.


"Darren," lirih Gilang dan Darka.


Gilang melirik Darren dari kaca spionnya. Dirinya benar-benar khawatir saat ini, tapi Gilang berusaha untuk tetap fokus dalam membawa mobilnya. Sedangkan Darka menggenggam tangan kanan adiknya itu.


"Mama. A-aku merindukan ma-ma," igau Darren lagi.


"Kenapa Darren bicara seperti itu? Bukankah Darren setiap hari bertemu dengan Mama di rumah," batin Gilang dan Darka.


"Ma-ma.. jem-put.. aku.. bawa aku pergi ber-samamu."


DEG!


Gilang dan Darka terkejut saat mendengar igauan Darren. Darka melihat kearah Gilang. Gilang melihat Darka melalui kaca spionnya. Mereka benar-benar khawatir saat ini.


"Gil. Kenapa Darren berbicara seperti itu? Apa Darren...?"


"Darka." Gilang menggelengkan kepalanya.


"Darren. Apa kau telah mengetahui soal Mama kandung kita?" batin Gilang.


***


[KEDIAMAN KELUARGA SMITH]


Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Seluruh anggota keluarga sudah berada di rumah. Dan saat ini mereka semua tengah di ruang tengah, kecuali Gilang, Darka dan Darren yang masih di dalam perjalanan.


"Kenapa Gilang, Darka dan Darren belum pulang juga? Inikan sudah jam 4 sore!" seru Agneta.


"Mungkin sebentar lagi, Ma." Davin menjawab pertanyaan dari ibunya.


"Tapikan gak biasanya mereka seperti ini," ucap Agneta khawatir.


"Aish! Mama ini," kesal Mathew. "Mama itu harusnya ngerti bagaimana kesibukan seorang mahasiswa itu? Jam pulang seorang mahasiswa itu tidak bisa ditentukan. Kadang-kadang pulangnya cepat dan kadang-kadang pulangnya telat. Gak bisa dipastikan. Apalagi kan tadi pagi kak Darren mengatakan akan membahas masalah kegiatan sosial kampus mereka." Mathew menjawab perkataan ibunya dengan wajah kesal.


Agneta yang mendengar ucapan dari putranya itu hanya bisa diam sembari menatap wajah putranya itu. Sedangkan yang lainnya hanya tersenyum gemas melihat keduanya, apalagi melihat wajah Agneta yang dinasehati oleh putranya sendiri.


"Udah pinter kamu ya sekarang nasehatin Mama, hum!"


"Bukan nasehatin Mama. Cuma ngasih tahu doang," jawab Mathew.


"Hahahaha. Sudahlah, kak. Mengalah saja. Kakak tidak akan menang melawan Mathew. Mathew itu terlalu pintar menjawab," ucap Carissa.


"Bibi salah. Kak Mathew itu bukannya pintar, tapi licik." Melvin berucap sembari mengejek kakaknya.


BUUGGHH!


Mathew melempari bantal sofa ke arah Melvin dan lemparannya tepat mengenai wajah adiknya.


"Aakkhhh."


"Kakak!" teriak Melvin.


"Apa? Mau lagi?" tanya Mathew sembari memperlihatkan wajah garangnya. Hal itu sukses membuat Melvin menciut.


"Aish!" Mathew merengut kesal.


Sedangkan Mathew tersenyum kemenangan. Sementara anggota keluarga yang lainnya tersenyum melihat keduanya.

__ADS_1


Disaat mereka semua tengah bersenda gurau, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara Bell.


TING!


TONG!


"Nah, mungkin itu mereka?" seru Tristan.


"Biarkan aku yang membukakan pintunya!" seru Davin.


Setelah mengatakan hal itu, Davin langsung beranjak dari duduknya untuk menuju pintu utama.


^^^


Davin sudah berada di ruang tamu. Saat ini dirinya sedang berdiri di depan pintu. Tangannya menyentuh knop pintu.


CKLEK!


(Pintu terbuka)


Ketika pintu utama terbuka, Davin terkejut saat melihat adik bungsunya yang sedang dipapah oleh Gilang dan Willy.


"Astaga, Darren! Darka, Gilang. Darren kenapa?"


"Kakak. Biarkan kami masuk dulu," ucap Gilang.


"Ach, iya! Maafkan kakak. Ya, sudah! Naikin Darren ke punggung kakak," ujar Davin.


Gilang, Willy dan dibantu oleh Darka meletakkan tubuh Darren di atas punggung Davin. Setelah dipastikan Darren benar-benar berada di atas punggung Davin. Davin langsung membawa Darren ke kamarnya diikuti oleh yang lainnya.


Saat melewati ruang tengah, anggota keluarga yang berada di ruang tengah sontak terkejut saat melihat Darren digendong oleh Davin. Mereka semua pun menghampiri Davin, Gilang, Darka dan sahabat-sahabat Darren.


"Davin. Kenapa dengan Darren?" tanya Erland khawatir.


"Nanti saja nanyanya, Pa. Aku harus bawa Darren ke kamar dulu. Ditambah lagi badan Darren sedikit panas," jawab Davin.


"Ach, iya. Baiklah. Maafkan Papa."


^^^


Erland duduk di pinggir tempat tidur putranya. Tangannya tak hentinya mengelus-elus lembut rambut coklat putranya itu. Erland juga tak lupa memberikan beberapa ciuman di kening dan di kedua pipinya.


"Darren, putra Papa sayang." Erland berucap lirih.


CKLEK!


Pintu kamar Darren dibuka. Dan masuklah Agneta dengan membawa baskom kecil di tangannya.


Agneta mengompres Darren dengan sangat telaten. Agneta juga tak lupa memberikan ciuman di kedua pipi putranya itu.


"Sayangnya, Mama."


Mereka semua menatap Darren dengan hati yang terluka. Hati mereka benar-benar sakit melihat kondisi Darren yang saat ini.


"Darren," lirih para kakak-kakaknya, termasuk tiga kakak sepupunya.


"Kak Darren," lirih Adrian dan adik-adiknya.


"Kenapa jadi begini, Darren sayang?" batin Carissa dan Evan.


Mereka masih terus memperhatikan wajah Darren. Secara bergantian mereka memberikan kecupan sayang di kening dan di kedua pipinya. Lalu detik kemudian, mereka mendengar lenguhan dari bibir Darren.


"EEUUGGHHH."


"Darren."


"Ren."


Berlahan Darren membuka kedua matanya. Saat matanya terbuka sempurna, Darren dapat melihat anggota keluarganya dan para sahabatnya berada di dalam kamarnya.


"Sayang," panggil Erland dan Agneta bersamaan.


Darren hanya menatap keduanya dengan tatapan datarnya. Tidak ada niat sedikit pun untuk menjawab atau hanya sekedar tersenyum. Lalu Darren mengalihkan pandangannya melihat kearah sahabat-sahabatnya.

__ADS_1


"Kalian disini?"


"Ya, Ren! Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Dylan.


"Aku udah mendingan. Kalian tidak perlu khawatir. Kalau kalian mau pulang, pulang saja. Tidak usah balik ke kantor, ke galeri dan ke Shoowroom."


Rehan, Willy, Qenan, Axel, Jerry, Darel dan Dylan mengangguk.


Lalu tiba-tiba terdengar suara ponsel dari salah satu sahabat Darren.


DRTT.. DRTT..


Suara ponsel itu adalah ponsel milik Qenan. Qenan langsung merogoh ponselnya di saku celananya. Dan dapat dilihat oleh Qenan tertera kantor di layar ponselnya.


"Siapa, Nan?" tanya Willy.


"Dari kantor," jawab Qenan.


"Udah angkat," ucap Willy.


Setelah itu, Qenan pun langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo."


"Hallo, Bos. Bisa kembali ke Kantor sekarang."


"Ada apa?"


"Ada beberapa orang yang datang ke Kantor dan buat keributan, Bos."


"Apa? Ada berapa orang mereka?"


Baik Darren, sahabat-sahabatnya maupun anggota keluarga Smith terkejut dan juga khawatir mendengar Qenan yang tiba-tiba berteriak


"Qenan. Ada apa?" tanya Jerry.


Qenan mengabaikan pertanyaan dari Jerry. Dirinya masih fokus berbicara dengan salah satu karyawan di Perusahaan milik Darren.


"Mereka berjumlah 50 orang, Bos."


"Baiklah. Pastikan mereka jangan sampai masuk ke dalam sampai saya dan sahabat-sahabat saya datang."


"Baik, Bos."


PIP!


Setelah mengatakan hal itu, Qenan langsung mematikan panggilan tersebut. Qenan melihat kearah Darren.


Darren yang melihat tatapan mata Qenan dapat mengartikan pasti terjadi sesuatu pada Perusahaannya.


"Qenan. Ada apa?" tanya Darren.


"Perusahaan Accenture diserang, Ren!" jawab Qenan.


Mendengar jawaban dari Qenan. Darren tersenyum sinis.


"Ternyata kau punya nyali juga untuk menyerang Perusahaanku. Kau sudah salah bermain denganku, Samuel. Kau tidak akan pernah bisa menyentuh atau pun merebut milikku," gumam Darren.


Gumamannya itu terdengar oleh sahabat-sahabatnya dan juga anggota keluarganya.


Setelah mengatakan hal itu, Darren menatap sahabat-sahabatnya. Qenan, Willy. Kalian pergi ke Perusahaan. Sampai disana pastikan mereka jangan sampai melihat kalian. Kalian masuk melalui pintu samping jalur B.


Setelah kalian masuk ke dalam Perusahaan, kalian langsung menuju ke ruanganku. Di ruang itu ada foto wanita. Di belakang foto itu ada tombol. Lebih baik kalian pergi sekarang. Nanti tiba disana, kalian hubungi aku."


"Baiklah," jawab Willy dan Qenan.


"Kami ikut dengan kalian!" seru Axel.


"Hm." Qenan dan Willy berdehem dan menganggukkan kepala.


Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan kamar Jungkook untuk menuju Perusahaan.


"Tunggu kehancuranmu, Samuel!" batin Darren.

__ADS_1


__ADS_2