
[Di Kediaman Darren]
Erland, Agneta dan putra-putranya yaitu Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin sudah berada di rumah setengah jam yang lalu. Begitu juga dengan Carissa, Evan dan ketiga putranya yaitu Daffa, Tristan dan Davian.
Setiba mereka di rumah, mereka semua pergi ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri, mereka memutuskan untuk berkumpul di ruang tengah sembari menunggu kepulangan Darren. Hanya Darren yang belum pulang.
Baik Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin maupun Carissa, Evan, Daffa, Tristan dan Davian sudah mengetahui dari Gilang dan Darka perihal Darren yang pulang terlambat.
Gilang dan Darka mengatakan bahwa Darren akan langsung ke bengkel untuk menyelesaikan pekerjaannya merakit mobil. Setelah dari sana Darren akan langsung pulang ke rumah.
"Dzaky, Adnan. Katakan pada Papa. Apa yang terjadi pada kalian? Kenapa dengan wajah kalian?"
"Kami dihadang ketika kami mau pulang, Papa!" Adnan menjawab pertanyaan dari ayahnya.
Ketika Dzaky dan Adnan tiba di rumah. Mereka langsung mendapatkan banyak pertanyaan dari anggota keluarganya ketika anggota keluarganya melihat luka dan memar di wajahnya.
"Siapa? Kalian tahu?" tanya Davin.
"Awalnya kami tidak tahu. Tapi ketika mendengar perkataan salah satu dari mereka. Dari situlah kami tahu siapa yang menyuruh mereka," jawab Dzaky.
"Memangnya mereka bilang apa kepada kalian?" tanya Andra.
"Mereka meminta kami untuk memutuskan kerja sama dengan perusahaan musik BMG Rights Management," jawab Adnan.
"Wah! Memang mereka itu siapa? Seenaknya saja menyuruh kak Dzaky dan kak Adnan untuk memutuskan kerja sama dengan perusahaan orang lain!" seru Melvin.
"Orang gila mereka kali," sela Ivan.
"Kalau mereka waras. Mereka nggak akan meminta itu," ujar Nathan.
"Iya. Mereka memang gila. Gila kekuasaan!" seru Dzaky dan Adnan.
"Terus apa yang terjadi? Tidak mungkinkan mereka melepaskan kalian gitu aja," ucap dan tanya Evan.
"Paman Evan benar. Ketika aku dan Adnan menolak keinginan mereka. Mereka seperti kesetanan menyerang kami. Bahkan kami berdua kewalahan menghadapi mereka," sahut Dzaky.
"Kami hanya berdua. Sementara mereka berjumlah dua puluh empat," sela Adnan.
Mendengar cerita dari Dzaky dan Adnan. Mereka semua terkejut.
"Terus bagaimana cara kalian bisa selamat?" tanya Carissa.
"Ini berkat bantuan dua tangan kanannya dari salah satu kakak mafianya Darren," jawab Adnan.
"Ketika kami sedang bertarung. Mereka datang dan langsung membunuh dengan cara menembak bagian kepala, perut dan jantung orang-orang itu. Dan mereka hanya menyisahkan tujuh orang saja," tutur Dzaky.
Mereka semua terkejut ketika mendengar cerita dari Dzaky yang mengatakan jika dua tangan kanan dari salah satu kakak mafia Darren langsung membunuh para musuh tanpa ampun.
"Ini semua berkat Darren. Darren menghubungi salah satu kakak mafianya dan meminta kakak mafianya itu untuk menolong kami," ucap Adnan.
Adnan seketika tersenyum ketika mengingat apa yang dikatakan oleh Zee dan Lian.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Adnan. Mereka semua tersenyum bangga terhadap Darren.
Gilang dan Darka juga ikut tersenyum ketika mendengar cerita dari kedua kakaknya itu.
"Darren juga melakukan hal itu padaku ketika di kampus!" seru Darka sembari mengingat apa yang dilakukan oleh adiknya terhadap dirinya.
Mendengar perkataan Darka. Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin, Carissa, Evan, Daffa, Tristan dan Davian melihat kearah Darka.
"Apa, sayang? Apa yang terjadi di Kampus?" tanya Agneta.
"Ada beberapa mahasiswa yang mengganggu kami ketika kami sedang mengerjakan tugas-tugas kami. Bahkan mereka dengan kejamnya merobek tugas-tugas kami itu," ucap Gilang.
"Aku dan Gilang marah besar kepada mereka. Secara tugas-tugas yang mereka robek itu adalah data-data dan juga jadwal kegiatan kampus kami dalam dua minggu ini. Dan pada akhirnya terjadilah perkelahian yang tak seimbang," ujar Darka.
__ADS_1
"Lalu apa yang terjadi sayang?" tanya Erland.
"Ketika kami sedang berkelahi. Tanpa aku dan Gilang sadari. Salah satu dari mereka ingin menghantam kepalaku dengan menggunakan kursi. Namun Darren datang tepat waktu dan langsung memukul orang itu dengan sangat keras tepat di kepalanya sehingga orang itu tergeletak dengan kepala yang hancur bagian belakang."
Darka mengingat sekali bagaimana adiknya itu menatap marah kearah orang yang hendak menyakitinya.
Mereka semua terkejut dan juga bergidik ngeri ketika mendengar cerita dari Darka yang mengatakan bahwa Darren memukul teman sekampusnya tanpa ampun.
Dan detik kemudian, mereka semua tersenyum bahagia dan juga bangga akan Darren. Mereka benar-benar bersyukur memiliki putra/adik/kakak/keponakan seperti Darren.
Ketika mereka semua tengah membahas masalah Darren. Mereka semua dikejutkan dengan suara klason mobil di luar rumah.
"Itu pasti Darren!" seru Daffa, Tristan dan Davian bersamaan.
Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin langsung berdiri dari duduknya.
"Biarkan kami yang membukakan pintu untuk kakak Darren?" seru Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.
Adrian, Mathew, Nathan dan Ivan langsung berlari menuju ruang tamu. Sementara Melvin justru menuju dapur.
Sedangkan Erland, Agneta dan yang lainnya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihatnya.
Setelah beberapa detik di dapur. Melvin melangkah sembari membawa segelas susu kesukaan Darren menuju ruang tamu.
^^^
CKLEK!
Pintu dibuka oleh Adrian, Mathew, Nathan dan Ivan. Setelah pintu terbuka, Adrian, Mathew, Nathan dan Ivan melangkah keluar.
Adrian, Mathew, Nathan dan Ivan melihat kakaknya itu pulang bersama dengan salah satu sahabatnya.
"Selamat sore kak Darren," sapa Adrian, Mathew, Nathan dan Ivan bersamaan.
Darren menatap curiga satu persatu adiknya itu sembari matanya mencari sesuatu.
"Kenapa berempat? Mana saudara kalian yang kurus itu?" tanya Darren.
Dengan kompaknya Adrian, Mathew, Nathan dan Ivan mengangkat kedua bahunya ke atas.
"Mencurigakan," sahut Darren.
Setelah itu, Darren melangkah masuk ke dalam rumah. Dan meninggalkan keempat adiknya itu di luar.
Melihat kakaknya masuk begitu saja membuat Adrian, Mathew, Nathan dan Ivan merengut kesal.
Dan setelah itu, mereka semua pun masuk ke dalam rumah.
Darren yang sedang melangkah menuju ruang tengah, tiba-tiba dikejutkan dengan teriakan Melvin.
"Kakak Darren, ini susu kesukaan kakak Darren!"
Darren menatap horor adiknya yang kini sudah berdiri di hadapannya. Sedangkan anggota keluarga yang melihatnya hanya tersenyum.
Darren meletakkan punggung tangannya di kening Melvin. "Tidak panas. Normal," ucap Darren.
Mendengar perkataan Darren membuat Melvin mempoutkan bibirnya.
"Ada angin apa sehingga kamu memberikan kakak susu? Pasti ada niat terselubung."
"Aish! Kenapa sih kakak Darren curiga mulu jadi orang," protes Melvin.
"Serba salah jadi adik. Orang berbuat baik dikatain ada niat terselubung. Giliran adiknya malas-malasan. Disuruh kerja," omel Melvin pelan.
Mendengar omelan dari Melvin membuat mereka tersenyum gemas. Begitu juga dengan Darren. Darren tersenyum mendengar omelan dan wajah manyun Melvin.
__ADS_1
Darren mengambil susu yang masih dipegang oleh Melvin. Dan setelah itu, Darren langsung meneguk habis susu itu.
Setelah habis, Darren kembali memberikan gelas itu kepada Melvin. Melvin yang melihat itu seketika tersenyum.
"Susunya enak. Terima kasih."
Darren berucap sambil tangannya mengacak-acak rambut Melvin.
Setelah itu, Darren melangkah menuju ruang tengah dimana anggota keluarganya berada.
^^^
Melihat Darren yang melangkah menuju ruang tengah. Erland, Agneta dan yang lainnya langsung berdiri. Mereka menatap Darren dengan senyuman manis di bibir masing-masing.
Erland mendekati putranya. Setelah berada di hadapan putranya. Erland mengusap lembut kepala putranya dan tak lupa memberikan kecupan sayang di kening putranya itu.
"Bagaimana kuliahnya, hum?"
"Lancar, Papa."
"Papa dengar dari kak Darka dan kak Gilang, katanya kamu ke bengkel untuk menyelesaikan pekerjaan kamu membuat mobil itu. Bagaimana? Udah selesai?"
"Iya, Papa. Aku memang kesana bersama Jerry, Dylan dan Axel. Tinggal sedikit lagi. Seharusnya hari ini ketiga mobil itu selesai. Tapi ntah kenapa aku menghentikannya dan melanjutkannya besok."
"Kalau semuanya berjalan lancar. Kemungkinan lusa, tiga mobil itu selesai dirakit. Dan setelah itu, ketiga mobil itu siap diuji coba di serkuit."
"Apa kamu akan ikut dalam uji coba mobil-mobil itu?"
"Lihat keadaanku dulu, Papa! Jika keadaanku baik-baik saja. Aku ikut. Tapi jika keadaanku tidak memungkinkan, aku tidak akan ikut. Tapi aku akan tetap ikut ke serkuit. Tugasku disana sebagai memantau di layar komputer," jawab Darren.
Dzaky dan Adnan berdiri dari duduknya, lalu keduanya melangkah mendekati ayah dan adik laki-lakinya.
"Darren," panggil Dzaky dan Adnan.
Darren melihat kearah kedua kakaknya itu. Dapat Darren lihat ada sedikit luka dan memar di wajah kedua kakaknya itu.
"Kakak Dzaky, kakak Adnan. Kalian...."
Perkataa Darren terpotong karena Dzaky dan Adnan langsung memeluk tubuhnya erat.
Darren terkejut ketika kedua kakaknya tiba-tiba memeluk tubuhnya.
"Kakak Dzaky, kakak Adnan."
"Terima kasih ya, Ren!" ucap Dzaky.
"Berkat kamu kakak selamat sampai di rumah," ucap Adnan.
Darren tersenyum ketika mendengar ucapan terima kasih dari kedua kakaknya.
Setelah puas memeluk tubuh adiknya. Dzaky dan Adnan pun melepaskan pelukannya.
"Kalau kakak boleh tahu. Kamu tahu dari mana kalau kakak dan Adnan dalam bahaya?" tanya Dzaky.
"Dari tangan kananku. Tangan kananku menghubungiku dan mengatakan bahwa kakak Dzaky dan kakak Adnan dijegat oleh beberapa orang di jalan raya."
"Kalau begitu aku mau ke kamar. Badanku udah gerah."
"Iya, sayang. Bersihkanlah tubuhmu. Setelah itu, istirahatlah sejenak. Papa tidak mau kamu jatuh sakit."
"Kamu bangunnya nanti ketika waktu makan malam. Kakak Gilang yang akan membangunkan kamu nanti," ucap Gilang.
"Baiklah."
Setelah itu, Darren pun pergi menuju kamarnya di lantai dua untuk bersih-bersih dan juga istirahat.
__ADS_1