
Setelah selesai mengikuti dua materi kuliah. Kini Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya berada di luar kelas. Mereka berjalan menyusuri koridor kampus untuk menuju kantin.
Ketika mereka tiba di persimpangan hendak menuju kantin, tatapan mata Rehan melihat kearah dimana beberapa mahasiswa mengganggu satu mahasiswa. Dan Rehan mengenal satu mahasiswa itu.
"Ren, bukankah itu Nandito!" seru Rehan sembari menunjuk kearah mahasiswa yang disebut Nandito oleh Rehan.
Mendengar seruan Rehan. Darren langsung melihat kearah tunjuk Rehan. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan dan Darel.
Darren mengepal kuat tangannya, lalu kemudian Darren melangkahkan kakinya menghampiri sepupunya itu. Dan diikuti oleh ketujuh sahabat-sahabatnya.
^^^
Bugh..
"Aakkhhh!" Nandito meringis merasakan sakit di bibirnya ketika mendapatkan pukulan dari salah satu mahasiswa di hadapannya itu.
Sedangkan enam mahasiswa tersebut terutama mahasiswa yang menjadi tersangka pemukulan tersebut tersenyum mengejek kearah Nandito.
"Itu adalah hukuman buat mahasiswa baru yang belagu kayak lo. Dan juga mahasiswa yang tidak mau mematuhi perintah gue dan teman-teman gue!" bentak mahasiswa itu dengan jarinya menunjuk kearah Nandito.
Sedangkan beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang sejak tadi menonton kejadian itu hanya bisa diam. Tidak ada satu dari mereka yang berusaha untuk menolong Nandito.
Bukan mereka tidak ingin menolong Nandito, tapi mereka tidak ingin mendapatkan balasan dikemudian hari setelah menolong Nandito. Mereka semua tahu bagi orang-orang yang ikut campur urusan dari sang pembuat onar, maka pembalasan yang akan diterima oleh orang-orang itu dua kali lipat.
"Gue ulangi sekali lagi. Berikan semua uang lo sama gue dan juga teman-teman gue! Sekarang!" bentak mahasiswa itu dengan menatap nyalang kearah Nandito.
Mendengar ucapan serta bentakan dari pemuda di hadapannya itu membuat Nandito langsung tersenyum dengan tatapan meremehkan.
"Orang tua gue bekerja nyari duit buat gue. Nah, lo! Lo seenaknya menyuruh gue memberikan semua uang gue buat lo dan teman-teman sampah lo itu? Yang benar saja! Memangnya kalian itu siapa di kampus ini?!" ucap dan tanya Nandito dengan menatap tajam kearah enam mahasiswa di hadapannya itu.
Mendengar ucapan demi ucapan serta penolakan dari mahasiswa baru di hadapannya membuat mahasiswa pembuat onar tersebut dan kelima temannya mengepal kuat tangannya dan menatap nyalang kearah mahasiswa baru itu.
"Brengsek! Berani lo sama gue, hah?!"
Nandito hanya memperlihatkan senyuman manisnya di hadapan keenam mahasiswa yang ada di hadapannya itu sehingga membuat keenam mahasiswa makin menatap penuh amarah dirinya.
Dua temannya kemudian menyerang Nandito secara bersamaan. Namun ketika keduanya hendak menyerang Nandito, keduanya mendapatkan tendangan tepat di punggungnya sehingga membuat keduanya tersungkur.
Duagh.. Duagh..
__ADS_1
Bruukk.. Bruukk..
Melihat dua temannya tiba-tiba mendapatkan tendangan hingga tersungkur membuat keempat mahasiswa itu langsung melihat kearah dimana terlihat delapan pemuda yang menatap tajam kearahnya.
"Darren sang ketua Organisasi Kampus," ucap pemuda yang bisa dikatakan sebagai ketua.
Yang datang itu adalah Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Dan yang memberikan tendangan kepada dua teman kampusnya itu adalah Axel dan Jerry.
Darren melihat kearah sepupunya. Dan dapat Darren lihat sudut bibir sepupunya itu terluka. Setelah melihat kearah sepupunya, Darren kembali melihat kearah pemuda yang berdiri di hadapannya.
"Kalau lo udah nggak senang kuliah disini. Mending lo keluar dengan sendirinya. Dari pada lo dikeluarkan secara tak terhormat, itu sangat memalukan diri lo dan teman-teman lo." Darren berbicara sembari menatap tajam kearah teman kampusnya yang selalu membuat masalah.
"Apa hak lo ngatur-ngatur hidup gue, hah?! Lo bukan siapa-siapa gue!" bentak pemuda itu.
Darren tersenyum ketika mendengar ucapan serta bentakan dari pemuda tersebut. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan.
"Lo lupa siapa gue dan sahabat-sahabat gue di Kampus ini, hum? Jika lo lupa, baiklah! Gue akan ingatkan lagi tentang status gue dan sahabat-sahabat gue di kampus ini."
Darren berbicara sembari menatap dengan tersenyum di sudut bibirnya wajah mahasiswa yang menurutnya syok berkuasa di kampus. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya.
"Gue Darrendra Smith ketua Organisasi di Kampus ini dan ketujuh sahabat-sahabat gue adalah wakilnya. Baik gue maupun ketujuh sahabat-sahabat gue memegang semua tanggung jawab di Kampus ini, termasuk mengeluarkan manusia-manusia busuk seperti lo dan antek-antek lo!"
Darren tersenyum lebar dengan tatapan matanya menatap remeh keenam mahasiswa di hadapannya ini. Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabatnya.
"Gue mau kasih tahu sama lo dan para antek-antek lo. Gue dapat laporan dari dua Dosen. Dua Dosen itu adalah Dosen yang mengajar di kelas kalian. Gue kasih lo dan kelima antek-antek lo ini kesempatan. Lo ikuti semua aturan di kampus ini. Jika tidak, lo dan kelima antek-antek lo bisa keluar dari kampus ini."
Darren menatap tajam kearah mahasiswa yang berdiri sedikit di depan. Begitu juga dengan pemuda itu. Keduanya saling memberikan tatapan membunuh.
"Silahkan pilih. Tetap kuliah disini dengan mengikuti aturan atau lo dikeluarkan secara tidak terhormat dari Kampus ini dan berakhir lo masuk daftar hitam di semua Universitas yang ada di dunia ini."
"Lo nggak akan bisa mengeluarkan gue dan teman-teman gue dari kampus ini!" bentak mahasiswa itu.
"Gue bisa buktikan," jawab Darren dengan menatap wajah mahasiswa itu dengan tersenyum meremehkan.
"Mending lo pergi temui dua Dosen itu," usir Dylan.
"Jadilah mahasiswa yang baik dan disiplin," ejek Rehan.
"Hus.. Hus!" Darel dan dan Jerry mengibas-ngibas tangannya bermaksud mengusir keenam mahasiswa itu.
__ADS_1
Dengan tangan mengepal kuat dan tatapan mata yang menajam dan penuh amarah membuat keenam mahasiswa itu memutuskan pergi meninggalkan Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya dan Nandito.
Setelah kepergian keenam mahasiswa itu, Darren menatap tajam kearah Nandito.
"Lo ngapain diam aja? Kenapa lo nggak balas mereka?!" tanya Darren dengan nada kesalnya.
"Ren," ucap Axel dengan mengusap lembut punggung Darren.
"Gue bukan nggak mau balas mereka. Gue ini berstatus mahasiswa baru. Dan gue baru dua hari kuliah disini," jawab Nandito dengan nada lembut. Dia tahu bahwa sepupunya itu kecewa padanya yang hanya diam ketika dibully.
"Peduli setan tentang status lo di kampus ini. Mau mahasiswa lama mau mahasiswa baru. Selama lo nggak salah. Lo punya hak buat membela diri. Dan lo juga punya hak untuk membalas orang-orang yang menyakiti lo! Kalau perlu lo bunuh mereka!" Darren membalas jawaban dari sepupunya itu dengan suara yang keras.
Beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang ada di sekitarnya mendengar apa yang dikatakan oleh Darren. Seketika tubuh mereka merinding ketika mendengar perkataan Darren yang terakhir.
"Lo datang kesini untuk kuliah bukan untuk mengantarkan nyawa. Lo sepupu gue dan gue nggak mau terjadi sesuatu sama lo. Gue udah kehilangan Mama sejak gue bayi, gue juga kehilangan sosok Rendra. Gue nggak mau kehilangan lagi."
Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan Nandito dan ketujuh orang. Dan detik kemudian, air matanya mengalir membasahi pipinya.
Sementara Nandito seketika meneteskan air matanya ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Darren. Dia tidak bermaksud untuk menyakiti Darren dengan sikapnya yang tidak membalas perlakuan buruk orang lain padanya.
Puk..
Rehan menepuk pelan bahu Nandito. Dia tahu apa yang dipikirkan oleh Nandito saat ini. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan dan Darel.
"Jangan terlalu dipikirkan apa yang dikatakan oleh Darren barusan. Cukup lo pikirkan satu hal bahwa Darren sangat menyayangi lo. Dia seperti tadi hanya ingin buat lo nggak diam aja saat dibully. Darren ingin lo balas setiap orang yang menyakiti lo," ucap Qenan.
"Jika lo nggak ingin membalas orang-orang yang udah nyakitin lo. Setidaknya jangan biarkan mereka memukuli atau menghajar lo," sahut Jerry.
"Maafin gue. Ini yang pertama dan terakhir. Gue janji nggak biarkan siapa pun menindas gue," jawab Nandito.
Mendengar ucapan sekaligus janji dari Nandito membuat Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan tersenyum.
"Ya, sudah! Sekarang lo ikut kita!" seru Willy.
"Kemana?" tanya Nandito.
"Ke kantin. Darren pasti sudah disana," jawab Axel.
"Tapi...."
__ADS_1
"Nggak usah khawatir. Jika anak kelinci itu berani marahin lo. Ada kita yang akan belain lo," sahut Dylan.
Setelah itu, mereka semua pun pergi menuju kantin