KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kedatangan Charlie Dan Soraya


__ADS_3

Di sebuah cafe terlihat sepasang suami istri yang tengah menikmati makan siangnya. Baik suaminya maupun sang istri kini tengah membahas rencana lain untuk melancarkan rencana mereka yang telah berjalan dengan mulus.


"Bagaimana rencanamu dalam membuat Gilang tunduk padamu, sayang?"


"Semuanya berjalan seperti yang sudah kita dan keluarga kita rencanakan. Gilang sudah sepenuhnya menjadi milikku."


"Kamu sudah yakin akan hal itu?"


"Yakin, sayang. Gilang sudah mencintaiku sepenuhnya. Setiap aku ajak jalan. Gilang selalu menurutiku. Gilang tidak pernah menolak ajakanku."


"Baguslah kalau begitu."


"Tapi ada satu yang buat aku marah dan juga kecewa."


"Apa itu?"


"Pertama, Gilang saat ini tinggal di rumah adik bungsunya yang satu ayah dan satu ibu dengannya. Gilang juga belum memberitahu alamat dan tempat tinggal keluarganya. Bahkan Gilang belum sekali pun mengajakku kesana."


"Lah, terus. Kau tahu dari mana kalau rumah itu adalah rumah adiknya Gilang? Dan siapa yang memberitahumu alamat rumah adiknya Gilang? Kau sendiri yang mengatakan bahwa Gilang tidak memberitahumu alamat rumah keluarganya. Bahkan Gilang juga belum mengajakmu kesana. Tidak mungkin jika Gilang yang beritahu kamu alamat rumah adiknya kepadamu."


"Aku menguntit Gilang ketika Gilang pulang ke rumah. Aku mengikuti Gilang sama di gerbang rumahnya. Ketika aku melihat rumah itu. Rumahnya sangat besar sekali dan juga luas. Gerbangnya saja tinggi. Aku pikir itu rumah keluarganya. Eh, tahunya rumah adik bungsunya."


"Bisa jadi adik bungsunya Gilang tajir. Nggak mungkinkan adik bungsunya tinggal sendirian di rumah sebesar itu jika dia masih punya keluarga."


"Bisa jadi. Secara saat aku datang ke rumahnya beberapa hari yang lalu. Pelayannya tidak langsung membiarkan aku masuk. Pelayan itu bilang dia harus minta izin dulu kepada majikannya. Ketika pelayan itu pergi. Aku masuk gitu aka ke dalam rumah. Saat aku bertemu dengan adik bungsunya. Adik bungsunya itu begitu marah melihatku yang sudah duduk di sofa ruang tamu."


"Lalu apa yang terjadi?"


"Dia ngusir aku dan bilang rumah itu adalah rumah milik dia. Dan dia nggak menerima tamu. Apalagi tamu itu adalah aku."


"Belagu amat tuh bocah."


"Sepertinya rencana kita bakal terhambat gara-gara dia."


"Kalau masalah itu tidak perlu kau pikirkan. Kau fokus sama Gilang. Buat Gilang benar-benar memihak padamu dan memusuhi keluarganya sendiri. Kalau bisa kau buat Gilang bertengkar dengan adik bungsunya itu. Untuk adik bungsunya, biar aku yang mengurusnya."


"Baiklah."


"Pokoknya rencana kita jangan sampai gagal. Kita harus bisa merebut semua kekayaan keluarga Smith. Dan membuat keluarga itu hancur dan kehilangan semua milik mereka."


"Pastinya."


"Jika Gilang sudah berada digenggaman kita. Kita akan lebih mudah menjalankan rencana ini. Bahkan keluarga besar kita bakalan ikut dalam rencana besar nanti. Untuk saat ini hanya kita berdua saja yang bergerak."


"Aku mengerti."


Tanpa disadari oleh sepasang suami istri tersebut, pembicaraannya itu telah didengar dan direkam oleh seseorang yang memang bertugas mengawasi yang perempuan.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Di kediaman Wilson tampak ramai dimana Liana putra putrinya yaitu Maura, Rangga, Barra, Riana, Brenda dan Raya. Beserta ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda sudah berada di ruang makan. Mereka akan makan malam bersama.


Ketika mereka tengah menikmati makan malamnya, tiba-tiba seorang security datang.

__ADS_1


"Maaf nyonya, tuan muda, nona muda!"


"Ada apa, Paman?" tanya Rangga.


"Itu diluar ada tamu."


"Tamu? Siapa?" tanya Barra.


"Ketika saya bertanya, laki-laki itu bilang kalau dia adalah saudara sepupunya nyonya."


Deg!


Liana terkejut ketika mendengar jawaban dari securitynya. Begitu juga dengan Maura, Rangga, Barra, Riana, Brenda dan Raya. Mereka semua tidak menyangka bahwa Charlie akan datang.


Lainnya hal nya dengan Alice, Elsa, Lenny, Milly, Vania, Felisa dan Tania. Mereka sudah tahu dari awal akan kedatangan Pamannya Brenda.


"Mau apa bajingan itu datang kemari?" tanya Rangga emosi.


"Tidak tahu malu," ucap Barra dengan penuh amarah.


Ketika mereka semua tengah marah, tiba-tiba terdengar suara keributan di ruang tengah.


"Maaf tuan, nyonya. Kalian siapa? Silahkan kalian pergi dari sini. Jangan buat keributan disini."


"Diam kau. Kami kesini bukan buat keributan. Kami kesini hanya ingin bertemu dengan nyonya kamu," jawab perempuan yang bernama Soraya.


Mendengar keributan di ruang tengah. Liana berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju ruang tengah.


^^^


Kini Liana, Maura, Rangga, Barra, Riana, Brenda dan Raya dan ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda sudah berada di ruang tengah.


Rangga, Barra dan Brenda menatap begitu tajam kearah Charlie yang mana Charlie adalah dalang yang sudah membunuh ayahnya.


"Mau apa kau kemari, Charlie?" tanya Liana.


Charlie menatap Liana dengan senyuman termanisnya. "Apa begini caranya kau menyambut kedatangan kakak laki-lakimu, hum?"


"Aku tidak memilik kakak laki-laki di dunia ini. Aku adalah putri tunggal dalam keluargaku. Jadi aku tidak memiliki saudara. Apalagi saudara sepertimu."


Mendengar jawaban dari Liana membuat Charlie menatap marah Liana. Dirinya tidak menyangka jika Liana akan berbicara seperti itu.


"Sudah berani kau sekarang padaku. Apa begini cara kau membalas kebaikanku selama ini, hah?!" tanya Charlie dengan menatap tajam Liana.


"Memangnya apa yang telah kau lakukan untukku selama ini, hum? Setahuku kau tidak pernah melakukan apapun padaku. Justru kedua orang tuaku lah yang sering membantu perekonomian keluargamu dan juga kau. Jika bukan berkat ayahku. Aku sudah bisa pastikan kau akan menjadi pria tak berguna di dunia ini. Kau bisa memiliki perusahaan itu juga bantuan ayahku. Kau baik padaku selama ini karena kau memiliki niat terselebung. Jadi jangan berlagak kau adalah pahlawanku, Charlie Fiedler!"


Mendengar ucapan dari Liana membuat Charlie benar-benar murka. Dirinya tidak terima akan perkataan Liana barusan.


"Apa kau tidak ingin memeluk sahabatmu ini, Liana!" seru Soraya.


Liana langsung melihat kearah Soraya. Dan dapat dilihat oleh Liana, sahabatnya itu tersenyum kepadanya.


"Hallo, Soraya. Masih hidup kamu? Aku pikir kamu sudah meninggal. Aku tidak pernah mendengar kabar apapun darimu," ucap Liana dengan santainya.

__ADS_1


Mendengar ucapan dari Liana membuat Soraya mengepal kuat tangannya.


Liana menatap Soraya dan Charlie secara bergantian, lalu tersenyum. "Kalian berdua itu pasangan yang cocok. Bagaimana dengan rencana kalian selama ini? Apa lancar, hum? Aku dengar kalian suka menipu orang. Apa kalian masih melakukan pekerjaan itu?"


Mendengar ucapan dan pertanyaan dari Liana membuat Charlie dan Soraya terkejut. Di dalam hati mereka masing-masing berkata 'Dari mana Liana tahu akan pekerjaan mereka yang telah menipu banyak orang selama ini'.


Bukan hanya Charlie dan Soraya saja yang terkejut. Maura, Rangga, Barra, Riana, Brenda dan Raya juga terkejut ketika mendengar ucapan dari ibunya.


Melihay keterkejutan Charlie dan Soraya membuat Liana tersenyum puas. "Kenapa? Kalian kaget kalau aku mengetahui pekerjaan kalian itu, hum? Apa kalian ingin tahu aku tahu dari mana?"


Charlie dan Soraya hanya diam dengan menatap tajam Liana, terutama Soraya. Ingin rasanya Soraya menampar wajah Liana agar Liana tak berbicara sombong seperti sekarang ini.


"Melihat kalian diam. Itu tandanya kalian ingin tahu dari mana aku tahu tentang pekerjaan kalian."


"Baiklah. Aku akan beritahu kalian berdua. Aku mengetahui pekerjaan kalian berdua itu dari suamiku Antonio Wilson. Antonio memberitahu semuanya padaku apa yang kalian lakukan kepada orang-orang diluar sana, termasuk kau Charlie!" Liana berbicara dengan menatap dengan tersenyum menyeringai.


Sementara Charlie menatap penuh amarah wajah Liana dengan tangan yang mengepal kuat.


"Jangan-jangan...." Liana sengaja menghentikan ucapannya.


"Jangan-jangan apa, hah?!" bentak Charlie.


Liana tersenyum. "Kau yang telah membunuh suamiku. Kau membunuh suamiku karena suamiku memegang semua bukti kejahatanmu. Dan kau juga sakit hati pada suamiku karena gagal melakukan hal keji itu terhadapku. Benar begitu, tuan Charlie?"


^^^


Di sisi lain dimana Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya, Zoya dan para anggota mafiosonya saat ini berada di pavilliun belakang rumah Brenda.


Baik Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya dan Zoya saat ini tengah menatap komputer. Di komputer itu terpampang adegan keluarga Brenda sedang menghadapi Charlie dan Soraya.


"Kapan kita akan keluar, Ren?" tanya Rehan.


"Kita lihat dulu apa yang akan dilakukan Charlie dan Soraya kepada keluarga Brenda. Jika mereka sudah mulai permainannya. Baru kita akan keluar," jawab Darren dengan matanya masih fokus menatap layar komputer.


Cklek!


Pintu dibuka oleh seseorang. Dan orang itu langsung masuk dan memberikan laporan.


"Maaf, Prince."


"Ada apa?" tanya Zoya.


"Charlie dan istrinya datang membawa beberapa orang."


"Berapa jumlah mereka?" tanya Zoya.


"Sekitar 40, Prince!"


"Baiklah. Kau dan yang lainnya tetap waspada. Awasi gerak-gerik dari 40 orang-orangnya Charlie. Jika orang-orangnya Charlie mulai bergerak. Habisi saja mereka. Gunakan peluru tanpa suara."


"Baik, Prince."


Setelah itu, orang itu pun pergi dan langsung menjalankan perintah dari Zoya.

__ADS_1


__ADS_2