
Darren dan ketujuh sahabatnya sudah berada di markas THE CRIPS milik Ziggy. Mereka saat ini berada di ruang rapat untuk membahas rencana pembalasan terhadap Samuel Frederick dan Gustavo Frederick. Di markas THE CRIPS juga ada Enzo, Noe, Chico dan Devian. Lengkap dengan para tangan kanannya.
"Sekarang katakan pada kami. Kenapa kalian mengganggu acara santai kami dan menyuruh kami datang ke tempat jelek ini?" tanya Darren seenaknya.
Mendengar pertanyaan dari Darren membuat Ziggy, Noe, Chico, Enzo dan Devian mendengus kesal.
Lalu detik kemudian...
TAK!
"Aaakkkhhh." Darren meringis sambil mengelus keningnya.
Ziggy memberikan satu jitakan tepat di kening putih mulus Darren sehingga membuat si empu meringis dan merengut kesal. Mereka yang melihat hal itu tersenyum termasuk Ziggy.
"Seenaknya saja menjitak keningku. Jika aku anemia, bagaimana?" ucap dan tanya Darren yang masih memasang wajah kesal.
"Jangan lebay kau kelinci kurap," jawab Ziggy.
"Mana ada orang anemia hanya gara-gara keningnya dijitak," sahut Chico.
"Anemia sama Amnesia itu sangat jauh berbeda. Dari mulai tulisannya, pengucapannya dan juga artinya," kata Enzo.
"Anak kuliahan tapi otak karatan," ucap Devian.
Darren membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan dari Ziggy, Enzo, Devian, Noe dan Chico.
"Aish."
Lagi-lagi mereka semua tersenyum melihat wajah kesal Darren atas ulah Ziggy, Enzo, Devian, Noe dan Chico.
"Sudah. Jangan perlihatkan wajah jelekmu ini," ucap Noe sambil tangannya mengusap wajah Darren.
"Apaan sih kakak Noe." Darren mencubit telapak tangan Noe dengan kuat.
"Aww, sakit tahu." Noe mengusap-ngusap telapak tangannya yang bekas cubitan dari Darren.
"Rasain," jawab Darren.
Setelah itu, Darren beranjak dari duduknya dan hendak pergi. "Sudah ah. Lebih baik aku pulang. Ngapain juga aku ada disini. Gak penting. Kalau aku masih disini. Para ketua mafia disini pasti akan terus membullyku habis-habisan."
"Hei... Hei!" seru Enzo dan Ziggy sambil tangan mereka masing-masing memegang tangan Darren, lalu menariknya untuk kembali duduk.
"Yaelah. Gitu aja ngambek," ejek Devian sambil tersenyum.
"Bodo," jawab Darren.
"Hahahahaha." akhirnya tawa mereka semua pecah.
__ADS_1
"Sudah... Sudah! Lebih baik kita mulai saja," sela Noe yang melihat wajah Darren yang benar-benar kesal saat ini sambil memberikan kode kepada yang lainnya.
Mereka semua melihat kearah Darren. Dan dapat mereka lihat wajah Darren yang benar-benar kesal saat ini.
"Baiklah. Jadi begini kita akan membahas rencana untuk membalas kejahatan Samuel Frederick dan paman nya Gustavo Frederick." Ziggy mulai membuka pembicaraan.
Mendengar ucapan dari Ziggy. Darren seketika menatap wajah Ziggy. Darren menatap tepat di manik Ziggy.
Baik Ziggy maupun orang-orang yang ada di dalam ruang tersebut menatap wajah Darren tepat di manik coklatnya. Mereka semua sangat paham dan mengerti dari tatapan mata Darren.
"Ren," panggil Willy saat melihat Darren yang menatap wajah Ziggy sambil menepuk pelan bahu Darren.
Darren terkejut dan kemudian mengalihkan perhatiannya untuk melihat kearah Willy yang ada di sampingnya.
"Ada apa?" tanya Willy.
"Tidak ada," jawab Darren.
Darren menatap satu persatu wajah kelima Kakak-kakak mafianya. Dari tatapannya itu menyimpan banyak ketakutan.
Sementara kelima Kakak-kakak mafianya dan juga para tangan kanan yang juga menatapnya merasakan aura yang tak enak di dalam diri Darren. Mereka bisa mengartikan dari tatapan mata Darren yang mengisyaratkan kebimbangan, kecemasan dan juga ketakutan. Dan lebih parahnya lagi dari tatapan mata Darren itu terlihat jelas bahwa Darren benar-benar sudah lelah dan ingin mengakhiri semuanya.
"Kakak," panggil Darren.
Mereka semua melihat kearah Darren. "Ada apa, Ren?" tanya mereka kompak.
Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka semua terkejut. Mereka tidak menyangka jika Darren berbicara seperti itu.
"Jika nanti terjadi peperangan besar-besaran antara aku dan Samuel. Aku meminta kepada kalian untuk menjaga keluargaku. Lindungi mereka," ucap Darren.
"Ren. Apa-apaan kau bicara seperti itu. Tidak akan ada yang terluka. Semuanya akan selamat. Semuanya akan baik-baik saja, termasuk kamu." Ziggy berbicara sembari menatap tak suka Darren.
"Tapi aku tidak memiliki keyakinan akan hal itu kakak Ziggy. Kakak Ziggy tahu sendiri bagaimana kondisi kesehatanku saat ini? Aku memiliki sakit jantung. Aku mengetahuinya pun sejak aku dipertemukan kembali dengan keluargaku dan kembali bertengkar dengan mereka. Bahkan sakit jantungku ini makin parah." Darren menjawab perkataan Ziggy dengan nada yang terdengar bergetar. Dan seketika air matanya jatuh membasahi wajahnya.
Mereka semua terkejut ketika melihat Darren yang menangis. Mereka sangat paham dan juga mengerti bagaimana kondisi Darren saat ini.
Noe mendekatkan duduknya lebih dekat dengan Darren, lalu Noe memeluk erat tubuh Darren. Dan seketika Darren pun menangis terisak.
"Hiks... kakak Noe... Hiks. Aku benar-benar takut. Aku benar-benar takut saat ini... Hiks," isak Darren di pelukan Noe.
"Semuanya akan baik-baik saja, Ren! Tidak akan terjadi apa-apa pada kita semua. Apalagi kamu. Bukankah kita sudah menyiapkan semuanya dengan matang." Noe berusaha menenangkan Darren.
Noe melepaskan pelukannya dan menatap wajah Darren yang sudah basah dengan air matanya. Noe kemudian menghapus air matanya itu.
"Percayalah! Semuanya akan baik-baik saja," ucap Noe.
"Aku tidak tahu kakak Noe," lirih Darren.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, seketika Darren menarik nafasnya pelan dan kemudian menghembuskan pelan sembari memejamkan kedua matanya.
Melihat Darren yang tiba-tiba menarik dan menghembuskan nafasnya sembari memejamkan matanya membuat mereka semua takut dan juga khawatir.
"Ren," panggil Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel. Mereka menatap Darren khawatir.
"Darren." Noe menepuk pelan bahunya. Dan seketika Darren membuka kedua matanya dan mengalihkan perhatiannya kearah Noe.
"Aku baik-baik saja. Kakak Noe tidak perlu khawatir," ucap Darren.
Mendengar ucapan dari Darren membuat mereka semua menjadi lega. Mereka berpikir bahwa jantung Darren kambuh.
"Kau yakin Darren?" tanya Chico menatap khawatir Darren.
"Iya, kakak Chico. Aku baik-baik saja," jawab Darren.
"Kau sedang tidak berbohongkan, Ren?" tanya Devian.
"Aku baik-baik saja Kakak Devian. Dan aku sedang tidak berbohong," jawab Darren. "Lebih baik kita lanjutkan pembahasan ini. Apa yang akan kita lakukan besok?" tanya Darren.
"Baiklah. Langkah pertama kita akan mendatangi Perusahaan milik Samuel dan Gustavo." Ziggy memulai perencanaannya.
"Setelah tiba di sana. Kita akan masuk ke dalam keamanan Perusahaan mereka. Dan kita akan mengacak isi dari data-data Perusahaan dan uang Perusahaan," sahut Enzo.
Mendengar perkataan dari Ziggy dan Enzo membuat Darren dan ketujuh sahabatnya saling melirik dan setelah itu mereka tersenyum menyeringai.
"Ide yang bagus," ucap Darren dan ketujuh sahabatnya bersamaan.
"Aku sudah menunggu hal ini dari dulu. Dan aku sudah tidak sabar untuk membuat kedua Perusahaan itu hancur," ucap Darren pelan dan jangan lupa senyuman di sudut bibirnya.
Para Kakak-kakak mafianya dan para tangan kanannya tersenyum bahagia ketika mendengar ucapan dari Darren.
"Kakak berharap padamu. Semoga kamu baik-baik saja saat pembalasan itu tiba Darren," batin Ziggy.
"Kakak berdoa untukmu. Semoga jantungmu tidak kambuh ketika sedang melakukan pembalasan itu," batin Chico.
"Kau harus kuat Ren. Jangan menyerah," batin Noe.
"Jangan pernah menyerah Ren," batin Enzo.
"Kakak berharap. Ketika peperangan dimulai dan kita semua melawan mereka. Kau harus kuat. Jangan menyerah. Bertahan demi kami semua," batin Devian.
"Kira-kira besok pukul berapa kita akan memulai permainan itu kak?" tanya Darel.
"Tengah malam. Sekitar pukul 12 malam," jawab Enzo.
"Baiklah," jawab Darren, Darel, Rehan, Qenan, Willy, Dylan, Axel dan Seokmin.
__ADS_1
Setelah selesai membicarakan rencana pertama mereka. Baik Darren maupun yang lain pergi meninggalkan markas THE CRIPS milik Ziggy.