KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Video Call


__ADS_3

Keesokkannya Darren sudah bersiap-siap dengan pakaian kampusnya. Saat ini Darren tengah berada di dalam kamarnya. Sebelum keluar dari kamarnya, Darren menyempatkan diri sebentar untuk menyelesaikan tugas kampusnya yang sempat dilupakannya tadi malam. Untung saja tugasnya hanya sedikit. Dan tidak akan memakan waktu lama.


Ketika Darren sibuk dengan tugas kampusnya. Tanpa disadari olehnya. Kedua kakak kesayangannya yaitu Gilang dan Darka sudah berdiri di abang pintu. Keduanya tersenyum melihat Darren.


Niat awalnya keduanya hendak masuk untuk membangunkan Darren. Dikarenakan Darren sudah bangun dan sudah dalam keadaan rapi dengan pakaian kampusnya. Ditambah lagi, Darren yang tengah mengerjakan sesuatu. Tiba-tiba terlintas ide jahil dibenak Darka.


Darka memanggil adiknya itu dengan kode-kodean suara atau siulan. Disaat adiknya menoleh, Darka dan Gilang bersembunyi di balik pintu kamar.


Darka dan Gilang melakukannya tiga kali sehingga membuat Darren jengah dan langsung berdiri. Niatnya ingin balik mengerjai kakaknya itu.


Darren berdiri tepat di sisi pintu dengan menyandarkan tubuhnya. Selang beberapa detik, Darka dan Gilang kembali untuk mengerjai Darren kembali.


Namun detik kemudian...


"Aakkhhh!" teriak Darka dan Gilang bersamaan sehingga keduanya terjatuh dengan posisi pantatnya yang mencium lantai.


Ketika Darka dan Gilang hendak menyembulkan kepalanya ke dalam kamar Darren, tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan wajah Darren tepat di hadapan wajahnya sehingga membuat keduanya terkejut dan terjatuh. Darren tersenyum puas.


"Kena kalian," sahut Darren.


Darren kembali melangkah menuju sofa dan melanjutkan menyelesaikan tugas kampusnya.


Sedangkan Darka dan Gilang mengumpat kesal. Bahkan keduanya saat ini justru saling menyalahkan.


Sementara Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin yang berada di meja makan terkejut ketika mendengar suara teriakan dari Darka dan Gilang.


Mereka langsung berlari menuju lantai dua. Tepatnya kamar Darren. Mereka semua saat ini benar-benar khawatir jika terjadi sesuatu terhadap salah satunya.


"Darka, Gilang!" panggil Erland ketika melihat Darka dan Gilang yang terduduk di lantai depan kamar Darren.


"Kalian ngapain duduk di lantai?" tanya Agneta.


"Bukannya kalian berdua ke kamarnya Darren untuk membangunkan Darren?" tanya Andra.


Davin melangkah menuju kamar Darren. Setelah itu, Davin memasuki kamar adiknya itu. Disusul oleh Andra, Dzaky, Adnan, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.


Sedangkan Erland dan Agneta membantu Darka dan Gilang untuk berdiri. Keduanya dapat melihat bahwa kedua putranya tengah kesakitan dibagian pantatnya. Diam-diam Erland dan Agneta tersenyum.


^^^


Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin sudah berada di dalan kamarnya Darren. Ketika mereka tiba di dalam kamarnya Darren. Mereka melihat Darren tengah sibuk dengan layar laptopnya. Bahkan mereka juga melihat bahwa Darren sudah dalan keadaan rapi.


"Masih banyak?" tanya Dzaky.


"Tidak kakak Dzaky. Hanya sedikit kok. Seharusnya tadi malam udah selesai. Aku lupa mengerjakannya. Ya sudah! Aku kerjakan sekarang. Mumpung waktunya masih panjang," jawab Darren.


"Itu kedua kakak-kakak kamu yang aneh itu ngapain sampai duduk di lantai depan kamar kamu?" tanya Adnan.


"Nggak tahu. Tanya saja sama orang yang bersangkutan. Aku kan sedari tadi di dalam kamar," jawab Darren asal yang matanya masih fokus menatap layar laptopnya dan jari-jarinya menari-nari di atas keyboard.


Mendengar jawaban asal dari Darren membuat Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin tersenyum.


"Ini salah kamu, Ren!" seru Gilang tiba-tiba.


Mendengar seruan Gilang. Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin langsung melihat kearah Gilang. Begitu juga dengan Darren. Dapat mereka lihat Gilang, Darka dan kedua orang tuanya. Bahkan mereka melihat Darka dan Gilang yang mengusap-ngusap pantatnya.


"Kalian kenapa?" tanya Adnan.


"Tanyakan saja sama anak kelinci itu," sahut Darka memberikan pelototan kearah adik kesayangannya itu.


"Anak kelinci itu yang sudah membuat kami seperti ini," sela Gilang.

__ADS_1


"Mana mungkin anak kelinci yang imut, lucu dan menggemaskan ini bisa melakukan apa yang kalian tuduhkan barusan. Kakak nggak percaya," ucap Davin yang sengaja menjahili adiknya.


Darren seketika langsung mendengus ketika mendengar ucapan kejam dari kakak tertuanya.


Klik!


Dengan jari telunjuknya menekan tombol enter, berarti tugasnya sudah selesai.


Setelah dipastikan semuanya selesai. Darren mematikan laptopnya, lalu Darren menyusun buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas.


Darren menjinjing tasnya, lalu meletakkannya di bahu kirinya. Setelah itu, Darren menggandeng tangan kedua orang tuanya berniat untuk membawa keduanya turun ke bawah.


"Papa, Mama. Lebih baik kita langsung ke bawah. Aku sudah lapar. Kalau mereka masih mau di kamarku. Biarkan saja mereka disini. Kita nggak usah ikut-ikutan," ucap Darren.


Erland dan Agneta tersenyum. Lalu menganggukkan kepalanya tanda menyetujui permintaan Darren.


Ketiganya pun pergi meninggalkan kamar Darren dan meninggalkan orang-orang aneh. Itu menurut Darren.


Melihat kedua orang tuanya dan adiknya/kakaknya pergi. Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin akhirnya pun menyusul.


^^^


Kini semuanya sudah berada di meja makan. Mereka sarapan pagi penuh kebahagiaan dan disertai dengan candaan dan kejahilan.


"Darren sayang," panggil Erland.


"Iya, Papa!" jawab Darren yang hanya melirik sekilas karena Darren dengan menyeruput minumannya.


"Bagaimana dengan acara ulang tahun perusahaan Accenture? Apa semua sudah beres? Apa masih ada yang kurang? Katakan pada Papa."


Seketika mata Darren membulat ketika mendengar pertanyaan dari ayahnya. Dia benar-benar melupakan acara penting itu.


Melihat keterkejutan Darren membuat mereka menatap Darren bingung.


"Aku... Aku melupakannya Papa. Dan aku juga tidak tahu sudah sampai dimana persiapannya," jawab Darren.


Mendengar jawaban dari Darren membuat mereka terkejut. Mereka juga dapat melihat tersirat kesedihan di manik coklat Darren.


Ketika Darren hendak menjawab pertanyaan dari ayahnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Mendengar bunyi ponselnya. Darren pun langsung mengambilnya di saku celananya.


Kini ponselnya sudah berada di tangannya. Darren melihat di layar ponselnya sebuah Panggilan Video Call dari ketujuh sahabatnya.


Tanpa membuang waktu lagi, Darren langsung menjawab panggilan video call dari ketujuh sahabatnya itu.


"Hallo para ketujuh kacung-kacungku yang tampan."


Mendengar sapaan kejam dari Darren membuat ketujuh sahabatnya mengumpat kesal di seberang telepon.


Sementara anggota keluarganya hanya tersenyum sembari geleng-geleng kepala.


"Dasar siluman kelinci setan!" teriak ketujuhnya secara kompak.


"Waw! Kompak amat para kacung-kacungku," sahut Darren.


"Sialan lo Ren," ucap Jerry.


"Sorry... Sorry! Ada apa? Kenapa pagi-pagi buta begini kalian video call."


"Kita mau ngasih tahu lo," sela Rehan.

__ADS_1


"Apa?" tanya Darren.


"Tentang ulang tahun perusahaan Accenture," jawab Qenan dan Willy bersamaan.


Mendengar jawaban dari Qenan dan Willy. Seketika ekspresi wajah Darren berubah. Yang tadi sedikit ceria ketika mendapatkan panggilan video call dari ketujuh sahabatnya. Kini kembali sedih ketika mengingat acara ulang tahun perusahaannya.


Melihat wajah sedih Darren. Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel langsung paham. Mereka tahu kalau saat ini Darren mengira bahwa acara ulang tahun perusahaan Accenture batal diadakan karena masalah selalu datang. Bahkan masalah itu datang secara berurutan sehingga membuat Darren melupakan acara penting itu.


"Hei, kenapa ditekuk begitu wajahnya? Diputusin Brenda ya," ledek Darel.


"Aish! Apaan sih," jawab Darren kesal.


"Ren," panggil Axel.


"Iya," jawab Darren lesuh.


"Acara ulang tahun perusahaan Accenture akan diadakan besok pukul 12 siang. Semuanya sudah dipersiapkan," ucap Axel.


Mendengar ucapan dari Axel membuat Darren menatap wajah-wajah ketujuh sahabatnya di layar ponselnya. Darren dapat melihat ada kejujuran di mata ketujuh sahabatnya itu.


"Benarkah?"


"Bukankah acara ulang tahun perusahaan Accenture sempat gagal karena...."


Perkataan Darren terpotong karena Jerry sudah terlebih dahulu memotongnya.


"Awalnya memang acara ulang tahun perusahaan Accenture sempat gagal. Namun kami mengulang kembali dengan mengirim undangan baru," ucap Dylan.


"Undangan baru itu kami kirim tiga hari dari jadwal yang sudah ditentukan di undangan lama. Jadi jika di undangan lama tertera tanggal 10 bulan oktrober. Maka di undangan baru kami buat tanggal 15 bulan oktber. Kami mengirim undangan baru itu tanggal 8 oktober." Willy ikut menjelaskannya.


Mendengar penjelasan dari Willy membuat Darren tersenyum dengan tatapan matanya menatap satu persatu wajah ketujuh sahabatnya di layar ponselnya. Dan tanpa diminta olehnya, air matanya mengalir begitu saja membasahi wajahnya.


"Ka-kalian melakukan semua itu untukku?" tanya Darren dengan suara lirihnya.


"Tentu. Kau adalah sahabat terbaik kami. Perusahaan Accenture adalah semangat hidupmu. Kami semua tidak ingin melihat semangatmu redup karena gagal dalam melaksanakan acara besar itu. Maka dari itulah aku dan yang lainnya mengambil alih dan menyusun ulang acara tersebut." Qenan berbicara dengan matanya yang sudah berair melihat sahabat kelincinya itu menangis karena terharu.


"Terima kasih," ucap Darren.


"Tidak ada istilahnya kata terima kasih dalam sebuah hubungan persahabatan, Ren! Kita sudah menjalin hubungan persahabatan sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga sekarang!" seru Darel.


"Kita semua adalah satu serve. Jika satunya sakit, semuanya juga ikut sakit. Jika satunya dalam masalah, semuanya ikut dalam mengatasi masalah tersebut. Jika satunya sedih, maka semuanya juga ikut sedih!" ucap Rehan.


"Diantara kita, lo yang paling banyak berjasanya, Ren! Terutama terhadap Salsa, adik perempuan gue. Lo selalu ada disaat-saat Salsa dalam masalah. Dan lo langsung bergerak cepat menyelesaikan masalah itu. Gue berutang banyak sama lo Ren."


Axel menangis ketika mengatakan hal sensitif itu kepada Darren. Dia benar-benar beruntung dan bersyukur dipertemukan dan dipersatukan dalam sebuah persahabatan dengan Darren.


Mendengar ucapan dari Axel membuat Darren tersenyum. Dia tahu bahwa Axel akan mengatakan hal sensitif itu padanya.


"Bukankah kita bersahabat?" tanya Darren.


"Iya," jawab ketujuh sahabatnya bersamaan.


"Jadi tidak ada namanya berhutang dalam hubungan persahabatan kita. Dan untuk lo Xel. Mungin benar apa yang lo bilang jika gue selalu ada disaat-saat Salsa dalam masalah. Kalau gue pikir-pikir, itu hanya kebetulan saja Xel. Lo tidak perlu terlalu memuji gue. Mungkin juga itu sudah kehendak dari Tuhan hingga membuat gue ada disana."


"Kalau misalkan saat itu yang melihat kejadian itu adalah Jerry atau yang lainnya, mereka juga pasti akan menolong Salsa."


"Iya, Ren! Gue mengerti maksud lo. Tapi intinya sekarang ini, lo yang telah banyak berjasa terhadap Salsa. Jika tidak ada lo, mungkin gue nggak tahu apa yang bakal terjadi sama Salsa."


"Gue sayang sama Salsa. Gue sudah anggap Salsa sebagai adik perempuan gue sendiri. Mana ada seorang kakak laki-laki yang diam saja ketika melihat adik perempuannya dipermalukan di depan umum."


"Sekali lagi gue berterima kasih sama lo, Ren! Lo sudah jaga kehormatan dan harga diri adik perempuan gue," ucap Axel dengan berlinang air mata.

__ADS_1


Sementara anggota keluarga Darren yang mendengar ucapan demi ucapan antara Darren dan ketujuh sahabatnya seketika menangis. Mereka menangis karena terharu akan hubungan persahabatan putranya/adiknya/kakaknya dengan ketujuh sahabatnya.


"Papa bangga sama kamu, Ren!" batin Erland dengan menatap putranya itu dengan senyuman mengembang di bibirnya.


__ADS_2