
Brenda saat ini berada di sebuah mall. Dia tidak sendirian, melainkan bersama calon anaknya yaitu Erica Aurelia Smith.
Kenapa Erica bisa bersama Brenda? Itu dikarenakan bahwa Darren meminta kepada Brenda untuk menjemput Erica ke sekolah. Darren maupun ketujuh sahabat-sahabatnya tidak bisa menjemput Erica karena memiliki kesibukan baik di Kampus maupun nanti di perusahaan masing-masing. Begitu juga dengan anggota keluarganya.
Brenda dan Erica berjalan memasuki mall tersebut dengan bergandengan tangan sembari berceloteh kecil, terutama Erica.
Erica tampak bahagia karena bisa jalan berduaan saja dengan calon ibunya. Dirinya memang sangat mengharapkan Brenda menikah dengan ayahnya dan menjadi ibunya.
Ketika Brenda dan Erica tengah berbahagia sembari terus melangkah menyusuri luasnya mall, tiba-tiba ada sekitar 6 gadis yang menghalangi jalannya. Lebih tepatnya, satu gadis yang menatap tajam kearah Brenda.
"Hallo, Brenda!"
***
Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya sudah berada di Kampus. Saat ini mereka tengah membahas tentang kegiatan Touring dengan tema membagi-bagikan sembako dan uang tunai kepada orang-orang yang membutuhkan.
"Bagaimana persiapan Touring tiga hari lagi?" tanya Darren kepada anggotanya.
"Semuanya siap, Ren!" jawab anggota dari Gilang dan Darka bersamaan.
"Semua perlengkapan yang kita butuhkan sudah lengkap," sahut anggotanya Axel.
"Menunggu keberangkatan saja," sela anggota Jerry.
"Baiklah. Tapi aku minta kepada kalian untuk mengeceknya kembali. Takutnya ada yang ketinggalan atau kurang."
"Siap!"
"Oh iya! Nandito, Mehdy, Monica, sahabat-sahabatnya dan beberapa anggota lainnya untuk tiga hari ini tidak masuk karena aku meminta mereka untuk istirahat setelah selesai melakukan tugasnya di Amerika. Jadi jika ada tugas mereka, tolong kalian selesaikan."
"Baik, Ren!" semua anggotanya tak terkecuali menjawab perkataan sekaligus perintah dari Darren.
"Baiklah. Rapat hari ini selesai sampai disini."
Selesai Darren mengatakan itu, semua anggota Organisasi langsung beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruang rapat.
Detik kemudian, disusul oleh Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Mereka memutuskan untuk ke kantin . Setelah dari sana, barulah mereka akan ke kelas untuk mengikuti materi kuliah terakhir.
^^^
Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel sudah tiba di lapangan Kampus. Seketika Dylan dan Rehan berhenti karena pandangannya melihat sosok Nandito, Mehdy, Monica dan sahabat-sahabatnya.
"Ren," panggil Dylan dan Rehan bersamaan.
"Hm." Darren berdehem sebagai jawabannya.
"Lo bilang Nandito, Mehdy dan Monica serta sahabat-sahabatnya sedang istirahat di rumah?" tanya Rehan.
"Iya. Kenapa?" jawab dan tanya Darren.
__ADS_1
"Jika mereka istirahat di rumah. Terus itu siapa?" tanya Dylan sembari menunjuk kearah Nandito, Mehdy, Monica dan sahabat-sahabatnya yang saat ini tengah membahas sesuatu.
Mendengar ucapan dari Dylan seketika membuat Darren langsung melihat kearah tunjuk Dylan. Begitu juga dengan Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry dan Darel.
Sontak hal itu membuat Darren membelalakkan matanya. Dia menatap kesal kearah tiga manusia yang saat ini tengah merundingkan sesuatu.
Detik kemudian..
Darren kemudian melangkahkan kakinya menghampiri Nandito, Mehdy dan Monica serta sahabat-sahabatnya, diikuti Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel.
^^^
"Lo yakin kalau Darren nggak akan marah kita ngampus hari ini, Nandito?" tanya Mehdy.
"Iya, nih! Gue sedikit ragu jika Darren tidak akan marah jika melihat kita disini. Gue sangat yakin jika Darren pasti marah," sela Monica.
"Monica benar. Gue memang belum kenal terlalu dekat dengan Darren, tapi gue langsung tahu bagaimana tipikal Darren. Dia orang peduli dan sayang sama orang-orang terdekatnya. Dia tidak ingin orang-orang terdekatnya sakit karena lelah," ucap Azkiya.
Mendengar ucapan dari Azkiya membuat Mehdy, Monica, Aurelia, Saskia, Zahra, Zivan, Pasya, Damian, Radika dan Riffat menganggukkan kepalanya tanda setuju akan perkataan dari Azkiya.
"Terus bagaimana?" tanya Saskia.
"Kalian tenanglah. Darren tidak akan....." perkataan Nandito seketika terhenti karena seseorang sudah terlebih dulu menyela.
"Tidak akan apa?!"
Baik Nandito, Mehdy, Monica maupun Azkiya, Aurelia, Saskia, Zahra, Zivan, Pasya, Damian, Radika dan Riffat terkejut.
Detik kemudian, mereka semua secara bersamaan melihat keasal suara.
Seketika kedua mata mereka membelalak sempurna ketika melihat keberadaan Darren sudah berdiri di hadapannya dengan memberikan tatapan tajam.
Nandito, Mehdy, Monica maupun Azkiya, Aurelia, Saskia, Zahra, Zivan, Pasya, Damian, Radika dan Riffat seketika menelan air ludahnya secara kasar. Tubuhnya menegang.
"R-ren," ucap Nandito gugup.
"As-askara," ucap Mehdy dan Monica gugup.
Darren tidak menjawab sapaan dari ketiganya. Justru tatapan matanya semakin tajam sehingga membuat Nandito, Mehdy dan Monica sedikit takut. Begitu juga dengan Azkiya, Aurelia, Saskia, Zahra, Zivan, Pasya, Damian, Radika dan Riffat.
"Aku sudah katakan kepada kalian untuk tidak masuk kampus dulu selama tiga hari. Kenapa kalian tidak mendengarkan aku?" Darren berucap sedikit ketus.
"Ren, itu....." perkataan Mehdy terpotong karena Darren memotongnya.
"Itu apa?!"
Puk..
Qenan dan Willy menepuk pelan bahu Darren, lalu keduanya mengusap-usapnya lembut.
__ADS_1
"Ren, sudahlah. Bagaimana pun mereka juga pengen kuliah," ucap Qenan.
"Di tambah lagi kan mereka juga rindu dengan suasana kampus," ucap Willy.
"Tapi kan mereka...."
"Ya, gue tahu lo khawatir sama mereka karena mereka baru balik dari Amerika. Tapi setidaknya dengar dulu lah penjelasan mereka kenapa mereka tetap nekat masuk kuliah dan melanggar larangan lo," sahut Willy.
Mendengar ucapan serta penjelasan dari Willy membuat Darren seketika menghela nafasnya. Lalu Darren menatap manusia-manusia yang berdiri di hadapannya dengan wajah tegang.
"Maafin gue. Sekarang jelaskan sama gue, kenapa kalian kuliah hari ini?" tanya Daren yang ekspresi wajahnya sudah kembali normal.
Mendengar pertanyaan dari Darren dan mendengar suara lembutnya, bahkan melihat wajah Darren yang sudah normal kembali membuat Nandito, Mehdy, Monica, Azkiya, Aurelia, Saskia, Zahra, Zivan, Pasya, Damian, Radika dan Riffat menghela nafas lega.
"Maafin kita, Ren! Kita nggak bermaksud untuk melanggar larangan dari lo," ucap Monica.
"Terus?" tanya Darren.
"Kita kangen suasana kampus, Ren! Satu bulan kita di Amerika. Satu bulan juga kita nggak ngampus," sahut Mehdy.
"Hm." Azkiya, Aurelia, Saskia, Zahra, Zivan, Pasya, Damian, Radika dan Riffat menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan dari Mehdy.
Nandito melangkah mendekati sepupunya itu. Dia bersyukur dan bahagia memiliki sepupu seperti Darren. Dia juga tidak marah akan sikap Darren barusan padanya karena dia tahu bahwa Darren tengah mengkhawatirkan dirinya.
Grep..
Nandito seketika memeluk tubuh Darren. Dia memeluk begitu erat sepupunya itu.
"Apa lo nggak kangen gue? Satu bulan gue nggak lihat lo. Satu bulan kita pisah. Seharusnya lo meluk gue ketika gue kembali, tapi lo malah marahin gue. Sedih tahu," ucap Nandito mendramatisir keadaan. Dia tahu bahwa Darren pasti akan luluh.
Mendengar ucapan dari Nandito membuat Darren merasa bersalah. Dia tidak bermaksud untuk memarahi sepupunya itu. Justru dia khawatir akan kondisi sepupunya itu. Sepupunya itu baru balik dari Amerika. Seharusnya sepupunya itu istirahat di rumah.
Darren seketika membalas pelukan Nandito sembari mengucapkan kata maaf.
"Maafin gue. Gue nggak bermaksud untuk marahin lo. Gue sayang sama lo, Nandito. Gue lakuin ini karena gue nggak mau lo kenapa-kenapa. Lo itu baru balik dari Amerika."
Nandito seketika tersenyum ketika mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Darren. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan, Darel, Azkiya, Aurelia, Saskia, Zahra, Zivan, Pasya, Damian, Radika dan Riffat.
Nandito kemudian melepaskan pelukannya. Kemudian dia menatap wajah sepupunya itu.
"Terima kasih atas perhatian dan kepedulian lo sama gue. Gue juga sayang sama lo. Sebagaimana sayang gue terhadap keluarga gue, seperti itu juga sayang gue sama lo."
Darren tersenyum sebagai jawaban atas perkataan tulus dari Nandito.
"Baiklah. Gue maafin kalian. Selama kalian di kampus, kalian tidak perlu melakukan apapun selain mengikuti kelas kalian. Jadi, nikmati waktu senggang kalian untuk tiga hari ini. Aku tidak mau kalian melanggar lagi."
"Siap, Bos!" seru Nandito, Mehdy, Monica, Azkiya, Aurelia, Saskia, Zahra, Zivan, Pasya, Damian, Radika dan Riffat bersamaan dengan memberikan hormat kepada Darren.
"Aish."
__ADS_1